This Is Our Love

This Is Our Love
Perpisahan dan Sebuah Pesan



Bella memanfaatkan situasi. Agar rencananya berjalan dengan lancar dan cepat, Bella lebih dulu membuat pesan yang akan ia kirim. Setelahnya, Bella mulai meretas sistem internet istana ini. Ia melakukannya dengan cara yang paling harus agar petugas keamanan tidak menyadari bahwa keamanan internet telah diretas.


Ya, tidak sia-sia ia mempelajari hal ini. Sangat berguna untuk dirinya dan juga posisinya.


Segera setelah Bella dapat mengakses internet, Bella menyambungkan pesan program yanf telah ia buat tadi ke web kemudian menyalin link nya.


Bella membuka email. Membuat email baru dan menuliskan email Ken. Bella kemudian mencantumkan link yang telah ia copy tadi.


Dan setelahnya mengirimkan pada Ken.


Setelah itu terkirim, Bella segera memutus sambungan internet. Perasaannya cukup lega. Pesan itu, adalah pesan kedua yang Bella kirimkan untuk Ken dan juga keluarganya.


*


*


*


Lucia dan Lesta kini sudah berada di dalam pesawat. Mereka akan mengudara kurang lebih 3 jam. 


Awalnya Lesta begitu antusias. Ini adalah penerbangan pertamanya. Bocah itu begitu bersemangat melihat pemandangan. Tak lupa, ia meminta sang ibu untuk mengabadikan momen penerbangan perdananya itu. 


Dan pada akhirnya, bocah cilik nan menggemaskan itu tertidur. Lucia tersenyum lembut sembari menyingkirkan anak rambut yang berserakan di wajah Lesta. 


Kemudian dikecupnya dahi sang putri dengan penuh cinta. "Ibu akan tetap di sampingmu, sayang. Ibu akan selalu melindungimu. Dan kepergian kita ini adalah salah satu Ibu melindungimu." Tatapan lembut Lucia berubah menjadi seduh. 


Sedih. Ia memejamkan matanya, setetes air mata jatuh dan ingatannya melayang saat ia menyambangi Desya di kamarnya. 


Lesta yang sudah kelelahan karena banyak yang mereka kunjungi, saat dipeluk oleh Desya langsung tertidur. 


Desya, biar bagaimanapun ia adalah ayah kandung Lesta. Kasih sayang sebagai seorang ayah jelas ada pada dirinya. 


Lucia memperhatikan hal tersebut. Meskipun tetap dengan ekskresi dingin, Desya membaringkan Lesta di ranjang dengan lembut dan hati-hati. 


Setelah itu, Desya berpaling menuju Lucia yang sudah duduk di sofa. "Kau hati-hati di sana. Jaga Lesta dengan baik. Tenang saja, aku sudah menambah jumlah penjaga untuk melindungi kalian di sana," pesan Desya, sembari menuangkan Lucia wine. 


Lucia mengangguk singkat, "terima kasih, Tuan."


"Minumlah. Entah kapan lagi kita akan minum bersama lagi."


Lucia lagi-lagi mengangguk dan meminum wine yang Desya tuangkan untuknya. Lucia memegang gelas itu dengan kedua tangannya, diletakkan di atas pahanya. 


Dari wajahnya, Lucia tampak ingin mengatakan sesuatu pada Desya. Namun, ia masih meragu. Dan Desya menangkap hal tersebut. "Ada yang ingin kau sampaikan sebelum pergi besok? Atau ada yang kau inginkan?"tanya Desya, memberikan kesempatan untuk Lucia. 


Lucia mengangkat wajahnya. Menatap Desya yang juga menatapnya. "Katakan saja. Jika bisa aku penuhi, akan aku penuhi." Lagi, Desya mendorong Lucia untuk berterus terang saja karena mereka akan lama tidak bertemu nanti. 


Lucia menghela nafas pelan. "Tuan." Ia memanggil pelan. 


"Ya?"


"Saya ingin menetap di Italia. Tidak akan kembali lagi ke istana ini. Apa Tuan menyetujuinya?" 


Desya tersentak pelan dengan apa yang diucapkan oleh Lucia. Ia mengeryit, menerka-nerka alasan Lucia mengatakan hal tersebut. 


"Tuan, ada tahu bukan alasan kita menikah?" 


Ya. Tentu saja sebagai bentuk balas dan untuk melindungi Lucia. Kakak Lucia tewas karena melindungi Desya. Dan Lucia adalah satu-satunya keluarga Leon, Kakak dari Lucia. Kakak itu sangat menyayangi adiknya. 


Dan untuk mengurangi kesedihan serta melindungi Lucia, oleh karenanya Desya menawarkan pernikahan dan itu disambut baik oleh Lucia. 


"Tuan, saya ingin berpisah dengan Anda." 


Bohong jika Desya tidak terkejut. Istrinya meminta cerai? "Tapi, apa alasannya?"


"Saya ingin melindungi putri saya, Tuan."


"Apa putrimu bukan putriku? Kau menganggapku tidak bisa melindunginya?"ketus Desya. Ia sangat tidak senang mendengarnya. 


"Saya percaya dengan Tuan. Namun, tidak dengan persaingan kelak. Saya percaya dengan Tuan. Namun, tidak dengan yang lain. Saya harap Tuan mengerti apa yang saya maksud …."


Setelah mengatakan hal itu, Lucia kembali menunduk. Desya mengesah pelan. Ia menggigit jempolnya. Ini sebuah keputusan yang sulit baginya. 


Persaingan! 


Persaingan!


Ini yang ingin Desya hapus! Persaingan itu membuat keluarga hancur. Dan kursi pemimpin yang akan diduduki akan berlumuran dengan darah sanak saudara. 


Tapi, apa yang Lucia pikirkan benar juga. "Tuan, mantan istri itu biasa. Namun, tidak ada mantan anak. Lesta, sampai kapanpun akan tetap menyandang nama Volcov dan Anda tetaplah ayahnya. Saya tidak ingin Lesta terlibat dalam persaingan kelak. Saya tidak keberatan dengan siapapun kelak yang menjadi pewaris. Namun, siapapun itu akan menganggap Lesta sebagai ancaman." Sebagai seorang ibu, Lesta jelas memikirkan masa depan anaknya. 


Dan Desya tidak bisa membantahnya. "Jangan merasa berat karena alasan pernikahan saya."


"Baiklah!" Desya mengambil keputusan. "Tapi, perpisahan kita hanya kita yang tahu!"


"Baik!" Karena dengan itu, Desya dapat melindungi mereka sama seperti saat Lucia menjadi istri Desya.


Desya kemudian bangkit dan mengambil kertas putih dan pena dari meja kerjanya. Desya menulis surat perceraian di sana. 


"Tanda tanganlah." Lucia tanpa ragu langsung menandatanganinya. Desya  kemudian memberikan stempel di sana yang akan membuktikannya bahwa surat itu sah dan diakui. 


"Sekarang kau bukan lagi istriku."


Lucia membuka matanya. Ingatannya selesai. "Terima kasih untuk semuanya."


*


*


*


Di sisi lain, Azzura dan tim masih sibuk bergelut dalam melacak keberadaan Bella. Sudah lebih dari dua Minggu, namun belum menemukan hasil juga. 


Petunjuk begitu sedikit. Sementara negara itu begitu luas. Namun, mereka tidak menyerah. 


Mengerahkan semua kemampuan untuk bisa menemukan lokasi Bella. Mereka telah menyisir seperdelapan dari wilayah Rusia barat yang dekat dengan Mongolia. Itu berdasarkan lokasi mendaratnya pesawat yang menculik Bella. 


Kediaman itu, mengapa punya pengamanan yang begitu ketat?


Ini hampir tengah malam. Dan Azzura masih bergelut dengan laptopnya. Melanjutkan melacak melalui satelit. 


Sementara sebagian tim lagi, yang bertugas terjun langsung ke lapangan melaporkan setiap informasi yang mereka dapatkan kepada tim yang lainnya.


Sementara satu tim lagi yang bertugas sebagai pengumpul informasi, gigih mengumpulkan informasi tentang Black Rose dan keluarga Volcov. 


Mereka bekerja sama dan harus sukses! 


Kopi dan permen, itu ada di atas meja Azzura. Azzura sendiri bekerja di ruangan pribadinya. Ruangannya yang ia gunakan untuk bekerja. 


Ceklek!


Ada yang membuka pintu ruangannya. Azzura melirik sekilas. Itu suaminya. Azzura langsung menghentikan kegiatannya. 


"Angga? Kau sudah pulang?" 


"Assalamualaikum," ucap Anggara. Wajahnya tampak tidak senang.


"Waalaikumsalam," jawab Azzura dengan meringis. Ia tahu, Anggara kesal padanya karena belum tidur.


"Apa tidak lihat waktu, Azzura?"


"Ah … aku kebablasan," ringis Azzura dengan menggaruk lehernya. Azzura merasa bersalah pada suaminya.


Anggara sendiri, ia juga baru pulang dari Bandung. Ia ke Bandung dalam rangka meninjau dan mengunjungi pertambangan. "Tahu jam berapa sekarang?! Kau bahkan tidak ingat makan! Aku tahu apa yang kau kakukan. Tapi, jangan abaikan dirimu sendiri!"cerca Anggara. Nadanya kesal juga khawatir yang membuat Azzura mengembangkan senyumnya. 


"Aku tidak akan luluh dengan senyum itu!"ketus Anggara, ia berdiri di samping Azzura. "Simpan hasil kerjamu!" Tidak ada manisnya. Namun, tetap perhatian. Azzura menurutinya. 


Anggara kemudian mematikan laptop Azzura. 


Di saat demikian, Azzura memeluk Anggara dengan posisinya yang masih duduk. "Maaf," ucap Azzura. Anggara menatap lurus ke depan. Azzura mendongak menatap suaminya.


"Ini yang terakhir!"jawab Anggara tanpa menatap Azzura. 


"I promise!"


"Sekarang aku lapar." Azzura bersandar pada punggung Anggara. 


"Tunggulah di kamar," jawab Anggara dengan memutar tubuhnya menghadap Azzura tanpa melepas pelukan Azzura.


"Kau masih marah?" Azzura enggan melepas pelukannya.


"Aku akan marah jika kau begini lagi!"


"I promise," jawab Azzura cepat. 


"Kalau begitu tunggulah di kamar," balas Anggara lagi. 


"Hm, baiklah." Azzura melepas pelukannya. Berdiri kemudian meninggalkan ruangan diikuti oleh Anggara. 


Di kamar, sembari menunggu Anggara, Azzura berganti pakaian juga membasuh wajahnya. Ia kini menggunakan piyama tidurnya.


Azzura ingin meraih sendok untuk makan. Akan tetapi, Anggara menahannya. "Aku akan menyuapimu," ujarnya yang membuat Azzura tersenyum.


"Tanganmu pasti sudah sangat lelah bergerak di atas keyboard," ucap Anggara sembari menyuapi Azzura. 


"Kau pasti juga sangat lelah, Angga," balas Azzura. 


"Setidaknya aku tidak pusing sepertimu. Bagaimana hasilnya? Sudah ada kemajuan?"


Azzura menghela nafasnya. Ia menggeleng, "belum. Masih sama seperti kemarin."


"Wajar saja. Yang kalian hadapi bukan orang sembarangan. Tapi, aku yakin istriku ini akan segera menemukannya!"


"Terima kasih telah mendukungku."


Jarak usia mereka memang jauh. Namun, mereka sangat harmonis dan saling menyayangi lagi mencintai. "Bagaimana kuliaumu? Apa ada kendala?"


"Suamimu ini pintar. Jadi, semua aman," jawab Anggara dengan bangga, meminta pujian. 


"Good!" Balasan itu disambut senyum lebar oleh Anggara.


*


*


*


Setelah satu Minggu berada di Jerman untuk meninjau lokasi syuting, El kembali ke Indonesia. 


Di sana, El meninjau lokasi ditemani oleh Helena selaku penulis naskah film yang ia garap ini. 


Berlin menjadi kota dengan lokasi syuting terbanyak. Ada beberapa kota lainnya. 


Selain meninjau, mereka juga sudah mendapatkan lokasinya. Dalam naskah, tokoh utama akan tinggal di sebuah kontrakan apartemen bersama dengan neneknya. Itu sudah didapatkan. 


Tokoh utama juga kuliah dan izin menggunakan beberapa area kampus juga sudah didapatkan. 


Setelah semua itu beres, barulah El kembali pulang ke Indonesia untuk memulai syuting film tersebut. 


Satu hari setelah ia pulang, El akan berangkat menuju Yogyakarta. Kota gudeg itu akan menjadi screen film untuk wilayah dalam negeri. 


Dan malam ini, El habiskan dengan bersantai bersama dengan Anjani dan Arka. Karena ke depannya, selama proses pembuatan film itu, El akan sangat sibuk dan pastinya akan jarang bertemu dengan Anjani. 


Terlebih dengan jarak antara Jakarta dan Yogyakarta. Memang bukan jarak yang begitu jauh. 


Namun, bagi orang seperti mereka, itu pasti sangat sulit dikarenakan kesibukan pekerjaan. Menjadi CEO, bukan berarti bebas melakukan apapun.


 Anjani tidak boleh lalai apalagi menyalahgunakan posisinya. Nasib perusahaannya benar-benar menjadi taruhan jika ia seperti itu. 


Minggu malam, mereka habiskan di taman hiburan. Ketiganya menaiki bianglala, menikmati pemandangan malam kota Jakarta. 


Dan kini mereka berada di puncak tertinggi. Anjani beberapa kali mengambil foto. Mereka juga foto bersama. "Aku dengar ciuman di puncak tertinggi bianglala akan membuat hubungan yang abadi. Apa kau mau mencobanya, Jani?" El melemparkan pandang dengan tersenyum pada Anjani. Senyum itu begitu polos. 


"Apa yang kau katakan?!"sahut Anjani dengan ketus. Namun, wajahnya tersipu. 


"Ciuman. Kita belum pernah berciuman, bukan?" Yang dimaksud adalah ciuman bibir. 


"Tidak! Aku tidak mau!"tolak Anjani. "Tidak sebelum kita menikah," lanjutnya. 


Kini gantian El yang tersipu. Arka menatap Anjani dan El bergantian. "Bukankah cuma ciuman? Mengapa harus menikah dulu? Lihat …."


Cup.


"Aka bisa cium ibu."


Cup.


"Juga Uncle tanpa menikah."


Astaga. Dia polos sekali. Ah tidak, kata-katanya itu mengingatkan pada zaman sekarang, banyak yang melakukan hal luar biasa sebelum mereka menikah. Dan akhirnya terjadi banyak kasus hamil di luar nikah. 


"Kalau cium pipi mah nggak perlu menikah, Aka. Tapi, kalau lebih harus menikah dulu," jelas El.


"Lebih?"


"Ah begini Aka. Itu adalah bahasan orang dewasa. Nanti kalau Aka sudah dewasa, Aka pasti akan mengerti ucapan Uncle hari ini," tukas El. 


"Jadi, harus tunggu dewasa?"


"Benar. Harus dewasa untuk memahaminya. Okay?"


Arka mengangguk, "okay."


"Kau berapa lama di Yogya, El?"


"Dilihat dari naskah sih, dan kalau prosesnya lancar, satu Minggu sudah cukup, Jani," jawab El. Anjani mengangguk mengerti. 


"Kalau semua lancar, dalam tiga bulan akan selesai. Dan setelah itu kita akan menikah."


Blush. 


Mendengar itu, Anjani kembali tersipu. Ya, apalagi. Mereka sudah lamaran. Tinggal pernikahan dan menjalani rumah tangganya. 


"Ya."


*


*


*


Keesokan paginya, El langsung berangkat bersama dengan kru dan cast pemain film dari Jakarta ke Yogyakarta. Tinggal orangnya saja karena peralatan sudah dibawa setelah El selesai meninjau. 


"Hati-hati di sana, El!"ucap Rahayu. 


"Iya, Bunda."


"Kalau butuh sponsor tambahan, ada Mahendra Group." El terhenyak. Ia kemudian tersenyum lebar dan memeluk Surya. 


"Tentu saja. Bisa ditambahkan sekarang?" Ah … ini membuat raut wajah Surya berubah kesal. 


"Dasar dikasih hati minta jantung!"ketusnya yang membuat El tergelak tawa. Sedangkan yang lainnya menahan tawa. 


"Kan Papa menawarkan, El kan menerimanya dengan senang hati," tutur El membela dirinya. 


"CK!" Surya berdecak. 


"Hei Kak El," panggil Ken.


"Jangan nakal ya. Kak Jani menunggumu, loh!"


"Tentu saja, bocah!"


"What?" Mata Ken melotot kesal saat dipanggil bocah. Usianya sudah 24 tahun! 


"Just kidding. Tentu saja aku akan setia, Ken." Dibalas dengusan Ken. 


"Lekaslah berangkat!"ucap Brian.


"Okay. Aku berangkat ya. Assalamualaikum," pamit El.


"Waalaikumsalam." Kemudian El masuk ke dalam mobil. 


Surya, Brian, Silvia, dan Ken pun masuk ke dalam mobil masing-masing untuk berangkat ke kantor. 


Setibanya di perusahaan, mereka langsung menuju ruangan masing-masing.


Dan kini Ken telah berada di ruangannya. Ken mengeluarkan laptopnya dan menyalakannya. 


Saat membuka email, ada sebuah email tidak dikenal. Nama pengirimnya tidak jelas dan ada sebuah link di sana.


Ken ragu untuk membuka link tersebut. Tidak ada kepala surat ataupun deskripsi lainnya. Hanya ada satu link tersebut. 


Namun, di sela keraguannya itu, ada perasaan tidak menentu dalam hati Ken. Jantungnya berdebar lebih kencang dan jarinya menekan untuk membuka link tersebut. 


Ken terbelalak saat melihat apa yang muncul di layar laptopnya. 


To: My Husband.


Disertai dengan gambar gif berbentuk love. 


Ini cara penyampaian pesan ala programmer. 


To: My Husband. 


Di bawah kata itu adalah tulisan continue. Ken tidak langsung mengklik nya. "Aru." Ia bergumam dengan air mata yang jatuh.