This Is Our Love

This Is Our Love
Tempat Mendarat



"Lalu jika aku mengusir mereka semua apa kau akan menerimaku?" Desya tiba-tiba masuk dan melayangkan pertanyaan pada Bella. Bella dan Irene terperanjat. Terlebih Irene. 


Sejak kapan Desya di sana! Apa Desya mendengar pembicaraan mereka tadi? 


"Memangnya aku bilang seperti itu?"tanya Bella setelah menguasai kekagetannya. Irene sendiri masih terdiam membisu, bingung harus berkata dan bertindak apa karena sejauh ini, ini kali pertama Irene menceritakan dengan runtut tentang Desya. 


"Perkataanmu mengartikan seperti itu," jawab Desya. Pria itu tersenyum sumringah. 


"No! Bukan itu maksudku! Tidak semudah itu, Kawan!"jawab Bella dengan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri. 


Desya menunjukkan wajah kecewa. "Lebih baik kau keluar. Aku mau beristirahat!"ucap Bella, secara jelas mengusir Desya. 


"Kau mengusirku?"


"Aku rasa kau tidak tuli, Tuan Mafia," sahut Bella. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Wajah Desya menggelap. Tampaknya ia sangat tersinggung dengan jawaban Bella. 


Brakk!! Desya keluar dan membanting pintu. Irene kembali terperanjat. Bella tersenyum tipis. 


"Irene, jangan takut. Nyawa tidak akanhilang sebelum saatnya," ucap Bella dengan menepuk bahu Irene.


"N-Nona saya … saya tidak punya keberanian seperti Anda," ujar Irene dengan terbata. Bella tersenyum. 


"Kau dipilih langsung olehnya, bukan?"tanya Bella. Irene mengangguk pelan. "Dia hanya marah. Namun, tidak akan sampai membunuhmu," ujar Bella. 


"Pergilah. Temui Tuanmu. Jangan buat dia semakin kesal. Jika dia bertanya mengapa aku begitu ketus dan berani mengusirnya tadi, katakan mood ibu hamil cenderung berubah dan mudah untuk badmood. Oh iya, satu lagi yang belum aku ketahui. Apa Desya sudah punya anak?"tanya Bella serius. 


*


*


*


"Benar-benar bandara pribadi," gumam Surya. 


"Cari bandara terdekat selain bandara ini," ujar Tuan Adam langsung. 


"Baik, Tuan." Co-pilot mengangguk. Setelah mendapat instruksi demikian kopilot kembali ke ruang kemudi. Tak berselang lama salah seorang anggota tim elite yang dibawa oleh Tuan Adam datang menghadap. 


"Tuan kami sempat mendapat sinyal tentang titik lokasi Nona. Akan tetapi sinyal tersebut kembali menghilang," lapornya. 


Artinya laptop atau ponsel Bella sempat menyala. Tuan Adam mengingat-ingat, "Nona memasang sandi yang kuat di ponsel atau laptopnya. Kemungkinan ada yang mencoba untuk membuka kedua benda itu. Namun, sepertinya gagal. Di titik mana terakhirnya?"tanya Tuan Adam.


"Sekitar 100 mil dari bandara tadi," jawabnya.


"Ya sudah. Kita mendarat lebih dulu baru susun rencana lagi," ujar Tuan Adam. Dia mengangguk dan kembali bergabung dengan timnya.


"Motifnya tidak bisa ditebak. Mendarat di bandara Mongolia dan itu adalah bandara pribadi. Kita tidak mendapat izin untuk mendarat di sana. Kemudian sinyal nona terdeteksi sekitar 100 mil dari bandara," jelas Tuan Adam pada Surya. 


"Hm? Mencoba membuka ponsel atau laptop Bella. Jika dia menginginkan data yang ada di kedua benda itu bukankah bisa meretasnya. Mengapa harus menculik Bella? Mafia? Apakah dia membutuhkan data sekaligus Bella? Atau bagaimana? Aku tidak punya musuh  dari daerah ini. Bagaimana denganmu, Tuan Adam? Atau Tuan Williams atau Bella pernah menyinggung orang Mongolia atau sekitarnya?"tanya Surya. Tuan Adam langsung menggeleng.


"Fix! Dia menginginkan Bella berikut dengan data yang tersimpan di dalam kedua benda itu. Dan jangan lupakan jika otak dan hati adalah data dan memori yang tidak akan pernah terhapuskan!" Surya menjentikkan jarinya. 


 "Tuan, kami sudah mendapatkan data tentang mafia yang berkuasa dan berpengaruh di Mongolia. Kami juga mencari dan mengumpulkan data tentang mafia yang ada disekitar negara Mongolia. Mungkin saja dia mendarat di daerah ini sebagai bentuk pengalihan," ujar ketua Tim kembali datang pada Tuan Adam. Tuan Adam menerima lembaran kertas tersebut. 


"Aku sepemikiran denganmu," timpal Tuan Adam.


"Kita harus segera mendapat. Bagaimana? Apa sudah ada tempat mendarat?"tanya Tuan Adam.


"Sudah, Tuan." Pramugari yang melaporkan. 


Pesawat mendarat di bandara terdekat dengan jarak sekitar 50 mil dari bandara di mana pesawat Desya mendarat. Itu adalah bandara pangkalan militer perbatasan di Mongolia.