This Is Our Love

This Is Our Love
Pulang



Brian menggenggam ponselnya dengan tatapan menerawang. Brian baru saja menerima telepon dari Ken. Gurat-gurat keraguan dan ketidak percayaan memenuhi raut wajah Brian. Brian menatap keluar jendela ruang kerjanya di perusahaan. Silvia tidak ikut. Brian memintanya untuk tetap berada di rumah.


Ada yang aneh! Bagaimana mungkin selemah itu? Jika tidak dalam kondisi tak sadarkan dia, dia tidak akan pernah melewatkan satu hal pun yang berkaitan dengan pekerjaan. Terlebih besok adalah meeting akhir tahun yang sangat penting. 


Benak Brian penuh dengan tanda tanya. Tadi, Ken menghubunginya. Mengatakan bahwa Bella tiba-tiba jatuh sakit dan tidak bisa pulang untuk beberapa hari ke depan. 


Ken juga meminta Brian untuk menyampaikan hal tersebut kepada seluruh jajaran. Surya lah yang akan memimpin jalannya rapat secara daring dari Paris sana. 


Apa yang Ken tutupi? Apakah ada suatu hal yang serius yang terjadi pada Abel? Mustahil jika alasannya saya karena sakit. Aku tidak percaya!!


Brian memang tidak begitu percaya pada alasan Ken. Alasan itu terasa tidak nyata dan ganjil. Bella, ia kenal sebagai wanita tangguh. Ya, walaupun di beberapa kondisi membahayakan nyawa sendiri. Namun, intinya Bella is strong woman.


Ambil saja dua contoh. Saat Bella jatuh sakit karena alergi, ia bahkan kabur dari rumah sakit untuk berkerja. Lalu yang keduanya saat baru sadar setelah mengalami pendarahan cukup serius akibat luka tusuk, Bella juga meninggalkan rumah sakit tanpa izin, bahkan terbang dari Bali ke Jakarta. 


Dan sekarang, sakit? Sakit apa? Ken tidak mengatakannya dengan jelas. Sebagai seorang yang cukup banyak berinteraksi dengan Bella, pasti akan merasakan kecemasan di dalam hati.


Jika yang lain tahu Abel sakit … maka …. Akan terjadi kegemparan. Dalam benak Brian, sudah terbayang bagaimana reaksi Dylan, El, Anjani, juga kedua orang tuanya. Tidak menutup kemungkinan, mereka akan terbang ke Los Angeles untuk menemui Bella. Terutama sang bunda. 


Brian memijat pelipisnya. Ia merasa pusing. 


Aku kira dengan selesainya masalah dengan keluarga Nero, masalah besar juga selesai. Namun, masalah apa lagi yang muncul ini?


Sejatinya selama manusia hidup, masalah itu akan tetap entah. Entah dalam skala kecil ataupun besar. 


Apapun itu … aku harap Ken dan Abel baik-baik saja, batin harap Brian.


*


*


*


Di kota Bremen, Jerman, di kediaman Allen. Kilas balik ke beberapa waktu lalu. Bias cahaya mentari yang menembus jendela kamar, membuat sepasang insan yang tengah tidur terbangun. Keduanya dalam posisi berpelukan dengan selimut menutupi tubuh keduanya yang tampak polos.


Sang wanita mengerang pelan kemudian membuka matanya. Ia diam saat mendapati bahwa ia saling tatap dengan mata sang pria yang juga sudah membuka mata. 


Kedua mata berbentur pandang. Seling menyelami satu sama lain. Tangan sang pria terulur, menyingkirkan rambut sang wanita yang menutupi wajah. Sang wanita ikut. Ia juga menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah sang pria. Rambut yang pria panjang. "Morning, Lia," sapanya dengan nada yang begitu lembut.


"Morning too, Evan," balas sang wanita. Ya, keduanya adalah Evan dan Calia yang baru saja bangun setelah melewati malam panas. 


"Bagaimana perasaanmu?"tanya Evan. 


"Sulit untuk aku jelaskan dengan kata," jawab Calia. Kini, semburat merah hadir di wajahnya.


"Aku merasa senang. Aku merasa seperti pria paling bahagia di dunia ini. Terima kasih telah menjaganya." Evan mengecup cukup lama kening Calia. Calia semakin tersipu.


"Tuan Profesor, darimana kau mempelajari semua ini?"tanya Calia.


"Entahlah. Itu seperti panggilan jiwa. Hal alamiah yang dialami oleh setiap pasangan," jawab Evan. Menurut Evan, *** itu adalah hal alamiah, tanpa diajari pun bisa melakukannya, itu naluri dari hati. 


"Aku kira di kimia kau mempelajari hubungan asmara juga," cetus Calia.


"Aku tidak keberatan untuk mempelajarinya," sahut Evan. Evan hanya belajar sedikit dan mengembangkannya. Ia bukan orang yang romantis namun ia bisa menjadi seseorang yang sangat romantis. 


"Eh?" Calia terhenyak. 


"Sudah terang, lebih baik kita segera bersiap. Mom dan Nizam akan kembali ke Indonesia siang ini," ujar Evan. Evan mengalihkan pandang ke arah jendela. 


"Baiklah." Calia mengangguk dan segera membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian melangkah menuju kamar mandi.


"Kau merasa sakit?"tanya Evan melihat cara jalan Calia. Evan sendiri mengenakan boxer. 


"Ya, lumayan," jawab Calia sebelum menutup pintu kamar mandi. 


*


*


*


"Ayah … aku dan Calia akan kembali ke Berlin siang ini," ucap Evan saat mereka berdua bergabung dengan Nizam dan Allen yang berada di ruang tengah. Umi Hani tengah mempersiapkan makan siang. 


"Evan, Ayah, aku ke dapur ya," ujar Calia. Ia mau membantu Umi Hani menyiapkan makan siang. 


Evan mengangguk. "Ayah akan sendirian lagi setelah kalian pulang." Allen menunduk sedih. 


"Aku akan sering mengunjungi Ayah. Lagipula Ayah juga punya kesibukan. Jadi, aku rasa Ayah tidak akan terlalu kesepian." Allen sudah tinggal sendirian cukup lama. 


"Sesibuk apapun orang tua, tidak akan bisa menyingkirkan rasa sepi jika seorang diri di rumah, Evan," ucap Nizam. Nizam menatap lembut sang ayah. 


"Aku tidak bisa menjanjikan kapan. Tapi, aku berjanji akan sering-sering mengunjungi Ayah," tutur Nizam, dengan senyum teduhnya. 


"Sungguh? Kau akan sering mengunjungi Ayah?"tanya Allen sumringah. Nizam mengangguk. 


"Kebersamaan ini terasa sangat singkat. Namun, kita punya tanggung jawab masing-masing. Ayah jangan terlalu sedih. Jangan merasa kesepian juga. Raga kami memang tidak bersama dengan Ayah. Namun, hati kita selalu dekat. Lagipula sekarang ada ponsel. Kita bisa video call untuk melepas rindu," terang Nizam. 


"Video call?" Kedua profesor itu saling pandang. Keduanya terbiasa berkomunikasi lewat email. Ponsel saja keduanya tidak punya. "Bagaimana caranya?" Nizam menepuk pelan dahinya.


"Sebelum kami pulang, ada baiknya kita ke toko ponsel dulu," ajak Nizam.


"Ponsel sangat penting untuk hubungan jarak jauh. Ponsel lebih efektif ketimbang email. Di dalamnya itu komplet," imbuh Nizam saat mendapati Ayah dan kembarannya saling melempar pandang. 


Sebelum pergi, Nizam lebih dulu ke dapur untuk berpamitan. Setelah berpamitan, ketiga orang itu meninggalkan rumah untuk membeli ponsel. "Sepertinya mereka mendapat pencerahan, Umi," celetuk Calia. Ia sedang memotong sayuran brokoli dan wortel.


"Kau benar, Lia," sahut Umi Hani. Umi Hani sendiri tengah menggoreng ikan. "Nanti, Lia dan Evan akan sering-sering mengunjungi Umi di Bandung. Sekalian mengunjungi Abel," ujar Calia.


"Umi sangat menantikannya, Lia." 


"Umi merasa sedih?" Dari tadi tanggapan Umi Hani begitu singkat. "Bohong jika Umi katakan tidak. Namun, ini sudah ketentuan. Umi hanya bisa menjalaninya dengan lapang dada," tutur Umi Hani, menjawab sembari menghela nafas. 


"Umi jangan sedih, yang terpenting kan kita sudah bertemu dan juga berkumpul. Walaupun itu singkat tapi, itu sangat berarti. Umi juga tahu kalau kehidupan orang yang Umi sayangi baik-baik saja. Bahkan, Umi menyaksikan pernikahan Lia dan Evan. Umi, tidak perlu ada yang harus disedihkan. Lagipula sekarang jarak bisa diatasi dengan kecanggihan teknologi. Ya, walaupun itu tidak bisa sepenuhnya mengobati rindu … akan tetapi itu sangat berarti," papar Calia. 


Umi Hani tidak menjawabnya. Namun, dalam hatinya membenarkan ucapan Calia. 


*


*


*


"Ini bagaimana cara menggunakannya?"tanya Evan sembari membolak-balikkan ponsel di tangannya. 


"Hal pertama adalah sinkronkan dulu email di laptop Ayah dan kau Evan di ponsel. Caranya gampang …." Nizam mengajari ayah dan saudaranya. Kedua orang itu mengikuti satu demi satu instruksi dari Nizam. 


"Eh semudah ini?" Evan terkesiap. 


"Kalau seperti kau katakan tadi, video call?" Allen bertanya setelah memastikan isi email di laptop sama dengan ada di ponsel. Sama, tidak kurang satupun. 


"It's easy," jawab Nizam. Kembali memberi arahan kepada kedua orang itu. 


"Kalau media sosial ya? Instagram? Twitter?"tanya Evan. Ia begitu ingin tahu. 


"Dari mana kau tahu itu, Evan?" Bukankah Evan tidak kenal dengan ponsel?


"Kemarin Calia mengambil foto. Katanya mau diposting di instagram sama twitter," terang Evan. 


"Baiklah. Aku akan mengajarimu." Nizam mengeluarkan ponselnya dan duduk di sebelah Evan. Nizam mulai mengajari Evan mulai dari menginstal aplikasi hingga membuat aku media sosial tersebut. 


"Nixam, berapa nomor ponsel Umimu?"tanya Allen. Nizam langsung menoleh pada Allen. Sedikit menyelidik. Allen tersenyum. Wajahnya dibuat begitu polos. "Walaupun Umi dan Ayah tidak bersama bukan berarti kami putus hubungan, bukan?" Ya … Nizam tidak bisa untuk menolak permintaan itu. Nizam kemudian menyebutkan nomor ponsel Umi Hani. 


*


*


*


Sebelum makan siang, Allen, Nizam, dan Evan tiba di rumah dengan perasaan bahagia. Terutama Allen dan Evan yang telah menguasai benda pipi canggih yang bernama ponsel itu. Tentu itu akan membuat dan memberi mereka kemudahan baik dalam sisi komunikasi ataupun perkerjaan. 


"Sudah pulang?"


"Iya, Umi." Nizam menyalami Umi Hani, begitu juga dengan Evan. 


"Kalau begitu mari makan siang  setelah itu kita akan pulang," ujar Umi Hani. 


"Iya, Umi," jawab Nizam. Kecuali Allen, yang lain langsung menuju ruang makan. 


Allen menghela nafas pelan. Pulang? Ya, di sanalah rumahnya. 


Allen mencoba untuk tersenyum dan menyusul ke ruang makan.


*


*


*


Selesai dzuhur, Umi Hani, Allen, Evan, Calia, dan Nizam berangkat menuju bandara. Allen tentu saja mengantarkan keluarganya setidaknya sampai bandara. Dalam waktu yang tergolong cepat, mereka sudah tiba di bandara. Mereka akan menggunakan pesawat komersial. 


"Ayah ada pekerjaan sebentar lagi. Maaf, Ayah tidak bisa menunggui kalian sampai take off," ucap Allen. Mereka masih berada di koridor, belum masuk ke dalam gedung bandara untuk membeli tiket dan menunggu jam keberangkatan. 


"Hati - hati, Ayah," ujar Evan.


"Jaga diri Ayah dengan baik, ya," ujar Nizam. Keduanya lantas memeluk erat Allen.


"Kita akan sering bertemu. Jangan bersedih." Allen menepuk kedua bahu putranya. 


"Ayah menantikan kabar baik dari kalian berdua," ucap Allen. 


"Segera, Ayah," jawab Evan mantap. Nizam hanya tersenyum. 


"Sudah sana. Lekaslah masuk. Ayah harus ke kantor," suruh Allen. 


"Kami pulang, Mas. Jaga diri Mas dengan baik," ucap Umi Hani berpamitan.


"Kau juga, Hani," balas Allen. Allen kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara. 


Keempatnya lalu masuk untuk membeli tiket penerbangan. Setelah membeli tiket penerbangan, mereka menunggu di ruang tunggu. Tak menunggu lama, hanya sekitar lima belas menit saja, sudah diumuman penerbangan menuju Berlin. Evan dan Calia berpamitan. Tak lama setelah keberangkatan Evan dan Calia, keberangkatan menuju Indonesia diumumkan. 


Kini Umi Hani dan Nizam telah berada di dalam pesawat. Nizam menatap ke luar jendela.


See you next time, Jerman.