This Is Our Love

This Is Our Love
She's Crazy!



Hari terus berlalu dan tak terasa sudah mendekati akhir tahun. Musim dingin berada di puncaknya.


Istana yang hijau itu, tertutup oleh putihnya salju yang begitu tepat. Pohon-pohon di luar juga tertutup salju dan membeku. Hanya pepohonan tinggi yang tetap menunjukkan hijaunya.


Dan bagian dalam istana, penghangat terus menyala. Dan untuk penjaga atau pekerja lapangan, mereka menggunakan mantel yang lebih tebal lagi.


Hal ini ini memang terjadi setiap tahunnya mengingat Rusia adalah negara dengan empat musim.


Dan hari natal pun tiba. Bagi yang merayakannya, melakukan ibadah dan mengadakan pesta. Tentu saja pesta itu sudah mendapat persetujuan dari Desya. Pesta itu juga merangkap sebagai pesta perayaan kehamilan Evalia.


Malam natal, tempat ibadah umat kristiani di Green Palace ramai dengan nyanyian kerohanian. Istana terlihat begitu syahdu. 


Di saat yang kristiani beribadah, Desya menghabiskan malam natal dengan bersama Dimitri dan Aleandra, dan Bella. Sedangkan Ariel dan Evalia beribadah. 


Mereka berada di perpustakaan, dekat dengan perapian untuk menghangatkan tubuh. 


Sebenarnya Bella enggan untuk bergabung dengan keluarga ini. Namun, Bella segan dengan Dimitri dan Aleandra. 


Dimitri dan Aleandra aktif bercerita. Sementara Desya dan Bella menjadi pendengar yang baik. 


"Ah iya, Bella. Ada yang ingin suamiku katakan," ucap Aleandra. 


"What this?"tanya Bella, menatap Dimitri. 


Dimitri berubah kaku. Aleandra menyikunya, "jangan ingkar janji!"bisik Aleandra penuh tekanan. 


Desya menaikkan alisnya. Penasaran dengan apa yang akan ayahnya katakan.


"Ayo …." Agak kaku lagi gagap. "Aku menantangmu bertanding memanah!"ucap Dimitri dengan cepat. Pria paruh baya itu lantas memalingkan wajahnya. 


Bella terkesiap. Desya yang semula menopang dagu, menegakkan tubuhnya. Aleandra tersenyum puas. "Serius?" 


Dimitri mengerjap. Desya dan Bella bertanya bersamaan. 


*Mengapa kau ikut menjawab?!"ketus Aleandra pada Desya. 


"Serius? Tapi, mengapa?" Bella harus tahu alasannya.


"Apa harus ada alasan untuk sebuah pertandingan? Aku ingin, itu saja," jawab Dimitri, sedikit ketus. 


Cepat sekali berubahnya, gumam Bella dalam hati. 


"Apa-apaan kau, Ayah? Tidak takut pinggangmu putus karena mengangkat busur?"cibir Desya. Tampaknya ia tidak senang dengan tantangan Dimitri pada Bella. 


"Ayahmu ini kalah taruhan dengan Ibu. Jadi, dia harus melakukan ini! Bagaimana, Bella? Kau tidak akan menolaknya, bukan?"terang Aleandra, menjawab pertanyaan Bella. 


"CK!" Pria itu berdecak karena malu. "Oh … begitu!"sahut Bella. 


"Jika Anda sudah berkata demikian, ini suatu kehormatan bagi saya," jawab Bella dengan tersenyum.


"Hei! Kau tidak berkata begitu padaku?! Apa bertanding denganku bukan suatu kehormatan?!"protes Desya. Matanya bergerak kesal. Ia bahkan sampai menggerakkan tangannya. Seperti anak kecil yang merajuk. 


"Kau itu adik kan ku. Sedangkan ayahmu adalah orang tuaku! Bukankah orang tua harus dihormati? Terlebih beliau adalah demisioner dari pengurus Black Rose sebelumnya," papar Bella. 


Mendengar itu, Desya terdiam. 


Dimitri dan Aleandra melempar pandang. Keduanya tersenyum lebar. "Jadi, kau menerimanya?"tanya Aleandra memastikan. 


Bella mengangguk. "Baiklah. Lusa kalian akan bertanding," putus Desya pada akhirnya. 


"Ah iya, Ayah, Ibu, aku ingin meminta pendapat kalian mengenai sesuatu," ucap Desya.


"Mengenai apa?"tanya Dimitri. 


"Evalia, dia meminta untuk dibangunkan sebuah butik," jawab Desya. 


"Butik?" Mumpung tengah kumpul, Desya berpikir ingin meminta pendapat kedua orang tuanya. Desya melirik sekilas pada Bella. Bella tampak abai dan menyeruput tehnya. 


"Benar. Dia berharap dengan dibangunkan itu, dapat semakin mengembangkan kemampuan dari seni rajut. Bagaimana menurut kalian?"jelas Desya. 


"Ide yang cukup bagus. Bagaimana menurutmu, Nona Bella?" 


Bella menoleh saat Dimitri melemparkan pertanyaan padanya. 


Ketiga orang itu menatapnya, meminta pendapatnya akan permintaan Evalia itu. "Apa hubungannya denganku?"balas Bella. 


"Kau penasehatku!"balas Desya cepat nan lugas. 


CK! 


Sebelum menjawab, Bella berdecak. "Aku rasa itu ide bagus. Jika ada bakat yang ingin dikembangkan, tidak ada salahnya membantu dan mendukungnya. Toh nanti feedback tidak hanya bagi seni rajut tapi juga organisasi ini," jawab Bella, lengkap dengan alasan mengapa ia setuju. 


"Ibu sudah sependapat dengan itu!"imbuh Alendra. 


"Dan butik itu kelak bisa membuka pasar baru untuk kita. Ayah dan ibunya setuju. Begitu juga dengan Nona Bella. Bagaimana denganmu sendiri, Desya?"


Tiga sudah setuju. Desya menimang. Mengingat keberanian dan ketulusan Evalia kemarin dalam menyampaikan niat itu. 


Dan pada akhirnya Desya mengangguk. "Baiklah. Aku setuju!"


"Tuan!" Baru saja hening beberapa saat, Irene datang dengan wajah yang sulit ditebak. 


"Apa kau kehilangan sopan santun?" Alendra menatap Irene tidak senang. 


"Maaf, Tuan, Nyonya, Nona. Ada hal mendesak yang harus saya sampaikan pada Tuan," jawab Irene, ia membungkuk sebagai permintaan maaf. 


"Katakanlah!"titah Desya. Irene mendekat dan membisikkannya pada Desya. 


Raut wajah Desya berubah menjadi muram. Amarah tampak jelas di mata tajamnya. "Kurang ajar!"makinya dengan kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa pamit. 


Irene menyusul Tuannya. Tidak terlalu mempedulikan wajah penasaran tiga orang lainnya. Dan besarnya rasa penasaran itu mendorong Bella, Dimitri, dan Aleandra untuk menyusul Desya. 


Penjara. Desya dan Irene ke penjara istana. "Apa ada penghianat?"bisik Aleandra pada Dimitri. 


"Di hari yang suci ini, apa harus diwarnai dengan merah darah?"sahut Dimitri. Ia menggeleng pelan. 


Bella mendengar itu. 


Penghianat?


Merah darah?


Apa Desya akan membunuh?


"A-ampun, Tuan! Jangan bunuh saya!" Seseorang meminta ampun dengan memeluk kaki Desya. 


Desya menatap lurus ke depan dengan wajah dingin. "Saya menyesal, Tuan. Saya tahu saya salah!" Desya tetap bergeming. 


Tangannya meminta sesuatu pada Irene. Itu sebuah pistol. 


Orang yang berlutut itu semakin ketakutan. Ia semakin gila meminta ampun pada Desya. Sayangnya, "sekali berkhianat pasti akan berkhianat lagi. Aku tidak mau dikhianati kedua kalinya oleh orang yang sama!"tegas Desya. 


"Tuan! Jangan, Tuan!" Pria itu meronta saat ditarik oleh dua penjaga. Wajahnya sungguh pias nan pucat saat Desya meletakkan moncong pistol tepat pada dahi pria itu. Matanya merah dengan pipi bercucuran air mata. 


Bella yang sudah pernah mengambil nyawa orang lain, tidak takut melihat adegan di depannya itu. Apalagi dengan Dimitri dan Aleandra. Kedua orang tua itu bahkan menyilangkan kedua tangan di dada. 


Dor!


Tanpa mengedikkan matanya, Desya menembak pria itu tepat di dahi. Mata pria itu langsung terbelalak. Dengan darah segar mengalir dari luka tembak yang menebus tulang tengkoraknya itu. Pria itu mengejang beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar tewas. Itu hanya dalam hitungan detik dan nyawa pria itu melayang. Sementara Desya, menatapnya dengan sinis.


Irene menangkap pistol yang Desya lemparkan. Saat ia berbalik, Desya terkesiap mendapati Bella di dekat orang tuanya. Ekspresi Bella tampak biasa saja. Ia tenang. 


"Kau … tidak takut?" Bertanya dengan nada rumit. 


"Apa aku belum pernah mengatakan padamu kalau aku ini pernah membunuh orang?"balas Bella, santai. 


"Apa aku orang yang kejam?"


"Sebuah organisasi pasti ada aturannya. Bagiku itu hal biasa!"tandas Bella. Ini mafia, bunuh membunuh adalah hal lumrah. 


"Mengapa kau membunuhnya?"tanya Aleandra. 


"Dia menjual informasi pada musuh!"jawab Desya. 


"Dia pantas untuk itu!"cetus Dimitri. 


"Ayo. Tempat ini tidak cocok untukmu," ajak Desya dengan menarik tangan Bella keluar dari penjaga. 


Wow!


"Memang benar, ya? Pria akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya di depan wanita yang dicintainya?"komentar Dimitri.


"Ya," sahut Aleandra. Keduanya kemudian meninggalkan tempat, menyusul Desya dan Bella. 


Sementara Irene mengurus mayat pria yang ditembak mati oleh Desya itu. 


"Lepas!" Bella meronta dan melepaskan tangannya dari tarikan Desya. "Apaan sih tarik-tarik?! Aku bisa jalan sendiri!"ketus Bella. Ia bersungut-sungut. 


"Ah … maaf!" Desya menatap telapak tangannya yang menarik Bella tadi.


"Aku akan ke kamarku!"ucap Bella, kemudian meninggalkan Desya. 


"Tangannya aku merasa itu kasar," gumam Desya. 


*


*


*


"Ada apa memanggil saya kemari, Nyonya?" Di lain sisi, sementara yang lain beribadah, Ariel dan Andry malah bertemu di perpustakaan. Ariel tidak menjawabnya. Ia melangkah dan memeluk Ariel. 


"Malam ini sangat dingin, Andry," ucap Ariel lirih. 


Andry, membalas pelukan itu. "Apa Nyonya ingin saya hangatkan?"tawar Andry.


"Peluk aku dan cium aku!" Andry mengeratkan pelukannya. Ariel kemudian mendongak agar Andry mudah memanggut bibirnya. 


Keduanya berciuman intens. Tangan Andry yang semula memeluk erat mulai bergerak menggerayangi punggung Ariel yang masih tertutup oleh mantel. 


"Aku ingin tapi jangan masuk," bisik Ariel serak dengan nafas terengah. Wajahnya merah padam. 


"Baiklah." Tangan Andry mulai menyelusup masuk ke dalam baju Ariel. Ariel mendesah saat tangan Andry meremas dadanya.


Disusul lagi dengan ciuman Andry. Tanpa melepas ciuman, Andry membaringkan Ariel. 


Satu tangannya mengangkat baju Ariel. Pengait yang sudah dilepas membuat bagian atas Ariel tersingkap jelas. Andry mengalihkan bibirnya menuju bagian dada. 


Ariel mengerang dan mendesah nikmat. 


Dan seterusnya. Merasa saling memuaskan tanpa melakukan hubungan intim. 


Hah … hah … ha….


Nafas Ariel tersenggal ketika mencapai pelepasan ke sekian kalinya. 


Begitu juga dengan Andry. "Bagaimana, Nyonya?"


"Aku merasa sangat hangat."


Tiba-tiba Ariel membawa tangan Andry menyentuh perutnya. "Namun, ada satu hal yang harus aku sampaikan padamu," ucap Ariel. Mimik wajahnya begitu serius. 


"Apa itu, Nyonya?"


"Di sini, di dalam rahimku, ada anakmu." Ucapan Ariel itu bagai petir bagi Andry. 


"A-Anda hamil? Bagaimana bisa?"tanyanya dengan sudah payah. 


Bagaimana ini?


Bagaimana sekarang?


"Kau kan tidak pakai pengaman!"celetuk Ariel. Ia tidak kesal. 


"L-lantas mengapa Nyonya tidak minum obat anti hamil? Bagaimana sekarang, Nyonya? Saya dan Anda bisa mati jika Tuan tahu!" Rasa bahagia akan kehamilan Ariel dikalahkan oleh rasa takut dan panik Andry.


"Aku sengaja."


"Apa kata Anda? Anda sudah gila, ya?!"teriak Andry dan itu langsung dibekap oleh Ariel. 


"Jika kau panik sekarang, kita akan segera mati. Dengarkan dulu alasanku!"balas Ariel.


Tatapan Andry begitu kesal pada Ariel. Bagaimana bisa Nyonya nya melakukan hal itu? 


"Aku menginginkan anak ini. Aku tidak akan menggugurkannya!"tegas Ariel. Mata Andry membola. Pria itu tidak bisa berbicara karena mulutnya masih dibekap oleh Ariel.


"Karena … aku mencintaimu, Andry." Itu sebuah pengakuan. Andry terkejut hingga ia tidak bereaksi apapun.


Ia tidak salah dengar, kan?


Ariel mencintainya?


"Aku jatuh cinta padamu, Andry. Oleh karenanya aku memutuskan membesarkan janin ini!" Ariel melepas bekapannya dan duduk di samping Andry.


"Tapi, Nyonya … kita akan mati karena itu!"


"Tidak! Kita tidak akan mati!" Soror matanya begitu yakin. "Kau juga mencintaiku kan, Andry?"


Andry menelan ludahnya. 


Cinta? Ya itu berubah menjadi cinta. 


"Kita akan hidup bersama, membesarkan anak kita. Asalkan kita menyingkirkan Desya, tidak akan ada yang menganggu kita."


She's crazy!


Bagaimana bisa ia mengatakan itu dengan nada santai!


Dan Andry, ia dilema!