This Is Our Love

This Is Our Love
Rupanya



"Assalamualaikum," ucap Nizam, Ken, dan Bella saat masuk ke ruangan Umi Hani.


"Waalaikumsalam," jawab Umi Hani. Ia memalingkan wajahnya melihat siapa yang datar.


"Umi," sapa Nizam, mencium punggung tangan Umi Hani, diikuti oleh Ken dan Bella.


"Nizam, ini …." Umi Hani menanyakan siapa gerangan Bella dan Ken. 


"Umi, ini adalah adik dan adik ipar Tuan Muda."


"Adik?" Umi Hani mengingat-ingat. 


"Oh astaga! Anaknya Rahayu, kan?"seru Umi Hani. 


"Iya, Umi." Ken mengangguk. Mengenai Bella yang lebih tua dari Ken, Umi Hani tidak lagi tercengang karena Rahayu sudah memberitahunya juga menunjukkan foto pernikahan Ken dan Bella. "Umi, Nizam panggil Tuan Muda dulu, ya," ujar Nizam. 


"Eh jangan!"tahan Ken.


"Jangan? Bukankah kalian ingin bertemu dengan El?" Umi Hani dan Nizam saling melempar pandang.


"Benar, Umi. Tapi, sebagai adik, sayalah yang harus menemui kak El," jelas Ken.


"Baiklah. Kalau begitu, mari …." Ken dan Bella kemudian undur diri, mengikuti langkah Nizam. Umi Hani termenung sesaat setelah ketiganya keluar dari ruangannya. 


Kata Nizam … Istri anak Rahayu itu mengatakan bahwa ia punya teman yang rupanya sama persis dengan Nizam. Aku harus menanyakannya nanti lebih detail!


*


*


*


Suasana di lingkungan pesantren sungguh damai, tentram, dan begitu tenang. Semua berada pada tempatnya masing-masing yang tidak menyebabkan polusi suara. Pendidikan karakter sungguh dikembangkan, ditanamkan, diamalkan oleh para santri. Seperti saat ini, saat bertemu satu sama lain, mereka bertegur sapa walau hanya seulas senyum. 


"Lingkungan yang seperti ini sangat menunjang proses pembelajaran. Kami juga memiliki beberapa unit khusus untuk diskusi dan presentasi yang dilengkapi dengan kedap suara." Nizam kembali menjelaskan tentang pesantren ini.


"Lalu ada berapa banyak ekstrakurikuler di sini?"tanya Ken penasaran.


"Cukup banyak. Ada bidang olahraga, seni, sastra dan bahasa, ada pramuka juga, dan seni bela diri," jawab Nizam.


"Kurikulum pendidikan di sini mencampurkan antara kurikulum pendidikan yang digunakan di beberapa sekolah menengah internasional, yakni Cambridge Assessment International Education, yang dipadukan dengan kurikulum pendidikan islam. Dengan visi menciptakan sumber daya manusia yang berakhlak mulia, berpegang pada al-Qur'an dan hadits sebagai jalan hidupnya serta manusia yang memiliki wawasan luas yang dapat diterapkan dalam masyarakat," terang Nizam. 


Pesantren terdiri atas beberapa bangunan bertingkat sebagai gedung belajar. Untuk asrama sendiri tidak dibuat tingkat. Ada lapangan bola, voli, basket yang merangkap lapangan bulu tangkis. Masjid besar yang mampu menampung semua penghuni pondok pesantren. Perpustakaan besar, gedung olahraga yang biasa dilakukan indoor, ada laboratorium, gedung multiguna yang biasa digunakan saat penerimaan dan wisuda santri. 


"Pantas saja kak El tidak merengek pulang. Pesantren elit rupanya," gumam Ken. 


"Omong-omong kita ini menuju kemana?"tanya Bella.


"Ruang makan," jawab Nizam. Tak berapa lama mereka tiba di ruang makan yang juga merupakan kantin. Ada banyak santriwan yang mengantri. Namun, saat melihat Nizam, mereka meninggalkan artian untuk menyapa dan menyalami Nizam. 


"Di mana Kak El? Zidan?"tanya Nizam pada para santri. Zidan biasanya orang yang tepat waktu.


"Sepertinya mereka masih di ruang musik, Gus. Soalnya tadi saya lewat ruang musik, saya melihat mereka masih berlatih." Nizam melihat jam tangannya. Sudah hampir jam dua.


"Selesai shalat kembali berlatih?"


"Saya tidak melihat mereka di masjid saat dzuhur tadi, Gus. Kemungkinan mereka begitu tenggelam mengejar tenggat soalnya kan Naina nggak bisa ikut lombanya." Nizam mengangguk mengerti.


"Tuan Muda Ken dan Nona Bella, kalau tidak keberatan kalian bisa kembali ke ruangan Umi lebih dulu. Saya harus ke ruang musik. Setelahnya saya akan ke ruangan Umi dengan Tuan Muda El," tutur Nizam.


"Jika ingin ikut tidak masalah, kan? Kami juga mau melihat-lihat. Siapa tahu nanti kami punya anak, kami berniat menitipkan anak kami di sini untuk dididik dan dibina," ucap Ken, yang melihat Bella tertarik dan nyaman dengan pesantren ini.


Nizam terpana sesaat. Tak lama ia mengangguk menyetujui. "Kami akan sangat senang jika nanti kedatangan santri dari keluarga Mahendra."


"Mari," ajak Nizam kemudian. Mereka meninggalkan ruang makan Santriwan menuju ruang musik yang berada di salah satu gedung bertingkat. Karena luasnya area pesantren, dibutuhkan petunjuk arah di beberapa persimpangan. 


Alat musik di ruang musik cukup lengkap. Ada drum, piano, seruling, terompet, keyboard, gitar, dan lain sebagainya. "Assalamualaikum," ucap Nizam saat masuk ke ruang musik. 


"Waalaikumsalam." Terlihat El yang masih sibuk memberi Laila pengarahan untuk pengambilan video. Terlihat juga yang lain tengah beristirahat. Sebenarnya Naina baru saja dari ruangan ini guna meminta maaf karena kecerobohannya. Ia sangat menyesal karena dirinya, timnya kelimpungan mencari jalan keluar. Timnya tentu saja paham, siapa sih yang mau tertimpa musibah? Lagi jalan sudah ditemukan, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Intinya yang penting pembuatan video musik akan tetap berjalan. 


"Waalaikumsalam." El menoleh, sedang yang lain langsung mendekati dan menyalami Nizam.


"Assalamualaikum. Hai, Kak El. Ternyata bakatmu tidak mati ya selama di sini." Ken masuk dengan tersenyum manis pada El. Diikuti Bella yang melambai pada El. El terkesiap.


"Ken, Abel?"


"Kakak kau tidak merindukanku?" Ken menaikkan alisnya dengan tangan merentang. Rasa ketidaksukaan pada El dalam diri Ken telah sirna. Ken begitu merindukan kakak narsisnya.


"Yo? Apa kau merindukanku?"sahut El.


"Jika tidak untuk apa aku kemari, hm?" 


"Hahaha." El dan Ken lantas berpelukan. Kecuali Nizam, santri yang ada di ruang musik saling melempar pandang. Apa mereka keluarga Kak El?


"Kalian hanya berdua?"tanya El setelah berpelukan.


"Kami sekalian meninjau proyek, Kak El," jawab Bella. El mengangguk paham. Ia tahu kalau Rahayu dan Surya tengah berada di Paris. Namun, El tidak mengetahui insiden yang menimpa Ken dan Bella sampai hampir mengancam nyawa karena sengaja disembunyikan. 


"Ehem-ehem!" 


"Astagfirullah! Belum, Gus!" Mereka langsung panik


"Kami dzuhur dulu ya, Gus. Assalamualaikum." Mereka kembali mencium punggung tangan Nizam dan bergegas keluar dari ruang musik.


"Waalaikumsalam," jawab Nizam seraya menggeleng pelan. Nizam lantas memalingkan wajahnya ke arah El.  "Tuan Muda El?"


"Kalian sudah dzuhur?"tanya El pada Bella dan Ken. Keduanya mengangguk. Di saat itu, ponsel Nizam berdering. Ia menjauh sedikit dari Bella, Ken, dan El.


"Kalau begitu ayo temani aku ke masjid. Setelah itu aku ajak kalian keliling. Kalian menginap kan?" 


"Kak El, selesai ashar kami akan pulang," jawab Ken. El mengesah pelan. "Baiklah." El tahu alasannya.


"Kalau begitu aku ke masjid dulu, kalian tunggu saja di ruangan Umi," tukas El. 


"Aku ikut Kakak," ucap Ken, merangkul El. Bella mengangguk menyetujui lirikan El. 


"Hm, kalau begitu kita juga kembali ke ruangan Umi, Nona Bella. Ada hal penting yang ingin Umi tanyakan padamu," ucap Nizam. Bella mengangguk walau hatinya bertanya-tanya. Bella agaknya lupa apa yang pernah ia tanyakan pada Nizam dulu waktu pertama kali bertemu di rumah Bella. 


Ah, Bella lupa memberikan titipan dari Anjani. Nanti saja setelah El selesai shalat baru ia berikan. 


*


*


*


Kini Bella sedang duduk berdua dengan Umi Hani. Nizam sendiri disuruh mengerjakan hal lain oleh Umi Hani. Bella merasakan apa yang akan Umi Hani tanyakan adalah hal yang cukup penting.


"Nak Bella, beberapa waktu yang lalu anak Umi, Nizam, mengatakan kalau Nak Bella mengira dirinya adalah teman Nak Bella dari luar negeri. Apa yang Nak Bella tanyakan begitu spesifik. Kalau boleh, bisa Nak Bella gambarkan dengan jelas teman Nak Bella yang begitu mirip dengan Nizam?" Umi Hani memulai pembicaraan dan langsung to the point. 


Soal itu rupanya, batin Bella. Ia tersenyum dan mengangguk.


"Namanya Evan. Wajahnya memang begitu mirip dengan Nizam, usianya juga sama dengan Nizam. Tapi, mereka punya perbedaan yang mencolok. Evan adalah seorang peneliti dari Institute Penelitian Jerman. Setahuku Evan itu kristiani," terang Bella. 


Evan? Peneliti? Kristiani?


Umi Hani seperti tengah menerawang. 


"Adakah hal lain, Nak Bella? Misal keluarganya?"


"Bella kurang tahu, Umi. Setahu Bella, Evan tinggal di asrama sedang keluarganya, dari yang Bella dengar orang tua Evan single parent."


"L-lalu Nak Bella, apa Nak Bella pernah melihat liontin berbentuk hati berwarna biru ia pakai?" Bella mengeryit. Pertanyaan Umi Hani begitu mendesak dan lebih mendetail. 


Bella mencoba mengingat-ingat. Tak tega juga melihat pancaran mata Umi Hani yang begitu berharap. 


"Sepertinya pernah, Umi. Evan pernah memperlihatkan pada Bella. Katanya itu adalah barang dari Ibunya." Bella tak berbohong. Benar adanya. Sontak Umi Hani langsung menangis. Umi Hani memeluk Bella menumpahkan air matanya. 


"Hiks … hiks …."


Bella mengeryit. Ia langsung menduga bahwa Umi Hani ada hubungan dengan Evan. Atau …. 


Bella membulatkan matanya. Benar! Dua orang yang mempunyai wajah yang serupa atau kembar, kecil kemungkinan tidak memiliki keterikatan. 


"Umi, apa Umi ada ada hubungannya dengan Evan?"


"J-jika yang Bella jawab itu benar adanya, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Evan adalah kembaran Nizam yang dibawa ayahnya saat masih bayi dulu," tangis Umi Hani.


"Maksudnya Nizam punya kembaran dan Anda berpisah dengan suami Anda saat mereka masih bayi dengan masing-masing membawa satu anak?"


"Benar."


"J-jadi Nizam punya kembaran, Umi?" Umi Hani dan Bella menoleh ke arah pintu. Nizam berdiri mematung di sana dengan mata yang berkaca-kaca. 


"Abi Nizam juga masih hidup, Umi?"tanya Nizam lagi. Nizam hanya tahu bahwa ayahnya telah tewas di saat ia masih kecil dan mayatnya tidak ditemukan karena mengalami kecelakaan di laut. 


"Nizam …." Umi Hani memanggil putranya dengan parau. 


"Umi berbohong?" Perasaan Nizam campur aduk.


"Tidak, Sayang. Umi tidak berbohong." Umi Hani berdiri dari tempatnya dan memeluk putranya. Ibu dan anak itu menangis. 


El dan Ken yang baru tiba menatap Bella, bertanya apa yang terjadi.


"Sudah saatnya Umi memberitahunya padamu, Nak," ucap Umi Hani, membawa Nizam duduk. El sigap mengambilkan minum untuk Umi Hani dan Nizam.


"Kalau begitu kami permisi keluar dulu ya, Umi." Bella merasa itu privasi, ia menggandeng lengan Ken.


"Tetaplah di sini, Bella. Umi tidak keberatan kalian ikut mendengar dan mengetahui kisah Umi," tutur Umi Hani. Melihat tatapan harap Umi Hani, Bella kembali duduk diikuti oleh Ken dan El yang masih bingung .


*


*


*