This Is Our Love

This Is Our Love
Sedikit Mencair



Pulang di pukul 20.00 agaknya sudah menjadi rutinitas bagi Bella dan Ken belakangan ini. Pekerjaan yang menumpuk yang mengharuskan diselesaikan hari itu juga membuat wajah lelah keduanya begitu terlihat begitu lelah. Bella merenggangkan tubuhnya setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir hari ini. Begitu juga Ken yang juga selesai membantu pekerjaan Bella. 


Bella berdiri, menghadap ke jendela melihat langit dan suasana malam kota. Lampu aneka rupa dan warna menambah gemerlapnya ibu kota. Jalanan terlihat padat walau hari sudah malam. Bella menyentuh lehernya, rasanya sangat pegal. 


"Kita pulang ke rumah, kan?"tanya Ken, ia berdiri di belakang Bella dan memberi pijatan lembut pada keduanya bahu Bella. 


"Ya. Tapi, sebelumnya kita ke lihat Nesya dulu," jawab Bella, memejamkan matanya menikmati pijakan Ken.


"Aku punya saran job lagi untukmu," ucap Bella serius. 


"Apa itu?" Kemarin sudah ditawari untuk jadi model, sekarang apalagi?


"Tukang pijat," jawab Bella, diakhiri dengan kekehan. Ken mendengus, masa' tampan, berpendidikan, dan kaya begini disuruh jadi tukang pijat? Are you seriously?


"Kita pulang?"tanya Bella, pijatan Ken berhenti saat Bella berbalik dan melingkarkan kedua tangan pada leher Ken.


"Baiklah." Ken merengkuh pinggang Bella sebelum akhirnya mengecup singkat bibir istrinya. 


"Ayo," ajak Bella, melepaskan pelukannya pada leher Ken kemudian beralih mengambil jas yang sebelumnya ia sampirkan di sandaran jas.


Bella memakai jaketnya kemudian memakai jaketnya. 


"Ada yang ingin disinggahi?"tanya Ken saat keduanya keluar dari lift. 


"Hmm pengen martabak, boleh?"


"Tentu."


"Kamu yang bayar?"


"Ada," jawab Ken seraya memakai helmnya. Bella tersenyum puas. Segera ia naik ke motor bahkan Ken saja belum naik. 


*


*


*


Pukul 21.00, Ken dan Bella tiba di rumah sakit. Bella menenteng kantong plastik berisi dua porsi martabak sultan. Senyum Bella merekah, seakan tak sabar menikmati martabak dengan isian yang melimpah ruah. Ken tersenyum puas melihat wajah Bella yang berbinar.


Namun, sekilas ia memalingkan wajah dengan tersenyum kecut. Itu uang terakhirnya. Dompet Ken kosong biasa uang tunai. Bella melarangnya untuk mengambil uang simpanannya. Alhasil Ken bisa kembali beruang saat gajian seminggu lagi. 


"Assalamualaikum," sapa Bella dan Ken bersamaan saat masuk ke ruang Nesya.


"Waalaikumsalam." Salam dijawab oleh beberapa orang. 


"Loh kalian di sini?" Bella terkejut dengan kehadiran Brian dan Silvia.


Tadi mereka pulang sesuai jam pulang kerja, artinya mereka lebih dulu pulang baru menjenguk Nesya. Siapa yang memberikan ide? Brian si datar atau Silvia yang antusias? 


"Di rumah sangat sepi. Jadi, kami memutuskan untuk melihat Nesya sekalian menunggu kalian," terang Silvia.


"Oo begitu rupanya. Sudah berapa lama?" Bella mengangguk. Setelah meletakkan ranselnya Bella menghampiri Silvia dan Dylan yang berada di dekat Nesya. Nesya tersenyum lembut, "apa itu?"tanyanya saat melihat Bella membuka kotak yang harumnya menyebar hingga ke tempat Brian dan Ken duduk.


Ken yang merasa lapar langsung bangkit. Ia mengambil satu kotak yang Bella tepikan dan kembali duduk di sofa.


"Makan, Kak," tawar Ken. Brian lagi-lagi hanya melirik sekilas. Ken maklum dengan tingkah Brian. 


"Wah martabak! Bagi, Kak!"seru Dylan berseri-seri. Ia meminta satu potong, begitu juga dengan Silvia. 


"Sudah makan malam, sanggup?"tanya Bella pada Nesya. Nesya mengangguk, "sedikit saja."


"Baiklah. Aakkk…." Nesya membuka mulutnya dan menerima suapan Bella.


"Abel beli di mana ini tadi?"tanya Silvia saat ekor matanya melirik Brian yang mencicipi martabak dengan isian keju, coklat, disiram dengan susu kental manis.


Bella memberitahu lokasi ia membeli martabak ini. "Kenapa?"tanya Bella penasaran. Ia berbagi suapan dengan Nesya. Nesya menatap Silvia ikut menanti jawaban.


"Tadi Mas Brian beli gado-gado di jalan. Tapi, rasanya beda sama yang kau beli waktu itu. Kau tahu, ia hanya memakan sesuap lalu lalu hendak membuangnya. Untung aku menahannya, sayang bukan jika dibuang padahal masih utuh?"terang Silvia setengah berbisik.


Harga diri suaminya itu sangat tinggi. Jika Brian tahu Silvia memberitahu tentang ini pasti ia akan sangat malu dan berujung dengan menghindari orang yang mendengarnya tentang ini. 


Bella tertegun mendengar keterangan Silvia. Ia menatap Brian sekilas yang kini tengah menikmati sepotong martabak tanpa banyak bicara.


"Apa tidak enak?" Nesya meminta pendapat Silvia.


"Sebenarnya enak. Tapi, rasanya memang lain. Mas Brian itu terbiasa dengan rasa yang sama," jelas Silvia.


"Ribet juga, ya?" 


Bella kemudian memberitahu Silvia tempat ia membeli gado-gado kemarin. 


"Kau ternyata suka makanan manis, Kak?"celetuk Ken.


Brian tidak menjawab. Ia menghabiskan martabaknya kemudian minum lalu berdiri. "Kita pulang," ujarnya datar pada Silvia.


"Okay!"sahut Silvia. "Dylan kau ikut pulang?" Silvia berpaling menatap Dylan yang masih bercengkrama dengan Nesya.


"Aku harus menemani Nesya," jawab Dylan. 


"Pulang saja. Kau sudah seharian di sini. Ada perawat Winda yang menjagaku malam ini. Kau juga harus belajar guna menyelesaikan target  pendidikan SMA-mu dalam satu tahun," tutur Nesya.


"Benar, Dylan. Besok kau bisa kembali lagi kemari dengan membawa buku pelajaranmu. Jadi, kau bisa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," timpal Bella.


Satu harian ini Dylan hanya menemani Nesya tanpa menyentuh buku yang sudah menjadi belahan jiwanya. Belahan jiwa Dylan sekarang ada dua, satu buku yang berisi ilmu dan satu lagi adalah Nesya, calon pendamping hidupnya sampai akhir hayat nanti.


"Besok pagi kami yang akan mengantarmu. Atau jika tidak sempat sopir di rumah siap untuk diperintahkan," imbuh Silvia.


Dylan menatap Nesya. Nesya mengangguk menyetujui ucapan Bella dan Silvia. Dylan mencebikkan bibirnya, walau enggan dan berat, Dylan mengangguk menurut. 


"Good Boy!" Nesya mengusap lembut rambut calon suaminya. Dylan menarik senyum tipis.


"Perawat Winda akan menemanimu malam ini," ujar Bella. Sore tadi Bella menyuruh Perawat Winda untuk pulang lalu kembali lagi pada malamnya untuk menjaga Nesya sampai esok pagi. 


Tak lama kemudian Perawat Winda sudah tiba. Bella, Ken, Brian, Silvia, dan Dylan segera berpamitan. 


Di perjalanan, Bella yang memeluk Ken dari belakang termenung. Deru kendaraan yang ramai seakan tak mengganggu. Ken mengendarai motor dengan kecepatan cukup gesit agar segera tiba di rumah. Tubuhnya rasanya sudah merengek ingin istirahat.


 Di mobil Brian suasana cukup hening, tiada pembicaraan satu lama lain selain siaran radio bervolume kecil. Dylan sibuk dengan gawainya. Silvia sibuk menatap penuh minat wajah suaminya dengan Brian melihat ke luar jendela.


Brian merasakan tatapan lekat Silvia padanya. Ia hanya pura-pura tidak menyadari hal itu. Brian tahu jika ia menoleh tiba-tiba pada Silvia, Silvia akan kik-kuk dan canggung.


Namun, tiba-tiba terbesit di hatinya untuk mengerjai Silvia. Brian menoleh cepat pada Silvia. Benar saja. Mata Silvia membola sesaat sebelum akhirnya mmenunduk "ada apa? Mengapa menatapku begitu tadi?" 


"Ah itu … hehehe salahkan menatap wajah suami sendiri? Kau suamiku, tidak ada larangan bukan untuk menatap wajah suami sendiri? Lagi kau sangat tampan, Mas."


Silvia menjawab dengan tetap menunduk. Ada nada malu dan rona merah di pipinya. Brian mengangkat alisnya. Sepertinya baik ia dan Silvia sendiri sudah mulai berani menunjukkan ekspresi satu sama lain.


Biasanya Silvia akan menggeleng dan mengatakan tidak ada. Lalu Brian tidak bertanya lagi. Lagi, belakangan ini Silvia sering mengucapkan statusnya sebagai suami Silvia. 


"Ya tidak ada yang salah. Kau jadi lebih berani sekarang," sahut Brian, ia kembali melihat ke arah luar jendela.


Dylan yang mendengar itu menoleh sekilas ke belakang. Ada rasa penasaran di hatinya tentang bagaimana sebenarnya hubungan suami istri Brian dan Silvia. Namun, merasa itu bukan urusannya, Dylan kembali fokus pada ponselnya. 


"Kau juga jadi lebih hangat, Mas. Ekspresimu juga tidak terlalu kaku lagi," tutur Silvia.


"Oh ya?"sahut datar Brian tanpa menatap lawan bicaranya yang diangguki oleh Silvia. 


"Apa ini awal kau akan kembali seperti dulu, sebelum kita menikah?" Silvia begitu berharap waktu pacaran kembali. 


"Maybe." Silvia tersenyum. Tidak ada yang tidak mungkin. Semua hanya butuh proses dan usaha!


*


*


*


Selesai mandi, Bella duduk di depan meja rias. Ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sedang Ken sudah berbaring di atas ranjang namun belum tidur. 


"Ken," panggil Bella.


"Ya?" Ken berbaring ke arah Bella. 


"Apa kau sudah mencari terapis?"tanya Bella.


"Terapis?"


"Benar." Bella yang sudah selesai mengeringkan rambutnya menatap Ken.


Ken awalnya masih belum mengerti. Ia mengingat arah bahasan tentang terapis. Setelah ingat, Ken langsung duduk dengan sorot mata penuh binar.


"Ahh! J-jadi Aru, kau?!" Bella mengangguk.


"Aku sudah memutuskannya. Aku setuju. Aku akan menjalani terapi!"tegas Bella.


"Oh God! Akhirnya! Aku sangat bahagia, Aru!"


Ken turun dari ranjang kemudian memeluk erat Bella. Setelah sekian lama akhirnya Bella setuju untuk menjalani terapi guna menghilangkan trauma naik kendaraan di atas roda dua. 


Keduanya berpelukan erat. Ken menghujani penuh kasih wajah dan rambut Bella dengan ciuman. "Aku sudah mendapatkan terapis untukmu. Jika besok ada waktu, kita akan menemuinya!"


"Aku ikut pengaturanmu saja," sahut Bella. 


"Tapi, apa alasannya, Aru? Kemarin kau begitu kekeh tidak ingin menjalani terapi, dan sekarang kau berubah pikiran," heran Ken.


"Aku sadar. Aku tidak hidup sendiri lagi seperti saat di luar negeri. Ada Nesya dan kau."


"Jika begitu ini patut dirayakan."


"Dirayakan?"


"Hm."


"Dengan cara?" Ken menjawabnya dengan memutar dan mendorong lembur Bella ke atas ranjang. "Dengan cara ini?" Bella menaikkan alisnya. Ken mengangguk, "menurutmu?"


"Tapi, aku habis keramas."


"Tidak masalah. Aku akan mengeringkan rambutmu nanti."


"Kau tidak lelah?"


"Untukmu tidak!"


*


*


*


Sementara di kamarnya, Ken dan Bella tengah memadu kasih maka di kamar Brian dan Silvia, Silvia tengah duduk di lantai dengan kedua tangan berada di atas ranjang sisi Brian. Ia tengah menilik lekat wajah Brian yang terlihat damai dalam tidurnya. 


Silvia berganti posisi menjadi bertopang dagu, "aku harap kau kembali seperti dulu, Mas. Jujur saja sebelum Bella hadir di tengah keluarga kita, aku sudah sangat lelah dengan hubungan kita. Aku bagai burung dalam sangkar yang harus menuruni semua apa yang kau katakan." 


"Tapi, kini semangat untuk hubungan kita menjadi semakin dulu, kembali membara."


"Mas, sejujurnya aku ingin sekali naik motor seperti Ken dan Bella. Aku sangat berharap. Tapi, aku tak tahu kau bisa atau tidak?"


Hah!


"Sudahlah. Yang terpenting aku ingin menegaskan bahwa aku sangat mencintaimu dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun!"


Setelah itu, Silvia berdiri dan mengambil posisinya tidur di samping Brian. 


Merasakan sisinya sudah diisi. Mata Brian terbuka, ia melirik sekilas pada Silvia yang tidur menghadap dirinya. Senyum singkat ia torehkan. Brian kembali menutup matanya.