
Berakhir sudah kebersamaan Bella dan Louis. Selesai makan malam, Bella mengantarkan Louis ke bandara. Di sana, Carl menunggu gelisah di tangga pesawat. Terlihat penampilannya kacau dan baru sumringah ketika melihat Louis turun dari motor Bella.
"Tuan Muda! Akhirnya Anda kembali juga! Saya kira Anda akan menginap di sini malam ini!"seru Carl, langsung turun dan sesaat mengecek kondisi Louis. Ia memutari tubuh Louis seakan memastikan Louis kembali tanpa lecet apapun.
"Hei-hei apa maksudmu, Carl?"tanya Bella dengan nada kesal. Ia menatap tajam Carl yang seketika menatap dirinya.
"Nona Bella," sapanya hormat.
"Apa maksud tindakanmu tadi? Memangnya aku biang masalah sampai takut Tuan Mudamu itu lecet? Huh!" Bella mendengus sebal.
"Maaf, Nona. Saya kan hanya memastikan," jawab Carl sopan lagi lembut.
"Ya nggak di depanku juga!"sahut Bella yang masih kesal.
"Sudah-sudah. Carl naiklah lebih dulu." Louis yang tadinya tersenyum geli menengahi keduanya.
Carl mengangguk, sebelum naik ia tersenyum pada Bella, "senang bertemu dengan Anda, Nona Bella. Sungguh rasanya kantor ada yang kurang semenjak Anda resign. Segenap keluarga besar Kalendra Group masih berharap besar Anda kembali ke perusahaan, terlebih Tuan Muda," ungkap Carl. Bella tersenyum tipis. Ia sudah tahu dan sudah mendengarnya berulang kali.
"I know, Carl. Tapi aku juga belum bisa kembali. Masih banyak yang harus aku selesaikan. Mungkin suatu hari aku akan kembali ke sana, tapi ku rasa bukan sebagai karyawan melainkan perwakilan kerja sama perusahaan lain," jawab Bella.
Carl tersenyum, mengangguk kembali, "jika begitu kami sangat menantikannya, Nona. Dan saya harap kelak kita selalu menjadi rekan bukan lawan," harap Carl, kembali melangkah menaiki tangga dan menghilang dari pandangan kedua.
"Ck lihatlah dia. Aku bilang juga apa? Huh lebih baik aku menginap," gerutu Louis, harusnya ia bukan yang mengatakan semua hal yang diucapkan Carl?
"Dia kan perwakilanmu, Kak. Sudahlah jangan ditekuk begitu wajahmu. Ntar kadar ketampanan Kakak berkurang," rayu Bella. Sontak wajah kusut itu berubah semakin kusut.
"Wajah tampan ekspresi apapun tetap tampan. Kau tak pandai merayu," gerutu Louis dengan nada percaya diri.
"Iya-iya deh. Aku ralat, teruslah tekuk wajah Kakak karena itu semakin membuat Kakak tampan."
"ABEL! Kau mau membuat wajahku cepat keriput, hah?"pekik Louis, wajahnya kian masam. Bella terkekeh pelan.
"Katanya tadi ekspresi apapun tetap tampan?"
"Ya nggak gitu juga!"sungut Louis.
"Hm baiklah-baiklah. Berhentilah cemberut. Itu sangat tidak enak dipandang. Walau itu membuatmu sedikit lebih tampan, tapi justru membuat orang lain takut dan wajah Kakak akan cepat tua. Lebih baik tersenyum …."
Bella melangkah mendekat pada Louis, berdiri di hadapan pria tinggi itu. Tangannya bergerak, berada di sudut bibir Louis kemudian menarik bibir Louis, tersenyum lebar.
"Ini lebih bagus terlebih akan mendapat pahala," lanjut Bella.
Louis kini tersenyum tanpa dipaksa, dan kini kedua tangannya berada pada bahu Bella.
"Hari semakin larut. Cepatlah naik dan istirahat. Besok saat tiba di Jerman pasti banyak agenda pentingmu," ujar Bella.
"Baiklah."
Bella menarik tangannya, tapi tangan Louis masih berada di bahu Bella.
"Kau juga istirahat." Bella mengangguk.
"Aku pamit," ucap Louis.
"Hati-hati." Bella terkaku sejenak saat Louis mengecup keningnya dan bibirnya sekilas kemudian berlari naik ke pesawat.
"ABEL RINDUKAN AKU SELALU. SAMPAI JUMPA SEBULAN LAGI. ICH LIEBE DICH!*"teriak Louis.
Bella tersadar. "Ya!" Bella melambaikan pada Louis. Louis membalasnya kemudian masuk ke dalam pesawat. Pintu pesawat tertutup. Bella menjauh sejenak, duduk di motornya melihat pesawat berjalan untuk lepas landas. Saat cahaya lampu pesawat mulai menjauh, barulah Bella meninggalkan bandara. Kenangan yang membekas di hati. Hati Bella berbunga-bunga selama perjalanan pulang.
Ia baru mengubah raut wajahnya menjadi datar saat memasuki kediaman Mahendra.
"Assalamualaikum," sapa Bella.
"Waalaikumsalam." Dijawab oleh anggota keluarga Mahendra yang lain kecuali Ken.
"Ken mana, Bel?"tanya Rahayu setelah Bella duduk.
"Kami nggak bareng, Ma."
"Loh? Kami kira kalian dinner berdua." ungkap El. Bella menggeleng.
"Kamu nggak dari lembur kan? Anjani saja sudah pulang sebelum magrib tadi. Hayo ke mana kamu sampai pulang jam segini?"ucap El lagi. Bella terdiam mendengar pertanyaan itu, ia mencari jawaban yang pas.
Rahayu dan El menatap penasaran Bella, sedangkan tiga lainnya hanya menunjukkan wajah datar. Brian melirik Surya, ia mencari gurat wajah cemas di sana dan Surya tetap datar.
"Ya kebetulan tadi jumpa teman waktu kuliah dulu. Jadi kami makan malam dulu di sekitar pantai dan jadinya lupa waktu," jelas Bella.
Setengah benar setengah tidak. Bukankah Louis sama dengan teman lamanya?
"Hm teman kuliah?" Brian memberikan sorot mata selidiknya.
"Iya benar. Asalnya dari Semarang, kita tuh pertama kali bertemu waktu ada program pertukaran mahasiswa. Dan dia ke Jakarta menghadiri pernikahan saudaranya. Maklum saja, Kak. Sudah lama kami tidak bertemu, sekali bertemu lupa waktu. Tahu sendirilah kalau wanita sudah reuni, ada saja yang dibicarakan," jelas Bella, meyakinkan semua yang ada di ruang keluarga.
Dan walau semua tidak benar, tapi soal teman yang di Semarang dan program pertukaran pelajar itu benar adanya.
"Wanita karier jago gosip juga ya?" Nada sinis yang disambut senyum simpul Bella.
"Maaf ya Ma, Pa, karena Bella sampai lupa waktu," sesal Bella pada mertuanya.
"Em lalu sekarang Ken ada di mana? Ponsel kalian berdua sama-sama nggak aktif," tanya El, ia menerka ke mana perginya Ken.
"Ke mana lagi kalau bukan rumah Cia," sahut Brian acuh.
Wajah Surya berubah, ia kini menatap Bella serius.
"Kamu tahu di mana Ken sekarang?"tanya Surya serius.
"Tadi Ken sempat kirim pesan kalau Ken mau menginap di rumah Cia," jawab Bella.
"APA?!"
Wajah Surya mendadak berang. Semua yang ada di dekatnya terkejut. Raut wajah kesal tertera jelas.
"Mengapa tidak kau larang? Kau itu istrinya, harusnya lebih ketat terhadap suamimu! Kau punya hak untuk membatasi dirinya dari hal tercela. Abel, Ken itu suamimu! Haram hukumnya ia tidur seranjang dengan wanita lain walaupun hanya tidur!"cerca Surya kesal.
Bella terdiam.
"Abel, jangan terlalu rendah hati apalagi merasa pernikahan ini hanya sekadar atas dasar kesepakatan semata. Pernikahan kalian sangat sakral, disaksikan oleh banyak saksi. Kamu istrinya, Ken adalah hakmu. Kamu lebih dewasa dari Ken, harusnya mengerti cara membina rumah tangga. Harusnya kamu lebih paham tentang akibat buruk hubungan kalian ini. Mama tahu kamu merasa tidak bisa melarang Ken dan Cia. Tapi Abel, itu semua dapat menimbun dosa. Pernikahan adalah salah satu jalan menuju surga bukan kehancuran. Jadi Mama harap kamu lebih tegas dari terhadap Ken!"ucap Rahayu yang mulai kontra dengan hubungan Ken dan Cia.
"Yap, itu benar! Akan ribet urusannya jika tercium oleh publik!"timpal El.
"Bukankah kau lebih sering membuat publik gempar? Semua artikel tentangmu tak jauh dari skandal dan kelakuan burukmu!"ketus Brian.
El tersenyum simpul.
Dan jika hubungan dalam rumah tangga kita terbongkar, apakah kamu masih bisa bersikap tenang, Mas?batin Silvia, melirik Brian.
"Abel, jemput suamimu sekarang!"titah Surya tegas.
Bella melihat jam tangganya sekilas, hampir pukul 22.00.
Melihat tatapan tegas Surya, mau tak mau Bella harus menjemput Ken dari rumah Cia. Padahal ia sangat ingin mandi lalu tenggelam dalam bui mimpi. Tapi ya sudahlah, dari pada ribet urusannya.
"Kalau Ken menolak pulang, seret saja dia!"pesan Surya. Bella mengangguk.
"Adik ipar aku ikut, biar nanti Ken nggak kabur!"ucap El, langsung berdiri dan berlari ke kamarnya mengambil jaket.
Bella meminta persetujuan Surya.
"Pergilah."
*
*
*
"Siapa?"
Suara penjaga gerbang menjawab bel gerbang yang Bella bunyikan.
"Oh Nona toh. Cari Den Ken ya?"terkanya seraya membuka pintu gerbang. Louis memasukkan motor, lalu membuka helm nya. Ia mendapati mobil Ken terparkir cantik di sana.
"Yang lain sudah tidur?"tanya Bella.
"Iya, Non."
"Ya sudah, Bapak temani saya masuk, biar nggak dianggap maling," ucap Bella.
"Kak El nggak ikut?"
"Ikut deh, bantuin nyeret Ken kalau dia nggak mau pulang." El turun dari mobil.
"Assalamualaikum," sapa Bella yang dijawab keheningan. Bahkan ruangan lantai bawah sudah gelap. Pintu rumah memang tidak pernah dikunci mengingat Cia yang bisa kambuh kapan saja.
"Eh siapa tuh?" Dari arah dapur terlihat ada yang mendekat.
"Den Angga?" Pak Muji tersentak pelan dan seketika lampu lantai bawah hidup.
"Kalian?" Anggara tampak terkejut mendapati Bella dan El berada di rumahnya.
"Mau apa kalian kemari?!"tanyanya dingin.
"Tentu saja menjemput adikku, bocah ingusan!"sahut El, mulai menapaki anak tangga.
"Hei mau ke mana kau? Jangan ganggu Kakakku!"pekik Anggara panik.
"Aku hanya mengambil milikku, ada yang salah Tuan Muda Anggara?"tanya Bella, dingin.
"Hak apa? Kak Ken itu pada dasarnya milik Kak Cia! Kau adalah perusak hubungan mereka!" Bella tersenyum tipis.
"Benarkah? Ckckck bukankah kalian hanya terlalu memikirkan kondisi kakak kalian sendiri, tapi menyakiti perasaan orang lain! Sebelum kami menikah, semua sudah setuju dengan pernikahan kami, baik aku, Ken, juga kakakmu! Jadi tolong jangan halangi aku karena aku tidak ingin membuat keributan di rumah orang lain!"tegas Bella.
"Tidak!"
Anggara merentangkan tangannya menutupi jalan Bella.
"Jangan paksa aku main kekerasan, Tuan Muda!"desis Bella memperingati.
"Tidak!"
"Minggir!"
"Tidak!"
Bella langsung menarik tangan Anggara dan menariknya. Anggara langsung terpelanting jatuh. Saat Bella hendak melangkah, Anggara memeluk kaki Bella.
"Tolong. Tolong jangan ambil Kak Ken. Biarkan mereka tidur dengan nyenyak. Ku mohon jangan ganggu mereka. Aku janji nanti aku akan top up kan diamond game Kakak."
Pak Muji melongo mendengar tawaran Anggara.
"Kau anggap suamiku itu apa?"geram Bella.
"Ya manusia, tapi tolong jangan ganggu mereka. Aku bakal ikuti apapun syarat Kakak asalkan Kakak jangan menganggu mereka."
Anggara tetap memeluk kaki Bella. Sebenarnya tidak enak juga rasanya, tapi biar bagaimanapun ia harus membawa Ken pulang!
"Tidak! Tolong jangan per sulit urusanku, Tuan Muda!"tolak Bella tegas.
Ia bersiap untuk menghempaskan Anggara dari kakinya.
"Adik ipar ayo pulang!"seru El.
Bella melihat ke atas tangga. Di belakang El yang sumringah, ada Ken yang berjalan dengan wajah kusutnya. Saat tiba di lantai bawah, Ken sesaat menatap kesal Bella kemudian berganti menatap Anggara yang masih memeluk kaki Bella.
"Angga, aku pulang dulu. Jika nanti Cia bangun dan nyariin aku, katakan padanya aku sudah pulang karena urusan penting."
Anggara mendongak, "Kak Ken pulang? Ninggalin Kak Cia?"
"Angga, Papaku sudah ikut campur, aku tidak ingin kalian terkena imbasnya. Aku pamit."
Ken pergi lebih dulu, meninggalkan El dan Bella yang saling tatap dengan tatapan puas.
"Bye anak ingusan. Lanjutkan tidur manismu ya." El menyusul langkah Ken.
"Urusanku sudah selesai. Aku pamit ya, Assalamualaikum."
Pelukan Anggara yang melonggar membuat Bella dengan mudah menarik kakinya dan menyusul Ken dan El.
"Den, jangan bersimpuh gitu Den," ucap Pak Muji khawatir.
"Kak Cia! Aku harus temani Kak Cia!"seru Anggara, langsung berdiri dan berlari naik.
***
El mengemudikan mobil Ken mengikuti motor Bella. Ken sendiri sedari tadi tetap diam dan menatap keluar jendela. El juga tak banyak bicara, ia lebih fokus mendengarkan lagu favoritnya.
Hampir pukul 00.00 mereka kembali ke rumah. Rahayu sampai tertidur di ruang keluarga dengan berbantal paha Surya. Surya terbangun saat mendengar langkah kaki.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ken melewati Surya tanpa menyalami pria itu, lain halnya dengan El dan Bella.
"Sudah larut, kembalilah ke kamar kalian!"ucap tegas Surya.
El dan Bella mengangguk. Surya menggendong Rahayu kembali ke kamar.
Bella yang baru melangkah masuk ke dalam kamar, terkejut bukan main saat tangannya dicekal dan dalam sekejap mata ia berada dalam penjara tangan Ken dengan tubuh membentur dinding.
"Ken a …."
Belum selesai pertanyaan itu, bibir Bella langsung dibungkam oleh bibir Ken. Mata Bella terbelalak. Ini serius? Ken mencium dirinya?
Ciuman yang terkesan berantakan. Bella menerka ini ciuman pertama Ken. Sebagai wanita dewasa, terlebih sudah halal, Bella mulai membalas pelukan itu. Ken membuka matanya terkejut saat mengetahui ciumannya dibalas.
Hah
Hah
Nafas Ken terengah saat sesi ciuman itu berakhir. Ia kini menatap Bella rumit. Rasa cemburu, kesal, dan malu begitu mendominasi. Ia kemudian memalingkan wajahnya melihat wajah Bella yang menuntut penjelasan darinya.
"Maaf."
Satu kata dan Ken langsung pergi untuk berbaring di ranjang lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"First kissmu?" Tidak dijawab. Bella memilih untuk membersihkan tubuhnya dulu baru tidur.
"Ternyata begitu rasanya ciuman," gumam Ken.