
"Maaf sebelumnya, saya tidak bisa mengabulkan harapan kalian!" ucap Bella tegas.
"Kenapa?"tanya Surya.
"Kenapa? Pertama tidakkah Anda berpikir bahwa Anda dan anak kalian terlalu egois? Dia berulang kali bertemu, bermesraan dengan Cia, saya sama sekali tidak ribut. Akan tetapi, saya yang baru sehari melepas rindu dengan pria yang tak lain adalah keluarga angkat saya, kalian langsung menyuruhku untuk melepasnya? Are you crazy?" Bella tertawa pelan seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menatap langit-langit.
Surya dan Rahayu saling tatap, jelas tersinggung dengan ucapan Bella. Tapi rasa penasaran dengan ucapan Bella membuat mereka mengesampingkan hal itu. "Keluarga angkat?"
"Kalian masihlah orang baru dalam hidupku. Kalian hanya tahu sebahagian tentangku jadi jangan bertindak seolah kalian tahu segalanya. Aku bukannya tidak mau melepas cinta ini untuknya tapi apakah Anda tahu bahwa itu tidak semudah membalikkan telapak tangan? Dan saya rasa Anda paham betapa beratnya menghapuskan cinta untuk seseorang yang telah bertahta cukup lama di dalam hati, mungkin juga mustahil karena pasti tetap memiliki tempat tersendiri …." Bella menatap Surya dan Rahayu datar. Ia sengaja menjeda ucapannya.
"Beritahukan saja padanya jika kau sudah menikah!"
Bella langsung menggeleng keras membantah ucapan Surya. "Tidak semudah itu. Kalian tidak tahu apapun mengenai keluarga angkatku. Tenanglah, aku tidak akan menyeret nama keluarga Mahendra dalam hubungan pribadiku!"jawab Bella, tersenyum tipis.
"Ma, Pa …." Bella berdiri.
"Jika Ken bisa lebih menghargaiku, menghargai pernikahan ini, aku rasa bukan hal sulit untuk aku jatuh cinta padanya. Lihatlah ke depannya, jika ia menunjukkan perubahannya, maka aku bersedia untuk memulai komitmen baru dengannya. Menjalin hubungan tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Ah jangan lupa, biarpun kelak rasa cintaku untuk Louis sudah pudar, akan tetapi kami tidak akan bisa putus hubungan."
Rahayu ingin menjawab tapi terpotong oleh Bella, "Aku akan tetap bersikap seperti biasa. Tenang saja aku tidak akan melupakan tugasku sebagai seorang istri. Aku akan tetap merawat anak kalian dengan baik. Sekarang intinya bukan padaku tapi pada anak kalian sendiri."
Dua orang itu tidak menjawab. "Sidangnya sudah selesai bukan? Saya harus segera berangkat ke kantor!"
"Pergilah." Satu jawaban dari Surya langsung membuat Bella melangkah keluar.
Setibanya di kamar, Bella mendapati Ken tidak berada di dalam kamar. Tas yang biasa digunakan untuk kuliah pun tidak berada di tempat. Bella menduga Ken sudah pergi. Bella menghembuskan nafas kasar. Ia membanting tubuhnya ke sofa, merebahkan punggungnya pada sandaran sofa, memijat pelipisnya.
Mengapa jadi rumit begini? Dan bocah itu … benar-benar kekanak-kanakan. Tapi benar juga ucapan Mama Rahayu, hubungan semacam itu jelas dilarang dalam agama. Tapi … hatiku tidak bisa berbohong jika aku mencintai Louis.
Aku hanya bisa berharap, Ken bisa melepaskan Cia dan mulai belajar untuk menerimaku sepenuhnya. Dan sepertinya aku harus mulai belajar untuk melupakan cintaku pada Kak Louis.
*
*
*
Dua minggu berlalu, selama itu pula Ken bersikap dingin pada Bella, juga pada orang tuanya. Bella sendiri merasa ada kurang, jelas biasanya ia selalu mencium tangan Ken saat hendak pergi dan pulang. Ia tetap menjalankan tugasnya, menyiapkan baju ganti Ken, membuat sarapan, juga menegur Ken namun selalu diabaikan.
Selama dua minggu itu, Ken berusaha keras mencari keberadaan Cia namun hasilnya nihil. Ken masih menganggap bahwa orang tuanya dan Bella adalah alasan keluarga Utomo membawa Cia pergi.
Namun, satu hal yang membuat Bella kadang terkekeh sendiri. Ken yang saat berbaring memposisikan tubuhnya jauh dari Bella, saat bangun mendapati dirinya memeluk Bella. Benar-benar masih belum dewasa, batin Bella kala itu.
Ken tetap belajar dengan Bella tapi hubungan mereka tak lebih seperti seorang mahasiswa dan dosen killer.
Ken menjadi orang yang pendiam. Saat diajak ngobrol jawabannya sungguh singkat kalau tidak ya ditinggal pergi atau tidur. Bella yang sibuk di perusahaan jelas merasa ada yang hilang. Biasanya setiap menjelang jam makan siang, selalu ada pesan dari Ken, mengingatkannya untuk makan siang.
Hubungan yang mulai menghangat kembali dingin. Sering, Bella menghabiskan waktunya menatap langit malam di balkon. Rasa yang kurang itu berhasil membuat cinta Bella untuk Louis mulai memudar.
*
*
*
"Hei apa yang kau pikirkan?"tanya Anjani yang melihat Bella melamun, memandangi bunga edelweis kering di mejanya. Bella tersentak pelan, menatap tanda tanya Anjani.
"What happend?"
"Kau memikirkan apa? Belakang ini ku perhatikan sering melamun, apa mengenai hubunganmu dan Ken?"tebak Anjani.
Bella tersenyum simpul, ia mengangguk, "lebih kurang seperti itu."
"Huh apa kau masih menganggapku sebagai sahabatmu? Kau memendam sendiri semua masalahmu. Ini tidak adil, Abel. Aku selalu membagi keluh kesahku denganmu sedangkan kau? Seakan tiada beban tapi nyatanya beban yang kau tanggung lebih besar. Hphm!"kesal Anjani.
Bella menatap datar Anjani. "Apa aku terlihat punya banyak masalah?"
"Jelas. Lihatlah aku bisa tulisan di dahimu bahwa kau sedang bingung, galau gelisah!"ketus Anjani.
Bella menarik senyum tipis, "aku bingung, Jani." Bella menghela nafas kasar. Anjani langsung menangkap sinyal serius. Ia berpindah duduk menjadi di depan Bella. Anjani memasang pose pendengar yang baik.
"Aku bingung bagaimana caranya memberitahu Kak Louis bahwa aku sudah menikah dan sudah tidak mencintainya lagi."
Anjani membulatkan matanya. "Jadi kau sudah tidak mencintai bule Jerman itu lagi?"pekiknya heboh.
Bella menggeleng, "jadi?"
"Mulai tidak mencintainya."
"Hm jadi hatimu kini sudah menjadi milik bocah angkuh itu?"
"Mulai mencintainya."
Anjani memijat pelipisnya. Dua-dua sama-sama mulai.
"Jani aku sungguh bingung."
Anjani berpikir sejenak, ia melihat wajah lesu nan frustasi Bella. Tampaknya cara itu sangat sulit didapatkan oleh otak cemerlang Bella. Ya begitulah, terkadang seseorang hebat dalam hal pekerjaan namun kosong dalam hal perasaan.
Tak!
"Abel!"protes Anjani saat dijitak oleh Bella.
"Kalau itu aku juga tahu, Anjani! Yang aku pikirkan adalah cara tanpa resiko besar. Mengatakan hal itu secara gamblang sekarang, hanya akan membuat situasi semakin rumit."
"Why? Apa dia akan tetap bersikukuh padamu? Jelas-jelas tidak bisa bersatu untuk apa dipaksakan untuk tetap bersama dan saling mencintai?"
"Ahhh Anjani kau sama sekali tidak tahu watak Kak Louis itu bagaimana! Dia itu mantan playboy. Dia mulai meninggalkan sifat playboy nya itu setelah tertarik dan mencintaiku. Selama empat tahunan dia menyandang gelar jomblo."
Bukannya sombong namun itu benar adanya. Louis mulai merubah kelakuan buruknya karena Bella.
Anjani mencerna. Dahinya berkerut-kerut.
"So maksudmu kau takut jika kau mengatakan hal itu secara tiba-tiba, akan membuatnya berubah dan kembali menjadi playboy gitu?"
Bella mengangguk. "Dan yang lebih buruknya lagi, Kak Louis bisa menyerang Mahendra Group."
Anjani terkejut, "seserius itu?"
"Ya itu analisis resikonya. Ah aku benar-benar bingung." Bella meletakkan dagunya di meja.
"Hm … bagaimana jika kita carikan dia wanita cantik? Agar dia juga move on?"saran Anjani.
"Uh jika kita berada di Jerman itu hal yang mungkin, Jani. Iya kali aku harus ke Jerman hanya demi mencari wanita untuknya?"jawab lesu Bella.
Anjani ikut bingung lagi frustasi. Ia merasa menjadi sahabat yang tidak berguna. Saat ia punya masalah, Bella dapat membantunya, dan kini … Anjani ikut menjatuhkan rahangnya di atas meja.
"Ah benar!" Anjani terkejut mendengar seruan Bella.
"Hah? Apa yang benar?"
"Saranmu bisa dilakukan, Jani! Thank you very much!" Anjani terheran dengan wajah Bella yang tampak lega.
"Ya tapi tadi katamu …."
"Ada hal yang baru ku ingat," sahut Bella cepat. Anjani mengangguk pelan walau ia masih heran. Anjani menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kembali ke mejanya.
Tadi kusut kayak baju belum disetrika, sekarang? Ah senyum itu membuatku penasaran dengan apa yang ia rencanakan.
*
*
*
Tengah malam Ken terbangun. Tiba-tiba ia merasa sangat haus. Matanya menyipit mendapati dirinya tidak memeluk Bella, terlebih saat melihat lampu kamar hidup. Ken segera duduk, ia melihat Bella tengah salat tahajud. Ken menatap lekat setiap gerakan Bella.
Rasa hausnya tiba-tiba hilang, kini rasa penasaran akan apa yang Bella mohonkan pada Yang Kuasa. Ken memasang pendengarannya dengan tajam-tajam saat tangan Bella menengadah, berdoa.
"Ya Allah ya Tuhanku, hamba mohon kepada-Mu, bantulah hamba untuk tetap teguh pada keputusan yang hamba buat. Bantulah hamba untuk menghapuskan rasa cinta kepada Louis. Teguhnya hati dan pendirian hamba untuk selalu berada di jalan-Mu. Hamba tidak bisa membohongi hati hamba, sesungguhnya Engkaulah yang maha tahu, mudahkanlah hati hamba untuk menerima suami hamba secara keseluruhan. Hadirkanlah cinta hamba untuknya dan hapuskanlah cinta hamba untuk Louis."
"Lunakkan hati suami hamba. Hadirkanlah cinta untuk hamba dalam hatinya. Ya Allah ya Tuhanku, mudahkan urusan hamba. Berilah hamba ketabahan dalam menghadapi sikap suami hamba. Hanya kepada-Mu lah hamba menyembah dan hanya kepada-Mu lah hamba memohon."
Ken tertegun mendengar doa Bella.
Jadi selama ini …
Rasa bersalah hadir, memenuhi relung hati Ken. Seketika Ken merasa dirinya sangat egois. Ia hanya memikirkan Cia, Cia, dan Cia, malah menyakiti istrinya.
Bella sudah mulai menghapus cintanya untuk Louis, sementara ia menganggap Bella sebagai penyebab perpisahannya dengan Cia. Sementara Bella sendiri juga ada alasan tersendiri untuk menikah dengannya.
Ucapan Surya saat membahas bakti anak pun langsung teringat. Ken merasa semakin bersalah. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri juga Cia.
Ken langsung kembali tidur saat Bella selesai berdoa. Ia mendengar langkah kaki mendekat dan merasakan Bella kembali berbaring.
"Ah sampai kapan kau marah padaku? Aku juga tidak mau begini," gumam Bella. Ken merasakan Bella membelai wajahnya.
"Aku sudah mulai melepaskan cinta untuk Louis, bagaimana denganmu? Heh pasti masih Cia, Cia, dan Cia." Nada bicara yang sedih mengandung kecemburuan.
"Aku sudah mengambil keputusan untuk mendapatkan hatimu, aku pasti akan berusaha untuk itu. Ken jangan persulit usahaku ya …."
Ken merasakan tangan Bella berada di pinggangnya. Wajahnya kini berada di leher Bella.
Cia apa pergi dariku bisa membuatmu lebih bahagia?
Jika memang begitu, pergilah yang jauh. Bahagialah di sana. Maafkan keegoisan hatiku.
Aru, maafkan aku.
Aku berjanji akan menyayangi dan mencintaimu sepenuh hatiku.
Ma, Pa, maaf telah membuat kalian kecewa, tapi aku akan berusaha untuk memenuhi harapan kalian.