
Louis merenggangkan tubuhnya di depan kaca jendela ruang kerjanya. Matanya terpejam dengan leher yang digerakkan berputar lalu bahu yang dinaik turunkan secara bergantian.
Tak lama, matanya terbuka. Manik mata setajam elang itu menatap lurus ke depan. Satu tangannya memijat leher sedangkan satu tangan lagi berada di dalam saku. Deretan gedung perkantoran berjajar menjulang, lampu-lampu mulai bercahaya menyambut gelap yang sebentar lagi datang.
Senja menghiasi langit, Louis menarik senyum kecut. Senja kembali mengingatkan dirinya pada Bella.
Tok.
Tok.
"Masuk!" Suara barito Louis segera dijawab dengan suara pintu yang terbuka. Louis berbalik, menatap Carl yang datang dengan membawa beberapa berkas juga tablet.
"Sudah ada perkembangan?"tanya Louis penuh harap.
Carl menggeleng.
"Informasi yang terkumpul masih rahasia umum, Tuan. Sejauh ini saya belum berhasil mendapatkan keterlibatan pihak ketiga dalam kasus keluarga Chandra. Biarpun tuduhan itu terasa ganjil, tapi semua bukti menyatakan itu benar adanya. Dan kasus itu juga sudah lama ditutup. Ketika mencari berkas kasusnya, sudah tidak ada jejak," papar Carl.
"Berkas tertulis?"tanya Louis.
"Sejauh ini, jika memang ada keterlibatan pihak ketiga, pasti berkas tertulisnya dimusnahkan atau disimpan di suatu tempat tersembunyi. Dan negara kita berada jauh dari Indonesia. Mencari berkas tertulis di negara yang bukan kuasa kita, bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami, Tuan. Kecuali kita mengirim orang untuk menyelidikinya langsung di lapangan," jelas Carl lagi.
Alis Louis menyatu, "mengapa tak kau lakukan?"tanya Louis datar.
Carl tersentak pelan, ia lantas menunduk dengan tangan yang tampak gemetar.
"Tuan … kita butuh orang Indonesia asli untuk itu," jawab Carl. Louis mengernyit sesaat, kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Ck … kau benar!"
Louis melangkah, mendudukan tubuhnya kasar di atas sofa.
"Apa ada jadwalku ke Asia? Terutama Asia Tenggara?"tanya Louis serius. Carl segera mengecek tablet di tangannya, tak lama kemudian ia menggeleng.
"Anda tidak punya jadwal ke Asia manapun, Tuan."
Jawaban itu membuat Louis mendesah pelan. Ia memijat dahinya.
"Tapi Tuan Leo punya jadwal ke Singapura, Tuan," lanjut Carl yang membuat Louis menaikkan pandangan.
"Benarkah? Kapan itu?"tanya Louis dengan nada yang bersemangat.
"Minggu depan, Tuan."
"Good!" Louis berseru senang.
"Memangnya kenapa, Tuan? Ada apa dengan Asia Tenggara hingga Anda tampak begitu bahagia?" Carl menatap heran Louis. Yang tadinya lesu, letih, tidak bersemangat kini tampak cerah, dan sangat bersemangat. Senyumnya mengembang lebar.
"Hoho Carl. Makanya cepat cari pasangan. Agar kau merasakan arti rindu. Bagiku rindu itu bagai rasa lapar, tak akan pernah cukup dan terpuaskan kecuali sampai nafas terakhir. Dan tentu saja, ah berapa lama penerbangan Singapura ke Indonesia?"tanya Louis penasaran.
Carl tersenyum simpul saat Louis membahas pasangan.
Memangnya Tuan sendiri sudah punya pasangan?batin Carl.
Ia kembali fokus pada tabletnya, mencari apa yang Louis inginkan.
"Kurang lebih satu jam tiga puluh menit, Tuan. Dari bandara internasional Changi Singapura ke bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Tapi Tuan, apa Anda tahu pasti di mana Nona Bella berada? Indonesia itu luas, lebih luas dari Jerman," tanya Carl yang membuat senyum Louis semakin lebar.
"Tentu saja di Jakarta," sahut Louis dengan yakin.
"Jadi Tuan ingin menggantikan Tuan Leo ke Singapura?"
Louis mengangguk membenarkan. Dan Carl hanya bisa menghela nafas pelan. Tuannya ini sudah punya keinginan, pasti tidak akan bisa dihalangi apalagi ditentang.
*
*
*
"Brother," panggil Louis saat turun dari mobil. Kebetulan Leo juga baru tiba dan baru menginjak teras rumah. Leo berbalik, membalas lambaian tangan sang adik.
"Apa apa?"tanya Leo, merangkul Louis saat keduanya sudah berdampingan.
"Haha memangnya tak boleh memanggil kakak sendiri?"sahut Louis tertawa.
"Karena panggilanmu pasti ada udang di balik batu. Ayo lekas, katakan apa yang kau mau dariku," balas Leo yang sudah paham sifat adik semata wayangnya ini.
"Menyebalkan!"sungut Louis yang disambut dengan tawa renyah Leo.
"Eh-eh, tumben kalian barengan pulangnya. Dan sepertinya obrolan kalian menyaksikan. Cerita dong sama Mommy," ujar Rose yang melihat dua pangerannya memasuki rumah.
"Tuh Louis, Mom. Ada maunya sama Leo," aduh Leo.
"Memangnya Louis mau apa?"tanya Max, ikut penasaran.
"Tapi Kakak jangan marah, ya. Mom dan Dad juga."
Rose dan Max memperbaiki posisi duduk mereka, merasa apa yang akan Louis sampaikan penting. Sementara Leo, melepas rangkulannya dan duduk di sofa tunggal.
"Oh iya, Helen sama Key mana?" Leo mengedarkan pandang mencari dua belahan jiwanya itu.
"Di dapur, biasa buatin Key susu," jawab Rose dan Leo mengangguk mengerti.
"Ayo katakan, Louis. Apa yang kau inginkan dari kakakmu ini?"ujar Leo. Louis menghela menarik nafas kemudian dengan wajah seriusnya mengutarakan apa yang ia inginkan.
"Oh perjalanan bisnis ke Singapura itu, ya? Ya sudah, kalau kau ingin menggantikanku tidak masalah," ucap Leo yang membuat senyum Louis melebar. Hilang sudah rasa cemasnya.
"Danke, Brother!"
"Tapi jangan kasih tahu Abel dulu. Nanti kamu ditolak nggak boleh mendarat di Indonesia. Kasih surprise itu lebih cocok," saran Max.
"Itu yang Louis rencanakan, Dad. Louis akan kasih tahu Abel setelah Louis mendarat di Indonesia."
"Wah-wah kau sudah tak tahan rindu lagi, ya? Padahal beberapa minggu lagi kita bakal darmawisata ke Bali," canda Leo sembari memberikan tatapan menggoda Louis. Louis mendatarkan wajahnya, namun tak kuasa menahan semburat merah di pipi.
"Ah menyebalkan! Jangan mengejekku! Seperti kalian tidak pernah saja!"ketus Louis.
"Haha tentu saja pernah, Louis! Rindu itu bagai rasa lapar, benarkan?"sahut Max, tertawa melihat Louis yang tersipu dengan raut wajah datarnya.
"Yayaya itu benar!" Leo membenarkan disusul anggukan Rose.
"Duh ramainya, lagi bahas apa hal menarik apa sih?" Helen datang dengan membawa nampan berisi teh, diikuti Key yang memegang botol susu disusul oleh pelayan yang membawa makanan ringan.
"Ini loh Sayang. Louis mau ke Singapura menggantikan aku."
"Loh memangnya kamu kenapa?"heran Helen.
"Bukan akunya yang kenapa tapi Louisnya yang mengapa," balas Leo.
"Hehe iya. Adik ipar, apa gerangan hingga kau mengajukan diri menggantikan kakakmu?"
"Apalagi kalau bukan karena Abel, Helen. Adik iparmu ini ingin mampir di Indonesia," ujar Rose.
Helen membulatkan matanya, "serius?"
"Wah mau ketemu sama Kak Abel ya? Key ikut ya, Paman!" Key mendudukan dirinya tepat di pangkuan Leo.
"Ikut? Oh tidak bisa, Key. Paman itu tujuan utamanya pekerjaan, baru menemui kak Abel. Lagipula Key kan masih sekolah. Nanti saja kalau mau ikut, pas kita ke Bali."
"Ahh Paman curang! Masa' Paman bisa Key nggak. Key kan rindu ingin bertemu dengan kak Abel! Paman menyebalkan!"gerutu Key, menatap kesal Louis.
"Eh-eh, aku menyebalkan? Anak kecil kau tahu apa huh?" Louis malah meladeni Key, ia memalingkan wajah dengan kesal.
"Iya. Paman menyebalkan! Mau memonopoli kak Abel sendirian! Key kesal dengan Paman!"sahut Key, ikut membuat muka ke arah berlainan.
"Anak tengil! Beraninya kau buruk sangka denganku!"
"Kenapa nggak berani? Aku laki-laki harus jantan!"
"Oh jantan ya??! Memangnya kamu tahu arti jantan itu?"
"Tahu dong!"sahut Key bangga.
"Apa?"tantang Louis. Key yang hendak menjawab langsung disumpal dengan botol susunya oleh Leo.
"Kalian ini, malah bertengkar. Kau juga Louis, sudah tahu anak kecil kok diladeni!"ucap Leo kesal.
"Anakmu itu yang mancing," sahut Louis.
"Ya kenapa kau terpancing?"balas Leo yang membuat Louis mengepalkan tangan dan tersenyum paksa.
"Karena Paman nggak jantan makanya mudah terpancing."
"Key!"
"Anak tengil!!" Louis benar-benar kesal.
"Haish! Sudahlah. Mengapa kalian malah bertengkar? Louis lebih baik kau mandi, kau juga Leo. Kita siap-siap untuk makan malam," titah Max tegas.
Louis segera beranjak, sebelum pergi ia sempat-sempatnya menjulurkan lidah mengejek Key. Key yang tadinya meladeni Louis, kini malah menangis. Rose yang jengah langsung saja melepas sendalnya dan melempar Louis.
"Dasar anak tengil!"gerutu Rose kesal.
Hiks ….
Hiks ….
Hiks ….
"Paman Louis jahat …. Huhuhu …."
"Key Sayang. Sudah jangan nangis. Nanti grandmom yang ngasih pelajaran buat Paman Louis," bujuk Rose lembut.
"Janji?" Dengan masih menangis Key meminta ketepatan ucapan. Rose mengangguk mantap.
"I-iya. Tapi harus hukum Paman Louis, ya." Key mengusap matanya, Rose kembali mengangguk.
"Ya sudah, Leo ke kamar dulu ya," ujar Leo.
"Ikut …." Key meletakkan botol susunya dan mengalungkan tangannya pada leher Loius.
"Memang Key belum mandi?"
"Mandi sama Papa." Leo tersenyum dan berdiri dengan menggendong Key. Helen ikut dengan suami dan anaknya.
"Andai saja mereka seiman pasti bahagia sekali rasanya," ucap Rose, tersenyum pahit.
"Andainya seiman pun, mereka tidak akan pernah bersatu. Jangan lupakan fakta yang sangat penting itu."
Rose mengesah pelan, "ya, aku tahu."
...****************...
...****************...