
Selesai mengobrol dengan Teresa, Bella hendak masuk ke dalam kamar. Akan tetapi langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Sebuah panggilan video dari Max.
Bella tersenyum lebar kemudian mengintip Ken dari pintu balkon. Suaminya itu masih tenggelam di depan laptop. Sedang mempelajari dan mencoba menguasai tanggung jawab besar yang akan segera dipikul, hanya dalam jangka seminggu ke depan.
Ya, setelah acara peletakan batu dan meresmikan pembangunan di Papua, Bella, Ken, Brian, Silvia, dan Dylan Alan bertolak menuju Jerman untuk menghadiri pernikahan Louis dan Teresa.
Ken sebagai kepala pembangunan, tentu saja harus mempelajari semuanya dengan baik. Di sana ia juga tidak akan dilepas sendirian karena akan ada senior yang mendampingi.
Setelah sekian deringan, Bella menjawab panggilan video tersebut. Ia duduk di kursi balkon dan tersenyum hangat pada Max, Rose, dan juga Key yang terlihat jelas dari layar kamera. Disusul dengan Leo dan Helena. Mereka melakukan video call group.
"Aunty!"sapa ruang Key dengan melambai pada Bella.
"My Prince, how are you?"balas Bella.
"I'm fine, Aunty. Aunty sendiri? Baby Aunty gimana kabarnya?"tanya Key penuh antusias.
"Baby?" Bella mengernyit, "Aunty belum punya baby, My Prince," ujar Bella.
"Belum punya? Tapi, kata Mama Aunty punya baby," bingung Key, ia menolehkan wajahnya ke arah kanan yang mana di sanalah Helena dan Leo duduk. Terdengar suara tawa. Max dan Rose tertawa melihat kebingungan dan tatapan meminta jawaban Key pada mamanya.
"Maksud Mama itu baby Aunty Abel masih ada di dalam perut, belum dilahirkan."
Helena menjelaskan. Bella langsung mengerti total kalau keluarga Kalendra sudah tahu akan kabar 'kehamilan palsunya'.
Dalam hatinya semakin merasa tidak enak. Jika ia tidak segera hamil maka akan jadi pertanyaan besar. Dasar Ken! Mengambil keputusan tidak dipikirkan akibatnya, Bella tidak bisa untuk tidak menggerutu.
"Oh masih di dalam perut ya? Kok bisa? Kan baby besar, bagaimana cara masuk dan keluarnya?"tanya Key lagi. Rasa penasarannya bangkit. Max mengulurkan tangannya untuk memangku Key.
"Ma? Grandma?" Key menatap bergantian Rose dan Mamanya.
"Hm begini Key …."
Bella yang akan menjelaskannya. Tidak ada salahnya memberi tahu Key akan pendidikan seksual sejak dini agar nanti saat ia tumbuh dan berkembang di lingkungan yang lebih luas, terutama negeri barat seperti Jerman dengan kebebasan yang tinggi, bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan di antara wanita dan pria sebelum terikat janji pernikahan.
"Ya, Aunty?"balas Key, wajahnya menantikan sebuah jawaban.
"Key tahu kan ciri-ciri makhluk hidup?"tanya Bella.
Key mengangguk. "Nah kan Key tahu kan salah satu ciri makhluk hidup itu tumbuh dan berkembang, nah begitu juga dengan awal mula baby hadir di dalam perut Aunty," jelas Bella.
"Lalu cara masuk dan keluarnya, Aunty?"
"Cara masuk dan keluarnya itu nanti akan Key pelajari saat sudah sekolah. Sama seperti Key dulu, tidak langsung sebesar ini bukan? Key dulu bentuknya hanya seperti biji kacang merah. Setelah tumbuh dan berkembang sekian tahun lah Key seperti ini. Jadi semua ada prosesnya, Key," terang Bella lagi.
"Emm … apa cara keluarnya perutnya dibelah ya aunty? Teman Key pernah cerita kalau perut mamanya dibelah untuk mengeluarkan adiknya," cerita Key dengan bergidik.
"Melahirkan dengan cara operasi itu hanya di beberapa kondisi jika tidak bisa melahirkan secara normal. Seperti Key," ujar Bella.
"Key lahir dengan cara perut Mama dibelah?"
"Itu benar," jawab Leo. "Jadi, Key nggak boleh nakal, apalagi jahat sama Mama. Jika Key jahat berarti Key tidak menghargai dan menghormati Mama yang telah berjuang agar Key lahir," ucap Leo, memperingati dan mengingatkan putranya.
"Key sayang Mama!"bantah Key langsung, beranjak turun dan memeluk erat Helena. Helena tertawa renyah dan mencium pipi dan rambut anaknya.
"Papa nggak disayang? Tanpa Papa nggak akan ada Key loh," rajuk Leo yang cemburu.
"Loh kenapa bisa nggak ada? Kan Key dilahirkan sama Mama."
Tak
"Papa?!"protes Key saat Leo menyentil dahinya.
"Anak kecil kau ini tahu apa tentang cara membuat anak, hm? Ingat kau ini adalah hasil kerja keras Papa dan Mama. Jadi, Key bukan hanya harus menghormati dan menyayangi Mama. Tapi, juga Papa, Grandpa, Grandma, Uncle Louis," ucap Leo.
"Mem-"
"Stop!"ucap Rose yang mulai merasa obrolan tentang cara baby masuk dan lahir sudah terlalu lama. Sedangkan masih banyak yang mau mereka obrolkan dengan Bella. Sementara di tempat Bella berada sudah cukup larut.
"Masalah cara membuat anak itu bisa Key tanyakan pribadi pada Mama dan Papa Key. Kita di sini untuk berbicara dengan Aunty Abel, bukan membahas cara membuat anak!"ucap Rose mengingatkan niat awal mereka video call dengan Bella. Bahas yang penting saja, tidak mau berbicara lebih banyak lagi nanti waktu Bella ke Jerman.
"Ah Key lupa, Grandma," jawab Key dengan menyengir.
"Hngg biang keladinya sadar rupanya," ejek Leo dengan mengacak-acak rambut Key.
"Papa?!"protes Key lagi yang disambut tawa puas Leo. Dengan bersungut-sungut Key membalas dengan mengelitiki Leo.
"Eh-eh … apa ini? Aduh eh geli, My Prince!"aduh Leo di mana Key semakin gencar. Alhasil Leo angkat tangan menyerah.
Bella tersenyum geli di tempatnya. Betapa hangat dan akurnya keluarga Kalendra.
"Abel, mengapa kau tidak memberitahu kami tentang kehamilanmu?"tanya Max memulai pembicaraan dengan serius.
Sebagai keluarga kandung walaupun jaraknya sudah jauh, tentu saja keluarga Kalendra berharap agar mereka tahu kabar kehamilan Bella dari Bella sendiri bukan orang lain.
"Maaf, Dad. Bukan maksudku tidak ingin memberitahu kalian. Hanya saja situasi di sini tidak mendukung. Apa Dad tahu kabar tentang kecelakaan pesawat terbaru yang menelan banyak korban, termasuk Cia dan ibunya?"
Bella mencoba menjelaskan dari sisi situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Kesibukannya sebagai seorang wakil Presdir yang merangkap sebagai Presdir tentulah tidak mudah. Waktunya banyak tersita ke pekerjaan. Makan saja sering tidak teratur. Jika bukan Ken yang siaga, tentunya Bella akan tenggelam dalam pekerjaannya kecuali saat azan memanggil.
Belum lagi hawa panas di perusahaan yang menambah beban pikiran Bella. Memikirkan masalahnya sendiri saja sudah pusing, mana mungkin ingat lagi memberitahu kabar pada yang jauh di sana.
Bahkan saat berbicara dengan Leo saja, membahas tentang kerja sama mereka, tidak ada menyinggung hal pribadi selain bertanya kabar.
"Kecelakaan? Mantan kekasih suamimu itu tewas?" Keluarga Kalendra terhenyak kaget. Mereka tidak begitu memperhatikan berita internasional akhir-akhir ini kecuali yang berhubungan dengan ekonomi.
"Hem. Kemarin malam baru acara simbolis pemakaman para korban," jawab Bella.
"Belum lagi mega proyek, dan beberapa masalah, kecil tapi membuatku merasa sangat kesal." Bella mengeluarkan kekesalannya, ia bercerita pada keluarganya.
"Masalah apa, Abel? Kau diganggu di sana?"tanya Max dengan wajah seriusnya. Terlihat jelas ada kekesalan di matanya.
"Kurang lebih seperti itu. Ah kau tahu sendirilah Dad, mustahil menduduki sebuah posisi tidak ada gangguan. Aku sudah kenyang mengalaminya, hanya saja hatiku sangat kesal karena mereka mempermasalahkan kehamilanku bukan cara kerjaku. It's okay mereka meragukan mega proyek yang sebentar lagi akan memulai pembangunan, hanya saja jika karena aku wanita dan sedang hamil dituntut untuk mundur, itu tidak masuk akal! Itu sebuah bentuk diskriminasi!"
"Kurang ajar!"geram Max.
"Itu keterlaluan!"ketus Rose.
"They're stupid!"umpat Leo. Di Jerman tidak akan diskriminasi, bahkan kaum homoseksual saja dilindungi. Setiap orang memiliki hak dan HAM harus dijunjung tinggi!
"Betapa piciknya mereka yang menganggap wanita akan kehilangan kemampuannya saat hamil. Sungguh aku ingin melempar cermin pada mereka!"
Maksud Helena adalah ia ingin membuat siapa yang menuntut Bella untuk mundur sadar diri, bahkan di saat Bella sakit saja mereka tidak bisa mencapai apa yang dicapai Bella.
Berapa hari Bella kemarin waktu insiden penyergapan di Bali terbaring tak sadarkan diri dan begitu bangun, tak lama langsung bekerja. Walaupun pekerjaannya terbengkalai beberapa waktu, tidak ada klien yang protes bahkan puas dengan Bella.
"Ah jadi terpikir oleh Daddy untuk membuat mereka menampar wajah sendiri," ucap Max dengan tersenyum penuh arti.
"Aku sudah memberikan pelajaran untuk mereka, Dad," jawab Bella dengan tersenyum.
"Abel tetaplah Abel," ucap Leo dengan nada memuji.
"Yes, i'm Nabilla Arunika Chandra!"sahut Bella.
"Buktikan bahwa kehamilan bukanlah suatu hal yang mengurangi kemampuan! Apa yang menjadi visi dan agenda yang kau susun berjalan dan sukses. Dengan begitu, mereka akan menampar diri mereka sendiri!"ucap Max dengan sorot mata tajamnya.
"Jika kau tidak nyaman di sana, kembali saja kemari. Bawa suamimu, atau kau bisa memilih cabang perusahaan mana saja baik di Jerman atau di luar untuk kau pimpin. Dan perusahaan itu akan jadi milikmu. Kau bebas untuk mengelolanya dengan caramu sendiri karena itu adalah hakmu!"timpal Leo yang naik pitam.
Di Kalendra Group, sekalipun jabatan Bella hanyalah general manager, namun baik petinggi ataupun bawahannya sangat menghormati Bella. Sekaligus langkah yang ia ambil beresiko, sudah mempersiapkan cara untuk meminimalisir.
Bahkan turut bersama-sama cari cara agar resiko semakin kecil dari menaikkan tingkat persen keberhasilan itulah yang membuat Kalendra Group sukses dan menjadi salah satu perusahaan terbesar dan bonafit di Eropa. Bukan merendahkan siapapun karena terkadang ada sebuah ketidakkompakan di dalam grup dan ini universal. Hanya saja, dilihat dari tingkat perkembangan negara, hampir seperti itu.
Banyak yang cerdas dan berbakat, namun cenderung tidak mengembangkan bakatnya. Cenderung berada di dalam zona nyaman.
"Itu tawaran yang mengiurkan tapi sulit untuk aku terima, Kak. Karena keputusanku untuk kembali ke Indonesia untuk membangun kembali keluarga Chandra. Lagipula, idemu itu sulit untuk dilakukan karena … itu tidak sesuai dengan aturan keluarga Mahendra. Jika aku laki-laki dan Ken wanita mungkin aku akan tanpa ragu meninggalkan perusahaan itu, hanya kau, you know," jawab Bella. Leo menghela nafas pelan. Ia mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Em membahas tentang membangun kembali keluarga Chandra, kau sudah memulainya?"tanya Rose.
"Aku akan memulainya setelah mertuaku memutuskan calon penggantinya. Jika itu Ken, maka aku akan mengundurkan diri dan membangun perusahaan bersama dengan Nesya. Namun, jika bukan Ken, aku juga akan mengundurkan diri dengan Ken yang akan mengantikanku," papar Bella. Ia sudah merancangnya. Membuat rencana untuk setiap kemungkinan.
"Hm bagaimana hubunganmu dengan iparmu, Abel? Satu si batu es yang sok misterius dan satu lagi berandalan."
"Eh? Hahaha …." Bella tertawa keras mendengar julukan Leo untuk Brian dan El. Hanya saja itu sudah berlalu.
"Mereka tidak seperti itu, Kak Leo. El itu mirip dengan Louis. Dan Brian itu, dia hanya butuh seseorang yang berani untuk mengajaknya berinteraksi dengan rileks. Sekarang, mereka jauh lebih baik," ucap Bella, membela kedua iparnya.
"Hm. Okay. Aku mengerti," jawab Leo.
"Nesya sudah baik-baik saja, kan? Eh Silvia bagaimana kabarnya?"tanya Helena.
"Mereka sangat baik," jawab Bella.
"Syukurlah."
"Aunty minggu depan kemari kan?"tanya Key.
"Tentu saja."
"Yeah. Minggu depan Key tidur sama Aunty, ya?!"
"Err…." Bella ingin menolaknya. Ia takut jika ia setuju dan Ken tidak, mereka bisa bertengkar sedangkan Ken masih fokus pada pekerjaannya hingga tidak mendengar dan menyadari Bella yang sudah mengobrol sangat lama di balkon.
"Aunty, Key rindu berat sama Aunty," pinta Key memelas.
"Err … baiklah."
"Yeah!" Key melonjak senang.
"Sungguh tidak apa, Bel?" Helena merasa tidak enak pada Bella.
"Aman, Kak Helen." Bella mengacungkan jempolnya.
"Emmm by the way, Louis ke mana?"tanya Bella yang sejak tadi tidak mendapati batang hidung Louis.
"Louis? Tadi pamitnya mau makan malam dengan Resa," jawab Rose.
"Oh makan malam." Dalam benaknya langsung merasa aneh. Bukankah tadi Teresa ngobrol lama dengannya di dalam kamar dengan penampilan mau tidur?
"Emm apa ada alasan khusus pertunangan Louis dan Resa menjadi pernikahan, Dad, Mom?"
"Kamipun kaget saat Louis mengatakannya, Abel. Louis hanya mengatakan itu keputusan mereka bersama. Ke arah yang baik, kami juga hanya bisa mendukung karena Resalah pilihan kami untuk Louis," jawab Rose.
"Ah begitu rupanya."
"Apa ada yang aneh, Abel?"selidik Leo.
"Tidak ada. Aku saja yang terlalu banyak pikiran."
"Kalau begitu istirahatlah. Di sana sebentar lagi larut. Ibu hamil tidak boleh tidur larut malam," suruh Rose. Bella mengangguk dan mereka mengakhiri video call.
Saat panggilan video berakhir, raut wajah Bella menjadi rumit. "Ke mana Louis?"