This Is Our Love

This Is Our Love
Keluarga Yang Lengkap



Meninggalkan Ken dan Bella sejenak di Los Angeles, beralih kepada pasangan Evan dan Calia. Kemarin, terjadi pertemuan antara ayah dan anak, juga antara mantan istri dan mantan suami yang sampai detik ini masih dengan satu hati. Pertemuan itu juga menjadi pertemuan dua keluarga untuk membahas hubungan Evan dan Calia ke jenjang pernikahan.


Sebuah pertemuan, sebuah hari yang setelah perpisahan menjadi sebuah angan, kini terwujud. Tangis haru mewarnai pertemuanmu itu. Rasa syukur dan bahagia membuncah. 


Allen, ayah dari Evan dan Nizam, memeluk erat kedua putranya. Sayang, ia tidak bisa memeluk Umi Hani walaupun sangat ingin. Baik Uni Hani dan Allen, teringat atas batasan mereka. 


Canggung? 


Ya, terjadi kecanggungan di antara Umi Hani dan Allen. Bagaimana tidak? Puluhan tahun mereka tidak bertemu. Dan alasan perpisahan mereka sungguh bukan karena keinginan hati, alhasil kecanggungan tercipta. 


Umi Hani dan Allen, sejauh ini masih sekadar saling menyapa dan bertanya kabar. Mereka masih canggung dan ragu untuk membahas hubungan mereka yang telah kandas. Akankah keduanya kembali bersatu? 


Nizam dan Evan? Jika boleh jujur, mereka ingin orang tua mereka bersatu kembali karena sampai detik ini mereka tidak bisa melupakan dan masih mencintai satu sama lain. Namun, sebuah hal yang kembali sulit karena melibatkan keyakinan. Saat Evan berkata demikian, Nizam hanya menjawab bagimu agamamu, bagiku agamaku. 


Keduanya merasa sudah cukup bisa dipertemukan dan menciptakan sebuah keluarga yang utuh walaupun orang tua mereka tidak menikah lagi. Sebagai anak, tentu keduanya tidak bisa memaksakan kehendak.


"Lantas bagaimana jika Ayah masuk ke keyakinan Umi?"tanya Nizam. Saat ini keduanya berada di balkon rumah yang menampilkan pemandangan pepohonan yang hijau dan daunnya menari ditiup angin. Ini adalah sore yang cukup cerah, matahari masih bersinar dengan garangnya. 


Sementara keduanya berada di balkon, Umi Hani tengah berada di dapur, memasak untuk makan malam nanti dengan keluarga Arshen. Kedua keluarga belum bertemu, Tuan dan Nyonya Arshen mengatakan bahwa pertemuan ayah dan anak lebih utama, maka mereka akan berkunjung saat malam sekaligus makan malam. Agak terbalik memang. Tapi, ya begitulah. Lagipula Tuan dan Nyonya Arshen tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sedangkan Allen, beberapa waktu lalu kembali ke laboratorium karena ada urusan mendadak. 


Evan belum memberitahu Allen mengenai niatnya untuk menikah. Biar saja nanti malam akan ia beri tahu. 


"Sejujurnya, itu terserah Ayah," jawab Evan. 


"Lalu bagaimana denganmu? Jika seandainya Ayah menikah dengan Umi lagi?"tanya Nizam lagi. Ingin tahu tindakan apa yang akan diambil oleh kembarannya.


Evan tidak langsung menjawab. Ia memilih mengikat rambut panjangnya lebih dulu. "Tidak ingin atau tidak sempat potong rambut?" Nizam sedikit risih dengan rambut panjang Evan.


 "Dengan pekerjaanmu, apa itu tidak menganggumu?"tanya Nizam lagi. 


Nizam seorang peneliti, pekerjaannya di laboratorium kimia yang terdapat banyak bahan berbahaya. Bukankah lebih bagus rambut pendek untuk seorang pria? 


"Aku enjoy dengan rambut seperti ini. It's my style. Sama sepertimu, apa tidak merasa bosan dengan style seperti itu?"balas Evan dengan melihat penampilan Nizam yang stay dengan baju kokoh dan celana longgar. 


Nizam tersenyum mendengar balasan Evan. Keduanya memang kembar. Namun, keduanya punya latar yang bertolak belakang. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Van," ujar Nizam mengingatkan.


"Aku akan menikah dengan Calia," jawab Evan yang mengartikan bahwa ia tetap pada keyakinannya. Nizam mengangguk mengerti. It's okay. 


"Jika andainya Mom dan Ayah menikah lagi, maka kau akan tinggal sendirian di Indonesia," ucap Evan. 


Nizam terhenyak sesaat. Benar juga. Jika orang tuanya kembali bersama, maka Umi Hani akan ikut dengan ayah mereka, tinggal di Jerman. Namun, itu masih kemungkinan. Keputusan ada di tangan kedua orang tua mereka.


"Hm … di Indonesia aku tidak sendiri. Aku punya banyak anak didik di sana," jawab Nizam. 


"Anak didik? Bukankah mereka pulang saat selesai jam sekolah?" Evan mengeryit. 


"Itu jika sekolah pada umumnya. Namun, anak didikku itu disebut santri dan mereka tinggal di pondok pesantren. Singkatnya mereka tinggal di asrama. Saat akhir semester baru mereka bisa pulang," jelas Nizam. 


"Pesantren?" Evan sama sekali tidak mengerti. Itu kata yang asing di telinganya.


"Itu semacam sekolah khusus mendalami ilmu agama Islam."


"Ah sekolah agama rupanya." Evan mengangguk paham. 


"Nizam, Evan, tolong bantu Umi sebentar." Terdengar Umi Hani memanggil keduanya. 


"Iya, Umi/Mom," sahut keduanya hampir serentak dan segera beranjak memenuhi panggilan ibu mereka. 


***


Sekitar pukul 20.00 Allen tiba di rumahnya. Sebelum Umi Hani dan Nizam datang, kita Evan pulang, Allen sendirian di rumah ini semenjak orang tuanya meninggal.


Allen diam beberapa saat melihat pemandangan menyejukkan hati di hadapannya. Nizam dan Evan tengah membantu Umi Hani menatap meja dan alat makan di ruang makan. Nizam dan Evan bertugas mengatur, sedangkan Umi Hani menghidangkan makanan. Bahkan sangking asyiknya, Umi Hani dan kedua anaknya tidak menyadari kehadiran Allen. Allen tersenyum, matanya berubah sendu sedikit sayu. Allen tengah melihat kenangan masa lalu, saat ia dan Umi Hani masih bersama. Persis seperti yang dilakukan oleh anak dan mantan istrinya. 


Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa melupakannya, gumam Allen dalam hati. Ia menyeka sudut matanya. 


"Good night," sapa Allen dengan tersenyum lembut, menghampiri anak dan mantan suaminya. 


"Night, Ayah," balas Evan disusul oleh Nizam yang menyalami dan mencium tangan Allen. Umi Hani terpaku sesaat ketika Allen menyodorkan punggung tangan padanya. 


Melihat tatapan kaget Umi Hani, Allen tersadar dan terkejut sendiri. "Ah … maaf. Aku terbawa suasana." Allen berkata dengan canggung seraya menyentuh rambutnya. Itu terlihat menggemaskan yang membuat Nizam dan Evan tak kuasa untuk menahan senyum. 


"Ini … siapa di antara kita yang makan banyak?" Allen mencairkan suasana canggung itu. Allen melihat banyaknya hidangan di meja makan. 


"Akan ada tamu, Yah," jawab Evan. 


"Tamu? Siapa?" 


"Pacar Evan, Yah. Juga keluarganya," beritahu Evan. Allen mengeryit. Beragam pertanyaan muncul di benaknya. Sedari kecil ia mengenal Evan dengan baik. Putranya ini sedari kecil hanya mengenal dan tahu belajar dan belajar. Kesehariannya kalau tidak di kelas ya di perpustakaan, kalau ya di laboratorium, dan jikapun di rumah tak lepas dari buku. Bahkan Evan tidak punya media sosial. Evan lebih senang berkirim pesan lewat email ketimbang pesan di ponsel. Dan setelah lulus S-3 dan menjadi peneliti, laboratorium bak rumah bagi Evan. 


Setahunya Evan tidak ada waktu untuk urusan cinta. Tapi, sekarang Evan mengatakan bahwa akan datang pacarnya berserta keluarga. Artinya hubungan Evan dan pacarnya sudah begitu dekat, bukan?


"Sejak kapan kau punya pacar, Evan?"selidik Allen. 


"Sejak kemarin lusa, Yah," jawab Evan dengan menyengir. Mata Allen menunjukan keterkejutan.


"Dua hari? Dan sudah sudah akan ada pertemuan keluarga? Ini terlalu cepat, bukan? Ah dari mana asalnya dan gadis darimana dia?"cerca Allen. Ia merasa pusing dengan Evan. 


"Nanti Ayah akan tahu dan aku jamin, Ayah akan setuju!" Evan berkata dengan yakin.


"Kau sudah pikirkan matang-matang?"


"Aku sudah menyukainya sejak lama, setelah memberanikan diri, aku mengungkapkannya. Ayah, kau tahu aku selalu serius dalam mengambil keputusan," ujar Evan, menenangkan dan meyakinkan sang ayah.


"Sebentar lagi mereka akan datang. Lebih baik Mas segera bersiap," ujar Umi Hani.


"Nizam dan Umi sudah bertemu dan kenal dengan pacar Evan. Nizam yakin ayah akan langsung memberi restu ketika bertemu nanti," imbuh Nizam. Melihat ketiga orang yang ia cinta dan sayangi satu hati, Allen mengangguk singkat dan segera menuju kamarnya. 


"Umi juga mau ganti sebentar," ujar Umi Hani. 


"Sekalian Isya saja, Umi. Nizam imam," sahut Nizam. Umi Hani melihat ponselnya kemudian mengangguk.


"Evan, Umi dan Nizam shalat dulu ya."


"Iya, Mom," jawab Evan. 


*


*


*


Sekitar lima belas menit kemudian, ada yang membunyikan bel rumah. Kebetulan Allen yang baru keluar kamar mendengar.


Evan yang juga mendengar itu, bergegas untuk membuka pintu. Namun, sudah lebih dulu dibuka oleh Allen.


"Dengan siapa?"


"Ayah …." Evan mendekat.


"Selamat datang di rumah orang tua saya, Paman, Bibi, Lia," sambut Evan lebih dulu. 


"Ayah kenalkan ini pacarku, Calia dan mereka berdua adalah orang tuanya."


"Ah … rupanya pacar Evan." Allen menilai penampilan Calia. "Malam, Paman." Calia menyapa dengan tersenyum. 


"Malam, Calia," balas Allen. Nadanya cukup bersahabat.


Calia merasa gugup menerima tatapan Allen itu. Pandangan Allen beralih pada Tuan dan Nyonya Shane. 


"Tuan Shane?" Allen sedikit terhenyak. Tuan Shane tersenyum, "saya merasa tersanjung Anda mengenali saya, Tuan Allen," balas Tuan Shane dengan mengulurkan tangan 


"Saya lebih tersanjung dan terkejut lagi." Allen membalas jabatan tangan itu.


Pemilik rumah sakit terbaik di Jerman. Sedikit banyaknya Allen mengenalnya. 


"Jadi, kekasih putra saya adalah putri Anda. Ini sungguh mengejutkan."


"Ayah, lebih baik kita makan malam dulu baru lanjut berbicara serius akan hubunganku dan Calia," saran Evan.


Allen menyetujuinya. Tiga orang tua berjalan lebih dulu. Evan dan Calia berjalan berdampingan. Masih terlihat kekakuan di antara mereka. Keduanya bingung ingin berkata apa saat begini. "Kau cantik," puji singkat Evan yang tak mampu untuk menyembunyikan perasaannya. "Terima kasih. Kau jaga tampan, Evan."