This Is Our Love

This Is Our Love
Pertemuan Ibu dan Anak



 Saat mendengar kata musim gugur, apa yang terbayang di benak kalian?


Musim di mana daun-daun berguguran?


Pertanda musim dingin akan segera datang?


Masa di mana jalanan atau taman penuh dengan daun-daun yang berserakan?


Ya. Semua itu benar.


Musim gugur bisa dikatakan sebuah musim yang cantik. Dengan warna keemasan, orange,


dan warna merah, membuatnya disebut sebagai golden autumn. Atau dalam bahasa


Jerman adalah Der goldene Herbst.


Di  taman Garten der Welt, atau dikenal juga sebagai Taman Dunia adalah taman yang akan menjadi tempat pertemuan Umi Hani dan Nizam dengan Evan setelah terpisah puluhan tahun.


Dijulukisebagai Taman Dunia juga bukan tanpa alasan. Taman yang berlokasi di sebuah


daerah bernama Marzahn  adalah sebuah taman rekreasi yang dibuka pertama kali untuk umum pada tahun 9 Mei 1987, bertepatan dengtan ulang tahun Kota Berlin ke- 750.


Taman ini begitu luas, sekitar 100 haktare. Di dalamnya juga tidak hanya ada satu


tipe taman namun ada berbagai taman yang didesain dengan gaya China, Jepang,


Korea, Italia, Inggris, Oriental, Labirin, bahkan bergaya Bali yang khas dengan


tanaman tropis. Oleh karenanya disebut sebagai Taman Dunia.


Sopir membawa Keluarga Mahendra, Anjani, Umi Hami, dan Nizam ke bagian Taman Oriental


yang merupakan taman yang menggabungkan taman dari berbagai negara di Timur


Tengah. Taman di mana para pengunjung dapat merasakan nuansa “1001 malam.


Di sana, mereka  kecuali Umi Hani dan Nizam


yang perasaannya tidak dapat digambarkan duduk menanti Ken dan Bella bersama


dengan Evan. Rahayu dan El turut duduk untuk berbicara dengan keduanya agar


tidak terlalu gugup dan tegang. Sementara Surya, Brian, Silvia, Anjani, dan


Dylan menikmati pemandangan taman oriental ini. Pohon delima, zaitun, pohon palem,


semak hias, dan tanaman keras khas Timur Tengah mendominasi Taman Oriental.


 Silvia meminta Brian untuk mengambil fotonya dengan latar indah tersebut, begitu juga Anjani yang meminta tolong pada Dylan. Sedangkan Surya menarik nafasnya dalam-dalam. Mereka hanya menemani, jadi tidak


perlu terlalu tegang.


Pemeran utamanya untuk hal ini adalah Umi Hani, Nizam, dan Evan. Tujuan utama mereka ke Jerman adalah untuk menghadiri pernikahan Louis dan Teresa. Andai kata mereka tidak ikut pun tidak ada masalah.


Di sisi lain, Marcedes maybach S- Class  yang dikemudikan oleh Ken tiba di taman  Der goldene Herbst. Bella langsung turun,


begitu juga dengan Evan, Key, dan Arka.


“Aunty, nanti kita ke bagian Taman China ya,” pinta Key dengan menggandeng tangan


Bella. Bella mengangguk. “boleh.”


Arka yang tidak mengerti apa yang Key katakan pada Bella, menunjukkan wajah bertanya


pada Key, ia juga menggandeng tangan Bella.


“Ayo, Evan,” ajak Bella pada Evan dalam bahasa Jerman. Evan mengalihkan pandangnya


dari arah taman kepada Bella, ia mengangguk.


Bella memimpin jalan dengan menggandeng tangan Key dan Arka. Evan dan Ken berjalan di


belakang keduanya. Ken tersenyum, senyumnya seperti kesal. Ya, tentu saja! Sejak


tadi pagi, istrinya dikuasai oleh Key dan Arka. Tidak mungkin bukan ia ribut karenanya?


Ken lalu melirik Evan. Pemuda itu dari gesturnya gugup. Kedua tangan berada di


dalam saku jaketnya. Rambutnya yang gondrong dan diikat bergerak ditiup angin.


“Are you nervous?”tanya Ken, memecah kebisuan Evan yang  sejak masuk dan keluar mobil tidak bicara. Pemuda itu seakan tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


“Yes. I’m nervous.” Ken tidak menyangka Evan akan menjawabnya.


“Sudah tahu siapa yang akan kau temui?”tanya Ken.


“Oleh karenanya aku merasa gugup.” Artinya Evan sudah tahu siapa yang akan mereka


temui.


“Yang paling ingin aku temui adalah ibuku juga saudara kembarku. Ayah  selalu mengatakan mereka masih hidup namun tidak tahu di mana rimbanya. Aku tidak menduga keinginanku akan diwujudkan lewat Bella. Aku sangat bersyukur atas itu,” terang Evan. Ken mengangguk mengerti.


“Eh kau sendiri ... siapa namamu? Dan kau siapanya Bella?”tanya Evan.


Sudah sekian lama mereka berada dalam satu ruang, Evan belum tahu siapa Ken dan apa hubungannya dengan Bella.


“Namaku Ken, dan aku adalah suami Aru,” jawab Ken, sembari jalan mengulurkan tangannya.


“Who Aru?”tanya Evan. Tatapannya Ken beralih menatap Bella yang sudah cukup jauh


dari keduanya.


“Bella?” Evan tampak terkesiap. “Nabilla Arunika Chandra. Arunika? Aru? Kau suami Bella?”


“Kau tahu nama lengkap istriku?”


“Kami ini berteman. Tentu aku tahu nama lengkapnya. Lagipula Bella dulu punya posisi


yang tinggi dan berpengaruh. Dan lagi aku punya ingatan yang bagus.”


Ken mengangguk


mengerti mendengar penjelasan Evan itu.


“Tenang saja. Kau tak perlu cemburu dengan pertemanan kami,” ujar Evan, menepuk


pundak Ken. Ken yang merasa Evan adalah tipe orang yang terus terang, merasa cocok dengan Evan.


Ken tersenyum kemudian merangkul Evan. “Kita berteman?”


“Maka aku harus punya emailmu untuk bisa berkomunikasi.” Asyik juga rasanya punya


teman seorang profesor muda, berbalas pesan via email.


“It’s easy."


melihat Bella terlihat menghampiri mereka.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Mana Ken dan Evan, Abel?”tanya Surya yang belum melihat Ken dan bintang satu lagi.


Bella melihat ke belakang, “perasaan tadi mereka di belakang Abel, deh. Mungkin jalan


mereka lambat, jadi telat ... hehehe.”


Dasar Bella. Sudah tegang rasanya menunggu malah dipending sejenak.


“Eh itu mereka ....”


Semua langsung melihat ke arah yang Bella tunjuk. Ken dengan merangkul seorang Pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan Nizam. Umi Hani membeku seketika. Wajah di balik bingkai kacamata itu sungguh mirip dengan Nizam. Postur tubuh yang sama dengan Nizam. Hanya gayanya saja yang berubah. Sedangkan Nizam, memegang pundak Umi Hani dari belakang. Tatapannya lekat pada Evan yang tersenyum pada Ken. Mereka tampak sedang bercengkrama.


Dan kini Ken dan Evan telah berada di samping Bella. Pandangan Evan langsung tertuju pada Umi Hani yang sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sorot mata penuh kerinduan. Bibir Umi Hani bergetar. Air mata bahagai sudah menetes dari matanya, membahasi pipi.


Evan sendiri juga merasakannya. Wajah yang sama seperti yang digambarkan oleh sang


ayah melalui lukisan. Wajah yang memberikan kemiripan padanya. Sosok yang darahnya ada di dalam dirinya. Wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan yang telah melahirkannya ke dunia ini. Hanya saja terpisah karena tidak ada restu dari orang tua sang ayah atas hubungan orang tua Nizam dan Evan, Pemuda itu, bibirnya bergetar. Dengan langkah pelan, mendekati Umi Hani. Begitu juga dengan Umi Hani, beliau ikut melangkah maju. Di detik berikutnya, keduanya


sudah berpelukan dengan begitu erat.


Meluapkan kerinduan yang tak pernah tersampaikan selama puluhan tahun. Sekian lama, sekian tahun terpisah, akhirnya bertemu lagi. Ketahuilah, walaupun tidak pernah


bertemu sejak perpisahan itu,  ikatan ibu


dan anak telah tercipta sejak seorang anak hadir di dalam rahim seorang ibu. Walaupun


terpisah, ikatan itu tidak akan terputus dan tidak akan pernah terputus. Naluri seorang ibu sangat kuat. Perasaannya sangat kuat dan murni.


Evan tidak ragu memeluk Umi Hani. Menumpahkan air mata kerinduan. Umi Hani begitu juga. Air matanya deras menetes.


“Mom.”


Sekian tahun, akhirnya kata panggilan itu keluar dari bibir Evan untuk seorang


wanita, yaitu Umi Hani.


“Anakku ....” Lidah rasanya tak tahu ingin  mengatakan apa. Rasa bahagia yang tidak bisa diukur dengan kata-kata.


Yang menyaksikan pertemuan itu, tak bisa untuk tidak menyeka sudut mata mereka,


kecuali Nizam yang matanya memerah dengan pipi basah dengan air mata.


El mengabadikan moment itu dalam bentuk video lewat ponselnya. Rahayu memeluk


Surya, begitu juga Silvia dan Bella yang memeluk suami mereka masing-masing. Dylan


dan Anjani hanya bertatapan. Key dan Arka yang sedikit banyaknya mengerti,


saling rangkul.


Umi Hani melepas pelukannya, kedua tangan menangkup wajah Evan. Evan memejamkan


matanya, merasakan tangkupan hangat sang ibu.


“Ini nyata. Aku tidak bermimpi.”


Sekali lagi, dipeluknya Evan. Evan, walau tampak masih kaku, mendaratkan ciuman


pada pucuk kepala Umi Hani yang tertutup oleh hijab.


Evan tidak mempermasalahkan keyakinan ibu dan saudara kembarnya. Ia sudah tahu sejak


lama. Andai katanya dulu, ayah dan ibunya tidak berpisah pasti keyakinannya


adalah keyakinan sang ibu. Tapi, sekarang apa mau dikatakan? Bagimu agamamu dan


bagiku agamaku.


“Evan, Mom. My name is Evan.”


“Evan, my son. You’re growing well. Mom is very well.” Umi Hani bisa berbahasa inggris


dan arab. Tadi, beliau terlalu bahagia hingga berbicara dalam bahasa indonesia.


“Aku juga senang Mom baik-baik saja.”


Evan melepas pelukannya. Kacamatanya berembun karena air mata. Itu membuatnya harus melepas kacamata dan menyimpannya. Evan menderita rabun, namun tidak terlalu


buruk. Ia masih bisa melihat jelas tanpa bantuan kacamata. Hanya saja, profesinya sebagai profesor di bidang kimia menuntut ketelitian yang akurat.


Sekarang adalah giliran Umi Hani memperkenalkan Evan pada Nizam. “Evan ini adalah saudaramu, kakakmu, Nizam.”


Umi Hani menyatukan kedua tangan putranya. Nizam an Evan sama-sama mengangguk.


“My Brother.”


“Adikku.”


Kedua saudara kembar yang telah terpisah sejak umur mereka baru tiga bulan, akhirnya


kembali bertemu dan berpelukan. “Aku sangat menantikan hari ini.”


“Aku juga sangat menantikan pertemuan denganmu dan ayah,” sahut Nizam.


“Evan ... mana ayahmu?”tanya Umi Hani yang baru menyadari kalau mantan suaminya tidak


ada di antara mereka. Evan melepas pelukannya. Sorot matanya yang teduh menatap lembut Umi Hani.


“Laboratorium Ayah tidak di Berlin, Mom. Laboratorium Ayah ada di Bremen. Dan Ayah ada hal yang tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak bisa ke Berlin,” jelas Evan.


“Jika begitu kalian terbang saja ke Bremen menemuinya,” ucap Bella.


“Kau bisa kan, Evan?” Bella bertanya dalam bahasa Jerman.


“Aku tidak terlalu sibuk. Bahkan jika aku sibuk aku akan mengambil cuti!”jawab Evan.


“Apa Bremen itu jauh?”tanya Nizam.


“Hanya sekitar 2 jam penerbangan,” jawab Evan.


“Tak sampai satu jam dengan pesawat pribadi,” imbuh Bella.


“Boleh?” Umi Hani menatap ragu Keluarga Mahendra.


“Tentu saja bisa! Apa yang menjadi alasan kami untuk tidak setuju?” El menjawab, dan Surya, apalagi?