This Is Our Love

This Is Our Love
Dokter dari Jerman



Emmm errghh 


Nesya mengusap matanya setelah bangun. Wajahnya kusut khas bangun tidur dan pucat khas orang sakit. Ia bergerak untuk duduk.


"Kakak kau mau ke mana?"tanya Nesya heran, saat mendapati Bella memakai jaketnya dengan penampilan siap untuk keluar. Nesya menoleh dengan wajah bersalah, "apa Kakak membangunkanmu?"tanyanya, melangkah menghampiri Nesya.


Nesya menggeleng. Ia terbangun dengan sendirinya. "Kakak mau pulang?"tanya Nesya lagi. Bella menggeleng.


"Kakak mau ke bandara. Menjemput teman dari Jerman," ujar Bella.


"Teman dari Jerman? Dalam rangka apa?"tanya Nesya, ia sungguh ingin tahu.


"Kakak berniat untuk kembali melakukan terapi untuk trauma yang Kakak derita. Teman Kakak itu adalah dokter hipoterapi," jelas Bella.


Nesya terperangah. Sudah lebih dari satu dekade Kakaknya tidak menjalani terapi lagi. Apa alasan kakaknya itu ingin kembali menjalani terapis? 


Terlepas dari apapun alasannya, Nesya sungguh bahagia mendengarnya. "Kakak aku mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Nesya dengan senyum mengembang.


"Me too. Kalau begitu Kakak pergi menjemputnya dulu, okay?"


"Ya."


"Assalamualaikum," pamit Bella.


"Waalaikumsalam," jawab Nesya.


Bella menepuk lembut pipi Nesya sebelum keluar dengan menenteng ranselnya. 


"Kakak tidak bisakah kau ganti tas?"gumam Bella yang sedikit risih dengan ransel Bella yang tak pernah tinggal ke manapun Bella pergi. 


Bella berlari kecil menuju basement rumah sakit. Tadi, Bella terbangun karena ponselnya berdering. Ia kira alarm rupanya teman dekatnya yang berprofesi sebagai terapi, yang Bella hubungi dan meminta temannya itu datang ke Jakarta guna melanjutkan terapi yang sudah tiga tahun ditinggalkan. 


Ya saat awal-awal berteman dengan Calia, teman dokternya Bella pernah menjalani sekali proses hipoterapi, itupun atas desakan Calia. Namun, itu hanya terjadi sekali sebab Bella menolak untuk kedua kalinya setelah mengalami muntah hebat, kepala pusing yang teramat, hingga dehidrasi berat. Calia juga tidak bisa memaksa Bella. 


Tadi siang, saat menghubungi Calia dan memberitahu temannya itu bahwa ia berniat melanjutkan hipoterapi tiga tahun lalu serta meminta Calia jika sudah senggang nanti ke Jakarta. Bella sama sekali tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. 


Calia yang mendengar itu tentu saja kaget, disertai dengan rasa lega dan suka cita yang teramat. Calia berkata akan secepatnya ke Jakarta. Namun, Bella tidak pernah menduga jika Calia akan datang pagi buta keesokan harinya dan itu membuatnya seperti ini, terburu-buru karena ia mengatakan dalam waktu dua puluh menit sudah tiba di bandara menjemput Calia. 


Duh Calia kau memang benar-benar setia dan dapat selalu diandalkan, sesuai dengan ciri khas orang Jerman. 


*


*


*


Calia, wanita cantik dengan wajah khas Eropa. Rambutnya pirang bergelombang dan hanya sebahu. Di kegelapan menjelang subuh, wanita asal Jerman itu yang tak lain adalah teman dekat Bella di Jerman menunggu dengan berulang kali melihat jam tangan. 


Bandara sepi, ia menunggu Bella sendiri di depan bandara. Ia mengenakan mengenakan Blazer berwarna abu-abu sebatas lutut dengan manset baju dan celana jeans berwarna hitam. Kacamata hitam turut melengkapi penampilannya. 


Wanita itu menurunkan kacamatanya saat melihat dari kejauhan sebuah motor yang suaranya sangat ia hafal, mendekat dengan berhenti manis di depannya. 


Pengendara motor itu membuka helmnya sedang Calia mengetukkan telunjuk di atas jam tangannya. 


Bella turut melihat jam tangannya lalu mengambil ponsel dari saku jaket. "Hanya kurang dua menit dari waktu yang ku janjikan. Aku tidak terlambat, Calia," ucap Bella dalam bahasa Jerman dengan senyumnya. Orang Jerman jarang telat, mereka sangat disiplin waktu dalam acara apapun.


Calia mendengus senyum. Memang belum terlambat. Bella berjanji akan tiba menjemputnya dalam waktu dua puluh menit, "jam tanganmu belum ganti juga?"tanyanya saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Bella.


"Seperti yang kau lihat. Aku sangat serasi dengannya," jawab Bella, seraya mengendikkan bahunya. 


"Ck … kau bahkan belum pernah memakai jam tangan yang aku berikan," keluh Calia. 


Ditanggapi tawa renyah Bella, "ayo naik," ujar Bella. 


"Ya." Calia yang menggendong ransel sebagai tempat barang bawaannya langsung naik dan berpegangan erat pada pinggang Bella. 


Calia, berusia 28 tahun, beberapa bulan lebih mudah dari Bella namun tahun kelahiran sama. Pertemanan mereka sudah cukup lama, sekitar tiga tahunan. Lingkar pertemanan Bella di Jerman cukup luas.


Teman dekatnya di Jerman dari berbagai macam profesi, seperti Calia yang seorang dokter terapi dan Evan, peneliti di institute penelitian Berlin. 


Jangan lupakan Teresa yang sudah seperti saudara baginya. Bella dan teman-temannya yang berada di Jerman masih sering bertukar kabar walau singkat. Wajar saja, kesibukan masing-masing menjadi alasan. Ah mengingat Teresa, yang paling diketahui adalah hubungannya dengan Louis kini. 


Apakah Louis sudah move on dari Bella atau belum? Jika sudah apa mulai menaruh rasa pada Teresa atau belum berniat memikiki hubungan asmara dulu? Atau malah kembali menjadi playboy?


"Ini rumahmu, Bel?"tanya Calia melihat mansion mewah keluarga Mahendra. Mereka tiba di mansion sekitar pukul 05.45.


Para pelayan yang berada di luar juga penjaga gerbang langsung memberikan perhatian pada Nona Muda Ketiga mereka yang pulang sepagi ini dengan wanita asing bagi mereka. 


"Bukan, ini mertuaku," jawab Bella tersenyum. Mertua? Mata Calia sontak membulat. "Kapan kau menikah Abel? Mengapa tak mengundang atau setidaknya memberitahuku? Kau tak menganggapku sebagai teman?"cerca Calia. 


"Pernikahanku terlalu mendadak, Lia. Lagi saat itu aku sangat sibuk dan banyak pikiran. Aku bahkan tak sempat memberitahu Teresa juga teman-teman yang lain. I'm sorry," jawab Bella. Calia masih menunjukkan raut wajah kesal. Ia bersedekap tangan, matanya masih menuntut penjelasan dari Bella.


"Dari kapan?" 


"Sekitar tiga bulan lalu. Sudah nanti aku jelaskan, sekarang ayo masuk dulu. Kau harus istirahat, biar ku suruh pelayan menyiapkan kamar untukmu," ujar Bella, menarik tangan Calia masuk.


Calia masih mencembikkan bibirnya. Calia tidak begitu terpesona dengan mansion keluarga Mahendra ini. Toh rumah orang tuanya juga mewah. Calia adalah putri dari seorang kepala rumah sakit sekaligus pemilik rumah sakit di Jerman. 


"Mana suamimu?"tanya Calia saat tiba di ruang tengah.


"Ken ada di kamar?" Bella bertanya pada Pelayan.


"Tuan Muda Ketiga sudah pergi ke rumah sakit bersama dengan Tuan Muda Dylan sekitar lima belas menit yang lalu, Nona Muda Ketiga."


"Oh. Ya sudah, aku akan ke kamar dulu. Tolong antarkan temanku ke kamar tamu."


"Istirahatkan dirimu dengan baik," ucap Bella.


"Okay." Calia berlalu dengan pelayan menuju kamar tamu. 


"Abel!" Saat hendak menaiki anak tangga, Bella berbalik dan menemukan Silvia berjalan mendekatinya. 


"Tadi itu siapa?"tanya Silvia penasaran.


"Temanku dari Jerman," jawab Bella.


"Temanmu? Menginap di sini?"


"Akan tinggal di paviliun. Aku sudah mendapat izin dari Papa. Untuk lebih detailnya nanti akan ku jelaskan lagi. Dah, Via." Bella langsung beranjak tanpa mempedulikan raut wajah super penasaran Silvia.


Dalam rangka apa hingga tinggal di paviliun?gumamnya penuh tanya kemudian kembali ke dapur. 


Sesampainya di kamar Bella langsung mengambil wudhu untuk menunaikan shalat subuh. Seusai shalat subuh, Bella mengecek ponselnya. Beberapa panggilan tidak terjawab dari Ken. Segera Bella menelpon balik. 


"Assalamualaikum, Ken."


"Aku ada di rumah. Sebentar lagi akan kembali ke rumah sakit."


"Tidak usah. Aku ada janji dengan Nesya untuk membawanya jalan-jalan pagi di taman. Jam tujuh aku sudah di tiba."


"Hm. Waalaikumsalam." 


Ken sudah tahu Bella pergi untuk menjemput temannya di bandara dari Nesya. Dengan sedikit tergesa, Bella membersihkan dirinya. Mengenakan style casual dengan hijab pashmina berwarna hitam. 


Karena hari ini free, Bella akan menghabiskan waktu dengan bersantai maka bawaannya bukan lagi ransel besar. Tas kecil berisi ponsel, dompet, dan beberapa alat make up simple menjadi isinya. 


"Kau kapan pulangnya, Bel?"tanya Brian yang keluar kamar bersamaan dengan Bella.


"Setengah jam yang lalu. Mau sarapan?" Brian mengangguk.


"Apa yang membawamu pulang dan pergi lagi seperti ini padahal Ken ke rumah sakit dengan Dylan tadi."


"Aku menjemput temanku. Nanti saja aku jelaskan lagi. Aku duluan, Assalamualaikum," pamit Bella. Brian mengerjap di ujung tangga melihat Bella yang menuruni tangga dengan cepat.


"Abel sarapan dulu!" Terdengar suara Silvia berteriak pada Bella.


"Di rumah sakit saja!" Bella menyahut dengan teriak pula. Brian tersenyum simpul. Jika akan El pasti rumah akan tambah riuh lagi. Brian merindukan El, adik satu ibu dan ayahnya di balik wajah acuhnya. 


*


*


*


"Assalamualaikum," ucap Bella saat masuk ke dalam ruang rawat Nesya. 


"Waalaikumsalam," jawab Ken, Nesya, dan Dylan berbarengan. 


"Cepat sekali datangnya," heran Ken. 


"Langsung on the way begitu aku kasih kabar. Aku sangat istimewa baginya." Bella sedikit menyombongkan dirinya.


"Tapi, mengapa kau tampak tidak akur dengan teman-teman SMA-mu?"


"Aku tidak suka orang yang banyak basa basi. Mereka lebih suka mencela orang lain ketimbang mencari kekurangan diri sendiri," jawab Bella. 


"Hm. Aku mengerti." 


"Kau sudah sarapan?"tanya Ken. Bella menggeleng dan Ken segera menarik Bella untuk duduk di sofa. Di meja sudah terhidang sarapan berupa bubur ayam. 


"Ayo makan," ujar Ken, menyuapi Bella. 


Nesya melirik Dylan. Dylan yang mengerti langsung duduk menyuapi Nesya.


*


*


*


Hah…. Nesya menghembuskan nafas lega saat tiba di taman dengan Bella yang mendorong kursi rodanya. Ken dan Bella sama-sama tidak ikut ke taman. Keduanya melakukan lari pagi di jalanan sekitar rumah sakit. 


"Kak apa alasanmu kembali ingin melakukan terapi padahal dulu kau sangat menyerah?"tanya Nesya. 


Bella duduk di bangku taman, menatap hamparan bunga yang masih menguncup. Embun masih terlihat jatuh ke bumi dari dedaunan. 


"Aku menyadari bahwa aku tidak hidup sendiri. Mandiri delapan tahun di luar negeri tidak mengubah fakta bahwa aku mempunyai seorang adik, aku akan menikah dan punya anak. Untuk punya anak aku harus mengandung. Aku juga wanita karier. Tidak mungkin bagiku mengambil cuti selama setahun penuh, bukan? Jika sudah mempunyai anak nanti, resiko naik motor juga akan meningkat."


"Aku mengerti. Aku mendukungmu penuh, Kak! Semoga terapi kali ini membuahkan hasil," harap Nesya.


"Aku harap juga begitu."


"Ah apa Kakak jadi menemui para dokter hari ini? Ku dengar tadi Dokter Rey sudah kembali."


Dokter Rey adalah dokter utama Nesya. Bella mengangguk, "jam sembilan nanti Kakak akan menemui mereka. Lalu ke mall untuk membeli kado pernikahan adik mantan Ken, setelah itu mungkin kami akan berkencan lagi."


"Pernikahan adik mantan Ken? Kau kau akan datang?"


"Kenapa tidak? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakak tahun keputusan apa yang Kakak ambil."