This Is Our Love

This Is Our Love
Menambah Besar Masalah



"Tergantung," jawab Bella yang membuat Azzura gusar. 


Bella tersenyum simpul melihat ekspresi gusar Azzura. Ia tahu apa yang Azzura gusarkan, tentu saja suaminya. Jika keluarga Utomo terus berada di titik sekarang, bagaimana suaminya itu bisa tenang? Dan jika Bella akan menambah tingkat perhitungan dengan keluarga Utomo maka Anggara akan semakin terpukul dan terpuruk. 


"Namun, untuk saat ini aku rasa peringatan dari Tuan Surya Mahendra sudah cukup," imbuh Bella yang sedikitnya membuat Azzura bernafas lega. Okay, ia genius, keluarganya mempunyai perusahaan di bidang perbankan dan keuangan yang besar.


Namun, mereka masih jauh di bawah keluarga Mahendra. Terlebih ada Surya, Brian, dan Bella. Di hadapan Bella saja, Azzura masih junior, apalagi di hadapan Surya. Bukan merasa rendah. Tapi, itulah realitasnya. 


"Hm kalau boleh tahu bagaimana cara Anda mengetahui tentang saya?"


"Tinggal melacak alamat IP dan emailmu. Apa itu hal yang aneh?"tanya Bella dengan raut wajah polosnya.


Azzura tersenyum canggung. Padahal ia sudah yakin tidak ada yang tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Nyatanya ia keliru. Kemampuan Bella lebih dari apa yang perkirakan. 


"By de way apa suami kecilmu itu bersikap dingin padamu?"tanya Bella, mulai mengubah pembicaraan menjadi gosip. 


"Dia lebih memperlakukanku layaknya anak kecil," jawab Azzura dengan mencembikkan bibirnya.


"Bukankah itu hal yang normal dan itu bagus. Setidaknya ia tidak menyakitimu dan dirinya sendiri," sahut Bella. 


"Ya sih. Tapi, aku entah mengapa merasa tidak nyaman. Tatapannya padaku lebih kepada tatapan kakak ke adik."


Karena sering berbicara via dunia maya, Azzura mulai rileks dan humble dengan Bella. Bella mendengarkan curahan hati Azzura. Masalah mereka telah usai.


"Sebenarnya aku merasa aneh dengannya. Mengingat penolakannya, awalnya aku juga mengira Angga akan bersikap dingin padaku. Aku sengaja membuat tema pernikahan dan jalannya pernikahan seperti kemarin untuk menguji kesabarannya. Ternyata Angga menjalani semuanya tanpa keluhan. Saat malam, aku kira ia tak mau seranjang denganku. Tapi, aku salah lagi. Dia benar-benar menganggapku anak kecil. Dan beberapa hari lalu, kami melukis bersama."


Azzura tersenyum sendiri. Agaknya ia tengah mengingat moment romantis dengan suaminya. Bella mendengus senyum. Azzura tengah kasmaran. 


"Angga begitu tampan saat fokus sampai-sampai membuatku hilang fokus. Awalnya aku ingin melukis pemandangan. Pada akhirnya aku melukisnya. Namun, ya begitu. Dia shock melihat lukisanku. Hehehe …." Azzura terkikik geli sendiri. Dalam benak Bella sudah menerka apa yang Azzura tawakan. 


"Lalu sampai kapan kau mempertahankan sosok keterbelakangan mentalmu itu?"tanya Bella yang membuat Azzura terdiam. Wanita itu juga tidak tahu sampai kapan ia bersikap seperti ini. 


Menunggu jawaban Azzura, Bella kembali memasukkan laptopnya ke dalam ransel kemudian melihat jam tangannya. Sudah cukup lama ia meninggalkan perusahaan. Takutnya tindakannya ini akan dianggap sebagai bentuk kelalaian dan mengabaikan pekerjaan. Kemarin saja, mantan wakil Presdir Mahendra Group sudah mengambil tindakan akan rencana proyeknya di Papua.


Beruntung ia punya status ganda yakni sebagai menantu keluarga Mahendra yang sudah diakui oleh seluruh keluarga. Jika tidak, mungkin Bella akan lebih banyak menerima tekanan. 


"Mungkin secepatnya aku akan meninggalkan kedok ini. Hanya saja aku masih butuh waktu dan membuat rencana untuknya," jawab Azzura. Ya, akan menjadi sebuah pertanyaan besar jika ia tiba-tiba sembuh. 


"Okay. Datang saja padaku jika kau butuh bantuan. Hanya kita berdua, masalah cukup keluarga saja. Yes?" Bella mengulurkan tangan pada Azzura, mengajaknya berjabat tangan.


"All right." Keduanya berjabat tangan. 


Selepasnya Bella berpamitan. Azzura melepas kepulangan Bella dari kediaman Adhitama dari tempatnya duduk. Tak lama kemudian, Azzura mengeryit melihat Bella yang berhenti, sepertinya menerima telepon dari seseorang. Hatinya mendadak merasa tidak nyaman melihat wajah Bella yang terlihat kesal, "sial!" Dapat ia dengar jelas umpatan Bella.


"Ada a …." Baru saja ia bangkit, Bella berlari pergi. 


"Ku harap masalah tidak bertambah besar. Jika keluarga Utomo mengambil tindakan yang keliru lagi …." Ucapannya terhenti, dilanjutkan dengan menutup mata. 


"Semoga saja tidak," gumamnya kemudian. 


*


*


*


"APA?!" Ken terlonjak dari duduknya. Wajahnya rumit, wajah panik dan kesal mendominasi. 


"Aku pulang sekarang!" Ken langsung menutup telepon dan meraih jaketnya. Sekarang ekspresinya menjadi gelap, ia menuju ruangan Brian. 


Sebelum mengetuk pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu. Wajah Brian tidak sedap di pandang. "Keluarga itu semakin luar biasa!"ucap Brian dengan nada sinis sebelum melanjutkan langkahnya. 


"Kakakmu dan aku sangat kesal dengan keluarga itu! Ayo, Ken!"ajak Silvia. 


"Dylan mengabari kalian juga?"tanya Ken setelah di dalam lift. 


"Mungkin Abel sudah dalam perjalanan ke rumah," jawab Silvia. Ken memejamkan matanya. Kedua tangannya terkepal. "Aku tidak akan menerimanya!"desis Ken dingin, menyuarakan keegganannya.


"Jika kau menerimanya, kau akan mati!" Brian melirik tajam Ken. Ken menatap Brian, teringat jelas di memorinya akan janji berharap keluarga Kalendra. Dan kini Brian sudah berpihak pada Bella. "Demi Allah, aku bersumpah, aku tidak akan pernah menerimanya!"


*


*


*


Amarah Rahayu langsung meledak saat Bayu menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke kediaman Mahendra. 


"Tolong pertimbangkan permintaan keluarga ini, Nyonya! Tolong biarkan Ken dan Bella yang memutuskannya!"ucap Bayu, memelas.


Rahayu melotot kesal pada Bayu, Cia, Clara, dan Angkasa yang menunduk takut. Rahayu yang biasanya anggun dan tenang kini bagai seekor singa yang garang. 


"Jangan begini, kalian hanya melakukan hal yang sia-sia!"ucap Surya dingin. Awalnya ia merasa keluarga Utomo datang untuk meminta maaf atas tingkah Cia kemarin.


Namun, nyatanya Bayu malah ikut merendahkan dirinya memohon agar menerima Cia sebagai istri kedua Ken.


Sungguh di luar dugaan dan tak pernah terpikir oleh keduanya. Keduanya selalu mengira kalau Bayu adalah orang yang tegas, tidak akan mau merendahkan harga diri seperti ini. Namun, kembali lagi pada satu pemikiran yakni Bayu yang bertindak sebagai seorang ayah. Tidak mungkin tega melihat putri semata wayangnya menderita. 


"Apa yang kelewatan batas, Ayu? Apa yang sia-sia, Tuan Surya? Sejatinya, awal mula pecahnya hubungan Ken dan Cia adalah karena Anda. Jika Anda tidak memaksa Ken untuk menikah dengan Bella, dan jika Anda tidak …."


"Semua sudah atas persetujuan! Anak Anda yang tidak sanggup bertahan hingga memutuskan untuk pergi, di mana salah kami?" Rahayu menyela ucapan Bayu. 


"Kami tidak akan pernah menerima pengecut masuk ke dalam keluarga ini!"ucap Surya tegas. 


"Paman, tolong jangan tolak saya." Cia hendak bersimpuh. 


"Kakak …." Terlambat lagi. Cia sudah bersimpuh di hadapan Surya dan Rahayu. Anggara hanya bisa ikut bersimpuh di samping Cia. 


"Paman, Tante,  dulu saya ada calon menantu kalian. Kalian berdua tahu bagaimana jalan hubunganku dan Ken. Kalian berdua tahu seberapa dalam perasaan saya dan Ken. Tolong, jangan tolak saya. Saya hanya ingin menikah dengan Ken sebagaimana impian kami berdua. Tolong." 


Sayangnya, Surya dan Rahayu menunjukkan ekspresi dingin terhadap pinta Cia itu. 


"Ayu mengapa kau seperti ini? Apa salahnya jika Ken menikah dengan Cia? Toh kami tidak meminta Ken menceraikan istrinya. Lagipula dalam keyakinan kita tidak ada larangan seorang pria memiliki dua istri. Ken juga mampu, untuk apa kalian menghalangi kebahagian Ken dan Cia yang tertunda?"kecam Clara. 


Rahayu menggeleng mendengar kecaman Clara. "Siapa yang menjamin Ken mampu mempunyai dua istri? Siapa yang menjamin jika Ken akan mau dan Bella memberi persetujuan? Masalahnya bukan hanya terletak pada persetujuan kami tapi terhadap persetujuan mereka!!"jawab Rahayu.


"Aku bisa meyakinkan mereka berdua!"ucap Cia dengan keyakinannya.


"Apa yang bisa kau yakinkan? Hubungan Ken dan Bella sudah jauh dari apa yang kau bayangkan, Cia! Dan apa kau kira kau bisa bahagia dengan menjadi istri keduanya?" Surya tidak ingin Ken seperti dirinya. Walau Rahayu dan almarhum istri pertamanya mengatakan ia sudah adil. Namun, di lubuk hatinya ia tidak merasa demikian. Surya tidak ingin Ken, Bella, dan Cia makan hati nantinya. 


"Paman, ini kemauanku, dan aku akan menjalaninya dengan senang hati!"jawab Cia. Surya menggeleng pelan. Rahayu menghela nafas kasar.


"Baiklah. Aku akan memanggil anak-anak pulang. Kita dengarkan keputusan mereka sekali lagi setelah itu kalian harus menerimanya!!"tukas Surya. Ia yakin pada Ken dan Bella. 


"Dylan sudah menyuruh mereka pulang, Pa," ucap Dylan yang baru turun dari lantai atas. 


Setelah mendengar Bayu menyampaikan niat dan tujuannya datang ke kediaman ini, Dylan langsung menghubungi Bella, Ken, Silvia. 


Benar saja, tak lama setelah Dylan berkata, Brian diikuti Silvia dan Ken tiba di mansion keluarga Mahendra. Wajah ketiganya masam, terlebih Ken. "Assalamualaikum." Sekesal dan segeram apapun etika tetap diutamakan. 


"Waalaikumsalam." Brian, Silvia, dan Ken bergantian menyalami Surya dan Rahayu. Tatapan Cia lekat pada Ken. Sedangkan Ken sendiri lekat pada Bayu. Brian duduk dengan gaya angkuhnya, sorot matanya tajam pada keluarga Utomo. 


"Bukankah aku sudah menolaknya? Untuk apa kalian kemari dan meminta hal yang sama?"tanya Ken dingin. 


"Ken jangan begini. Aku tahu. Aku tahu kau masih mencintaiku. Ken sebelumnya aku salah, aku keliru karena telah meninggalkanmu. Tapi percayalah, aku punya alasan yang kuat untuk itu. Menikahlah denganku." Cia berdiri dan hendak memegang lengan Ken. Namun, Ken menghindar. 


"Aku pria yang sudah beristri, tolong jaga sentuhan Anda, Nona Utomo!"


"Ken?!"protes Cia. 


Sudah berubah. Tentu beda perlakuan Ken sebelum dan setelah Cia pergi lalu kembali lagi. Ken sudah mempunyai Bella, cukup Bella. Satu untuk selamanya. One and forever. Ken sudah bersumpah dan berkomitmen. Cia masa lalu, dan masa lalu tidak akan bisa menjadi ataupun berpindah ke masa depan!


"Pergilah, Cia. Teguhlah pada keputusanmu yang meninggalkanku! Jangan kembali, jangan ganggu aku dan Aru. Bukankah kemarin aku  dan Aru sudah berkata demikian?" Ken menunjuk ke arah pintu keluar. Cia menggeleng lemah. 


"Apa yang kau harapkan, Cia? Keluarga Mahendra sudah menolak dirimu. Tidak bisakah kau pergi setelah mendengarnya?"timpal Brian. 


Tahan Cia. Tahan! Jangan jatuh, jangan pingsan. Kau harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu!


Sesungguhnya dada Cia sangat sakit mendengar penolakan berulang kali Ken. Belum lagi ia yang kehilangan dukungan dari keluarga Mahendra. Brian dan Silvia sudah menunjukkan dengan jelas ketidaksukaan mereka. Kepalanya juga sangat pusing. Cia merasa sebentar lagi darah akan keluar dari hidungnya. Namun, sebisa mungkin Cia menahannya. 


"Assalamualaikum." Semua pandangan terarah ke arah pintu di mana Bella baru kembali dengan wajah dingin yang tercetak jelas. 


"Waalaikumsalam." 


Tangan Cia terkepal erat saat Bella mencium punggung tangan Ken dan Ken mencium kening Bella. "Adakah alasannya, Nona Utomo? Kau mengatakan kau punya alasan yang kuat untuk pergi dan alasan untuk kembali, apa itu? Katakan dengan jelas!"