This Is Our Love

This Is Our Love
Harus Kuat!



Menguap bosan. Selain membaca buku, tidak ada lagi yang bisa lakukan di kamar ini. Menyangga dagunya, melihat keluar jendela. Daun semakin hebat berguguran. Ranting-ranting pohon sudah banyak yang botak dengan daun. 


Golden autumn, pemandangan yang begitu indah namun terasa hampa bagi Bella.


Hatinya merindu. Sangat rindu dengan keluarganya. 


Bella merasa tidak nyaman. Kesehariannya berubah. Tidak ada pekerjaan yang ia lakukan seperti biasa. Ponsel, laptop, atau komputer, sejak diculik Bella sama sekali belum menyentuh barang-barang itu. 


"Ah, bagaimana bisa aku lupa?" Bella menyimpan banyak data penting di dalam laptop dan ponselnya. 


Dan data itu hanya berada di dalam sana. Keamanannya sangat tinggi. Ia membuat keamanan tinggi, sesuai dengan statusnya sebagai sarjana ilmu komputer dan juga hacker. 


Dan data itu sangat penting bagi perusahaan. Mungkin mereka juga mencoba mencari data tersebut. 


"Aduh! Bagaimana caranya meyakinkan Desya?" 


Desya terkadang mudah, terkadang juga sulit. Bella langsung berpikir keras. Bagaimana caranya membuat Desya setuju. 


Cara!


Cara!


Bagaimana?!


"Ah … tidak! Tidak bisa melalui Desya! Dia ingin tahu data di dalamnya. Jika dia tahu, itu bisa menjadi masalah!!"gumam Bella. 


Jika Bella terlihat terlalu memaksa, Desya akan curiga dan bisa-bisa menawarkan kesepakatan gila lagi. 


Menggeleng. Harus pikirkan cara yang lain. 


"Irene? Apa aku bisa percaya padanya?"gumam Bella lagi. Menatap rumit buku di tangannya. Buku yang membahas psikologi seseorang. 


"Aish, aku belum bisa memastikannya." 


Bella menimbang. Bella tersenyum tipis, "coba lihat dulu."


"Nona!" Baru saja dipikirkan, Irene muncul dengan membawa nampan berisi makan siang untuk Bella. 


"Saatnya makan siang, Nona," ujar Irene. Bella tersenyum. Menutup bukunya. 


Melangkah dan duduk di sofa. "Kau di sini? Bagaimana dengan Tuanmu?"tanya Bella.


"Tuan makan siang dengan istri dan anaknya," jawab Irene. 


"Kau tidak menemaninya?"tanya Bella. 


"Tuan menyuruh saya untuk mengantar makan siang untuk Nona. Mungkin saja Tuan ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya. Quality time begitu, Nona," jawab Irene. 


Keluarga?


Quality time? 


Bella meletakkan kembali suapan yang hampir masuk ke dalam mulut. 


"Loh? Kenapa diletakkan kembali, Nona? Nona tidak menyukainya?"tanya Irene, cemas. 


Bella menggeleng. "Aku tiba-tiba tidak selera makan. Irene,  bawa kembali makanan ini." Bella berdiri, kembali ke dekat jendela. Di sana Bella duduk dengan dagu berada di lutut. Tatapannya begitu sedih. Matanya begitu seduh. 


Irene merasa heran. 


Apa yang salah dengan ucapannya? Ya dia memang kurang peka soal perasaan. 


"Aku merindukan keluargaku, Irene," ujar Bella lirih. 


"Suami Anda?"


"Keluargaku tidak hanya dia."


Bella memang sudah kebal berjauhan dengan keluarga. Namun, mereka tetap berkomunikasi. Sekarang, ia jauh dari keluarga. "Aku seorang diri di sini," lanjut Bella.


Tidak bisa menghubungi apalagi bertemu dengan keluarganya. "Apa Tuanmu ingin membuat aku, hilang dan dilupakan?" Maksud Bella, membuat Bella melupakan namanya dan hidup dengan identitas baru. 


"Tuan tidak begitu, Nona!"tegas Irene. Tentu saja membela Tuannya. 


"Tapi, tampaknya mengarah ke sana, Irene," sahut Bella. 


"Saya sangat yakin, Tuan tidak akan melakukannya. Tuan ingin Anda, tetap seperti ini. Jati diri Anda, kepribadian Anda, identitas Anda, tidak akan pernah berubah!! Saya menjaminnya!" Irene begitu yakin dan percaya diri dengan ucapannya. Bella menggeleng pelan. 


"Ahh sebenarnya apa peranku di sini? Sejauh ini tidak ada aku kerjakan, bukan? Aku lihat dia tidak kekurangan orang. Mengapa harus aku? Di luar sana yang lebih daripada aku, bukan?"


Mengeluh. Bella mengeluarkan keluh kesahnya. Tidak ada pekerjaan yang diberikan padanya, setidaknya sejauh ini. 


"Peran Anda akan sangat penting, Nona! Tolong jangan seperti ini. Tuan percaya pada Anda." 


"Aku bosan, Irene. Aku juga kesepian. Ini tidak seperti diriku. Aku mulai kehilangan kebiasaanku. Dan kau bilang tidak?" Nada bicara Bella naik. Tatapannya berubah dingin. Irene tersentak. Perubahan ekspresi dan suasana hati Bella begitu cepat. 


"A-Anda bisa melakukan kegiatan lain selain di kamar dan membaca buku, Nona," ujar Irene. 


"Apa? Aku hanya tahu pekerjaan kantor. Aku tidak tahu pekerjaan lain!"


"Ah …." Irene juga tidak tahu. 


"Aku juga merasa sangat bersalah. Banyak data penting di dalam laptopku. Aku takut jika itu sangat dibutuhkan dan jika tidak diserahkan dapat mengganggu perusahaan dan menyebabkan kerugian. Aku memang di sini tapi jiwaku berpikir ke sana kemari! Aku memang di sini, duduk tapi hatiku penuh dengan kegundahan. Ah aku lupa, selain Desya ada lagi tiga nyonyamu. Aku akan sangat berterima kasih kalau mereka tidak menggangguku! Sayangnya, itu mustahil! Mereka menganggapku sebagai saingan. Astaga! Lama-lama aku bisa gila di sini!"ucap Bella. 


"N-Nona, Anda merasa tertekan jika tidak akan kerjaan?"


"Aku harus kembali ke kebiasaanku! Bekerja is my life!!" Ah seperti workaholic? 


"Saya akan segera menyampaikan keinginan Anda pada Tuan!"


Bella menggeleng, "jangan mengganggunya," tahan Bella. 


"Aku tahu, cepat atau lambat Tuanmu juga akan memberikanku pekerjaan. Namun, saat ini ada hal penting yang harus aku kerjakan dan itu membutuhkan bantuanmu. Apakah aku bisa mengandalkanmu? Apakah kau percaya padaku?" Bella bertanya, tatapannya memelas. 


Hati Irene tersentuh. Tatapannya begitu memelas, kesedihannya tampak nyata dan sejauh ini, Irene melihat Bella melakukan apa yang ia katakan. Tidak melenceng. Ya, bukan berarti itu membuat Bella tidak berencana untuk meninggalkan istana ini. 


"A-apa yang Nona butuhkan?"tanya Irene. 


"Ada data yang harus aku kirimkan ke perusahaan. Bisakah aku mendapatkan laptop dan ponselku, sebentar saja."


Irene terkejut. Wajahnya meragu. "Saya butuh persetujuan Tuan." 


"Jangan beritahu dia. Tuanmu pasti tidak akan setuju," ucap Bella. Wajahnya semakin memelas. 


"Jika alasannya logis, Tuan pasti akan setuju," sahut Irene.


"Irene bantu aku, sebentar saja! Hanya mengirim data itu!!"pinta Bella. 


"Irene!" Irene tidak menggubris. Raut wajah Bella berubah saat  Irene keluar dari kamar.


"Keras juga," gumam Bella. Menarik senyum. 


"Ah wajar saja. Dia kan orangnya Desya. Dia kan mafia. Hah. Tapi, Irene aku juga bukan orang yang mudah menyerah. Akan aku cari cara lain."


Ya, itu tadi hanyalah akting. Akting yang nyata. Ya, nyatanya memang Bella merasa bosan dan sangat merindukan pekerjaannya. Irene percaya padanya. Namun, mungkin permintaannya terlalu berat. Itu bisa dimengerti. 


Dan jangan lupakan, ini adalah sebuah markas. Lokasinya sangat tersembunyi dengan keamanan tinggal tinggi.


Walaupun hanya menjelajahi seujung kuku dari istana ini, Bella menyimpulkan keamanannya sangat ketat. Mungkin juga penghuninya kaku dan tidak mudah diajak bicara. 


CCTV di setiap sudut. Bella juga melihat sebuah menara. 


Bella tahu apa yang dikhawatirkan oleh Irene. Mengirimkan data pasti membutuhkan jaringan dan sinyal. Yang mendapat kiriman data itu pasti bisa melacak keberadaan markas ini. 


Memang sih mudah untuk menghilangkan jejak. Akan tetapi, lawan mereka juga bukan orang sembarangan. 


Hah!


Bella menghela nafas pelan. "Kegiatan lain? Sepertinya menarik." Sebuah senyum Bella ukir. 


"Dan aku lapar."


*


*


*


"Uhhh!" Sebuah lenguhan keluar dari bibir Ken. Matanya membuka. Wajahnya masih pucat. Tatapannya hampa. Ken baru saja. 


Langit-langit gelap. Ken tidak melihat apapun selain siluet lampu kamar yang berwarna keemasan. Berarti ini malam hari. 


Kepala Ken terasa sangat berat. Mencoba mengingat. Ken hanya ingat, ia duduk bersandar pada ranjang, kembali ke kamar ini, rasa rindu semakin menggunung dalam hati Ken. Setiap kenangan, dari awal Bella menginjakkan kaki di kamar ini sampai dengan terakhir kali mereka di kamar ini, berputar dalam ingatan Ken. 


Kepala Ken terasa sangat sakit. Tidak tertahankan dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.


 


Begitu bangun, sudah berada di atas ranjang. Ken tidak memusingkan siapa yang menemukan dirinya, apalagi yang mendobrak pintu kamarnya. 


Ken mencoba menggerakkan tangannya. Tangan kirinya seperti di pakaikan sesuatu. 


Ken melihat ke sisi kirinya. Rupanya ia diinfus.


Ah, lemah sekali kau, Ken. Kau sudah tumbang berapa kali, hah? 


Ken kesal pada dirinya sendiri. 


Aru … apa yang harus aku lakukan sekarang? Ken kembali menatap langit-langit. 


Kau pasti akan mengomeliku. Ah aku rindu omelanmu. Tidak aku sangat merindukanmu, semua tentangmu. 


Bagaimana kabarmu, Aru? Apa anak kita baik-baik saja? Kalian sehat, bukan? Atau kau juga merasakan hal yang sama denganku?


Ah … kau kan kuat. Istriku yang tangguh dan hebat. Dasar aku, malah tenggelam sendiri. 


Aru, di kamar ini, aku merasa tenang dan sedih secara bersamaan. 


Tenang karena kenangan. Sedih karena Bella tidak ada di sisinya. 


Aku akan kuat, Aru. Aku akan berusaha!! 


Ken tersenyum. 


Hm?


Ken menoleh ke sisi kanannya. 


Ada orang lain yang berbaring di sisinya. Di saat bersamaan, perut Ken juga berbunyi lapar. Wajar saja, sejak kembali ia sama sekali belum makan. Infus tidak membuatnya kenyang.


Bella mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk agar bisa menghidupkan lampu kamar. Akan tetapi, tubuhnya terasa begitu lemas. 


Tidak ada cara lain, Ken harus membangunkan orang yang tidur di sampingnya.


Namun, siapa itu? El atau Dylan? 


"Siapapun itu, tolong bangunlah. Aku butuh bantuan …," ucap Ken. Suaranya begitu pelan dan lemas. 


Tidak bangun. Ken berusaha membangunkan dengan kakinya. Sekuat tenaga, Ken menyenggol orang itu dengan kakinya. 


"Hmmmm??" Sepertinya berhasil. 


"Bangun …."


Sosok itu menggeliat. Dan dari suara yang tercipta, Ken tahu siapa itu. "Kak El, ayo bangun. Adikmu sudah bangun dan butuh bantuan," ucap Ken. Nadanya masih sama.


El mengerjap. Samar ia mendengar suara. Lirih dan menyebut namanya. "Ken? Kau sudah sadar?" Begitu mata El benar-benar membuka matanya, El langsung bertanya.


"Iya," jawab Ken singkat. El buru-buru turun dan menghidupkan lampu kamar. Ken tersenyum, wajah pucatnya berseri. 


CK!


El malah berdecak. "Sudah buat orang khawatir setengah mati, bisa-bisanya kau tersenyum!"gerutu El. Ken tertawa pelan. 


"Lantas apa aku harus menangis?"tanya Ken. 


"Ah jangan! Eh kurangi! Kau sudah banyak menangis. Nanti kolam air matamu bisa kemarau!"


"Aku juga lelah menangis, Kak," balas Ken. 


"Hem? Bagaimana perasaanmu? Merasa lebih baik? Ada yang kau butuhkan?"tanya El beruntun. 


"Aku merasa lebih baik. Tapi, aku lapar," jawab Ken.


"Lapar? Kau ingin makan apa?"


"Apa saja," jawab Ken.


"Hm. Baiklah. Akan segera aku ambilah. Kau jangan lakukan hal yang aneh! Aku akan segera kembali!"tegas Ken. Ken mengangguk lemah. 


Aish, melihatnya tersenyum aku malah merinding. Aku harap dia tidak berpikiran sempit. 


Harus cepat. Harus cepat kembali!