This Is Our Love

This Is Our Love
Pertimbangan



"Assalamualaikum." Bella masuk dengan wajah yang tampak bingung juga kacau. Anjani yang asyik mengajari Arka di ruang tamu, menatap Bella dengan heran, "Waalaikumsalam," jawab Anjani. 


"Kamu kenapa, Bel?"tanya Anjani yang tidak digubris oleh Bella.


Brak!


Anjani dan Arka terperanjat mendengar pintu yang ditutup dengan dibanting. Arka langsung menatap takut sang ibu. Ia bersembunyi di balik punggung Anjani, tahu bahwa Bella sedang dalam kondisi badmood.


"Kenapa lagi dia? Tadi perginya ceria, pulang-pulang kok suram begitu?"gumam Anjani seraya menenangkan Arka.


Di dalam kamarnya, Bella berbaring dan menatap langit-langit kamar. Masih terekam dengan jelas perbincangannya dengan Surya tadi. Kini Bella benar-benar terjebak oleh situasi. Ia berpikir keras untuk menentukan keputusan yang paling tepat. 


Menikah?


Dengan Tuan Muda Ketiga Mahendra Group, Mahesa Ken Mahendra? 


Apakah nantinya ia akan menjalani sebuah rumah tangga atas dasar kepentingan bersama? Bukan atas dasar cinta? 


Bella masih bingung alasan di balik perjodohan yang Surya ajukan. Ibukota ini luas, banyak wanita cantik dengan segala latar belakang yang lebih darinya. Mengapa harus dia yang dipilih? Juga dari informasi yang dapat dipercaya, Tuan Muda Ketiga itu masihlah berusia 22 tahun, tahun ini baru akan menyelesaian pendidikan S-1 nya. Jadi apakah secara tak langsung ia akan menikah dengan seorang brondong?


Semua latar belakangnya sudah diketahui oleh Surya, kecuali hubungannya dengan keluarga Kalendra. Dalam waktu singkat, Surya bisa mendapatkan informasi yang akurat atas dirinya. Memang tak perlu diragukan lagi kecepatannya mendapatkan informasi bagi keluarga Mahendra. Bella hanya kagum, tak lagi heran.


Ah mengingat keluarga Mahendra, sebenarnya bisa saja Bella kembali ke Jerman, kembali bekerja di Kalendra Group. Pintu perusahaan itu selalu terbuka lebar untuknya. Akan tetapi, bagaimana dengan Nesya? Jika Nesya tidak tersandung kasus narkoba, Bella tak masalah kembali ke Jerman. Walaupun dengan akibat ia akan semakin susah melepas perasaan untuk Louis. Ataupun jika tak kembali ke Jerman, dunia ini masihlah luas. Dengan kemampuannya yang menguasai beberapa bahasa, Bella bisa bekerja di perusahaan di negara manapun.


Nesya, Bella tak ingin dan tak bisa meninggalkan adiknya lagi. Di saat begini, apakah ia harus kembali egois lagi? Nesya masih dalam kondisi lemah, ia tidak ingin kembali menanamkan dan memupuk kebencian lagi di hati Nesya. Cukup sudah egoisnya merusak kehidupan Neysa.


Jadilah menantu keluarga Mahendra, aku akan membantumu menyingkap tabir rahasia masa lalu yang menimpa keluarga Chandra. Aku juga akan membantumu mencari sum-sum tulang untuk pengobatan adikmu, juga aku akan membantumu menemukan ayah dari keponakanmu. Jadilah menantu keluarga Mahendra, aku akan menbantumu menjawab semua pertanyaan di dalam hatimu. Aku bersumpah aku akan menepati semua janji yang aku ucapkan. 


Ucapan Surya kembali terngiang di kepala Bella. Ucapan yang tegas dan penuh dengan keyakinan. Bella memejamkan matanya, apakah dia benar-benar membutuhkan bantuan keluarga Mahendra? Atau harus meminta bantuan keluarga Kalendra?


Ah tidak! Bella menggeleng. Urusan keluarga kandungnya tidak ada urusannya dengan keluarga angkatnya. 


Jika aku benar-benar tersinggung dengan ucapanmu tempo hari dan hari ini, sudah pasti kau tidak bisa duduk tegak di sini. Kau pasti sudah berada di dalam kubur!


Ucapan yang menekankan sebuah ancaman dan peringatan, membuat Bella tersadar bahwa di dunia ini, ia hanyalah seekor semut yang berada di antara banyak gajah. Dan untuk bisa memanjat naik ke telinga gajah, Bella harus berusaha keras, tapi apakah semuanya akan lebih mudah jika ia punya bantuan?


Dan aku juga bisa membebaskan adikmu segera dari lapas. Jadi adikmu bisa menjalani pengobatan yang maksimal.


Bella langsung menolak ucapan Surya itu. Biarlah adiknya menjalani hukuman tanpa tawar-menawar lagi. Hukuman itu kelak akan menjadi sebuah pelajaran yang diingat seumur hidup. Bella tak ingin adiknya menjadi manja dan tak kenal takut lagi jika dikeluarkan dengan campur tangan orang berpengaruh. Lagipula Bella tak ingin mewujudkan kalimat hukum itu runcing ke bawah tumpul ke atas. 


Kembali ke keluarga Mahendra. Keluarga Mahendra? Apakah masuk ke dalam keluarga Mahendra adalah jalan yang dibuka untuknya? Tapi ….


Bella membuka matanya, tatapan matanya datar, ia duduk kemudian menatap lurus dengan menarik senyum tipis. 


Untuk mencapai sebuah tujuan, pasti ada yang harus dikorbankan. Demi sebuah ketenangan akan kecurigaan di masa lalu, harga itu sepertinya tidak terlalu mahal. 


Toh cinta juga belum hadir di hatinya. Menikah tapi seakan tak pernah menikah? Jika begitu memang jalan rumah tangganya kelak, Bella juga tidak masalah. Biarlah semua berjalan sesuai dengan alurnya. Jika memang ujungnya sama seperti novel yang sering ia baca, Bella akan menerimanya dengan senang hati. Jika sebaliknya, Bella akan menerimanya dengan lapang dada.


Masuk ke lingkungan yang penuh intrik dan konflik? Bella bukan perempuan lemah dan polos, ia wanita terpelajar dan berpengalaman. Jika lingkungannya berbeda, biarlah menjadi sebuah pengalaman baru. 


Bella menghembuskan nafas kasar, kembali menatap langit-langit. Ku harap ini keputusan ya tepat.


"Mas, ponselmu berbunyi itu," ujar Rahayu yang baru keluar dari ruang ganti. Surya yang tiduran di ranjang, meraih ponselnya dengan malas, tapi tatapan matanya penuh semangat pada Rahayu.


"Assalamualaikum, Pak!" Surya terperanjat mengetahui siapa yang meneleponnya malam-malam begini.


"Siapa yang nelpon, Mas?"tanya Rahayu penasaran yang melihat reaksi Surya. Surya langsung duduk dengan tegak dan wajahnya penuh dengan keseriusan.


"Calon menantu kita, Sayang," jawab Surya, berbisik. Rahayu mengangguk mengerti.


"Loudspeakers, Mas," pinta Rahayu. Surya melakukannya. 


"Assalamualaikum Pak Surya, apa Anda sudah tidur?" Nada tegas Rahayu membuat Rahayu tak sabar ingin bertamu dengan Bella secara langsung.


"Waalaikumsalam, Nona Nabilla. Bagaimana? Apakah keputusanmu?"jawab Surya cepat, dengan tegas pula.


"Apa Anda kira saya ada pilihan yang lebih baik?"sahut Bella. Surya terkekeh pelan. "Saya anggap kau setuju."


"Saya setuju menikah dengan putra ketiga Anda. Saya harap Anda menepati semua janji yang Anda ucapkan pada saya,"ucap Bella tegas.


"Pasti! Aku selalu menepati janji yang aku ucapkan!"sahut Surya mantap. Rahayu tidak heran dengan ucapan itu, ia sudah tahu cara Surya menaklukan Bella


"Saya harap juga begitu, sebelumya maaf mengganggu waktu istirahat Anda!"ujar Bella dengan nada tegas.


"Hahaha untuk kabar menyenangkan seperti ini, itu bukan masalah, Nabilla. Karena kamu setuju, saya akan segera mengatur pertemuan kamu dengan Ken. Secepatnya!"ucap Surya gembira.


"Silakan Anda atur saja. Insya Allah saya siap sedia," jawab Bella yang malas berdebat lagi. Sudah setuju, ya ikuti saja arusnya.


"Tapi sebelumya, lebih baik kamu bertemu dengan calon ibu mertuamu, bagaimana jika besok di Firdaus Cafe? Saya akan share lokasinya ke kamu," saran Surya.


"Maaf, saya lebih tertarik bertemu di tempat makan kaki lima, saya akan mengirim alamatnya nanti!"tolak Bella sekaligus menawarkan lokasi baru.


Surya menatap Rahayu meminta persetujuan. Rahayu yang mendengar semua percakapan itu, mengangguk menyetujui.


"Baiklah."


"Baik, besok malam kita bertemu di sana."


"Baiklah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Sepertinya yang Mas bilang itu benar. Menantu kita itu berbeda dari perempuan lainnya," ucap Rahayu yang tampak sudah menerima Bella.


"Syut, calon mantu Sayang. Dan karena Nabilla sudah setuju, maka tugas menyakinkan Ken, Mas serahkan padamu."


"Aman, Mas!"