
Sejak kecil, Bella selalu menghindari makanan berbau daging sapi. Baik daging utuh maupun yang sudah diolah menjadi berbagai produk, termasuk makanan ringan yang mengandung bubuk barbeque.
Alergi itu diketahui saat Bella pertama kali mengonsumsi daging sapi, yakni saat mulai mengkonsumsi makanan pendamping ASI. Kala itu usianya masihlah delapan bulan. Gejala yang dirasakannya adalah kesulitan bernafas dan ruam merah, iritasi kulit.
Saat diperiksa ke dokter, Bella mengidap alergi terhadap daging sapi. Karena alerginya itu juga Bella juga tidak mengonsumsi jenis daging lainnya, kecuali daging ayam.
Dan untuk alergi terhadap lada hitam tidaklah terlalu parah, hanya bersin-bersin dan setelah minum obat akan langsung sembuh.
Namun kali ini reaksi alergi Bella begitu parah, ditambah dengan reaksi alergi terhadap lada hitam serta efek trauma terhadap mobil, membuat Bella tak sadarkan diri sebelum tiba di rumah sakit. Pakaian Ken dan kursi penumpang kotor dengan muntahan Bella. Suhu badan Bella semakin panas.
Ken yang panik langsung berteriak saat turun dari mobil dengan menggendong Bella. Perawat sigap membawa brankar. Ken ikut mendorong brankar itu dengan wajah panik, cemas, dan bersalah.
Langkahnya tertahan saat brankar memasuki ruang IGD. Ken mondar-mandir menunggu di depan ruangan. Muntahan Bella yang mengotori pakaiannya tidak ia hiraukan.
Lelah mondar-mandir, Ken duduk. Wajahnya pias, perasaannya kacau. Baru juga baikkan, Ken sudah menyebabkan Bella masuk rumah sakit. Ia kembali meruntuki kecerobohan dan kegengsiannya. Ia tidak tahu apapun tentang Bella, ya kecuali hanya beberapa hal.
Aru maaf … mSenna
Ken mengigit jarinya. Wajah Bella yang pucat dan kesulitan bernafas teringat jelas di ingatannya. Ken berharap reaksi alergi Bella tidak terlalu parah. Kini ia memejamkan matanya, berdoa untuk keselamatan dan kesehatan sang istri. Entahlah, padahal Ken sudah termasuk sering menunggu Cia yang ditangani di ruang IGD. Tapi kali ini rasanya berbeda, sangat, rasa cemasnya untuk Bella lebih besar.
"Ken!" Ken mendongak saat seseorang menyapa namanya.
"Kak El?"lirih Ken yang melihat Ken mendekati dengan wajah yang cemas diikuti oleh Surya, Rahayu, juga Brian dan Silvia.
"Bella masih ditangani?"tanya El, seraya mengintip ke dalam ruangan.
"Ma, Pa."
"Ken bagaimana bisa Abel masuk rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Rahayu, duduk di samping Ken. Ken hendak memeluk Rahayu, namun ia urungkan mengingat pakaiannya kotor.
"Tadi kata El kalian sudah baikkan tapi malah ada masalah dengan Abel. Kau tidak meracuni makanan Abel kan, Ken?" Mata Surya menyelidik Ken. Ken langsung menggeleng tegas, menatap protes Surya.
El tadi memang ikut menyaksikan acara dinner Ken dari awal sampai insiden itu terjadi. El juga yang menghubungi yang lain kalau Bella masuk rumah sakit.
"Memangnya aku sekejam itu?"ucapnya tidak terima.
"Ya mana tahu, kau kan …."
"Ini memang salahku. Tapi aku tidak meracuni Aru! Salahku karena tidak menanyakan makanan favoritnya. Ku kira semua orang suka steak. Aku tidak tahu ternyata Aru alergi daging dan lada hitam," jelas Ken, menghentikan tudingan Surya padanya. Surya mengerti, ia menghela nafas kasar, ikut duduk di samping Rahayu.
"Sudah berapa lama di dalam?"tanya Brian, melirik El yang masih sibuk mengintip.
"Sekitar setengah jam," jawab Ken.
"Ku rasa kondisi Abel sangat serius. Dia kan punya trauma terhadap mobil," ucap El, melangkah duduk di samping Surya lalu menyilangkan kakinya.
"Aku rasa acara pengangkatan Bella sebagai wakil Presdir harus ditangguhkan," ucap Brian. Surya langsung menatap Brian kesal. Ken hanya menoleh singkat, ia tidak peduli hal lain sekarang.
"Jangan bahan masalah apapun semakin kondisi Abel! Jangan sedikit bicaramu, Brian!"tegur Surya. Brian tersenyum simpul.
"Ken bersihkan dulu pakaianmu," ujar Rahayu. Ken menggeleng.
"Pakaianmu kotor begitu, nanti jadi Abel kalau sudah sadar bisa pingsan lagi," bujuk Rahayu. Ken menurut. Ia melangkah gontai menuju toilet.
Setelah menunggu cukup lama, dan Ken telah kembali dari toilet, pintu ruangan IGD terbuka. Dokter yang menangani Bella membuka maskernya dan mencari keluarga pasien.
"Keluarga pasien?"
"Saya suaminya, Dok."
"Kami mertuanya, Dok."
"Saya kakak iparnya, Dok."
Ken, Surya, Rahayu, dan El menatap dokter meminta penjelasan. Dokter yang tampaknya terkejut itu segera memperbaiki sikapnya.
Suami dan Kakak ipar memang lebih muda dari pasien atau perasaanku saja?
"Kondisi pasien sekarang sudah membaik. Hanya saja tekanan darahnya masih rendah. Saya sudah menyuntikkan obat penenang dan kemungkinan besok pagi baru sadar. Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat," jelas dokter.
Perasaan lega menyelimuti mereka. Tak lama, Bella yang sudah berganti pakaian rumah sakit dengan selang oksigen di kedua hidungnya didorong keluar dari ruang IGD menuju ruang inap. Ken segera mengikut begitu juga dengan El, Silvia, dan Rahayu.
Sedangkan Surya dan Brian pergi untuk membayar administrasi. Selesai membayar, Brian mengajak Surya untuk bicara sebentar. Mereka duduk di bangku tunggu.
"Ada apa, Brian?"tanya Surya, penasaran dengan hal apa yang akan disampaikan oleh putra sulungnya ini.
"Jika masalah pengangkatan Abel sebagai wakil Presdir, lebih baik bahas di rumah saja. Ini bukan tempat dan waktu yang cocok!"lanjut Surya tegas.
"Tapi aku nggak bisa nunggu lagi, Pa. Beri waktu Brian sebentar saja," harap Brian. Surya menghela nafas pelan.
"Aku rasa keputusan Papa mengangkat Abel sebagai wakil Presdir kurang tepat. Bukan, Brian nggak maksud mengatakan bahwa Abel tidak pantas. Hanya saja, Brian khawatir banyak orang di perusahaan tidak setuju. Pa usia Abel masih tergolong muda, menempati posisi itu, bukankah akan menyebabkan banyak kecemburuan? Terlebih banyak orang di perusahaan yang lebih cocok ketimbang Abel. Lebih baik Papa berikan posisi yang tidak terlalu tinggi, manager misalnya," ungkap Brian serius. Ia berharap Surya goyah dan mempertimbangkan ulang keputusannya.
"Kenapa? Karena pengalaman?"tanya Surya datar.
Brian mengangguk.
"Brian, lamanya seseorang bekerja, belum tentu menjamin kemampuan dan pengalaman. Keputusanku sudah bulat. Jika ada pertentangan di perusahaan, bukankah hal itu juga bukan masalah yang aneh? Dan Papa rasa Abel sudah siap untuk hal itu. Kemampuannya sudah terbukti, kita bisa berkaca dari Diamond Corp yang dalam waktu singkat bisa masuk dalam 50 besar perusahaan di Indonesia. Dari pada kamu mencoba mempengaruhi keputusan Papa, lebih baik kamu fokus mengembangkan kemampuan dan prestasimu. Ingat, saat Ken masuk ke perusahaan, itu adalah dimulainya persaingan kalian untuk menjadi penggantiku. Tenanglah, jangan cemas. Abel tidak berat ke Ken karena ia berkerja dan bertanggung jawab padaku dan perusahaan. Papa harap kamu mengerti!"papar Surya, menepuk pundak Brian lalu melangkah pergi.
Brian menatap kepergian Surya dengan tatapan rumit.
Apa mungkin tidak akan berat sebelah? Sedangkan Papa saja berat ke Ken. Padahal posisi pewaris adalah milikku, mengapa harus diperebutkan lagi?!
Setitik rasa curiga pada Surya pun hadir di hati Brian.
Atau Papa tahu kalau aku ini ….
Ah tidak! Tidak ada satupun yang tahu kecuali mereka. Jika Papa sudah tahu pasti dia akan langsung mengumumkan Ken sebagai pengganti dirinya. Tenang Bri, tenang. Posisi Presdir pasti akan jadi milikmu.
Brian menghilangkan kecurigaannya. Ia segera bangkit dan menyusul Surya.
*
*
*
Sementara di belahan bumi lain, di sebuah mansion yang tak lain adalah kediaman keluarga Kalendra, Max dan Rose tengah menikmati suasana sore di beranda samping. Dengan secangkir kopi dan teh, keduanya bercengkrama ria sembari menunggu anak dan menantu mereka pulang kerja.
Deg!
Tiba-tiba saja Max memegang dadanya. Rose langsung memberikan tatapan khawatir.
"Max, kamu kenapa? Dadamu sakit?"tanya cemas Rose.
"Entahlah, Rose. Aku merasa sesak tiba-tiba. Padahal aku tidak punya penyakit jantung dan paru," jawab Max yang juga bingung.
Keduanya saling diam, memikirkan apa yang terjadi.
"Max, sekarang hatiku cemas. Aku teringat pada Abel. Dia baik-baik saja bukan?" Max menoleh pada Rose.
"Abel? Ya aku juga merasakannya. Rasa sesak ini pasti pertanda ada hal buruk yang terjadi pada Abel. Aku harap keluarga itu tidak mempersulit Abel, ku harap mereka menjaga Abel dengan baik."
"Keluarga itu? Mereka? Apa maksudmu, Max?"tanya Rose curiga, terlebih saat melihat wajah terkejut Max seperti ketahuan menyembunyikan sesuatu.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Max? Hal penting apa tentang Abel yang kau sembunyikan dariku?!"
"Rose tenanglah."
"Kalau begitu cepat katakan!"
Rasa cemas dan kesal bercampur menjadi satu. Max berdiri dan menarik Rose menuju kamar mereka, mengaktifkan kode kedap suara. Max lalu mendudukkan Rose di sofa. Kedua tangan mereka saling genggam. Rose merasakan apa yang akan disampaikan oleh suaminya sangatlah penting.
"Rose," panggil Max serius kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Abel, anak kita dia sudah menikah dengan anak dari keluarga Mahendra!"
"APA?!"
Rose jelas terkejut bukan main. Matanya terbelalak kaget. Max tidak heran karena ia sudah merasakannya.
"D-darimana kau tahu? Apa Abel yang memberitahumu? Mengapa dia menyembunyikannya? Dan … dan apa alasan dia menikah dengan suaminya? Max jawab!" Perasaan campur aduk, kaget, kesal, dan sedih.
"Rose tenanglah dulu. Aku akan jelaskan semua yang aku tahu, okay!" Max memegang kedua pundak Rose. Rose mengangguk pelan.
"Sebenarnya kemarin Abel mengirim pesan padaku. Abel mengatakan bahwa ia sudah menikah dengan suaminya sekitar satu bulan yang lalu. Abel juga minta maaf karena tidak memberitahu kita, dan Abel juga meminta untuk tidak memberitahu hal ini pada Louis dan yang lain. Biar dia sendiri yang memberitahunya saat nanti Louis sudah menemukan seseorang yang bisa membuat Louis berpaling darinya. Dan ini menjadi tugas kita," jelas Max serius.
"J-jadi apa yang menjadi tugas kita?"tanya Rose.
"Mencarikan jodoh untuk Louis. Kita akan menjodohkannya," jawab Max.
"Menjodohkan Louis?" Wajah Rose tampak ragu dengan itu.
"Benar. Itu adalah saran dari Abel untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang terjadi. Aku pun kaget tapi aku juga tidak bisa berkata apapun selain mendoakan yang terbaik untuknya. Apapun alasannya menikah pasti Abel punya alasan kuat untuk itu," ucap Max.
Rose menghela nafas pelan. "Ya kau benar. Dia pasti punya alasan untuk itu. Dan Max … ku rasa suatu saat nanti kita harus memberitahu yang sebenarnya pada mereka kalau sebenarnya mereka itu …."
"Biarlah waktu yang menjawab, Rose," potong Max yang diangguki oleh Rose.