This Is Our Love

This Is Our Love
Baby Nayan dan Baby Nazira



"Ahhhh … aduh … ini sangat sakit! Tidaklah bisa lebih cepat lagi?!" Bella merintih sembari terus memegangi perutnya. Rasanya sangat sakit. Bertambah sakit dari waktu ke waktu. 


"Bertahanlah, Aru. Ku mohon." Mendengar rintihan sakit Bella yang semakin intens, jelas membuat Ken semakin panik dan cemas. Ditambah lagi dengan jalanan yang macet. Alhasil, itu menghambat mereka untuk tiba di rumah sakit. 


Ken memukul kemudi kesal. Di saat genting seperti ini malah macet! "Jalan potongan tidak ada?"tanya Bella. Ia masih sempat memberikan solusi. 


"Bertahanlah, Aru!" Ken mengedarkan pandangnya. Ia kemudian menghela nafasnya. Tidak ada cela untuk mengambil jalan tikus. 


Ken terus menekan klakson mobil. "Tolong beri jalan! Istri saya mau melahirkan!"teriak Ken pada akhirnya. 


"Kalau masih macet, aku turun saja cari ojek," ucap Bella. Rasanya menyebalkan. Di saat penting seperti ini malah terjebak di kemacetan. Dasar hari weekend dan jam makan siang pula. 


"Bertahan sebentar lagi, Aru. Pasti akan segera lancar," jawab Ken. Ia semakin panik dan berkeringat dingin. 


Tiba-tiba, Ken didekati oleh beberapa orang. "Istrinya mau melahirkan ya, Mas?"


Ken mengangguk, "iya, Pak." Sembari melihat Bella yang duduk di belakang. 


"Mari kami bantu, Mas." 


Syukurlah ada jalan. Beberapa orang itu membukakan jalan untuk mobil yang Ken kendarai lewat. "Terima kasih ya, Pak. Tapi, saya buru-buru. Silakan datang ke Mahendra Group hari Senin ya, Pak," ujar Ken setelah lepas dari kemacetan. 


"Ah … tidak usah, Mas. Kami ikhlas."


"Tidak apa, Pak. Datang ya. Saya berhutang budi pada bapak sekalian." 


"Aduh! Ken cepat! Sakit sekali!" 


"Saya duluan ya, Pak!" Tanpa menunggu jawaban para bapak yang membantunya, Ken langsung tancap gas menuju rumah sakit. 


"Bagaimana, apa kita pergi?"tanya salah seorang yang membantu Ken tadi. 


"Begitu katanya, kita pergi saja," jawab salah seorang dari mereka juga, yang diangguki oleh yang lainnya. 


*


*


*


Lima menit kemudian, Ken dan Bella tiba di rumah sakit. Di sana sudah menunggu perawat dan dokter, lengkap dengan ranjang untuk Bella. 


"Tidak. Aku masih kuat jalan," tolak Bella, enggan untuk naik ke ranjang itu. 


"Aru?"


"Aku sudah banyak duduk tadi. Aku jalan saja," ujar Bella, meyakinkan Ken. Ken mengangguk samar. Ia menggenggam jemari dan merangkul pinggang Bella, menuju ruang bersalin. Ken menemaninya. 


Dokter datang dan memeriksa sudah bukaan ke berapa. Ternyata sudah bukaan ke tujuh. Butuh beberapa saat lagi untuk siap melahirkan. 


"Sakit, Ken." Bella kembali mengaduh. 


Ken sudah merasa lemas, tidak tahu harus berkata apalagi. Wajahnya hanya menatap nanar Bella. Rasanya sangat tidak tega melihat Bella seperti ini. Biasanya, sekalipun sakit, Bella tidak merintih seperti ini. Wanitanya itu mampu menahan rasa sakit. Namun, apa yang bisa ia lakukan untuk meringankan rasa sakit itu?


Andai saja rasa sakit bisa berpindah, Ken akan mengambil semua rasa sakit yang Bella rasakan. Sayangnya, ia hanya bisa melihatnya. Matanya terpejam, Ken mengusap lembut dahi Bella, menyeka keringat yang keluar dari sana. "Bertahanlah, Aru. Sebentar lagi anak-anak kita akan lahir," ujar Ken, menenangkan Bella meskipun dirinya sedang gusar. Tangannya tidak lepas dari Bella. 


Bella mengatur nafasnya. Mulai berusaha mengalihkan pikirannya dari rasa sakit yang dirasa. "Ponsel," ucap Bella. 


"Berikan ponsel padaku," ucap Bella lagi saat Ken belum menanggapi ucapannya. 


"Ah … ini." Ken memberikan ponselnya pada Bella. Ponsel dan tas Bella tinggal di tempat pernikahan tadi. 


Bella menerima ponsel tersebut dan mulai menggunakannya. Ken tidak tahu apa sedang Bella lakukan. Rintihan masih keluar dari bibir istrinya, namun tidak sesering tadi. Selain itu, mata fokus pada layar ponsel, begitu juga jemarinya yang bergerak cepat di atas keyboard ataupun saat menggeser layar ponsel. 


"Hahaha." Tiba-tiba Bella tertawa. Tawanya begitu riang, seakan tengah mendapatkan sesuatu yang besar. Ken hafal sekali tawa Bella saat tujuannya atau targetnya tercapai. Begitu ringan dengan wajah dan mata yang berseri. Tak berkurang meskipun tengah dilanda sakitnya hendak melahirkan. 


"Ada apa, Aru? Mengapa kau tertawa seperti itu?"tanya Ken, penasaran. 


"Sepertinya kelahiran anak-anak kita disambut oleh dunia, Ken," jawab Bella, kemudian menunjukkan layar ponsel pada Ken. Di sana ada garis biru yang bergerak naik. 


"Harga sahamku naik," ucap Bella, memberitahu arti diagram itu. "Dan lebih dari satu yang harganya naik. Kau tahu artinya, Ken?" 


Ken terkesiap sesaat. Lebih dari satu saham yang harganya naik? Pantas Bella begitu senang. "Artinya kau tambah kaya kan, Aru?"jawab Ken dengan tersenyum lebar. Bella tertawa riang. "That's right."


"Ahh aduuhhh." Bella kembali mengaduh sakit. 


"Atur nafas, Aru. Tarik dan keluarkan pelan-pelan," ucap Ken, memberi instruksi. Bella mengikutinya. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit. 


"Masih lama lagi, Dok?"tanya Ken pada dokter yang kembali memeriksa pembukaan Bella. 


"Belum pembukaan sepuluh, Tuan, Nyonya. Mohon bersabar ya. Karena lama pembukaan itu bervariasi," jawab sang dokter. 


Ken sedikit berdecak. Ternyata melahirkannya tidak secepat yang ia kira. Ada fase yang harus dilewati lebih dulu. "Istrinya diajak ngobrol lagi saja, Tuan. Agar rasa sakitnya tidak begitu terasa," saran dokter. Itu adalah dokter yang sama yang menangani USG Bella. 


Ken mengangguk. "Aru, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Ken. Nada dan mimik wajahnya berubah serius. 


"Apa itu?"tanya Bella, matanya beradu pandang dengan Ken.


"Sebenarnya ini tidak cocok aku bahas sekarang. Namun, sepertinya itu bisa dikesampingkan."


"Tanyakan saja. Aku masih mampu untuk mendengar dan menjawabnya," ujar Bella. 


"Aku …." Ken menjeda ucapannya. Bella mengeryitkan dahinya. "Aku ingin naik jadi Presdir," lanjut Ken. "Kau mendukungku, bukan?"tanyanga pada Bella. 


Mendengar itu, Bella tidak kaget. Ia malah mendengus kesal. "Aku sudah dapat gambaran besar jika menjadi Presdir. Bahkan, aku sudah mengerjakan beberapa pekerjaan Presdir. Aku yakin, aku mampu untuk itu," tutur Ken. Wajahnya cemas karena Bella tidak kunjung menjawab. Malah memperlihatkan raut wajah kesal. 


"Bagaimana bisa kau lupa? Sejak awal kita bertemu, aku mendukungmu untuk itu. Bahkan, ya jika diingat kembali, itu adalah salah satu alasanku menikah denganmu. Dan itu tidak akan pernah berubah. Ah … tidak. Aku mendukung apapun keputusanmu karena itu hakmu," jawab Bella. 


"Aku tahu itu," balas Ken. 


"Ahhhh … sakiitt! Ini lebih sakit dari yang tadi!!" Bella mengerang sakit. Tangannya menggenggam jemari Ken semakin erat. Firasat keduanya, ini saatnya untuk melahirkan. 


Dokter kembali dengan sudah memakai pakaiannya untuk menangani pasien yang akan melahirkan. "Sudah pembukaan kesepuluh, Nyonya. Bersiap untuk mengejan ya. Ikuti arahan saya. Dalam hitungan ketiga, dorong bayi Nyonya keluar, ya" ujar dokter tersebut. Bella mengangguk. Ia mengatur nafasnya, mempersiapkan diri. Ken sendiri semakin tegang dan ya, tangannya terasa sakit. 


Dan ini adalah fase puncak. "Satu … dua … tiga, ayo Nyonya!"


"Mmm … ahhh … arrggghhh! Mengapa ini sakit sekali!!!"


"Ayo, Aru! Kau pasti bisa! Kau wanita hebat, Aru!"


"Arrggghhh!"


"Ayo, Aru! Dorong!"


"Ayo, Nyonya. Sedikit lagi!"ucap dokter. Bella sudah berkeringat banyak. Bibirnya memucat. 


"Ayo, Aru! Aku janji bakal kasih apapun yang kamu mau nanti!"ucap Ken, memancing semangat Bella. 


"Janji?!" Ken mengangguk. Dibalas dengan Bella yang menarik tangan Ken. 


"Arghhhhhh!!" Itu bukan teriakan Bella, akan tetapi teriakan Ken yang diikuti dengan tangis bayi. Tangisnya begitu kencang, terdengar sampai luar ruangan. Hingga keluarganya yang menunggu di luar telonjak dan saling pandang. "Sudah lahir?"


Nafas Bella terengah. Air matanya menetes. Di sisi lain, Ken tidak lagi mempedulikan rasa sakit di lengannya akibat gigitan Bella yang meninggalkan jejak gigi di sana. Bahkan kelaut darah. Fokusnya tertuju pada bayi merah yang baru saja lahir, anaknya, anak sulungnya telah lahir. 


"Selamat, Nyonya, Tuan. Anak pertama kalian laki-laki," ujar dokter. 


"Selamat datang di dunia, Nayan," ucap Bella, lemah. Namun, senyumnya begitu lebar. Rasa sakitnya seakan menghilang setelah mendengar tangis bayinya yang begitu kencang. Begitu juga dengan Ken, hatinya membuncah bahagia. Jadi, begini rasanya menjadi seorang ayah? Rasa bahagianya tidak terlukiskan. Hanya air mata haru yang berbicara. 


 Berselang sekitar lima menit kemudian, Bella kembali merasakan sakit. Anak keduanya juga akan lahir. Dokter kembali pada posisinya dan memberikan instruksi yang sama seperti sebelumnya. Ken mendekatkan tangannya pada Bella. Ia sadar, sakit akibat gigitan yang ia terima, tidak sebanding dengan rasa sakit yang Bella rasakan. 


Namun, Bella tidak lagi menggigitnya. Lahiran yang keduanya, tidak sesulit yang pertama. Ken kembali memberikan semangat. Dan kali ini Bella berteriak kencang disusul dengan tangis yang baru saja lahir. Bayi kedua Ken dan Bella, berjenis kelamin perempuan. "Welcome, Nazira," sambut Ken dengan menyeka sudut matanya. 


Sementara Bella, ia terbaring lemas. Energinya terkuras habis. Namun, matanya mengikuti kedua suster yang tengah menangani kedua anaknya. "Kau berhasil, Aru," ucap Ken, mengecup kening Bella. 


"Hm." Bella bergumam mengiyakannya. 


Ken menerima dengan hati-hati putranya. Ia akan mengadzaninya. Hati Bella begitu hangat saat mendengar Ken mengumandangkan azan di dekat telinga putranya. "Aru, seperti yang telah kita sepakati. Nama putra kita adalah Nayan Chandra Mahendra," ucap Ken setelah selesai mengadzani Baby Nayan. Ken mendekatkan Baby Nayan pada Bella. 


"Nayan," panggil Bella lembut seraya mengusap pipi Baby Nayan. 


Sekarang, giliran sang putri yang Ken kumandangkan iqamah. Kedua bayi itu tampak anteng, nyaman dalam dekapan orang tua mereka. 


"Dan si cantik ini, namanya adalah Nazira Chandra Mahendra," ucap Ken. 


"Nazira." 


"Kita benar-benar menggunakan nama itu, Ken. Aku sangat bahagia."


"Tentu saja. Aku juga sangat bahagia, Aru. Terima kasih karena telah memberiku kebahagiaan ini," ujar Ken, kembali mengecup kening Bella. 


Bella memejamkan matanya. Ia begitu lega. Ia melahirkan kedua bayinya dengan selamat. 


*


*


*


Bella melahirkan di saat yang tidak terduga, tepat setelah pernikahan Dylan dan Nesya. Ya, kebahagian berlipat. Nesya dan Dylan telah menikah dan sah menjadi suami dan istri. Kemudian Bella dan Ken yang telah menjadi orang dua dari baby twins. Serta Surya dan Rahayu yang telah menjadi kakek dan nenek. Cucu pertama dan kedua mereka telah lahir. 


Ya, cucu pertama dari anak bungsu. Sungguh sebuah takdir yang tidak terduga. 


"Hei, Ken! Bagaimana rasanya menemani Abel melahirkan?"tanya Brian saat keduanya duduk di sofa. Di ruang rawat VVIP Bella setelah melahirkan. Bella sendiri istirahat di brankar dengan yang lain mengelilingi baby Nayan dan Nazira. 


"Entahlah, Kak. Itu tidak terlukiskan," jawab Ken. 


"Apakah begitu sulit dan sakit?"tanya Brian. Ia begitu ingin tahu, mengingat bahwa sebentar lagi Silvia juga akan melahirkan. 


"Lihat ini," ucap Ken menunjukkan bekas gigitan Bella. Juga bekas kuku Bella yang menancap. Ya, meskipun kuku Bella tidak panjang namun itu rasanya tetap sakit. 


Brian menatap horor itu. "Namun, ini tidak sebanding dengan apa yang Aru rasakan. Ya, mungkin tidak hanya Aru. Setiap wanita yang akan melahirkan juga merasakan hal yang sama. Di dalam, rasanya begitu menegangkan. Seperti antara hidup dan mati, itulah rasanya berada di dalam ruangan itu," jawab Ken, ia menghela nafas lega. Hatinya benar-benar lega setelah keluar dari ruangan bersalin itu. 


"Aku bahkan berniat untuk tidak memiliki anak lagi. Dua anak cukup," jawab Ken, dengan menunjukkan deretan giginya. Ya, itu menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. 


Brian menelan ludahnya. "Takut dan tegang itu wajar. Namun, percayalah. Seorang ibu akan mampu melewatinya. Yang terpenting, kita harus memberi dukungan," tutur Ken kemudian.


"Aku semakin tidak tenang mendengarnya," ucap Brian, dengan mengalikan pandang ke arah Silvia. 


"Sudahlah, Kak. Jangan terlalu kakak pikirkan sekarang. Kita hanya perlu mempersiapkan hati dan fisik untuk itu," ujar Ken lagi. Menenangkan Brian yang sudah tampak cemas duluan. Ken menepuk bahu Brian. 


"Aku saja bisa, Aru juga bisa. Begitu juga denganmu dan Kak Via."


"Jika melahirkan semengerikan itu, lebih baik aku hanya memiliki satu orang anak," ucap Brian. Ya, sepertinya ia telah membuat keputusan. Ken tersenyum, tidak menyangkal ataupun mendukung apa yang Brian ucapkan. 


*


*


*