
Menjelang magrib Bella tiba di basement apartemennya. Ia mengeryit saat mendapati sosok pria yang sudah menjadi suaminya, Ken berdiri menunggu di samping lift. Ken tampak memejamkan mata dengan kedua tangan bersedikap di dada. Wajahnya tampak tenang, membuat Bella menatapnya lebih lama, seulas senyum tipis Bella torehkan, "Ken, mengapa kau tidur di sini?"
Dengan lembut Bella mengguncang bahu Ken. Mata itu terbuka, ia tampak membeku saat bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Hei?"sentak Bella yang melihat Ken tersipu.
"Ah Kakak kemana saja? Aku sudah menunggu lama di sini. Jika bukan perintah Papa, aku tidak akan pernah melakukannya!" Pria itu langsung mengomel, menepis tangan Bella kemudian memberi tatapan kesal.
"Mengapa tak menghubungiku?" Bella menjawab datar, tatapannya juga berubah datar. Bella memasukkan satu tangannya ke dalam kantung celana sedangkan satu lagi membawa helm.
"Apa kita pernah bertukar nomor ponsel?"tanya Ken ketus.
"Ah aku lupa," sahut Bella.
"Ya sudah, ayo naik," ajak Bella, membuka pintu lift.
"Aku menunggu di sini," jawab Ken, datar.
"Ya baiklah. Tunggulah sampai tengah malam!" Pintu lift terbuka, Ken tercengang dengan jawaban Bella.
Tengah malam katanya? Bukankah aku hanya disuruh menjemputnya? Bukan menunggunya!
Ken menjadi kesal bercampur bingung. Belum lagi nyamuk yang mulai keluar dari persembunyian dan berterbangan di sekitarnya. Suaranya sangat mengganggu telinga, belum lagi gigitan yang sakit dan menyebabkan gatal. Tak lama kemudian terdengar irama tak beraturan, menepuk udara di mana nyamuk terbang mengejek dirinya. Kesal, belum lagi perut yang meronta lapar.
Ingin menyusul Bella, tapi Ken lupa menanyakan nomor apartemen Bella.
Sial!runtuknya, dengan segera meninggalkan area lift, kembali ke mobilnya.
Tak berselang lama kemudian, pengingat waktu salat di ponsel Ken berbunyi. Sudah masuk waktu magrib. Ken menghela nafas pelan.
Ken memutuskan untuk keluar basement mencari masjid terdekat, sekaligus mencari tempat makan untuk menuntaskan rasa laparnya.
*
*
*
"Ya assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, Ken. Kalian sudah sampai mana? Mengapa belum sampai juga? Sudah hampir jam 20.00 loh," tanya Rahayu heran plus khawatir di seberang sana.
Saat ini Ken tengah berada di sebuah cafe, tentu saja mengisi perutnya.
"Em Ken belum berangkat, Ma. Ken masih nunggu Kak Billa di basement," jawab Ken.
"Loh nunggu di basement? Memangnya Abel belum pulang?"heran Rahayu.
"Sudah, Ma. Tapi Ken nunggu di basement."
"Lah kenapa nggak ikut ke apartemen Abel saja?"bingung Rahayu.
"Ken nggak tahu nomor apartemen Kak Billa, Ma," jawab Ken jujur.
"Astaga! Kenapa nggak ditanya? Telpon dong Sayang. Kamu ini gimana sih jadi suami?"gemas Rahayu.
"Itu masalahnya, Ma. Ken nggak punya nomor Kak Billa," jawab Ken malu.
Terdengar helaan nafas kasar di sana. Ken tahu pasti Rahayu tengah gemas, juga kesal dengannya.
"Ya sudah, Mama mintakan nomor ponsel Abel sama Papa dulu, jangan tutup panggilannya!"ucap Rahayu. Ken tersenyum.
"Okay, Ma."
Tak butuh waktu lama, walau harus mendapat sepatah dua kata nasehat sekaligus omelan dari Surya dan Rahayu, tapi nomor Bella sudah di tangan, tidak masalah. Yang penting ia segera membawa Bella ke kediaman Mahendra, menyelesaikan tugas dari Surya kemudian kembali ke kediaman Utomo menemani Cia. Ken kembali tersenyum, tak sabar untuk bertemu dengan Cia.
Ken segera menghubungi Bella, namun dijawab operator bahwa nomor yang dituju sedang sibuk. Ken menggerutu kesal. Sudah berkali-kali ia menghubungi Bella, namun tetap tidak tersambung.
Dengan siapa Kak Billa telponan selama itu?gumam Ken kesal.
Tak mau menghabiskan lebih banyak waktu lagi, Ken kembali menghubungi Rahayu. Kali ini Rahayu bertanya pada Anjani yang memang berada di kediaman Mahendra.
Ken langsung menuju lift basement apartemen saat tahu di lantai dan nomor berapa apartemen Bella. Diketuknya pintu apartemen itu, namun tak kunjung terbuka.
Sialan! Sebenarnya apa yang dia lakukan?
Ken menggedor apartemen lebih keras, disertai panggilan.
"Kak Billa, buka pintunya!"
"Kak Billa!"
"Kak Billa apa kau mendengarku?!"
Terakhir, Ken hanya bisa terduduk kesal menunggu Bella membuka pintu untuknya. Ia merenung, apa salahnya? Bukankah ini mirip dengan screen pasangan yang bertengkar? Tapi ia dan Bella bukan pasangan, ah hanya pasangan di atas kertas. Gawatlah ia jika Bella tidak membuka pintu, semua serba salah baginya. Pulang tak bisa, ke rumah Cia lebih parah, apakah ia harus menunggu sampai tengah malam di lorong dingin ini?
Salah Ken mengira Bella wanita lemah. Nyatanya, ia lah yang tidak setara dengan Bella. Jika bukan karena latar belakang keluarganya, Ken bukanlah apa-apa. Terlebih dengan jurusan kuliah serta tidak adanya pengalaman di dunia bisnis. Sedikitpun Ken tidak pernah menyentuh perusahaan. Untuk kepintaran sendiri, Ken jelas kalah dengan Bella. Sekarang secara tak langsung, masa depan Ken berada di tangan Bella.
Ken mulai memejamkan matanya. Tangannya memeluk lutut, sebelum ia benar-benar tenggelam dalam tidur, pintu terbuka. Bella dengan wajah datar keluar dan menatap Ken tanpa ekspresi apapun.
"Hei bangun! Jangan tidur di luar!" Bella menunduk, kembali mengguncang pelan bahu Ken. Manik mata hitam itu kembali terbuka, Ken melenguh dingin dan dengan patuh masuk ke dalam. Bella menutup pintu, menggeleng pelan melihat Ken yang langsung membaringkan tubuh di sofa.
"Dasar bocah!"gumam Bella, masuk ke dalam kamar dan keluar dengan membawa selimut.
"Ah tidak! Aku belum tahu ia sudah Isya atau belum." Bella meletakkan selimut di atas meja, duduk di dekat Ken kemudian menepuk-nepuk pelan pipi Ken.
"Hei Ken kau sudah Isya atau belum?"
"Emmm nanti, aku ngantuk." Jawaban gumaman.
"Salatlah dulu. Setelah itu kau bisa tidur lagi, sepuasnya. Ayo jangan nanti-nanti, nanti kebablasan malah nggak salat," bujuk Bella, dengan terus menepuk pipi Ken. Ken mendengus, matanya terbuka sedikit dan tangan mencekal tangan Ken.
"Aku ngantuk! Seharian nggak istirahat! Biarkan aku tidur nanti aku akan bangun untuk salat! Jangan ganggu aku!"ucap Ken dingin.
"Mahesa Ken Mahendra! Jalankan dulu kewajibanmu baru kebutuhanmu! Jangan buat aku kesal atau aku tak segan menghukummu!"gertak Bella yang dianggap angin lalu oleh Ken.
"Oh tak mau ya?!" Bella berpaling menuju dapur dan kembali kembali dengan membawa gayung berisi air.
Byur!
"Ah banjir! Tsunami! Lari!" Ken terlonjak dari tidurnya, matanya terbuka lebar dengan rambut dan baju yang basah. Ken mengerjap mendengar Bella yang tertawa terpingkal.
"Hahaha mimpi apa kau tadi? Hahaha lucu sekali!"
Sadar bahwa ia dikerjai oleh Bella, wajah Ken langsung menggelap.
"NABILLA!"
"Why?" Santai polos tak berdosa, Bella menatap Ken yang tengah marah.
"BERANINYA KAU!"
"Disuruh cara lembut tak bisa, diguyur banjir malah marah. Hei Tuan Ken, harusnya kau bersyukur punya istri perhatian sepertiku. Bukan malah marah tak jelas!"sahut Bella santai.
"Kau! Ini kau sebut perhatian? Kau ingin membuatku sakit yang ada! Keterlaluan! Kasar! Istri tak punya hati!"
"Oh kau ternyata menganggapku istri?"
Ken terkesiap dengan pertanyaan yang nyatanya ucapannya sendiri.
"Huh! Lekaslah salat, setelah itu kita pulang ke kediaman Mahendra!" Bella menjadi dingin. Ia membanting pintu kamarnya. Ken terdiam, ia mendapati selimut, juga mengingat pertanyaan dan ucapan Bella saat membangunkan dirinya.
Sial!
Lagi-lagi Ken menggerutu, dengan langkah tak beraturan menuju kamar mandi.
Ken kembali ke ruang tamu dengan telanjang dada. Di meja, ia mendapati sebuah kemeja lengan panjang. Ia meraihnya, warna dan potongannya cocok untuk pria dan wanita. Tanpa banyak pertanyaan lagi, Ken segera mengenakan kemeja itu.
Bertepatan setelah Ken selesai memakai kemeja itu, Bella keluar dari kamar dengan membawa tiga koper besar. Mulai malam ini ia akan tinggal di kediaman Mahendra, untuk apartemennya sendiri, kemungkinan akan ia sewakan.
"Aku salat di rumah saja," beritahu Ken dengan nada datar. Bella hanya menoleh sekilas, kemudian meninggalkan dua koper untuk Ken bawa.
"Keluarlah lebih dulu," ucap Bella.
Ken mengangguk, dengan dua koper ia bawa keluar. Bella lantas masuk ke dalam kamar sebelah. Mengemasi barang Anjani kemudian keluar setelah memastikan semua dalam kondisi aman.
Ternyata Ken langsung menuju basement. Setelah mengunci pintu, Bella melangkah menuju lift dengan menarik satu koper dan menenteng satu tas. Helm bertahta di kepalanya.
Mobil Ken kini tepat berada di depan lift.
"Kau jalanlah duluan. Aku tahu alamat rumahmu," ujar Bella.
"Tidak. Kakak mengikut atau jalan saja lebih dulu," tolak Ken. Bella mendengus.
"Terserahmu saja."
Setelah semua barang bawaan Bella masuk ke dalam mobil, Bella langsung menuju motornya. Tak berselang lama, Bella dan motornya berada di samping mobil Ken.
"Aku duluan!"
Ken mengangguk.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di jalan raya. Ken menggerutu kesal, nyatanya memang ia yang ditinggalkan oleh Bella. Bella sudah berada jauh di depannya. Dan sialnya Ken terjebak macet. Inilah perbedaan antara mobil dan motor. Mobil sulit untuk menyalip sedangkan motor, apalagi pengendaranya lihai, kemacetan bukankah halangan.