
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Bella dan Anjani memasuki area basement apartemen.
Anjani keluar, membantu Bella yang kini mengeluarkan tiga kopernya.
"Ayo, apartemenku di lantai 8," ajak Bella.
"Emm sepertinya lain kali, Bel. Aku harus pergi sekarang."
"Why?"
"Aku harus menjemput anakku, Bel. Sudah dekat dengan waktu pulang, jaraknya ke sekolah juga cukup jauh. Maaf ya," jelas Anjani.
"Oh, baiklah. Tapi lain kali harus mampir, kalau perlu menginap. Okay?!" Sesaat Bella lupa kalau Anjani sudah menikah dan punya anak.
"Hm."
Bella berdiri dengan tatapan rumit, menatap mobil putih Anjani yang keluar dari basement.
What happened, Anjani? Apa yang kau alami sebenarnya?
Mata tajam Bella sempat menangkap beberapa ruam biru pada tubuh Anjani. Ia ingin bertanya tapi merasa tidak punya hak ikut campur, kecuali kalau Anjani bercerita padanya lebih dulu.
Huff ....
Helaan nafas pelan, Bella menggeleng pelan, "sudahlah. Kita lihat saja nanti apa yang sebenarnya terjadi."
"Nona Nabilla Arunika Candra?" Seseorang bertanya dengan menyebutkan nama lengkap Bella. Bella berbalik, seorang pria yang usianya Bella perkirakan di akhir kepala 3 dengan mengenakan kaca mata bantu, serta menenteng tas kerja menghampiri Bella.
Bella mengangguk. "Benar. Anda Pak Tiar?"balas Bella. Pria itu mengangguk membenarkan.
"Selamat datang, Nona. Mari kita lihat apartemen Anda," ucap Pak Tiar seraya berjabat tangan dengan Bella. Bella mengangguk. Pak Tiar membantu Bella membawa dua koper miliknya.
Lift berdenting kala tiba di lantai 8. Bella keluar mengikuti langkah Pak Tiar. Sebuah pintu dengan nomor 222 menjadi tempat mereka berhenti.
"Silahkan, Nona." Pak Tiar mempersilahkan Bella masuk. Bella masuk seraya mengedarkan pandang menilai lebih jauh apartemen ini.
"Bagaimana Nona?"
"Aku puas," jawab Bella setelah menilai secara keseluruhan.
"Jika begitu, bisa kita tanda tangan kontrak penjualan?"
Bella tersenyum, "baiklah."
Setelah tanda tangan kontrak dan pembayaran, akhirnya apartemen ini sah menjadi milik Bella.
Setelah itu, Pak Tiar pamit pergi. Kini Bella menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Barang-barangnya masih ada di ruang tengah, di sebelahnya.
Selanjutnya apa yang harus ku lakukan?
Sebenarnya banyak, tapi Bella bingung harus memulai dari mana.
*
*
*
"Hm ponsel Nesya?"gumam Bella mendapati ponsel Bella berada di ranselnya.
"Habis daya?" Segera Bella mengambil charger dan mengisi daya ponsel tersebut. Menunggu daya terisi, Bella memainkan ponselnya.
"Astaga! Bagaimana bisa aku kelewatan?!"pekik Bella panik saat baru ingat apa yang ia lakukan.
Beberapa hari yang lalu, karena ia tidak ingin diganggu dulu oleh keluarga Kalendra, Bella memblokir semua nomor keluarga Kalendra. Nomor Resa juga ia blokir.
Segera Bella membatalkan blokir tersebut.
"Aduh gawatlah aku. Pasti pria itu akan mengomel padaku. Ayolah. Ayo pikiran jawabannya," gumam Bella, seraya menimang apakah ia harus menelpon Louis atau tidak.
Belum sempat ia memutuskan, sebuah panggilan atas nama Louis muncul.
"Astagfirullah!"
Pucuk dicinta ikan pun tiba. Baru dipikirkan langsung muncul.
Hah.
Hadapi saja.
"H-halo, Kak?"
"ABEL! KEMANA SAJA KAU! MENGAPA TIDAK BISA DIHUBUNGI? MENGAPA TIDAK MEMBERI KABAR PADAKU? APA KAU TAHU BETAPA CEMAS NYA AKU GARA-GARA KAU HILANG KONTAK??!"
Bella menjauhkan ponsel dari telinganya.
"APA?! KALAU SAJA MOMMY TIDAK MENGINGATKAN DAN MELARANGKU PERGI AKU PASTI SUDAH MENYUSULMU DAN MEMBAWAMU PULANG! BAHKAN JIKA KAU MENOLAK AKU AKAN MEMBAWAMU PAKSA! ITU LEBIH BAIK. AKU HAMPIR GILA MENUNGGU KABAR DARIMU!"
Aku juga hampir mati berpisah denganmu, sambung Louis dalam hati.
"KAKAK STOP! AKU AKAN MENJELASKANNYA!"seru Bella yang sakit mendengar teriakan Louis. Biarpun begitu, hati Bella terasa tenang juga perih secara bersamaan.
"Hu hu hu apa?" Nada bicara Louis sudah melemah.
"Ponselku nggak sengaja jatuh. Makanya aku tidak bisa memberi kakak kabar."
"Laptopmu? Apa laptopmu juga rusak? Atau tidak ada data untuk membuka email dan media sosialmu?"ketus Louis.
Bella tersenyum miring.
"Aku sedang masa berduka, mana mungkin ingat dengan email dan media sosial?"tanya Bella balik. Terdengar deheman.
"Em bagaimana keadaaan Mommy dan yang lain?"tanya Bella mengawali pembicaraan lagi setelah hening beberapa saat.
"Mereka khawatir padamu tapi tetap percaya kau baik-baik saja."
"Berarti cuma Kakak yang seperti anak kecil? Key saja sudah dewasa," goda Bella, tertawa kecil.
"Hey-hey apa maksudmu? Key itu menangis kencang, merengek ingin menyusulmu. Dia juga ditimang oleh kakak ipar. Berbeda denganku!"sahut Louis, kesal.
"Lalu bagaimana denganmu, Kakak?"tanya Bella, sendu.
Helaan nafas berat.
"Kau yang paling tahu, Bel. Aku sangat merindukanmu. Hariku suram setelah kau pergi. Abel, kau mau kan kembali kemari? Kita hidup bersama di sini, tidak masalah jika kita tidak bisa bersatu, asalnya kita bersama itu sudah membuatku bahagia. Tidak masalah cinta kita tidak bisa bersatu, asalkan kau bahagia di depan mataku, tidak ada lagi beban di dalam hatiku. Abel, kau mau kan? Adikmu ikut juga tidak masalah. Kita hidup bahagia di sini. Bukankah di sana sudah tidak ada tanggungan lagi?"tutur Louis sendu, berharap Bella menerima permintaannya.
Mata Bella berkaca - kaca. Inilah sakitnya cinta beda keyakinan. Bisa berhadapan tapi tidak berdampingan.
Bella menyeka air matanya.
"Kakak, maafkan aku. Aku tidak ingin kembali ke Jerman. Aku ingin tetap di sini. Merawat adikku dengan baik. Selain itu, masih banyak hal yang harus ku lakukan di sini. Aku mohon, jangan paksa aku."
"Bel, kau menangis?"
Bella menangis, tangisnya menyayat hati Louis di seberang sana.
"Ku mohon jangan menangis. Jangan, itu sangat menyakiti hatiku," pinta Louis. Sayangnya tangis Bella semakin kencang.
"Bel? Abel? Jangan menangis, please."
"K-kakak. Jangan melarangku. Huhuhu ku mohon sebentar saja. Biarkan beban di hatiku pergi. Ini semua sangat berat. Aku butuh tempat bersandar kini. Jadilah tempat bersandarku, walau kita terpisah jarak," ujar Bella, masih terisak dan terbata.
Setelah beberapa menit kemudian, tangis Bella mereda.
"Terima kasih, Kakak," ucap Bella.
"Aku senang menjadi tempat bersandarmu. Tetaplah seperti ini."
Bella tersenyum kecut. Bisakah tetap seperti ini?
*
*
*
Hati Bella jauh lebih baik setelah berbicara dengan Louis. Cinta mereka, cinta yang tidak diucapkan secara lisan tapi terhubung oleh batin. Tak dapat dipungkiri, Louis yang dulunya playboy dan dikenal sebagai tuan muda yang sombong berubah karena Bella. Awal pertemuan?
Ya mungkin sama seperti kisah lain, berawal dari kesalahpahaman dan dua orang yang sangat tidak akur, bak Tom and Jerry. Dua orang yang sama-sama keras terjebak dalam hubungan atasan dan bawahan yang menghabiskan sebuah hubungan tak terwujud. Sadar, mereka sadar akan perbedaan itu, hanya saja, benih cinta di dalam hati, sukar untuk dibunuh.
*
*
*
Asalkan kau bahagia dan tetap di sampingku, walau kita tidak terikat hubungan apapun, walaupun pada akhirnya kita akan bersatu, itu sudah cukup bagiku. Senyummu adalah mentariku. Tawa dan candamu adalah melodi indah yang mengalir di dalam tubuhku. Hatiku terasa tenang kala mendengar suaramu. Cinta ini, begitu nyata walau tak pernah bersatu. ~ Louis Kalendra.
*
*
*
Aku ingin pulang. Aku ingin memelukmu. Akan tetapi, itu akan semakin membuatku terjebak oleh perasaan tidak berdasar ini. Kamu adalah cinta keduaku setelah ayah. Maaf ... tapi inilah yang terbaik. Dengan tetap berada dekat denganmu, semakin membuatku susah untuk menghapus cinta ini. Maaf .... ~ Nabilla Arunika Chandra.