
"Ada yang salah dengan trucknya," gumam Bella.
Bella melangkah untuk melihat lebih jelas melihat kursi kemudi sopir. Wujudnya yang tidak nyata tentu tidak masalah jika bersentuhan dengan benda lain. "Laju truck tidak menurun walau sudah di perempatan. Jika mengalami rem blong sama dengan alasan yang disampaikan oleh kepolisian, maka jatuhnya pasti sopir panik dan membunyikan klakson. Jalanan tidak terlalu ramai. Jika banting setir ke kanan, bukankah itu lebih meminimalisir resiko?" Bella menganalisis lokasi kejadian. Ia memejamkan matanya dan meminta agar memorinya akan kecelakaan ini di slow motion.
"Salah! Mereka menyembunyikan penyebab aslinya! Tapi, mengapa? Mengapa tidak langsung mengatakan kalau sopir dalam kondisi tidak sadar sebelum kecelakaan terjadi? Apa alasannya?" Bella berpikir keras. Namun, seingatnya, tidak ada tambahan berita kalau sopir meninggal sebelum kecelakaan.
BRAAKKK!
Suara tabrakan antara dua benda terdengar begitu keras dan seketika membuat suasana hening sesaat sebelum akhirnya riuh dan segera melihat kondisi kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan. Bella melangkah mendekati truck, "ayo-ayo bantu!" Orang-orang di sana saling bekerja sama mengeluarkan sopir truck dari dalam truck.
"Masih bernafas, cepat-cepat! Ambulance!'
Masih bernafas? Bella tertegun. Ia tak salah lihat, jelas-jelas ia melihat sopir truck sudah tidak sadar sebelum kecelakaan terjadi, "pingsan? Tidak. Kebanyakan sopir tidak sadarkan diri saat bekerja adalah meninggal karena serangan jantung."
"Eh??" Ekor mata Bella menangkap seseorang yang mengenakan topi dan masker tak jauh dari lokasi kecelakaan. Sosok itu, berdiri dengan kedua tangan berada di dalam saku celana, cara sikapnya sosok itu tampak senang dan puas.
"Tunggu!"teriak Bella saat sosok itu melangkah pergi. Ia mencoba mengejar namun tubuhnya mengabur.
"Tunggu!" Bella membuka kedua matanya. Nafasnya terengah. Kesadaran Bella telah kembali ke masa sekarang. Ken dan Calia menatap Bella cemas. Keringat mengucur deras membasahi wajahnya.
"A-ada yang salah dengan kecelakaan kakek. Itu seperti disengaja!"ucap Bella.
"Yang salah? Disengaja? Maksudmu kecelakaan itu tidak murni?"tanya Calia memastikan.
"Kurang lebih seperti itu. Hanya saja, sekarang jika ingin mencari tahu yang sebenarnya sangat sulit. Tapi, aku punya firasat jika dalang sesungguhnya masih hidup," jawab Bella. Nadanya sangat dingin.
"Masih hidup? Apakah?"tanya Ken, agaknya ia mengetahui siapa yang Bella maksud.
"Aku yakin itu dia!"jawab Bella serius. Calia menatap bingung keduanya.
"Calia," panggil Bella lembut pada Calia.
"Ya?" Calia menatapnya dengan tanda tanya. "Terima kasih. Kau membuatku bisa melihat kakek lagi. Aku tahu, masalahnya ada pada hatiku sendiri dan aku akan berusaha keras untuk melawannya."
"Ah syukurlah kau sudah mengerti. Jangan salahkan dirimu sendiri atas segala sesuatu yang terjadi karena itu semua adalah ketentuan yang tidak bisa dirubah. Bukankah dalam keyakinan kalian wajib percaya pada qada dan qadar, iya kan?" Calia mengingat-ingat saat mereka bertukar cerita tentang keyakinan masing-masing.
"Okay. Aku sudah mendapat pencerahan," sahut Bella.
*
*
*
Proses perijinan akan rencana proyek pembangunan apartemen di Papua berlangsung cukup sulit. Bukan dari masyarakat atau pemerintah melainkan dari segi keamanan wilayah. Namun, biar begitu Bella tidak menyerah untuk mendapatkan izin tersebut. Asalkan tidak merugikan pihak manapun, malah memberi timbal balik yang positif, Bella merasa itu pantas untuk diperjuangkan.
Lagipula menurut pandangannya, Papua bukan ladang konflik. Banyaknya konflik yang muncul itu tidak sekaligus melainkan sudah sejak lama yang tidak terselesaikan dengan tuntas. Bukan salah pemerintah, bukan juga salah masyarakat, namun kurangnya kerja sama antara keputusan dan kerja di lapangan, itulah penyebabnya konflik yang ada belum selesai dan muncul konflik baru.
Brian yang awalnya menolak keras akhirnya melunak dan mulai membantu Bella. Ia sadar, resiko sebanding dengan hasil. Untuk membantu gebrakan atau perubahan, harus berani mengambil langkah. Untuk membuat suatu perusahaan maju, harus berani mengambil resiko dengan sudah membuat plan agar resiko bisa diminimalisir. Dan dalam suatu negara, generasi mudanya lah yang sangat berperan penting dalam pembangunan bangsa. Jika tidak mau mengambil resiko, enggan mengambil langkah besar, maka akan jalan di tempat. Jika puas dengan apa yang diterima, satu ya satu, dua ya dua, maka tidak akan ada sebuah kemajuan. Manusia harus punya ambisi, dengan catatan manusia tidak jatuh dalam ambisinya.
Bella dan Brian, sebagai muda mudi yang masuk catatan forbes yang berpengaruh dalam bidang ventura dan keuangan yang usianya di bawah tiga puluh tahun, tentu saja harus berani mengambil gebrakan. Lagipula, ini sudah bagian dari rencana Bella setelah kembali ke Indonesia. Andainya pun kemarin ia tidak masuk ke Mahendra Group atau perusahaan manapun, Bella akan tetap mengajukan proyek ini. Caranya dengan menggandeng beberapa perusahaan. Sebagai lulusan terbaik, tentu Bella punya kecakapan di dalamnya.
Namun, Sebenarnya di balik izin yang telah Surya berikan dari lokasinya sekarang yakni Paris, tersimpan rasa khawatir yang besar walau Bella sudah mengatakan akan berkerja sama dengan pihak keamanan yakni kepolisian dan tentara. Surya tidak masalah dengan biaya, hartanya sudah menggunung. Sebagai salah satu taipan di Asia dengan kekayaan melebihi satu triliun rupiah, tentu yang bukan masalah. Tapi, yang ia khawatirkan adalah keselamatan selama pembangunan dan daya jual apartemen. Sanggupkah menarik perhatian konglomerat dunia? Namun, Surya menyimpan rasa khawatirnya. Ia akan memberikan kesempatan pada anak dan menantunya untuk membawa perusahaan ke mana. Dan nantinya jika proyek ini berjaya akan menjadi salah satu indikator walau sebenarnya Surya sudah memiliki keputusan akan pewarisnya.
Rahayu sudah tampil perfect dengan balutan kebaya serta rambut disanggul. "Hari sabtu kita akan pulang beberapa hari ke rumah untuk menghadiri wisuda Ken. Ada baiknya Mas menyampaikan rasa khawatir Mas pada anak-anak. Mereka sudah dewasa, harusnya bisa menerima kekhawatiran Mas," ujar lembut Rahayu seraya menggandeng lengan suaminya yang tengah menatap keluar jendela dari kamar apartemen mereka.
"Kau benar, Sayang. Menyimpan rasa takut dan khawatir sendirian tidak akan membuat kita mendapat ketenangan," jawab Surya tersenyum lembut.
"Tapi, ada satu hal lagi yang aku khawatirkan, mungkin ini sedikit berlebihan karena Abel mempercayakan proyek pada Ken yang masihlah seorang pemula …."
"Masih dalam bimbingan Abel, bukan?"sela Rahayu. Surya kembali tersenyum.
"Mungkin aku yang terlalu cemas. Biar bagaimanapun darahku mengalir dalam darah Ken. Hanya saja, aku telat memikirkan dampak dari kebebasan yang aku berikan pada Ken. Ya ini sebagian besar salahku." Tatapan Surya sendu. Ia merasa menyesal, namun semua sudah terjadi. Rahayu merasa ucapan Surya ambigu. Telah memikirkan dampak dari kebebasan? Mereka sejak Ken masih kecil sudah sepakat untuk memberi Ken kebebasan menentukkan arah hidupnya.
"Jika Mas tidak ingin ada persaingan, mengapa harus membuat persaingan?"
"Jawabannya tidak bisa Mas katakan padamu."
"Oh? Sesungguhnya aku tidak ada masalah dengan siapa yang akan memimpin Mahendra Group. Namun, aku sekarang sadar, agak lucu juga rasanya seorang anak taipan seperti Mas malah menjadi guru. Ya tidak ada yang salah sih, hanya tidak cocok saja dengan darah keluarga bisnis Mahendra. Tapi, semua kembali pada Mas," tutur Rahayu lembut.
"Aku tahu dirimu, Sayang. Kalian berdua adalah istri yang baik bagi Mas," ucap Surya, mengecup pucuk kepala Rahayu.
"Mas merindukan Mbak Tiara?"tanya Rahayu.
"Mas mencintai kalian berdua. Mustahil Mas tidak merindukannya, Sayang. Lebih lagi lebih dari dua pilih tahun Mas hidup dengannya dan denganmu juga. Apa kau cemburu aku membahas Tiara?" Rahayu menggeleng, "di madu sekian lama, tiada lagi rasa cemburuku padanya Mas. Kau bukan hanya milikku, kau punya dua istri, kebetulan takdir memanggil Mbak Tiara lebih dulu."
"Mas lebih senang kau mengatakan jika kau cemburu, Sayang," cetus Surya. Rahayu terkekeh pelan, "jika aku mengatakan cemburu, apa yang Mas lakukan agar aku tidak cemburu?"tanya manja Rahayu. Surya tersenyum. Dan matanya melirik ranjang. Rahayu langsung tersipu dan melepas tangannya dari Surya dan lari meninggalkan kamar sebelum Surya benar-benar melakukan apa yang ia pikirkan.
"Hahaha!" Surya tertawa puas melihat Rahayu yang tersipu malu. Dasar sudah tua masih bisa tersipu juga, gumam Surya dalam hati.
*
*
*
Jumat sore di mansion keluarga Mahendra. Sore ini adalah terapi ketiga Bella. Kali ini sudah langsung praktik. Sebuah mobil sudah disiapkan. Dokter Susan memandu Bella untuk menyentuh mobil, dan mengatakan bagaimana perasaan Bella saat menyentuh body mobil. Hari juga ditemani oleh Ken dan Calia. Brian dan Silvia belum pulang.
Jawaban Bella biasa saja. Bersentuhan dengan mobil ia sudah biasa, yang tidak bisa adalah berada di dalamnya. Dan Dokter Susan menyuruh Bella untuk masuk ke mobil. Bella memejamkan matanya. Kepalanya mulai pusing dan bayangan kecelakaan kembali terlintas. Ken cemas melihat butir-butir keringat sebesar biji jagung membasahi wajah Bella."Jangan! Biarkan Bella melawan traumanya!" Calia melarang Ken untuk masuk dan memeluk Bella. Ken terpaksa mengikuti larangan Calia.
"Lawan, Nona Bella! Hancurkan rasa bersalah dan ketakutan Anda. Lihat pengorbanan yang kakek Anda lakukan! Jika Anda tidak melawannya, bukanlah rasanya Anda mengecewakan kakek Anda? Anda dilindungi untuk terus hidup dan berkembang. Bukan terundung oleh ketakutan. Hati Anda adalah milik Anda, jangan biarkan siapapun atau apapun itu menyebar ketakutan di hati Anda kecuali takut pada-Nya!" Dokter Susan memberi sugesti. Bella menggigit bibirnya. Kedua tangan mencengkeram erat kemudi. Bella menunjukkan tanda-tanda ingin muntah. Matanya terbuka dan Bella langsung keluar dan mengeluarkan isi perutnya. Ken langsung menghampiri Bella dan memijat tengkuknya.
Huek!
Huek!
"Aru!" Ken langsung menahan tubuh Bella yang hampir limbung. Bella seperti kehabisan energinya dan lemas. Bella masih mengatur nafasnya yang terasa sangat pelan di telinga Ken.
"Anda baik-baik saja, Nona Bella?"tanya Dokter Susan dengan wajah datar yang dijawab anggukan Bella.
"Jika aku tidak melawannya, kapan aku bisa sembuh? Ayo coba sekali lagi," ucap Bella, berusaha berdiri namun kakinya masih lemas. Alhasil Bella kembali limbung dan menabrak dada Ken. Ken berdecak, ia mengeratkan pelukannya pelukan pada Bella.
"Tidak usah memaksakan diri, Nona Bella. Terapi Anda ada tahapannya. Tidak bisa dua tiga kali terapi langsung sembuh karena trauma Anda termasuk trauma akut. Jadi, ikuti saja tahap demi tahapnya."