
Bella dan Anjani tidak berada di rumah lama Anjani itu. Mereka harus bergegas ke Diamond Corp guna mempelajari dan memulai debut untuk mencapai janji yang telah keduanya ucapkan di depan segenap anggota direksi.
El juga pergi, berbarengan dengan Bella dan Anjani. Ia ada jadwal meeting untuk peluncuran film terbaru yang baru selesai syuting dua hari yang lalu.
Sementara Rahayu dan Silvia, tetap berada di kediaman Anjani. Mereka menjaga Arka, atas permintaan sendiri. Ya sebenarnya hanya Rahayu, tapi Silvia juga enggan pulang sendiri. Toh di kediaman Mahendra juga ia bakalan sendiri jadi lebih baik di sini.
Para pelayan kini lebih fokus menata ulang dekorasi rumah sesuai dengan arahan yang telah Anjani sampaikan. Semua jejak keluarga tiri Anjani sirna, semua hangus dilalap api. Dinding kini berhias bingkai foto keluarga Anjani. Hanya ada fotonya dan sang Mama.
*
*
*
Langkah awal yang Bella perintahkan pada Anjani sebagai Presdir bayangan adalah memahami tatanan dan siapa saja yang berada di dalamnya lalu memeriksa besar penjualan Diamond Grup, juga harga saham yang berkaitan erat dengan nyawa perusahaan, para investor, dan hal vital lainnya yang sangat penting bagi perusahaan. Anjani berusaha keras untuk memahaminya. Dibantu oleh Bella, juga Pak Bram yang dengan senang hati membantunya, Anjani lebih mudah memahaminya.
"Penjualan tidak ada peningkatan, jalan di tempat. Padahal kualitas produk sangatlah bagus, harga juga terjangkau untuk kelas menengah sedang, atas, apalagi bagi konglomerat. Saya penasaran dengan cara pemasaran produk ini," ucap Bella sembari membolak-balik lembaran dokumen di tangan.
"Karena itu Nona, sebelumnya mereka menjanjikan kami para investor untuk tidak menarik investasi dengan janji bahwa akan ada peningkatan siginifikan setelah pergantian CEO. Mengingat lamanya kami di perusahaan ini, serta perjuangan Ibu Maharani dulu, maka kami memberi satu kesempatan lagi untuk mereka," jelas Pak Bram.
"Apakah David itu orang yang mumpuni?"tanya Bella penasaran.
"Lumayan," jawab Pak Bram singkat.
Bella tersenyum, "lumayan? Kalau menurutmu Jani?"
"Aku?" Anjani masih sibuk membaca berkas menatap Bella bingung.
"Ya, menurutmu bagaimana sifat David, adik tirimu itu?"tanya Bella. Anjani termenung, ia tampak mengingat masa lalu.
"David itu sombong. Menurutku kalaupun berkemampuan tapi sombong, tiada artinya. David cenderung memandang rendah orang lain. Karena itu ia tidak disukai oleh orang lain, bahkan ia sering berkelahi karena kesombongannya," ucap Anjani setelah selesai mengingat.
"Sesungguhnya Pak Satria itu licik. Ia mempergunakan kelemahan kami untuk menahan kami di perusahaan ini. Permohonan dan permintaan agar kami tetap berada di perusahaan ini hanyalah topeng menutupi ancaman mereka pada kami. Orang gila seperti mereka, sulit untuk dilawan dengan cara kasar bahkan cara lembut sekalipun," ungkap Pak Bram yang membuat Bella mengeryit tipis kemudian menarik senyum miring.
"Sebenarnya mana yang benar, Anda tak rela meninggalkan perusahaan ini atau takut karena ancaman mereka?"
Pak Bram terhenyak sejenak, matanya menatap Bella yang menatapnya dingin. Ia kemudian menarik lengkung senyum lebar.
"Keduanya, Nona."
"Keduanya?" Alis Bella terangkat, Pak Bram mengangguk mantap.
"Abel, sudahlah. Mereka sudah enyah dari perusahaan dan hidupku. Tidak usah membahas mereka lagi, membuat hatiku jengkel saja!"ucap Anjani dengan nada tegasnya.
"Baiklah."
Bella paham. Ia mengangguk dan kembali fokus membaca dokumen di tangan. Pak Bram yang kosong menatap Anjani dan Bella bergantian. Senyumnya mengembang lebar, Nyonya Maharani, sebentar lagi adalah waktunya kebangkitan Diamond Corp. Anak Anda, putri tunggal Anda telah mengambil alih tanggung jawab Anda. Dengan Nona Bella sebagai sekretaris, jalan itu akan terbuka lebar, batin Pak Bram, kelegaan menghiasi relung hatinya.
"Jani, besok kita turun ke lapangan melihat cara pemasaran produk secara langsung," ujar Bella.
"Okay," jawab singkat Anjani.
*
*
*
Di sisi lain, Ken sudah pulang dari kampus dan langsung menuju rumah pemilik hatinya, Cia. Di perjalanan, Ken singgah sebentar untuk membeli kue kesukaan Cia yakni donat dengan aneka topping.
Dengan bersenandung ria, Ken kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya di kediaman Utomo, Ken disambut hangat oleh Pak Muji. Melangkah memasuki rumah, Ken dicegat oleh Clara yang tatapannya masih tidak bisa menerima Ken yang sudah menikah.
"Ada apa, Tante?"tanya Ken saat Clara menyuruhnya duduk.
"Katakan, sampai kapan Cia menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahanmu?"tanya Clara ketus.
"Apa yang Tante katakan? Cia bukan orang ketiga! Cia adalah satu-satunya pemilik hatiku, Tante. Tolong jangan katakan itu lagi, itu dapat membuat Cia sedih," ucap Ken tegas namun lembut. Wajah Clara masih masam tapi tatapan matanya mencari kejujuran dalam hati Ken dan kemudian ia tersenyum tipis melihat kesungguhan Ken. Ya Ken memang selalu sungguh-sungguh jika menyangkut Cia.
Clara membuang nafas kasar. Wajahnya menjadi sendu.
"Ken, apa kamu tahu perasaan Cia yang sebenarnya? Di depanmu Cia bisa tersenyum dan mengatakan tak masalah. Selama kalian tetap bersama, Cia rela kamu menikah. Akan tetapi, tahu kan kamu bahwa serela-serelanya seseorang pasti ada luka di dalam hatinya. Kamu tahu Ken, luka itu berbeda dengan luka fisik. Tiada obatnya, hanyalah sang waktu yang bisa menyembuhkannya. Tante sering mendengar Cia menangis dan mengatakan tidak rela, tidak sanggup melihat kamu bersanding dengan wanita lain walaupun Cia tahu bahwa itu hanyalah sebuah sandiwara. Jadi, Tante minta kepastian kamu tentang hubungan kamu dan Cia selanjutnya. Tolong, jangan buat Cia semakin buruk karena semua ini. Tante mohon, Ken," ucap Clara, menatap Ken dengan mata yang berkaca-kaca.
Ken meresapi ucapan Clara. Ia sendiri terdiam dengan setetes air mata lolos mengalir di pipinya.
"Tante mohon, Ken. Beri Tante dan Cia kepastian. Sampai kapan harus seperti ini? Sampai kapan? Tante paham, Tante tahu bahwa yang orang ketiga adalah isterimu, akan tetapi berbeda dengan opini publik jika semua terbongkar. Di sini, Cia lah yang akan menjadi sasaran. Keluargamu keluarga yang berpengaruh, hanya untuk menangani kami, merupakan hal kecil," lanjut Clara dan kini ia mulai terisak.
Bahunya bergetar mengingat tangis pilu putri semata wayangnya. Juga kondisi Cia yang drop berkali-kali. Clara serba salah, ia tidak bisa melarang hubungan Ken dan Cia. Ia juga khawatir jika keduanya tetap berhubungan dengan status Ken sudah menjadi suami orang lain.
"Tante …." Ken memanggil lirik. Ia juga bingung ingin mengambil keputusan apa.
"Saya janji, saya akan segera menyelesaikan semua permasalahan di keluarga saya. Saat itu tiba, saya akan menceraikan Kak Billa dan menikah dengan Cia. Saya berjanji, Tante!" Untuk saat ini, hanya itu hanya dapat Ken janjikan.
"Cepatlah. Waktu Cia tidak bisa diprediksi. Tante mohon, berikan ia kebahagian," jawab Clara lirik. Ken mengangguk pasti, ia berdiri.
"Tante saya pamit ke kamar Cia dulu," ucap Ken dengan nada sopannya yang hanya diangguki oleh Clara. Ia menatap punggung Ken dengan tatapan rumit.
"Ken waktu Cia tidak banyak. Tante mohon, jangan buat Cia menderita di akhir hidupnya," gumam Clara dengan air mata yang menetas.
Kini semua bukan milikku
Musim itu telah berlalu
Matahari segera berganti
"Sayang." Ken menghilangkan rasa kesalnya mengingat semua ucapan Clara tadi.
"Ken!" Cia tampak terkejut dengan kehadiran Ken. Ia meletakkan gombor dan bergegas menghampiri Ken. Ken melebarkan kedua tangannya dan Cia langsung masuk dalam pelukan Ken. Ken mendaratkan kecupan hangat pada kening dan pucuk kepala Cia. Cia memejamkan mata, menikmati pelukan hangat dengan Ken.
"Sayang …." Ken memanggil lembut.
"Hm? Ada apa Ken?" Cia mendongak.
"Mata kamu kenapa merah? Kamu habis nangis? Di marahi sama Mama ya?" Cia menatap cemas Ken. Ken menggeleng pelan, tersenyum lembut. Dilepasnya pelukan pada Cia kemudian memegang lembut kedua pipi Cia.
"Aku nangis karena mendengar nyanyianmu, Sayang," ujar Ken sendu.
"Nyanyian aku?"
"Kamu seakan melepaskan aku. Sayang, aku ini milikmu. Semua musim akan kita lewati bersama. Cahaya juga akan selalu menerangi jalan kira. Aku mohon, kamu jangan pernah berpikir bahwa aku alam meninggalkan kamu. Jangan, Sayang. Selamanya kamu adalah pemilik hati ini," pinta Ken penuh harap.
Cia terdiam. Ia tidak menduga bahwa lagu yang ia nyanyikan sebagai bentuk rasa di hari sangat mempengaruhi Ken.
"Sayang, aku tahu memang ini badai untuk hubungan kita. Tapi badai pasti pasti berlalu. Kita akan bersama lagi tanpa ada penghalang," ujar Ken, kembali memeluk Cia.
"Ken …," panggil Cia lirik, membalas pelukan Ken.
"Maaf. Aku janji nggak akan pernah nyanyi lagu itu lagi," ucap Cia.
Benar kata Tante, Cia tidak rela. Ken bodohnya dirimu. Harusnya kamu tahu perasaan Cia. Cia … maaf.
Ken … aku nggak rela. Tapi aku juga tidak bisa menghindar. Ya Allah, cepatlah badai ini berlalu. Kembalikan Ken hanya untukku seorang.
"Sayang, kamu sudah makan? Minum obat?" Ini sudah waktunya makan siang. Ken menunjukkan raut wajah masam melihat Cia menggeleng.
"Aku nungguin kamu. Aku mau kamu suapi aku," lanjut Cia yang berhasil membuat Ken tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku turun."
Ken menggenggam jemari Cia.
"Aku nggak selera makan nasi Ken. Tadi ku lihat kamu bawa kotak donat," ujar Cia, dengan mata menatap meja di mana di sama ada kotak donat yang masih terbungkus rapi dengan hiasan pita merah.
"Ya sudah. Ya penting kamu makan yang bergizi dan berenergi."
Keduanya melangkah dan duduk di sofa. Ken membuka pita dan penutup kotak kemudian mengambil salah satu donat dengan topping full coklat dengan taburan kacang almond.
Cia makan dengan semangat. Habis sudah dua donat utuh padanya. Cia bernafas lega setelah makan dan minum obat. Kini ia dan Ken duduk di bangku balkon. Cuaca yang terik sama sekali tidak berpengaruh. Cia bersandar pada bahu Ken sementara Ken membacakan Cia sebuah novel yang berjudul 'Hujan' karya Tere Liye.
Satu lembar, dua lembar hingga habis dari bab, akhirnya Cia tertidur. Nafasnya beraturan, wajah cantik yang terlihat pucat tidur nyenyak. Ken menutup buku dan meletakkannya. Ia kemudian dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Cia.
Sayang cepatlah sembuh. Itu adalah harapan yang setiap saat Ken minta.
Ken kemudian meraih tasnya tanpa mengganggu tidur Cia. Ken mengambil ponselnya dan melihat buku yang Bella berikan tadi malam. Ken memang membawa buku itu. Ken tidak jadi mengambil ponselnya, malah mengambil buku dan melanjutkan bacaannya tadi malam.
Lima menit, sepuluh menit sampai satu jam Ken membacanya. Ken mendongak, meraih minum yang tak jauh darinya kemudian terdiam sesaat. Dahinya mengerut dalam seakan berusaha mengingat sesuatu.
Astaga! Mata Ken melebar.
Mati aku!
Ken bergidik mengingat sorot mata tajam juga senyum smirk Bella.
Dengan cepat dan lembut, tanpa banyak suara dan pergerakan, Ken menggendong Cia masuk dan membaringkannya di ranjang. Sayangnya Cia terbangun, dan menatap Ken bertanya.
"Sayang aku harus pulang," ucap Ken.
"Pulang? Secepat ini? Sore saja ya, Ken." Cia meminta dengan mata memelas.
"Aku inginnya juga begitu, Sayang. Tapi aku ada janji belajar dengan Kak Billa," jelas Ken.
"Belajar?"
"Iya. Sayang ini adalah cara agar kita bisa bersama tanpa penghalang apapun. Dengan aku mendapat pengakuan Papa, maka aku bisa berpisah dari Kak Billa."
"Tidak bisakah aku absen hari ini? Aku belum mau pisah dari kamu Ken." Cia beringsut dan memeluk pinggang Ken.
"Sayang aku tahu ini berat. Aku tahu kamu tidak rela. Tapi ini harus kita jalani. Kak Billa adalah kunci kita sekarang. Dengan aku cepat mendapat pengakuan Papa, kita akan cepat bersatu," bujuk Ken. Cia masih enggan. Tapi setelah merenung ia membolehkan Ken pulang.
"Ken, aku mohon, jangan pernah geser aku sedikitpun dari hatimu," pinta Cia sebelum Ken keluar dari kamarnya.
"Pasti, Sayang!"