
Kabar bahagia tentunya melingkupi keluarga besar Mahendra dan Kalendra. Dua menantu mereka hamil dan diketahui secara hampir bersamaan. Seakan sudah ditakdirkan, kebahagian dilimpahkan pada mereka secara hampir berbarengan.
Pertama kehamilan Bella, pernikahan Louis dan Teresa, El dan Anjani yang akan segera melangsungkan pernikahan. Lalu sekarang kehamilan Silvia dan Helena.
Pantas Brian tidak memudarkan senyumnya.
Lain halnya dengan Leo yang awalnya sempat shock mengetahui istrinya tengah hamil anak kedua dengan usia kandungan hampir 8 minggu. Ingatan Leo kala itu langsung tertuju pada hari di mana ia mencari berkas kesehatan Key dulu.
Saat ia pulang kantor dan menyapa lalu memeluk Helena, Helena melayangkan protes padanya. Keringatnya bau, dan Leo hanya heran tanpa firasat apapun.
Why?
Karena Helena pernah divonis sulit untuk memiliki anak lagi setelah melahirkan Key.
Namun, takdir dan kuasa Tuhan berkata lain. Leo dan Helena dipercayakan oleh menjadi orang tua dari dua anak!
Begitu. Hari yang penuh kebahagian ini ditutup dengan memasuki kamar masing-masing, mengistirahatkan tubuh sebelum memulai aktivitas esok hari.
Mungkin, kecuali untuk pengantin baru. Leo memasuki kamarnya setelah Rose dan Helena mengantarkan Teresa ke kamar pengantin.
Ini malam pertama mereka, em maybe bisa dikatakan sebagai malam kedua. Teresa yang duduk di tepi ranjang, meremas gaunnya dengan gugup. Jantungnya berdebar kencang saat Louis melangkah mendekatinya, lalu duduk di sisinya.
"Kau gugup?" Pertanyaan yang nadanya gugup itu keluar dari bibir Louis.
"Ya," sahut Teresa pelan.
"Kita sudah pernah bermalam berdua dan melakukannya," tutur Louis. Arti dari kalimat yang tuturkan berbeda dengan gerak-geriknya yang juga menunjukkan rasa gugup.
Kedua tangan berada di atas paha dan meremas lututnya sendiri. "Saat itu aku mabuk, berbeda dengan sekarang," balas Teresa dengan suara pelan.
"Tapi, aku sadar," ucap Louis. Sejenak, keduanya saling tatap. Di bawah pencahayaan kamar yang terang, keduanya sama-sama bisa melihat rona merah di wajah satu sama lain. Louis sama gugupnya dengan Teresa.
"Kita sama-sama sadar dan sudah sah, apa kita akan melakukannya?"tanya Teresa, lirik.
"Kau siap?"tanya balik Louis.
"Ya … aku siap." Walau nadanya lirik, tatapan Teresa pada Louis mantap, penuh keyakinan.
"Ini pernikahan kita, rumah tangga kita, aku tahu di dalam hatimu masih ada nama Abel. Tapi, aku adalah isterimu, Louis. Anggaplah aku egois. Aku egois atas apa yang sudah menjadi milikku. Aku menginginkan hatimu, aku menginginkan dirimu, tolong jangan buat pernikahan kita menjadi pernikahan dingin!"
Louis diam mendengar ucapan Teresa. Itu tidaklah egois karena mereka sudah memilih dan menempuh jalan takdir mereka. Louis dan Bella, mereka tidak akan pernah bisa bersama! Bella sudah dengan Ken. Louis pun sudah merelakannya. Dan ia juga sudah termasuk move on dengan menikah dengan Teresa.
Perasaan?
Teresa sudah ada di depan hatinya!
Teresa menatap Louis penuh pinta. Teresa lalu menggerakkan tangannya menyentuh wajah sang suami.
"Teresa …." Louis memanggil dengan lembut. Hati Teresa berdesir mendengarnya. Louis memegang tangan Teresa yang menyentuh wajahnya.
"Aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan mengkhianati atau menolak keputusanku sendiri. Aku suamimu dan kau istriku, itulah kita!"
"Aku sudah mengucap janji pernikahan denganmu. Untuk mencintaimu, setia padamu, dan menemaniku hingga akhir waktu. Abel adalah masa lalu yang tidak pernah terwujud. Sedangkan kau, kau adalah istriku yang akan menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku. Teresa jangan ada lagi keraguan di dalam hatimu atas pernikahan kita. Teresa aku mencintaimu!" Balasan dari Louis membuat hati Teresa merasa lega dan terharu.
Di detik berikutnya, Louis mendekatkan wajahnya pada wajah Teresa. Teresa memejamkan matanya begitu bibir Louis menyentuh bibirnya. Kristal bening menetas dari manis mata coklatnya. Ciuman Louis begitu lembut.
Satu tangan Louis menekan kepala Teresa, memperdalam ciuman itu dan meminta Teresa untuk membalas ciumannya.
"Aku menginginkanmu," ucap Louis serak setelah melepas ciumannya. Teresa membuka matanya, tatapannya sayu, kedua tangan melingkar pada leher Louis. "I'll be yours, Louis."
Louis menjawab dengan membaringkan lembut tubuh Teresa di ranjang. Mereka kembali berciuman dan memulai malam pertama mereka di moment yang kedua.
*
*
*
Sedangkan di kamar, Bella tidak bisa tidur. Ia belum menemukan solusi untuk hal yang ia prediksinya terkait untuk mendapatkan izin dari Ken akan dirinya yang besok, setelah mengantar Dylan ke kota Aachen akan langsung bertolak ke Los Angeles. Dan Bella berniat untuk menggunakan pesawat komersial, karena pesawat pribadi keluarga Mahendra pasti akan digunakan. Sedangkan penerbangan dari Kota Aaache ke kota Los Angeles tidaklah singkat.
Bella duduk kursi dekat jendela. Jendela kaca itu terbuka lebar. Suasana malam ini sangat cerah, secerah kebahagian yang dilimpahkan pada hari ini.
Ken sudah terlelap begitu tubuhnya dan kepalanya menyentuh ranjang, terbuai dengan keempukkan pulau kapas.
Sudah lebih dari setengah jam Bella menatap langit. Bulan berbentuk sabit sempurna dengan bintang sinarnya bertebaran menemaninya.
Di saat yang lain istirahat dan pengantin baru mestinya tengah melakukan malam pertama, maka Bella masih bergelut dengan otaknya. Bagaimana caranya? Apa alasannya? Bagaimana jika tidak diizinkan?
Lantas bagaimana jika diizinkan namun Ken ikut? Proyek pembangunan di Papua, itu bisa menjadi cara Bella menahan keinginan Ken jika memang ingin ikut. Namun, bagaimana dengan yang lainnya?
It's okay jika dia dalam kondisi sendiri, but di dalam tubuhnya ada nyawa lain.
Aku bukannya tidak ingin kalian ikut. Hanya saja aku tidak ingin kalian tahu apa yang akan aku lakukan di sana.
Bella menundukkan kepalanya. Teringat kembali saat Ken meminta agar Bella tidak menyimpan semuanya sendiri. Bella tidak sendirian, ada Ken suaminya, dan ada calon anaknya.
Bella mengusap perutnya. Sensasi aneh ia rasakan. Hatinya berdesir aneh, dalam benaknya langsung terpikir, inikah perasaan saat bersentuhan dengan seorang anak? Perasaan yang tidak bisa digambarkan oleh Bella dengan kata-kata. Hanya sorot matanya saja yang berkaca-kaca, rasa haru yang membuatnya meneteskan air mata.
Kekerasan hatinya melunak. Bella memikirkan calon anaknya juga. Rahasia?
Rahasiaku bukan sesuatu yang kelam. Walaupun itu terjadi sebelum aku bersama dengan Ken. Namun, itu sekarang ada milikku. Sepertinya aku juga harus menggunakannya untuk membangun kembali keluargaku.
Sebuah keputusan telah diambil dengan beberapa rencana yang ikut tercipta di dalamnya. Bella memalingkan wajahnya ke arah Ken yang tidur memeluk guling.
Bella lalu mengedarkan pandangnya, ini adalah kamarnya saat Bella masih tinggal di Jerman. Kamarnya saat menginap di kediaman Kalendra dan tidur bersama dengan Key, oleh karenanya ranjang cukup luas.
*
*
*
Alarm Bella berbunyi di jam yang sama setiap harinya, pukul 04.30. Bella membuka matanya, mengerjap sebentar menatap langit-langit kamar yang gelap, tangan kirinya bergerak, menggapai untuk menghidupkan lampu kamar.
Sesaat ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelahnya, Bella melihat ke samping, Ken masih tidur dengan dengan satu tangan berada di atas perutnya. Posisi tidur Ken menghadap ke arahnya. Terdengar jelas hembusan nafas Ken di telinga Bella.
Bella menggerakkan tangannya untuk menyibak anak rambut yang menutupi dahi Ken. Jari telunjuknya kemudian bergerak menyentuh hidung Ken dari atas sampai bawah dan kini telunjuknya berada di bibir Ken.
Sebelum Bella menarik telunjuknya, Ken membuka matanya. Agaknya ia terbangun karena gerakan Bella yang menyentuh dirinya. Merasakan ada sesuatu di bibirnya, Ken melihat ke bawah. Ia tersenyum dan mengecup jari telunjuk Bella.
"Sudah bangun?" Suara Bella khas menyapa pendengaran Ken.
"Ada apa, hm?"balas Ken setelah Bella menarik jarinya.
"Tanganmu berat," sahut Bella.
"Hm?" Ken melihat tangannya yang berada di atas perut Bella.
"Apa akan berpengaruh pada anak kita?"tanya Ken dengan raut wajah polos. Ia sudah menarik tangannya dan Bella sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Kau menekan perutku dan itu bisa membuat ruangan bayi kita menyempit."
"Benarkah? Tapi, dia juga baru seperti ukuran strawberry, aku rasa pelukanku tidak berpengaruh. Justru dia senang karena dipeluk oleh ayahnya." Ken memaparkan pikirannya dengan nada yakin.
Bella mendengus senyum, "percaya diri sekali Anda," cibir Bella.
"Mengapa harus insecure? Aku juga terpengaruh darimu, Aru. Kau yang begitu percaya diri dan penuh keyakinan dalam hal apapun!"balas Ken. Sebelum Bella membalas, Ken telah lebih dulu mendaratkan ciuman pada bibir Bella. Morning kiss, itulah yang tengah mereka lakukan.
"Mandi bersama?"tawar Ken setelah melepas ciumannya. Bella yang masih mengambil nafas, belum merespon. Dan di saat otaknya merespon, Ken sudah lebih dulu ambil tindakan dengan menggendong Bella menuju kamar mandi.
"Hei, aku belum setuju, Ken!"
"Diam artinya iya!"
"Ck! Jangan macam-macam padaku!"
"Hanya satu macam, yaitu dirimu, Aru."
"Aku tengah hamil!"
"Aku tahu."
"Jangan lakukan, okay!"
"Aku menginginkannya dan anak kita juga ingin dijenguk olehku."
"KEN!!"
*
*
*
Azan subuh berkumandang waktu Jerman berkumandang dari ponsel Bella dan Ken. Dan setelah azan itu selesai, Bella dengan dari kamar mandi dengan wajah ditekuk. Rambutnya basah dan dibelakangnya Ken tersenyum penuh arti. "Ayo lah, My Aru. Jangan menekuk wajahmu. Itu semakin membuatku menginginkannya lagi," goda Ken saat Bella mengenakan satu persatu pakaian gantinya.
"Kau ingin lagi?"balas Bella dengan datar.
"Jika kau tetap menekuk …."
"Menyebalkan! Cepat kenakan pakaianmu, kita akan ke kota Aachen setelah sarapan!"ketus Bella dengan wajah kesalnya pada Ken.
"Apa ini bisa dikatakan sebagai bulan madu kedua kita, Aru?"tanya Ken dengan mengerlingkan matanya, dengan bersandar pada lemari pakaian.
"Ya terserahmu saja," sahut Bella yang telah selesai memakai pakaiannya.
"Kita akan mengunjungi universitas Alm. Pak Habibie?"tanya Ken yang disambut gelengan kepala Bella.
"Aku hanya mengantar. Setelahnya aku akan berangkat ke LA," jawab Bella.
Ken langsung mengeryit, "LA? Perasaan itu tidak ada di jadwalmu, Aru. Ada urusan apa dan mengapa baru sekarang kau memberitahuku?"tanya Ken beruntun.
Bella menghela nafas pelan, "cepat kenakan pakaianmu lalu kita shalat subuh. Setelahnya baru ku beri tahu, terserah kau mau ikut atau tidak!"tegas Bella. Melihat wajah dan mendengar nada tegas Bella, membuat Ken mengikuti apa yang Bella katakan.
Lima belas menit kemudian, keduanya selesai shalat subuh. "Aku mau menyelesaikan urusanku dengan Pak Tua itu!"ucap Bella, menjawab wajah menagih Ken.
"Kau sudah merencanakannya sejak awal?"terka Ken.
"Jauh sebelum aku tahu diriku hamil," jawab Bella.
"Jadi, bagaimana? Aku tidak bisa menundanya lagi. Sekalipun kau melarang, aku akan tetap pergi. Jika kau ingin ikut, silahkan aku tidak akan menolaknya." Bella memberi penegasan.
Ken diam beberapa saat. Bella sudah merencanakannya cukup lama, artinya ia Bella sudah punya persiapan. Dan masalah di antara kedua belah pihak juga bukan masalah kecil, sudah seperti dendam yang mendarah daging. Dan beban itu sudah lama Bella tanggung. Jika di moment yang tepat Ken melarangnya, justru akan membuat Bella lebih lama lagi menanggungnya. Masalah kehamilan Bella, Bella tidak mengatakan ingin pergi sendiri. Ia ikut, artinya Ken mengizinkan hal itu demi kebaikan di masa depan.
Ken menganggukan kepalanya. "Aku akan menemanimu," ucap Ken dengan senyum penuh arti yang dibalas senyum yang sama pula oleh Bella. Keduanya lantas berpelukan.
Bagaimana Marco? Apa kau siap untuk hari ini?