This Is Our Love

This Is Our Love
Irene yang Berencana, Desya yang Terkena Bencana



Bugh!


"Aduh! Auh!"


"Tuan?!"


"Kau kenapa lagi? Mengapa menendangku?"


"K-kau? Mengapa kau di ranjangku?!"teriak Bella, menarik selimut.


"Kau gila? Bukankah kau yang tidur di ranjangku?"balas Desya.


"Aku?"


"Ya, kau!" Desya tampak tidak berbohong. 


Tapi, apakah ia tidur berjalan dan pindah dari sofa ke ranjang Desya? 


Lalu pertemuan dengan Ken? Ia yang sudah melahirkan Nayan dan Nazira? Itu semua mimpi?


Mimpi yang indah. 


"Hei-hei, mengapa kau tersenyum lagi?"


"It's my business!"


Dan yang benar menjadi korban adalah Desya. Dalam satu hari, ia sudah menerima dua tendangan dari Bella. Turut berduka untuk 'anu' dan pinggangnya.


"Lalu bagaimana denganku? Sudah dua kali kau menendangku. Yang pertama okay. Itu salahku. Yang kedua? Di mana salahku?!"omel Desya seraya berdiri dengan memegangi pinggangnya. Desya meringis. 'Anu'nya masih sakit. Dengan tertatih ia berusaha duduk di tepi ranjang. Bella semakin beringsut ke pinggir.


"Lantas kau mau mengatakan aku yang tidur di ranjangmu, begitu? Jelas-jelas tadi aku tidur di sofa. Tahu-tahu bahu sudah ada di ranjangmu. Dan aku tidak punya pengidap penyakit tidur berjalan!"balas Bella, juga mengomel seperti Desya. Keduanya tidak terima disalahkan dan pada akhirnya saling menyalahkan.


"Hei, Bella. Ini ku kau tendang tadi. Sampai saat ini masih sakit. Jalan saja susah apalagi menggendongmu," ucap Desya dengan menunjuk di antara kedua pahanya yang membuat Bella mengalihkan pandangannya.


"J-jadi bagaimana aku bisa pindah ke ranjangmu?"tanya Bella.


Irene tampak canggung. Ia menggaruk lehernya dengan menyengir kala Desya melihat ke arahnya. Diikuti oleh Bella. Keduanya menatap Irene dengan selidik.


"Irene?!" Panggilan dengan sedikit membentak membuat Irene terperanjat, mundur beberapa langkah.


"Kau tahu sesuatu bukan?"tanya Desya dengan penekanan. Tatapannya begitu tajam yang membuat Irene menelan ludah kasar.


"Irene, kau yang memindahkanku?"tanya Bella, mendesak Irene untuk menjawab. Irene melangkah mundur saat Bella mendekatinya. Sementara Desya tetap duduk dengan tatapan tidak memudar pada Irene.


"Answer, Irene!"


"Yes."


Flashback sekejab.


Alangkah baiknya jika mereka seranjang. Irene yang mendukung Tuannya merencanakan sesuatu. Ia kemudian menyingsingkan lengan kemejanya hingga sesiku. Dengan hati-hati membawa Bella dalam gendongannya.


Ia menurunkan Bella dengan hati-hati di ranjang Desya. Selain menjaga Bella agar tidak bangun, juga menjaga Desya agar tetap terlelap. Namun, Irene yakin meskipun Desya bangun, Desya tidak akan marah. Oleh karenanya, Irene berani melakukan hal ini.


"Tidurlah dengan nyenyak, Tuan, Nyonya." Ada rasa senang tersendiri di dalam hatinya.


Irene kemudian melangkah menuju sofa. Merasa jus itu akan mubazir jika menunggu Bella bangun, Irene meminumnya hingga tandas kemudian membaringkan tubuhnya. Berencana untuk tidur beberapa saat saja. Akan tetapi, malah keterusan hingga terbangun saat mendengar suara benda jatuh yang tak lain adalah Desya yang ditendang oleh Bella.


Flashback selesai.


Jawaban singkat yang membuat Bella menggertakkan giginya kesal. But, lain hal dengan Desya yang diam-diam tersenyum, senang.


"For what?"


"Saya rasa itu dapat memperbaiki hubungan kalian," jawab Irene.


"Saya punya hak untuk memilih. Dan saya menyukai Anda. Oleh karenanya saya mendukung Anda dengan Tuan," imbuh Irene. Matanya sempat menangkap senyum Desya hingga ia mampu membuat alibi demikian.


Bella menaikkan alisnya. Ia hanya bisa berdecak dan menghela nafas pelan.


"Tolong, lain kali jangan lakukan hal ini," ucap Bella.


Irene menunduk kecil. Bella menoleh pada Desya. "Aku minta maaf untuk yang tadi."


"Hm."


"Sudah masuk waktu ashar. Aku akan shalat dulu baru kemari lagi."


"Hm." Bella kemudian meninggalkan kamar Desya.


"Tuan?"


"Kau sangat berani ya, Irene"


Irene antara tertawa dan meringis.


"Kau yang berencana aku yang terkena bencana. Bukan hanya dia yang sakit, pinggangku juga sakit. Tenaganya begitu kuat!"


"Saya siap menerima hukuman dari Anda, Tuan!"


"Hah. Sudahlah. Niatmu baik. Meskipun ditendang, aku sangat senang. Entahlah, tidurku jauh lebih nyenyak saat di dekatnya."


"Akan tetapi, Irene, apakah tadi kau tidur?"


"Errrr…."


Desya menarik senyum smirk. "Lari 20 kali keliling lapangan!"


Mata Irene sedikit membola. 20 kali keliling lapangan? Itu setara dengan 8 km. Akan tetapi, ia memang lalai.


Irena sedikit membungkuk, "baik, Tuan." Kemudian melangkah keluar.