
Setibanya di apartemen, Bella menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan wajah yang sangat tampak tertekan. Sedangkan Anjani langsung ke kamar, menidurkan Arka yang terbangun di basement tadi.
Bella memejamkan matanya, memijat pelipis yang terasa sangat pusing.
Mengapa semuanya menjadi begitu rumit? Seperti apa kelak jalannya rumah tanggaku?
Bella menghela nafas lega, terpikir olehnya untuk membatalkan kesempatan menikah dengan keluarga Mahendra dan meminta bantuan keluarga Kalendra. Biarpun harus mengorbankan perasaannya lebih jauh, setidaknya tidak terjebak dalam pernikahan yang menurutnya akan sangat rumit. Tapi tidak!
Bella langsung membantahnya! Itu akan jauh lebih rumit.
"Minum dulu, Bel," ujar Anjani menyodorkan air minum pada Bella. Bella membuka matanya.
"Makasih, Jani," ucap Bella, minum menghabiskan setengah gelas.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau menjadi calon menantu keluarga Mahendra? Itu luar biasa sekaligus menegangkan!"tanya Anjani, kagum juga cemas dengan Bella.
Bella melirik Anjani sekilas, kemudian kembali memejamkan mata. Anjani menatap Bella dengan penuh rasa penasaran.
"Ayolah, Bel. Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Mana tahu aku bisa membantumu," bujuk Anjani.
"Membantu apa? Urusanmu sendiri saja belum selesai," sahut Bella, melayangkan cibiran.
"Ah Abel … kau kan tahu aku bagaimana. Mana bisa aku tanpamu. Tapi kan soal itu aku memang lemah, tapi soal perasaan, aku bisa mengerti," kilah Anjani, kini menggoyang-goyangkan lengan Bella seperti anak kecil yang merengek.
"Ya-ya. Kau luar biasa. Baiklah, akan aku jelaskan," putus Bella yang mulai jengah.
"Okay!" Anjani memasang posisi pendengar yang baik. Bella kembali membuka matanya, menghela nafas kasar.
"Apa kau masih ingat dengan kejadian yang menimpa keluargaku beberapa tahun silam?"tanya Bella serius.
"Sebentar, aku ingat dulu." Bella mendengus senyum. Dahi Anjani mengerut dalam menandakan bahwa ia berusaha keras mengingat peristiwa yang ditanyakan oleh Bella.
Beberapa saat kemudian, Anjani berseru senang, ia sudah mengingatnya.
"Waktu Paman Arga dituduh melakukan penggelapan pajak dan pemalsuan izin, kan?" Bella mengangguk menyetujui.
"Lantas apa hubungannya?"tanya Anjani heran.
"Peristiwa itu bagiku sangat janggal. Ayahku sangat jujur dan pengusaha yang putih, mustahil rasanya melakukan perbuatan tercela itu. Sebelum Ayah pergi pun, Ayah kembali mengatakan dan meyakinkan aku dan Nesya bahwa ia tidak bersalah." Bella mengusap wajahnya kasar. Kenangan sedih itu sungguh mengganggu dirinya. Anjani jelas merasakan kesedihan Bella. Ia tahu betul betapa terpukulnya Bella kala itu.
"Selama ini, tidak terpikir olehku untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi. Yang ada di pikiranku hanyalah membangkitkan kembali keluarga Chandra. Delapan tahun, aku hanya fokus belajar dan bekerja. Sama sekali tidak membangkitkan keluarga Chandra malah sebaliknya. Aku mendorong keluargaku ke dalam jurang." Anjani mengeryit mendengar ucapan Bella. Ia sungguh tidak mengerti.
Bella menghembuskan nafas berat, hatinya terasa sangat sakit mengingat apa yang terjadi pada Nesya.
"Selain untuk menguak apa yang terjadi sebenarnya pada tahun itu, alasan aku setuju menikah dengan keluarga Mahendra adalah Neysa," lanjut Bella.
"Nesya?"beo Anjani semakin bingung.
Apa sebenarnya yang Abel pendam? Mengapa rasanya berat sekali.
"Jani, adikku menjadi liar selama aku tidak di Indonesia. Pergaulannya sangat bebas. Dan sekarang ia ditahan di lapas dalam kondisi hamil dan leukemia," jelas Bella. Ada rasa lega di hati Bella karena telah membagi bebannya. Pundak Bella terasa sedikit ringan.
"Apa?!"pekik Anjani. Ia sungguh kaget. Tak habis pikir dengan Nesya dan Bella. Dua saudara kandung itu sama-sama memikul beban yang berat. Yang satu memukul akibat perbuatannya sendiri, yang satu lagi memikul akibat perbuatan adiknya juga perbuatannya sendiri. Anjani menggeleng pelan, pantas saja, batinnya.
"Abel, bagaimana bisa kau memendam semuanya sendirian? Kau ini memang kuat atau bodoh?"heran Anjani, menatap sendu Bella.
"Kau juga sama!"sahut Bella datar. Anjani tersenyum malu, "aku memang bodoh," balas tanpa malu.
"Jadi … kau tetap pada keputusan awalmu?"tanya Anjani memastikan.
"Ya."
Anjani menghela nafas kasar mendengar itu. Bella, sekali membuat keputusan sulit untuk merubahnya. Pilihannya telah ditentukan, tak peduli sesulit atau seringan apapun jalannya kelak, akan tetap Bella lalui.
"Apa kau benar-benar yakin? Ini keluarga Mahendra loh, bukan keluarga sembarangan dan penuh dengan persaingan. Pikirkan lagi, Abel!"cemas Anjani.
"Kau tahu sifatku. Aku juga bukan perempuan lemah dan naif. Terlebih aku tebak, pernikahan itu kelak akan diwarnai oleh kebencian oleh seorang Ken dan tangis oleh Cia. Sudahlah, apapun itu akan aku jalani tanpa penyesalan," jawab Bella, menenangkan Anjani.
"Ya aku tahu," sahut Anjani yang sekali lagi merasa malu. Harusnya ia yang menenangkan Bella, bukan sebaliknya.
"Baiklah. Jika begitu aku akan memberitahumu apa yang aku ketahui tentang keluarga Mahendra!"ujar Anjani.
"Katakanlah!"jawab Bella.
*
*
*
Surya dan Rahayu tiba di rumah sekitar pukul 22.00. Wajah Rahayu sudah tampak lebih tenang karena ucapan meyakinkan Surya. Walau yakin tak yakin, Surya tetap yakin bahwa Bella tidak akan merubah keputusannya. Kesepatakan yang mereka buat, sangatlah penting untuk Bella. Sangat kecil kemungkinan Bella memutuskan kesepatakan itu. Itulah yang dipikirkan oleh Surya.
"Tio apa Ken sudah pulang?"tanya Surya pada kepala pelayan.
"Tuan Muda Ken sudah kembali, Tuan. Sekarang berada di kamarnya. Apa Tuan ingin bertemu dengan Tuan Muda Ken?"jawab sopan Tio.
"Ya. Katakan padanya aku dan Rahayu menunggunya di ruang belajar," perintah Surya.
"Baik, Tuan."
"Ah iya. Brian dan El ada di mana?"tanya Rahayu mencari keberadaan dua anaknya yang lain.
"Kalau Tuan Muda Brian dan Nona Silvia sudah berada di kamar, kalau Tuan Muda El …."
"Masih belum pulang?!"potong Surya dengan wajah kesal.
Tio mengangguk pelan. "Anak sialan itu! Setiap hari foya-foya terus! Mau jadi apa dia? Sutradara sialan! Tiada untung aku punya anak seperti itu!"geram Surya dengan mata menyalang marah.
"Sudahlah, Mas. El masih muda, masih butuh hiburan. Biarlah dulu ia bersenang-senang. Kelak pasti akan sadar akan perbuatannya selama ini," ujar Rahayu menenangkan suaminya.
"Sampai kapan, Sayang?! Sampai kapan? Perilakunya makin menjadi sejak Tiara pergi. Mas sudah tak tahan dengan perilakunya. Kamu juga terlalu memanjakan El! Dia jadi anak yang tidak tahu apapun selain foya-foya!"kecam Surya. Rahayu menghela nafas pelan.
"Ya sudah, jika begitu berilah hukuman ringan untuknya. Jangan terlalu keras atau El akan semakin sulit diatur," ujar Rahayu lembut.
Surya mendengus sebal. "Bekukan semua kartu kredit anak sialan itu! Suruh sopir pulang! Biarkan dia pulang jalan kaki!"perintah Surya pada Tio.
"Baik, Tuan!" Tio segera melakukan apa yang Surya perintahkan. Akan tetapi ia lebih dulu menuju kamar Ken.
Surya dan Rahayu menuju ruang belajar. "Sudahlah, Mas. Sekarang yang lebih penting adalah Ken. Kita harus berhasil membuat Ken setuju," bujuk Rahayu yang melihat wajah Surya masih kesal.
"Hm."