
Bella begitu girang saat melihat dan bisa menyentuh kembali laptopnya. Begitu juga dengan ponselnya. Kedua benda itu sudah menjadi bagian dirinya.
"Oh akhirnya kita bertemu. Kau pasti melewati masa bosan karena lama tidak menyala," ujar Bella dengan memeluk laptopnya. Ya banyak data penting di dalam laptop itu. Ada yang ternilai dan juga tidak ternilai harganya.
"Hm." Bella menoleh pada Desya.
"Kau serius mengizinkanku mengakses internet? Ah tidak, begitu laptopku dihidupkan, ini akan bisa dideteksi. Apalagi saat mengakses internet. Kemungkinan lokasi ini bisa dilacak bertambah besar," tanya Bella memastikan. Lebih baik mengatakannya langsung.
Desya termenung sesaat.
Benar juga. Mereka bahkan bisa melacak pesawatku. Tapi, tidak masalah. Aku Desya punya seribu cara untuk mengacaukan mereka.
"I know," sahut Desya santai.
"Ah, baiklah. Jika terlacak, jangan salahkan aku, okay!"tegas Bella.
"Waktunya hanya lima menit! Dari sekarang!"ucap Desya. Sesaat Bella membelalakkan matanya. Lima menit apanya? Bukankah tidak ada minimal waktu? Sampai ia selesai mengirim data, bukan?
Desya melihat jam tangannya. Tanda ia tidak bercanda. Segera, bergegas Bella membuka laptopnya. Jemarinya dengan cepat memasukkan sandi untuk bisa mengakses laptopnya. Setelah itu langsung disambungkan pada internet.
Desya juga turut membuka laptopnya. Desya terlihat sibuk. Sama seperti Bella yang sibuk mengirim satu demi satu file yang harus ia kirimkan.
Waktunya begitu singkat. Sedang yang harus ia kirimkan tidak hanya satu. Untung saja jaringan begitu lancar sehingga tidak butuh waktu lama untuk meng-upload nya.
Irene terkagum dengan kecepatan jari Bella di atas keyboard. Juga kejelian mata Bella. Ia begitu cekatan.
Desya sesekali melirik. Sebelum Bella selesai, Desya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Tiga puluh detik lagi," ucap Desya. Bella melirik sekilas.
Tak!
Finish!
Bella tersenyum. Terpancar kelegaan dalam tatapannya. Ia lega. Setidaknya siapapun penggantinya nanti, dan Surya sendiri sebagai Presdir tidak mengalami banyak kesulitan karena kehilangan dirinya.
Bella kemudian menonaktifkan laptop-nya. "Terimakasih."
Walaupun kesal karena diberi tenggat waktu Bella mengucapkan terima kasih dengan tulus. Desya tersenyum.
"Tidak perlu khawatir takut terlacak." Artinya Desya tadi melakukan sesuatu agar lokasi pengirim tidak diketahui.
"Ah, aku lupa mengatakan kalau aku punya orang-orang yang kompeten di bidangnya. Cepat atau lambat, lokasi ini akan terlacak. Maka sebelum hari ini datang, lekaslah beri aku pekerjaan. You know? Aku mulai bosan," ucap Bella.
Meskipun ia tidak di sana. Bella bisa memperkirakan hal apa yang terjadi di sana.
"Kau melupakan sesuatu. Sejak kau menginjakkan kaki di istana ini, kau adalah orangku! Kau akan tetap di sampingku!"tegas Desya.
Ah Bella lupa. Percuma saja membicarakan hal ini. Jawaban Desya akan tetap sama.
"Okay. I understand. Now, beritahu apa yang akan aku lakukan. Atau biarkan aku mempelajari struktur organisasi ini. Aku butuh informasi akan bisa berdiri tegak sebagai pendampingmu!"
Maka harus pandai bersikap. Bella tersenyum lebar. "Itu bahas nanti saja. Temani aku ngobrol saja. Mungkin nanti aku sedikit menyinggungnya," jawab Desya.
"Hm?" Bella mengernyit tipis.
"Ayo ikut aku. Pakai jaketmu!" Desya berdiri dan melangkah keluar. Bella dan Irene saling pandang sesaat kemudian segera menyusul langkah Desya. Bella melangkah sembari memakai jaketnya.
Mereka turun ke lantai bawah. Desya membawa mereka menyusuri koridor. Setelah melewati beberapa belokan, mereka tiba di sebuah taman kaca. Di tengah taman kaca berbentuk setengah lingkaran itu, terdapat meja dan kursi.
Bella melihat tanaman apa saja yang ada di dalamnya. Banyak bunga mahal. Dan sepertinya tempat ini dibangun untuk tanaman tropis dan agar tidak terpengaruh oleh empat musim negara ini.
"Wow, kau juga memiliki kaktus?"decak Bella.
"Irene, bawakan teh," titah Desya. Irene segera mengangguk dan undur diri.
"Wow. Kau memiliki banyak koleksi mahal. Hei apa kau tahu, ini sangat mahal dan diburu jika di negara." Bella menuju salah satu tumbuhan dari keluarga talas-talasan dengan daun lebar dan bolong-bolong.
"In my country this is called a bolong widow," ujar Bella.
"Bolong widow? Nama yang aneh. Aku menyebutnya Monstera adansonii," sahut Desya. Merasa aneh dengan nama yang Bella sebutkan.
Tanaman kok janda? Bolong? Apa itu bolong? Dalam benaknya bertanya-tanya namun tidak dikeluarkan.
"Oh, itu nama ilmiahnya, bukan?"
"Ah lupakan saja. Ayo aku temani kau ngobrol," ujar Bella. Bella melepas jaketnya dan menyampirkannya. Kemudian duduk di kursi. Menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Suhu di ruangan ini tidak dingin seperti di luar. Cenderung hangat yang membuat tubuh nyaman.
Desya ikut duduk. "Sebelum kau mempelajari tugasmu. Kau harus memahami dulu aku dan keluargaku," ujar Desya.
"Aku tahu kau sudah mendengarnya dari Irene. Namun, tidak akan selengkap apa yang aku katakan," imbuh Desya.
"Okay. Aku akan mendengarkannya."
Dengan begitu, akan semakin lebih mudah bagi Bella. But, pasti ada maksud tertentu dari Desya. Bella menyimpan rasa curiganya. Memilih menjadi pendengar yang baik.
"Orang tuaku saat ini tengah menikmati masa pensiun. Namun, aku yakin mereka akan segera kembali. Wanita itu, pasti sudah mengadu pada mereka. Sial! Mengapa dia begitu pengaduh?!"
"CK! Bicara dengan jelas! Jangan dengan inisial atau kata ganti!"tegas Bella.
"Ibunya Liev."
Ariel rupanya. Tunggu, pengaduh, artinya …
"Dia wanita pilihan orang tuaku. Keluarganya adalah keluarga aristokrat. Orang tuanya punya ambisi untuk menjadikanku pion mereka dan menjadikan cucu mereka sebagai pewarisku. Ck, mengapa juga dia melahirkan anak laki-laki?!
Kembali, Desya menggerutu.
"Karena aku ada. Suka? Cinta? Cih, palsu!" Terlihat jelas Desya tidak menyukai Ariel.
"Tapi, kau mendapatkan anak sulung darinya."
"Itu sudah menjadi tugasku. Suka tidak suka, aku harus melakukannya!"balas Desya.
"Alright. Di istana ini, dia memegang peran apa? Hanya sebagai istrimu atau …."
"Hanya sebagai itu. Namun, peranan lain tidak ada. Menyerahkan urusan padanya, CK! Apa aku akan melangkahkan kakiku sendiri ke dalam lubang?"
"Orang tuamu? Bukankah dia menantu pilihan?"
Desya tersenyum. Ya sepertinya Desya melakukan sesuatu.
Irene datang dengan membawa teh dan beberapa makanan ringan untuk menemani obrolan menjelang petang itu.
Irene menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Desya mengangkat tangannya, menyuruh Irene keluar. Irene mematuhinya. Bella meraih cangkir teh dan meminumnya. Bella mulai menyukai teh mawar ini. Desya juga minum.
Bella meraih biskuit dan memakannya.
"Hm, bagaimana orang tuamu? Apa mereka sulit ditangani? Dan aku, astaga. Jika dia benar sudah mengadu, berapa banyak aduan tentangku pada mereka?"
"Kau pasti bisa menangani mereka," sahut Desya. Santai dan penuh dengan keyakinan. Bella hanya ber-oh-ria.
Mari baca buku mafia, gumam Bella dalam hati.
"Bagaimana dengan pernikahan kedua dan ketigamu?"tanya Bella. Ingin tahu bagaimana Desya menikah dengan Lucia dan Evalia.
"Lucia, dia wanita yang menyenangkan. Aku menikahinya sebagai bentuk balas budi."
"Balas budi?"
"Kakaknya adalah salah satu orangku. Sayangnya dia tewas karena melindungiku. Aku menawarkan pernikahan dan dia setuju. Kebetulan aku suka skillnya mengolah mawar-mawar itu. Jika tidak ada dia, mungkin mawar itu hanya akan terus berada di fase kuncup, merak, layu, dan mati," ucap Desya.
Jadi, Lucia dari kalangan biasa. Dinikahi karena balas budi. Namun, memiliki seorang putri yang cantik. Artinya, Desya ada rasa untuk Lucia. Dan mawar, Lucia lah yang mengolahnya.
"Aku menyentuhnya karena ia memintaku untuk adil," lanjut Desya.
Oh. Desya memang punya hati. Meskipun tidak begitu perhatian, Desya tetap memperhatikan kebutuhan materi dan kenyamanan istri-istrinya.
Dua puluh lima tahun usianya. Tiga sudah istrinya. Sepasang anaknya. Jika di negara Bella, pasti akan dicap sebagai pria yang bahagia. Tapi, nyatanya Desya merasa dirinya tidak bahagia.
"Lalu Evalia?"
"Dia? Aku menikahinya satu tahun yang lalu. Dia adalah tunangan salah satu abdi setiaku. Seperti kakaknya Lucia, tunanganya tewas karena melindungiku," ucap Desya. Saat membicarakan tentang kakak Lucia dan tunangan Evalia, mata Desya meredup dan tampak sedih. Sepertinya kedua orang itu memiliki peran penting dan dekat dengan Desya pada masanya.
"Jika bukan karena permintaannya. Aku tidak akan menikahinya."
Jadi, hanya Ariel sendiri yang dari keluarga bangsawan. Dua lainnya dari kalangan biasa.
"Aku belum menyentuhnya." Bella terhenyak sesaat. Setahun menikah namun belum disentuh. Ini antara Evalia yang belum melepaskan tunangannya atau Desya yang tidak ingin menyentuhnya.
Tapi, jika dilihat ke belakang sejenak, sikap Evalia seperti mengharapkan Desya. Ya meskipun tidak seagresif Ariel, sudah cukup membuktikan bahwa Evalia menginginkan Desya. Apa sudah berubah? Evalia mengharapkan Desya?
"Tidak bisa terus seperti itu. Dia adalah istrimu, Desya! Kau harus melakukan tugasnya. Dan dia harus menerimamu. Jika tidak masih tidak bisa, ada baiknya kau melepasnya. Yang penting kau sudah menikahinya namun tidak ada larangan untuk menceraikannya, bukan? Selain itu, meskipun sudah berpisah, kau masih bisa tetap melindunginya," ujar Bella menanggapi hal tersebut.
"Menceraikannya?"
"Datanglah ke kamarnya. Kalian bisa bicara dan kau bisa memutuskannya," saran Bella.
"Kau menyuruhku ke kamarnya?"
"Dia istrimu. Kau berhak mendatanginya," sahut Bella dengan menaikkan alisnya.
"Kau tidak cemburu?"
Bella membulatkan matanya sesaat kemudian tertawa. "What? Jealous?"
Tawa Bella semakin lebar. "Aku tidak ada perasaan apapun untukmu. Bagaimana bisa aku cemburu?"
"CK!" Desya mendengus.
"Aku rasa sudah cukup. Aku akan kembali ke kamar. Kau juga harus bersiap untuk mendatangi istrimu," ujar Bella.
"Aku belum menyuruhmu pergi."
"Maaf. Namun, panggilan Tuhanku lebih penting."
"Tuhan? Kau belum menjawab pertanyaanku tempo hari!"
"Akan aku jawab. Sampai jumpa," sahut Bella, kemudian meninggalkan tempat.
Desya tidak bisa mencegah. Ia termenung sendiri. Memikirkannya saran Bella.
Jika dia sudah melepas, apakah aku harus melakukannya? Jika tidak, apakah aku harus melepasnya? Dilema sendiri.
"Tuan, apa yang Anda pikirkan?"tanya Irene yang melihat Tuannya melamun.
"Irene, aku akan ke kamar Evalia malam ini!"ucap Desya.
Irene mengerjap beberapa saat. "Anda serius, Tuan?"
"Ya!"