This Is Our Love

This Is Our Love
Penculikan ?



Di penjara selatan, udara dingin menusuk tulang beradu sel dinginnya sel penjara, membuat para napi meringkuk dengan selimut menutupi tubuh. Bahkan petugas lapas juga memakai jaket tebal. Udara menjelang musim dingin sungguh dingin. 


Keheningan dengan pencahayaan temaram, dingin menusuk tulang ditambah lagi malam berangin dengan gerimis sedang di luar. Sungguh membuat tubuh menggigil. 


Aldric juga salah satunya yang meringkuk dan berselimut di ranjang kecil nan keras itu. Ia memejamkan matanya dengan gigi saling bergertakan. Malam kemarin ia juga menginap di sel ini namun tidak sedingin ini. Selain itu, Aldric tak sanggup membayangkan bahwa tempat ini akan menjadi rumahnya selama sepuluh tahun ke depan. 


Di ranjang satu lagi, Marco lah satu-satunya yang tidak tidur dan meringkuk. 


Ia duduk meringkuk, tanpa selimut, hanya memeluk kakinya. Tatapannya kosong. Udara dingin seakan bukan masalah baginya. 


Marco yang semula menatap lurus ke depan, beralih menatap wajah putra tunggalnya. Sorot mata penyesalan muncul. Matanya memerah dan lagi, pria yang jarang menangis itu kembali meneteskan air mata. 


Marco merasa penglihatannya kabur karena air mata. Ia tidak menyekanya. "Maaf," ucapnya lirih nyaris tidak bersuara. Bibirnya bergetar, begitu juga dengan bahunya. Dadanya terasa sesak. 


Marco berusaha menenangkan dirinya. Ia mencoba untuk menghentikan tangisnya. Tangisnya cukup mereda, ia memalingkan wajah melihat ke jendela sel. Di luar gelap dan hujan. Itu sungguh menusuk tulang.


Marco lantas kembali mengalihkan pandang. Kali ini ia menatap kedua tangannya. Marco kembali melihat jendela. 


Aku akan mati besok. Untuk apa menunggu sampai besok? Marco bergumam dalam hati. 


*


*



Di selnya, malam ini Nesya tidak bisa tidur. Di selnya, hanya ia sendiri yang terjaga padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam. 


Kakak sudah membalas orang-orang yang menyakiti keluarga Chandra. Nesya merasa sangat lega dan senang namun juga negara resah dan gelisah di saat bersamaan.


Apa yang membuat resah dan gelisah? Itu timbul akibat gambarannya akan masa depannya setelah keluar dari sel ini. Kurang lebih hanya tinggal enam bulan lagi dan membuat Nesya merasa was-was. Keluar dari sel ini memang impian setiap napi yang terus dinanti setiap waktunya. Hanya saja setelah keluar, mereka belum tentu lepas dari sanksi sosial dan embel-embel mantan napi tentu akan sulit hilang. 


Nesya memikirkan dirinya dan juga orang di sekitarnya. Bisa dikatakan saat ia keluar nanti ia tidak perlu bersusah lagi. Hanya saja, itu secara fisik. Bagaimana dengan batinnya? Saat keluar nanti, ia akan menyambut hidup baru. Rencananya sudah disusun rapi, oleh dirinya juga oleh kakaknya. Selesai masa tahanannya, ada Dylan yang sudah menjadi tunangannya dan mungkin setelah ia keluar, akan langsung menikah. Begitu juga dengan pendidikannya, ia akan menyelesaikan study kedokterannya. 


Hanya saja … akankah tidak ada gunjingan kepadanya ataupun keluarganya? Sebagai seorang wanita yang pernah hamil di luar nikah, juga seorang yang berurusan dengan narkoba, tentu itu adalah hal yang bagi Nesya sulit untuk didamaikan di dalam hatinya jika bertemu dengan tatapan sinis orang lain. Tentu akan ada perasaan diasingkan di dalam hatinya. 


Namun, seperti lirik lagu Ebiet G. Ade. 


Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat?


Apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan? 


Apakah bila terlanjur salah akan tetap dilanda salah? 


Di dunia ini tidak ada makhluk yang sempurna. Semua pasti pernah membuat suatu kesalahan hanya salah tingkatan salah itu membedakannya. 


Nesya, don't forget! Kau punya kakak yang sangat menyayangi dirimu! Ingatlah perkataan kakakmu, meski dunia membencimu, meskipun dunia tidak menerimamu, meskipun orang lain meninggalkanmu, kakakmu, Bella, ia ada selalu ada untukmu. Dia akan selalu menjadi tempat bersandar, bermanja, dan mengadu untukmu. Jangan biarlah tatapan sinis atau sanksi sosial membuatmu lemah. Buktikan bahwa kau bisa memperbaiki diri dan semakin baik dari hari ke hari maka tatapan dan gunjingan itu akan mereka dengan sendirinya. Seperti pepatah balas dendam yang paling baik adalah kesuksesan dan menjadi better dari waktu ke waktu. 


Mereka yang mendikte salah, belum tentu merasakan dan melihat jelas apakah diri benar-benar salah. Ya, memang tidak bisa dicampur adukkan antara yang baik dan buruk. Namun, alasan di balik itulah yang menentukan. Terkadang ada yang berniat baik namun dengan cara yang salah. Terkadang ada yang melakukan suatu kesalahan karena keadaan. Termasuk Nesya. Memang tidak bisa dibenarkan. Namun, apa daya yang bisa dilakukan saat tidak ada pilihan lain?


Penyesalan yang terbaik adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama atau berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Merenungi dan sudah berekspektasi buruk, akan membuat hati dan pikiran berjalan ke arah yang buruk. Jangan terbelenggu di dalam ekspektasi seperti itu. Stay positif thinking agar tubuh pun menerima energi yang positif. 


Nesya tersadar dari lamunannya. Ia kemudian mengusap wajahnya. Sekarang ia melengkungkan senyum, setidaknya hidupnya setelah ini akan menjadi lebih baik. Takdir telah ditorehkan. Inilah jalan hidupnya. It's she is destiny. Tidak ada yang bisa merubah itu. Masa lalu, sedetikpun tidak akan pernah kembali.


Terus terbelenggu hanya akan menyakiti diri sendiri. 


"Kakak … maafkan adikmu ini yang telah berpikiran buruk." Nesya bergumam dengan melihat ke ayah jendela sel. 


"Aku percaya selalu ada pelangi setelah hujan. Selalu ada matahari yang gagah bersinar setelah badai. Selalu ada terang setelah gelap." 


"Kakak cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu." Saat berkata demikian. Nesya termenung kembali. Dahinya mengeryit. Wajahnya terlihat kembali gusar. Nesya menyentuh dadanya. 


"Mengapa perasaanku tidak nyaman? Apa yang akan terjadi?" Nesya bertanya-tangan.


"Mengapa hatiku gelisah untuk Kakak?"


*


*


*


Aldric terganggu tidurnya karena sinar mentari yang menyelusup masuk dari celah jendela besi sel penjara. Aldric menyipitkan matanya. Tadi malam begitu dingin dan pagi ini begitu cerah dan hangat, apakah ini yang dimaksud habis gelap terbitlah terang? Namun, itu berbanding terbalik dengan kehidupannya. Mereka dari atas turun ke bawah, berada dalam posisi terendah.


"Ayah." Aldric bergumam. Ia mengingat bahwa hari ini, pagi ini adalah hati hukuman mati untuk ayahnya. Ia menoleh ke arah tempat tidur Marco. 


Alangkah terkejutnya ia. Matanya terbelalak. Bola matanya bergerak tak beraturan. 


"AHHHHH … AYAAHHH!!!" Aldric menjerit. Ia langsung menuju ranjang Marco. 


Ia berdiri dengan lemas. Darah merah berceceran di umbin sel. Dan sumber darah itu adalah pergelangan tangan Marco yang tersayat lebar. 


Sipir itu melangkah maju, menutup mata Marco yang masih terbuka. "Pak Aldric … Pak Marco meninggalkan pesan di dinding." Sipir itu berkata pada Aldric. Aldric menoleh ke arah dinding. 


"Sorry?" Aldric membacanya. Itu tertulis di dinding dan berwarna merah. Artinya itu ditulis dengan darah. Aldric tidak menangis ataupun berkata lagi. Ia diam, "Aku yang seharusnya minta maaf, Ayah. Selamat jalan," gumam Aldric.


*


*


*


Kabar Marco bunuh diri di malam terakhir sebelum ia dieksekusi mati terdengar oleh Bella. Bella mengepalkan kedua tangannya erat. Sorot matanya sungguh dingin. 


"Ada apa, Aru?"tanya Ken yang melihat Bella diam setelah menerima telpon. Ia diam dan tampak kesal. 


Bella membalikkan badannya. Melihat Ken yang melanjutkan pekerjaannya tadi yakni mengemas pakaian ke dalam koper. Karena rencananya setelah selesai eksekusi, mereka akan langsung bertolak menuju bandara kembali ke Indonesia. 


"Marco … dia … dia bunuh diri," beritahu Bella dengan nada mendesis. Ken tertegun sesaat. 


Bunuh diri? 


"Mungkin dia berpikir waktunya sangat singkat hingga tidak bisa melakukan hal apapun. Jadi, ya dia bunuh diri. Dan bunuh diri dalam keyakinan kita tetaplah suatu hal yang salah. Kasihan." Ken merasa miris dengan keputusan Marco mengakhiri hidupnya sendiri.


"Seharusnya dia sadar, bukannya menciptakan masalah lagi," ucap Bella dengan menggelengkan kepalanya.


"Hah."


"Ya sudahlah. Toh juga sudah mati. Hanya menjadi sandungan jika memendam amarah lagi. Lebih baik kita berangkat ke bandara," ucap Bella.


"Ya, ayo," sahut Ken.


Keduanya keluar dari kamar dengan Ken menarik kopernya dan Bella sedangkan Bella menggendong tasnya. Mereka lebih dulu menuju ruang makan untuk sarapan. 


Koper Bella dan Ken dibawa oleh Pelayan untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil. 


Tuan Adam yang ikut duduk sarapan sepertinya tidak rela Bella kembali ke Indonesia.


"Nona, untuk apa Anda harus melelahkan diri dengan bekerja untuk orang lain sementara tanpa bekerja pun bisa. Untuk apa Anda mengurus perusahaan orang lain sementara banyak perusahaan di dalam naungan Anda?"tanya Tuan Adam. Ya sedikitnya ia tidak puas dengan apa yang Bella putuskan. Namun, apa daya. Bella lah Nonanya. 


"Apa yang dikatakan olehnya, Aru?" Ken tidak mengerti karena Tuan Adam berbicara dalam bahasa Rusia. 


"Dia mengatakan kita harus sering-sering pulang kemari," jawab Bella. Yap, pulang. Karena ini sudah seperti rumah untuk Bella.


"Tapi, mengapa harus menggunakan bahasa asing?"tanya Ken.


"Tentu saja untuk memperlancar bahasa asingnya. Dengarkan balasanku ya," sahut Bella, santai.


"Paman, itu adalah hal lama yang Paman sudah tahu jawabannya. Aku ingin membangun keluargaku dengan keringatku sendiri dan itu belum terlaksana. Mungkin, jika sudah terlaksana aku akan mempertimbangkan untuk mengurus perusahaan di sini. Atau nanti aku kan akan punya anak, dan anak ini akan menjadi ahli waris selanjutnya. Ya, mungkin akan lama lagi. Namun, aku percaya Paman akan panjang umur," terang Bella. Tuan Adam terkesiap dengan jawaban Bella. Itu artinya ia ada kesempatan untuk melayani Bella dalam waktu yang lama nantinya. Tuan Adam mengangguk. Ia tersenyum.


"Aku mengatakan bahwa kita nanti akan pulang dengan tambahan anggota keluarga yaitu anak kita," ujar Bella pada Ken.


"Ouh." Ken ber-oh-ria. 


"Tenang saja, Paman. Kami akan sering-sering pulang," ucap Ken yang diangguki oleh Tuan Adam.


*


*


*


Kini keduanya sudah berada di area bandara dan bersiap untuk naik ke dalam pesawat. "Saya sudah melakukan apa yang nona perintahkan. Keluarga Nero sudah tidak ada di jajaran pebisnis dalam lingkup kekuasaan Tuan Williams."


"Terima kasih, Paman."


"Kami pamit ya, Paman." Ken dan Tuan Adam berpelukan. 


Namun, saat mereka selesai berpelukan, sebuah mobil van datang mendekati dan seseorang melemparkan sebuah tabung ke arah mereka. Tabung itu mengeluarkan asap dan gas. 


Itu gas dan asam bius! Bella dan lainnya segera menutup hidung. Pandangan mereka terhalangi.


"AHHH!" 


"ARU?!" Ken merasa tangan Bella terlepas dari genggamannya.


"AHKHGH!" Ken berteriak saat merasa punggungnya dipukul oleh benda tumpu yang membuatnya terjerembab jatuh. 


"Aru…." Tidak terdengar suara Bella. Samar Ken mendengar suara mobil menjauh dan akibat kerasnya pukulan, Ken kehilangan kesadarannya.


Ada apa ini? Apa yang terjadi? Penculikan? Di bandara? Di pagi hari? Siapa yang mempunyai keberanian sebesar itu?!