This Is Our Love

This Is Our Love
My Aru



Ken meruntuki kecerobohannya. Niatnya ingin menghubungi sopir rumah untuk menjemputnya pulang karena mobilnya mogok di jalan. Akan tetapi, tanpa sengaja malah nomor Bella yang terpanggil. Saat melihatnya, Ken panik dan ingin memutus panggilan, sayangnya panggilan telah dijawab. Dengan perasaan campur aduk, Ken menjawab salam, juga pertanyaan Bella. Entahlah, hatinya berdebar mendengar suara Bella di ujung sana. Dan entah angin dari mana pula yang berbisik padanya untuk menghampiri Bella di mall. 


Selesai berbicara dengan Bella via ponsel, Ken kembali meruntuki sikapnya tadi. Mengapa lidahnya begitu gampang menanyakan keberadaan Bella dan ingin menyusul ke sana? 


Oh ayolah! Ken terdiam sesaat. Memikirkan ulang ucapannya. Menyusul Bella atau ke rumah Cia? Dan hatinya berkata untuk menyusul Bella. Ia adalah kali kedua, Ken memutuskan mendahulukan Bella daripada Cia.


Dengan langkah yang masih ragu, juga gugup, Ken menyusuri mall mencari tempat yang Bella kirimkan via pesan. Langkah berhenti di sebuah restoran seafood. Ia berhenti sejenak di luar, matanya menangkap Bella dan Anjani yang tengah berbicara. Senyum Ken mengembang melihat wajah datar dan acuh yang beberapa waktu ini membekas di hatinya.


Ken tertegun sesaat kala baru menginjakkan kaki masuk. Senyum lebar Bella menyambutnya. Senyum yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Akankah memang ia sudah mulai menyukai Bella? Apa mungkin secepat itu? Ken yakin pada dirinya sendiri bahwa seluruh cintanya hanya untuk Cia. Tapi suka dan cinta tak bisa diprediksi kapan akan hadir. Suka dan cinta bisa hadir dalam kondisi apapun. Kadang ia datang secara terang-terangan kadang juga secara sembunyi-sembunyi.


"Assalamualaikum, Kak Billa." Ken menyapa dengan nada datarnya.


"Waalaikumsalam."


Ken duduk dengan canggung, tubuhnya terasa kaku duduk di samping Bella. 


"Ku dengar dari Mama kamu suka udang. Jadi aku pesan duluan menu untukmu," ucap Bella memecah suasana.


"I-iya. Makasih, Kak," jawab Ken, tergagap karena sejenak ia melamun. Anjani terkikik geli.


"Kenapa kau tertawa seperti itu? Ada yang lucu, Jani?"tanya Bella, menatap tajam Anjani. Anjani mengangguk, kini hanya tersenyum. 


"Aku geli mendengar panggilan kalian. Rasanya seperti adik kakak, bukan suami istri. Sampai kapan kalian memanggil seperti itu?"tutur Anjani.


Ken dan Bella saling tatap, memangnya ada yang aneh dengan panggilan mereka? Bukankah wajar memanggil seseorang yang lebih tua dengan panggilan Kakak? Bukankah wajar juga memanggil yang lebih mudah nama saja? Juga rasanya canggung memanggil memanggil yang lebih tua nama saja. Geli juga rasanya jika Bella harus memanggil Ken dengan panggilan 'Mas'."


Tapi kembali juga ke hubungan di antara keduanya. Benar kata Anjani, mereka itu suami dan istri. Bukan kakak adik, bukan juga senior dan junior. Bukanlah sebuah ketidaksopanan jika saling memanggil nama, lebih baik lagi jika punya nama panggilan tersendiri.


Bahkan Bella saja yang lebih tua dari El dan Silvia, tetap memanggil segala kakak ipar. Jadi sebuah hubungan juga menentukan nama panggilan masing-masing. 


Hanya saja, jika memang mereka saling mencintai, menikah karena cinta, itu bukanlah hal sulit. Akan tetapi pernikahan mereka atas dasar perjodohan untuk memenuhi tujuan masing-masing. Masih canggung, aneh, dan kaku rasanya saling memanggil tanpa sapaan yang sopan. Itulah yang ada di benak keduanya.


Keduanya memalingkan wajah, sama-sama canggung, gugup, juga malu. Anjani kembali terkikik melihat tingkah pasangan itu. Namun, sesaat kemudian wajah Anjani muram mengingat rumah tangganya yang berada di ujung tanduk dan dalam hitungan hari ia sudah terbebas dari status istri. 


Ehem.


Deheman Bella memecah suasana. Ia sudah bisa menguasai dirinya, begitu juga dengan Ken. Ucapan Anjani itu mereka simpan sebagai PR yang akan dipecahkan oleh waktu. 


"Ayo makan, kita harus kembali bekerja," ujar Bella datar.


Anjani mengangguk. Setelah membaca doa, mereka mulai menikmati makan siang dalam keheningan. Ken fokus menikmati sajian udang miliknya, Anjani dengan kerangnya sementara Bella dengan kepiting asam manisnya. 


Dua puluh menit kemudian, selesai sudah makan siang mereka. Ken bersiap untuk membayar. Saat memalingkan wajah, matanya menangkap ada seseorang yang menatap Bella, mencuri pandang. Ken mengerutkan dahinya. 


Siapa pria itu? Ada wanita di depannya mengapa sibuk melirik kemari?


Kembali rasa tidak nyaman itu hadir. Tapi melihat Bella yang acuh dan tidak menyadari hal itu, Ken mulai mengabaikannya dan menyimpan rasa tidak nyaman tersebut. Ia memanggil pelayan, menyerahkan kartu miliknya untuk membayar tagihan bill. 


Ken tertegun sejenak melihat jumlah saldo yang berada di kartunya dari ponsel.


Kok Papa belum mengirim uang padaku? 


Biasanya setiap awal bulan, Surya selalu mengirim sejumlah uang untuk Ken. Tentu saja untuk memenuhi kebutuhan Ken. Ken memutuskan untuk bertanya pada Surya nanti malam.


"Hei kenapa kau melamun?"tegur Bella.


"Ah tidak," kilah Ken.


"Oh awas kerasukan. Jangan sering melamun!"pesan Bella yang diangguki oleh Ken.


"Iya. Tapi sepertinya kita akan lembur, Jani. Masalah pembukuan harus clear secepatnya. Jika memang terbukti korupsi, sampah-sampah itu harus segera dihancurkan. Dan jika keluarga tirimu itu turut andil, hukuman mereka bisa ditambah," jawab Bella serius. 


"Aku ikut apa katamu saja. Tapi jangan terlalu malam ya, kasihan Aka menungguku di rumah," ujar Anjani.


"Aku mengerti."


"Jadi jika Kakak lembur, bagaimana dengan belajarnya?"tanya Ken.


"Belajarlah sendiri dulu," jawab Bella.


Ken tampak sedikit kecewa. Ia mengangguk pelan.


"Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Bella pada Ken. 


"Tidak apa," jawab Ken.


"Baiklah. Ayo, Jani." Bella berdiri, diikuti oleh Anjani dan Ken. Ken kembali melirik ke arah pria yang mencuri pandang terhadap istrinya. Rasa posesif mendadak muncul. Bella terperanjat kaget kala Ken memeluk pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka hingga bersentuhan.


"Semangat kerjanya, Kak. Ingat ada suami yang menunggumu di rumah," ucap Ken dengan nada agak keras agar pria itu bisa mendengarnya. Pria itu terkejut, matanya membulat sempurna hingga teguran wanita di depannya membuat pria itu menunduk. Pria itu adalah Gio dan Ana yang juga makan siang di tempat ini. Sejak tadi memang mencuri pandang terhadap Bella. Ia juga penasaran dengan siapa gerangan Ken. Dan hatinya mendadak sakit mendengar bahkan Bella sudah menikah dan pria muda itu adalah suaminya.. Tadinya Gio kira bahwa Ken adalah adik atau sepupu Bella.


"Apa yang kau katakan, Ken?"keluh Bella, merasa sedikit risih dengan sentuhan Ken tersebut.


Ken tidak menggubrisnya. Senyum penuh kemenangan tercetak padanya. Anjani menoleh ke arah Ken yang melirik, seketika ia mengerti.


Bocah ini tidak pandai menutupi perasaannya. Ku harap ini hal yang akan membuat hubungan mereka semakin dekat.


Bella tidak bisa menolak kala Ken merangkulnya keluar dari restoran. Kini Anjani bak nyamuk di belakang pasangan itu. 


"Lepaskan hei!"


"Jangan terlalu lelah. Aku tidak mau guruku ini sakit."


"Iya-iya. Tapi lepaskan dulu!"


Ken menurut. Tapi kedua tangannya berganti memegang kedua pipi Bella lalu dengan lembut mendaratkan kecupan pada kening Bella. Bella membeku. Desir aneh kembali menerpa dirinya. Anjani sampai membulatkan mata. Ia menutup mulutnya tak percaya. Ken, bocah angkuh yang selalu menolak hubungan dengan Bella kini mencium Bella tanpa paksaan? Ada apa ini?


"Assalamualaikum, My Aru." Setelah mengucapkan salam itu, Ken langsung melangkah pergi. Langkahnya tergesa. Sedangkan Bella masih stay membeku, wajahnya terasa panas. Dan kini Bella menyentuh keningnya. Tanpa sadar Bella menarik senyum lebar. Hatinya bahagia.


"Hei Jani, lihatlah akibat perkataanmu tadi." Tapi dengarlah ucapan ketusnya pada Anjani.


"Yes aku berhasil! Selamat Abel, kau mendapat panggilan sayang dari Ken, My Aru. Uh manisnya." Anjani berbinar senang untuk Bella. 


"My Aru apaan? Aneh aku mendengarnya." 


Bella melangkah meninggalkan Anjani yang masih senyum menggoda dirinya.


"Ah Abelku malu-malu meong. Katakan padaku pasti hatimu berbunga-bunga bukan?" Anjani mengejar dan kini menggandeng lengan Bella.


"Apaan sih?"


"Ayo katakan. Dan jangan lupa traktir aku atas kerja kerasku hari ini."


"Nggak jelas kamu, Jani."


Ya berlangsunglah perdebatan manis dua sahabat itu. Anjani yang terus menggoda dan Bella yang terus menampiknya. Saat memasuki tokolah mereka berhenti berdebat.


My Aru? Boleh juga.