
Kursi yang membelakangi Bella itu berbalik, "siang Nona Nabilla," sahutnya dengan senyum lebar. Mata Bella membulat, ia terkejut mengetahui siapa Presdir perusahaan ini. "Pak Surya?"
Presdir Mahendra Group yang tak lain adalah Pak Surya, pria paruh baya yang pernah Bella bonceng itu tersenyum lebar seraya mengangguk. "Saya puas Anda terkejut," ujarnya dengan nada bahagia.
"Err ya kebetulan yang mengejutkan," sahut Bella, dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar dengan sedikit menambahkan senyum tipis. Bella segera mengambil tempat duduk di depan Pak Surya, begitu pria itu menyuruhnya duduk.
Ternyata ini alasannya, batin Bella.
"Saya benar-benar terkejut saat memeriksa CV pelamar kerja. Saya tidak pernah menduga bahwa perempuan bar-bar seperti Anda adalah lulusan berprestasi Stanford University, juga pernah menjabat sebagai GM perusahaan ternama Jerman. Saya kira Anda adalah seorang pembalap atau seorang atlet," ucapnya panjang lebar seraya membaca kembali surat lamaran kerja yang Bella sodorkan.
Bella hanya tersenyum kecil. Dalam hatinya malu juga sebal, pria yang berpengaruh besar di dunia bisnis Indonesia ini sudah mencapnya sebagai perempuan bar-bar.
Pak Surya sendiri, sembari membaca juga mencuri pandang pada Bella. Bella tetap memberikan senyum tipisnya, tidak sedikitpun ada rasa gugup di wajahnya. Bella begitu tegang, seolah sudah pasti diterima, or sudah punya plan B, C, dan seterusnya.
Bella bukannya tidak menyadari Pak Surya yang curi-curi pandang padanya. Sesungguhnya ia risih, rasanya ingin menculek mata Pak Surya. Tapi Bella harus tetap sopan, ia tetap tersenyum seraya mendengus sebal dalam hati.
Sepertinya rumor yang tersebar di publik belum lengkap. Pria tua ini, minta dihajar! Sudah punya istri dan anak mata masih jelalatan! Tapi aku harus menahan diri untuk tidak memukulnya!
"Hahaha sepertinya Anda salah paham terhadap saya," ujar Pak Surya seraya menutup map lamaran kerja Bella.
"Maksud Anda?" Bella menunjukkan wajah tidak mengerti. Pak Surya tertawa, "saya bukan pria mata keranjang, Nona. Saya hanya membandingkannya apa yang tertera di sini dengan Anda langsung."
Pak Surya memang menangkap perubahan ekspresi Bella yang teramat halus. Bella menarik lengkung bibirnya, memberikan senyum simpul.
"Ada surat rekomendasi dari perusahaan lama Anda?"tanya Pak Surya, mulai serius menginterview Bella.
"Tidak!"jawab Bella tegas. Alis Pak Surya menyatu, bingung dan heran dengan jawaban Bella. "Tidak ada?"tanyanya memastikan.
"Benar. Adakah masalah dengan itu, Pak?"tanya Bella, hanya basa-basi. Jelas ia tahu betapa pentingnya sebuah surat rekomendasi. Bahkan surat tertulis itu bisa membuat seseorang diterima oleh suatu perusahaan tanpa interview.
"Aneh," gumam Pak Surya. "Tidak ada atau memang tidak diambil?"tanyanya memastikan lagi. Sebagai pengusaha besar, tentu ia mengenal perusahaan besar di luar negeri termasuk Jerman. Untuk karyawan terbaik, mana mungkin Kalendra Group tidak memberikan surat rekomendasi. Kecuali, karyawan itu dipecat secara tidak hormat atas kesalahan fatal, atau ….
Pak Surya menatap lekat Bella. Penampilan yang sederhana, tak berlebihan untuk seseorang yang pernah menjadi seorang GM. Sifat dan perilaku yang tegas dan terkesan blak-blakan. Perangai yang baik walau terkadang membuat jantung seseorang hendak copot, dan Pak Surya sudah membuktikannya sendiri.
Anak ini punya kemampuan. Sangat berkualitas dan sangat sempurna!
"Saya ingin mengandalkan diri saya sendiri, tanpa bantuan surat rekomendasi. Saya harap Bapak tidak mencap buruk perusahaan lama saya," papar Bella tegas.
"Jika begitu, berarti kau begitu yakin akan diterima kerja di sini dengan posisi yang kau ajukan?"
Bella mengangguk mantap.
"Sangat percaya diri juga tidak bagus, Nona."
"Akan tetapi adanya rasa pesimis lebih membuat apa yang kita harapan menjauh. Setidaknya rasa percaya diri itu ibarat sebuah cita-cita yang digantungkan setinggi langit. Tidak tercapai pun setidaknya tidak langsung jatuh membentur bumi. Maka itu, harus ada rencana cadangan di balik rencana utama," jawab Bella yang membuat Pak Surya mengembangkan senyumnya lagi.
"Lantas menurutmu apa arti seorang pemimpin?"
"Pemimpin bukan sekedar hanya memerintah dan mengatur. Bukan sekadar tunjuk sana dan sini. Bukan sekadar menorehkan tinta tanda tangan akan tetapi lebih dari semua itu. Seorang pemimpin adalah rekan dan sahabat bagi yang dipimpinnya. Bukan seseorang yang memberikan rasa takut melainkan sebuah rasa hormat, aman, dan setia yang tertanam abadi di dalam hati. Harus bisa mengayomi juga merangkul bawahannya. Seorang yang bijak, sabar, yang mampu menengahi dengan kepala dingin kala terjadi sebuah pertentangan. Serta yang paling penting, seorang pemimpin harus berbuat yang terbaik untuk membawa apa yang ia pimpin memberikan yang terbaik," jawab Bella panjang lebar.
"Yang terbaik?"
"Benar. Karena setiap usaha pasti ingin menghasilkan yang terbaik."
"Tapi Nona, mustahil rasanya ada seseorang yang seperti itu …."
"Itu bisa terwujud, jika semua dalam tim itu bekerja sama dengan hati yang tulus. Ya saya akui memang tidak mudah, tapi saya yakin, saya bisa menjadi pemimpin yang seperti yang saya sebutkan tadi."
Pak Surya menaikkan alisnya. "Karena saya sudah pernah melakukannya!"lanjut Bella disertai dengan senyum tipis dan tatapan elangnya. Pak Surya sedikit terkejut, tatapan ini? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana? Batin Pak Surya bertanya-tanya.
Ehem.
Pak Surya batuk pelan, "lalu kenapa kamu keluar dari Kalendra Group?"tanya Pak Surya penasaran. Bella mendengus senyum, seharusnya pertanyaan ini ditanyakan di awal.
"Alasan pribadi. Harusnya itu saya jelaskan kepada Anda? Yang terpenting saya bersih dari kasus dan skandal apapun," jawab Bella lugas.
"Jika kamu tidak ingin mengatakannya, saya juga tidak akan memaksa," ucap Pak Surya, tak kalah tegas. Karena cepat atau lambat saya juga akan tahu, lanjut Pak Surya dalam hati.
"Jadi … apakah saya diterima atau tidak?"tanya Bella memastikan.
"Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Apakah kamu punya kekasih?"tanya Pak Surya yang membuat Bella tercengang. Apakah itu juga sebuah penentuan? Bella menatap rumit Pak Surya. Setahunya, setelah membaca dengan seksama informasi mengenai Mahendra Group, tidak ada satu kalimat pun yang menyinggung soal hubungan asmara. Bahkan menurut kabar angin pun perusahaan juga tidak ada larangan untuk menjalin hubungan asmara sesama karyawan Mahendra Group. Mata Bella memicing tajam, senyumnya hilang dan kini perasaan was-was menyelimuti hati Bella.
"Ada atau tidak?"tanyanya lagi, mendesak.
"Saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang saya lamar."
"Saya anggap kamu single!"
Apa yang sebenarnya Pak Tua ini inginkan? Tidak mungkin kan? Tapi rasanya tidak percaya jika Pak Tua ini orang yang plin-plan. Ah ya sudahlah. Lihat dulu yang sebenarnya Pak Tua ini inginkan.
Bella mengepalkan tangannya mengurangi emosi yang menyulut hati.
Dan kini Pak Surya berdiri, mengulurkan tangannya di depan Bella. Bella menatap hal tersebut datar, menurut perkiraan ia akan diterima.
"Selamat! Anda diterima bekerja di Mahendra Group sebagai Wakil Presdir dengan syarat menikah dengan …."
Belum sempat Pak Surya menyelesaikan ucapannya, Bella langsung berdiri dan memukul meja dengan keras. Tatapannya penuh amarah.
"Saya menolak!" Bella lantas segera melangkah keluar dan membanting pintu dengan keras. Pak Surya bahkan sampai terperanjat dan hampir jatuh. Ia mengelus dadanya, dengan wajah bingung menatap pintu yang tampak baik-baik saja.
"Anak itu! Mengapa temperamental sekali?! Aku kan belum menyelesaikan ucapanku!"gumam Pak Surya, menghela nafas kasar.