This Is Our Love

This Is Our Love
Rencana Bulan Madu?



Langit malam begitu cerah. Cahaya rembulan menyelusup masuk ke kamar Ken dan Bella melalui jendela. Di dalam ruangan dengan pencahayaan yang hanya dari lampu tidur, Ken tidur dengan memeluk Bella. Sementara Bella masih terjaga dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Tatapannya lurus ke depan, terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu yang amat penting. Sementara tangan Bella mengusap lembut rambut Ken. 


Tadi siang, saat masih bekerja Bella menerima pesan dari Pak Andre, direktur rumah sakit jiwa Bahagia, tempat di mana Dylan dirawat selama bertahun-tahun. Direktur itu mengatakan pada Bella lewat pesan bahwa tiba-tiba Dylan yang biasanya tenang lepas kontrol dan berteriak memanggil nama keluarganya, dan nama Bella juga termasuk di dalamnya. Dylan membuat kericuhan sampai merusak fasilitas rumah sakit, baru tenang setelah mendapat suntikan obat penenang.


Bella menghembuskan nafas pelan, kini ia memijat pelipisnya. Bella kemudian meraih ponselnya. Ia membuka kotak pesan dan membuka percakapan dengan Louis. Tadi pagi Pria asal Jerman itu mengirim pesan padanya. Bertanya apakah Bella mau dijemput atau jumpa di bandara Bali. Jelas Bella menjawab jumpa di bandara Bali. 


Setelah itu Louis kembali menanyakan perihal dirinya yang ganti pekerjaan. Louis cukup terkejut karena Bella bekerja di Mahendra Group.


Bukankah waktu itu kau menolak perusahaan itu? Dan luar biasa! Posisimu sekarang sudah setara denganku! 


^^^Ya aku juga tidak menyangka mendapat tawaran itu. Lagipula kemarin yang Diamond Corp itu dari awal memang hanya sementara. Aku sangat bersyukur bisa berada di posisi ini. Lebih bersyukur lagi karena tak perlu jauh dari adikku dan gajinya sesuai dengan kebutuhanku dan Nesya.^^^


Aku turut senang untukmu. Oh ya Key titip sama untukmu. Katanya sampai jumpa di Bali!


^^^Ya sampai jumpa di Bali!^^^


Bali … Bella belum menyampaikan keinginannya pada Surya. Bella mengalihkan pandangannya ke arah balkon. Angin malam mungkin bisa membantunya mengambil keputusan. 


Dengan lembut dan hati-hati Bella melepaskan tangan Ken dari pinggangnya. Setelah lepas, Bella melangkah tanpa suara menuju balkon. Benar, rembulan terlihat begitu indah, mempercantik langit malam yang juga bertabur bintang. Berbeda dengan kemarin malam.


Hawa dingin khas dini hari. Bella merentangkan tangannya, menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Kini nafas Bella pun terasa dingin. Wajahnya mulai terasa sedikit kaku. Tatapan yang tajam berubah menjadi sendu. 


Kenangan masa kecil bersama dengan Dylan memenuhi pikiran Bella. Dylan sudah ia anggap seperti adiknya sendiri namun kini setelah tidak berjumpa selama 8 tahun, rasa asing masih mendominasi. Bella ragu dan takut jika seandainya Dylan menolak kehadirannya. Matanya terpejam, menenangkan pikiran dari beragam opini negatif. 


Huft.


Aku harus segera memutuskannya!


Resiko apapun, sudah menjadi konsekuensi.


Aku tidak bisa terus menunda dan menghindar. 


Ya aku harus mengambil keputusan!


Mata Bella kembali terbuka. Senyum yang sangat tipis ia sunggingkan. Tatapan mata yang sebelumnya ragu dan takut, kini menjadi mantap dan penuh keyakinan. 


Aku siap apapun yang akan terjadi nanti! 


Ia berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar. Menutup rapat pintu balkon dan kembali ke tempat tidur. 


*


*


*


"Aru kau kau kemana?" Ken langsung bertanya, padahal Bella baru saja bangkit dari kursi kerjanya. Bella mendengus pelan. Semua gerakan dan tindakannya tak lepas dari pengawasan Ken. Rasanya seperti diawasi CCTV berjalan. 


"Ke ruangan Presdir," jawab Bella, sembari mengambil salah satu berkas dari mejanya.


"Aku ikut." Ken berdiri.


"Tidak usah. Kau di sini saja lanjutkan tugasmu. Aku tidak akan lama," tolak Bella.


"Apa bahasan kalian akan begitu penting?"selidik Ken. Bella mengangguk dan segera keluar. Sedangkan Ken kembali duduk. 


Ah jika aku ikuti pasti akan ketahuan. Kan sekretaris Papa, Fransisco itu hanya patuh pada Papa. 


*


*


*


"Ada hal penting apa, Abel?"tanya Surya penasaran. 


"Sebenarnya ini agak ke hal pribadi. Berkas ini hanya berkas kosong." Bella membuka map yang ternyata kosong tak berisi.


"Hm?" Surya sedikit menaikkan aslinya. Kini ia menyangga dagu dengan kedua tangannya. Matanya sedikit menyipit, menebak alasan di balik wajah tenang Bella.


"Aku ingin meminta cuti minggu depan selama 3 hari," ucap Bella, begitu santai.


"Cuti? Untuk apa?" Wajah Surya berubah menjadi serius. Baru seminggu bekerja mengajukan cuti 3 hari, bukanlah itu bisa menyebabkan gosip yang tidak enak di perusahaan? Juga akan dianggap tidak profesional di mata klien juga relasi?


"Aku ingat setelah aku dan Ken menikah, kami belum pergi berbulan madu. Aku rasa harus dijadwalkan secepat mungkin karena dari rancangan jadwalku ke depannya aku akan sangat super sibuk," jelas Bella. Surya mengangguk membenarkan.


"Baiklah. Tapi apa tidak ada jadwal penting di tiga hari itu? Soalnya bukan hanya kau saja yang pergi, Ken juga …."


"Aku sudah memikirkan semuanya, Pa. Jadwal meeting pentingku akan tetap aku hadiri hanya saja via online. Setelah Papa memberi izin aku akan menyuruh Ken memberitahu tentang meeting online pada klien," tutur Bella. Nadanya tetap tenang, begitu juga dengan wajahnya. 


"Baiklah, Papa mengerti," jawab Surya, tersenyum.


"Ah ya Abel, ada yang mau Papa sampaikan mengenai meeting dengan Nero Group besok pagi."


Mendengar nama Nero Group, wajah Bella langsung berubah dingin, "apa itu, Pa?"


"Tuan Tua Nero Group akan ikut dalam meeting online besok. Ada kau tak masalah? Em maksud Papa bisa mengendalikan dirimu?"tanya ragu Surya. Mata dingin Bella menatap Surya, bibirnya tersenyum tipis.


"Aku bisa mengesampingkan urusan pribadi dan pekerjaan. Papa tenang saja. Aku tidak akan membuat keributan dengan mereka sampai kerja sama selesai!"tegas Bella. 


Surya tersenyum lega, "saya tidak salah pilih orang."


"Terima kasih!" Bella berjabat tangan dengan Surya. 


"Kalau begitu saya permisi, Pak!"


"Silahkan." Bella keluar dari ruangan Surya dengan wajah datarnya.


"Pagi, sekretaris Frans!"sapa Bella datar saat berpapasan dengan sekretaris Frans di depan lift.


"Pagi, Nona!" Frans langsung melihat jam tangannya setelah Bella masuk ke dalam lift.


"Sudah jam sebelas, harusnya siang bukan? Nona Bella sedang tidak fokus atau apa?"gumam bingung Frans. 


*


*


*


"Kantin," jawab Bella tanpa menoleh pada Ken. 


"Jadwalku untuk minggu ini dan minggu depan, mana?" Ken mendekat dengan membawa tablet, menyerahkannya pada Bella. Ken juga memberikan pena agar Bella bisa menandai jika ada yang kurang tepat dan apa yang harus ditambah. 


"Untuk jadwal tiga hari ini, hubungan pihak klien bahwa meeting diubah menjadi meeting online," ucap Bella, melingkari tiga harinya akan cuti.


"Meeting online, kenapa?"tanya Ken bingung.


"Kita akan ke Bali, bulan madu."


"Bulan madu?"beo Ken. Hatinya berdesir aneh mendengar dua kata itu. Bella mengangguk. 


"Serius?" Lihatlah wajah terkejut yang berubah menjadi antusias itu. 


"Iya. Papa sudah memberi izin, tiga hari. Tapi maaf aku juga tak bisa meninggalkan pekerjaan jadi jalan tengahnya adalah meeting online, bagaimana? Kau mau kan?" Wajah Bella berubah menjadi cemas Ken tidak setuju.


"Aku setuju sih, tapi …." Wajah antusias itu berubah sedikit murung.


"Tapi?"


"Urusan bimbinganku, dosen pembimbingku cukup killer, aku takut tidak diberi izin," ucap Ken.


Ah Bella lupa. Suaminya ini kan belum lulus kuliah. Tapi tidak mungkin juga ditunda. Okay bulan madu tak masalah diundur namun darmawisata Teresa dan lainnya. Ia juga tak ingin mengecewakan keluarga angkatnya terlebih ada hal penting yang harus Bella tanyakan langsung. Bella memijat pelan pelipisnya.


"Maaf aku tidak membicarakan hal ini padamu lebih dulu. Aku lupa jika kau masih kuliah," sesal Bella. "Hah bagaimana ini?"gumam pelan Bella.


Ken merasa bersalah pada Bella. Ia memutar otak, memikirkan cara.


Ah bagaimana bisa sampai lupa?! Papanya kan orang berpengaruh, masalah izin, dengan bantuan Surya pasti bukan masalah. Lagipula mereka pergi dengan membawa tugas suci yakni hendak mencetak cucu untuk keluarga Mahendra.


"Tenang saja, aku bisa! Masalah bimbingan bukan masalah."


"Hm."


"Ah Aru mana saja tadi yang harus aku hubungi?"tanya Ken. Bella mengembalikan tablet pada Ken.


"Sudah aku tandai."


"Akan segera selesai." Dengan langkah riang, Ken kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan tugas dari Bella. 


"Aru kau mau ke kantin lebih dulu?"tanya Ken yang melihat Bella berdiri dari tempatnya. 


Bella mengangguk kecil, "aku akan menyusul. Nanggung satu lagi," ujar Ken.


"Ya."


Bella keluar dari ruangannya. Masuk ke dalam lift dan turun menuju basement. Bella tidak ke kantin, melainkan menuju motornya dan pergi meninggalkan basement. 


Sementara Bella tengah berkendara dengan kecepatan sedang, Ken tiba di kantin. Ia mengedarkan pandang mencari keberadaan sang istri. Sayangnya jelas tidak ia temui Bella di sama, malah tatapan kagum dan suka dari karyawan wanita yang tengah makan siang. Ken lantas bertanya pada penjaga kantin.


"Tidak ada ke kantin?"


"Benar, sekretaris Ken."


"Baiklah." Buru-buru Ken meninggalkan kantin. Rasanya sungguh risih ditatap lapar oleh beberapa karyawan. 


"Kemana Aru?" Di depan lift, Ken menghubungi nomor Bella. Tidak dijawab. 


Ken lantas bertanya pada beberapa karyawan. Dan di antara mereka memberitahu bahwa tadi Bella menuju basement. Segera Ken menuju basement. Ken meremas rambutnya sendiri saat tak menemui motor Bella berada di tempat.


Aku dibohongi dan ditinggal lagi. Aru kemana kau pergi sekarang? Seberapa penting? Seberapa rahasia sampai aku tak bisa ikut? Berapa banyak rahasia lagi yang kau sembunyikan dariku? Ahhggkkk!


*


*


*


Di sinilah kini Bella berada. Berdiri menatap nama bangunan di depannya, Rumah Sakit Jiwa Bahagia. Dengan langkah yang pasti Bella masuk. Ia disambut langsung oleh direktur rumah sakit, Pak Andre.


"Pak pasien kamar 22 kembali mengamuk!"seru perawat.


"Itu Dylan!"sahut panik Pak Andre.


"Tunjukkan jalannya!" Perawat itu melangkah cepat, diikuti oleh Bella dan Pak Andre.


Langkah Bella mulai melemah saat melihat pria muda yang tengah berusaha melepaskan diri dari tahanan dua perawat. Suntik obat penenang terlihat tergeletak di lantai. Pria itu mengeram kesal, ia sungguh marah. 


"Tunggu, jangan suntik!"cegah Bella saat melihat perawat ingin kembali menyuntikkan obat penenang pada Dylan.


"Tapi …."


Pak Andre mengangguk menyetujui ucapan Bella.


"Dylan …." Dengan nada sedikit bergetar Bella memanggil pria muda itu. Mendadak, pria itu berhenti berontak dan menoleh ke arah Bella. Tatapan matanya yang marah berubah menjadi sayu dan seperti merasa lega. 


"Kak Abel?" Bella sedikit tertegun, tidak menyangka Dylan masih mengenalinya.


"Ya, ini aku." Bella melangkah maju. Dylan melirik ke arah dua perawat yang masih memeganginya. 


"Lepaskan!"


"Lepaskan dia," ucap Pak Andre. Begitu lepas, Dylan langsung masuk dalam pelukan Bella. Pria berusia sama seperti Ken dan Nesya itu langsung terisak dalam pelukan Bella.


Hiks 


Hiks


"Kak Abel mereka orang jahat. Mereka menculikku. Melarangku keluar padahal aku sangat merindukan Papa, Mama, Kak Deo, Kakak, juga Nesya. Hiks … hiks mereka mengurungku, Kak. Aku sangat takut. Bawa aku keluar dari sini, Kak."


Bella mengeryit bingung, ia menatap Pak Andre meminta penjelasan. 


Saya juga tidak tahu, Nona. Arti gelengan Pak Andre.