This Is Our Love

This Is Our Love
Pernikahan



Tanggal pernikahan telah ditentukan. Dua minggu sejak pertemuan Bella dan Ken. Selama dua minggu itu, Bella dan Ken sering bertemu dari mulai saat fitting pakaian, hingga mengurus surat-surat nikah yang memang harus dihadiri langsung oleh calon mempelai. Hubungan Bella dan Ken juga tidak ada kemajuan. Sama seperti saat pertemuan pertama. 


Bella sendiri merahasiakan pernikahannya dari Nesya dan keluarga Kalendra juga Teresa. Ah Teresa, sudah lama Bella tidak berbincang langsung dengan Resa, hanya melalui chat. Kesibukan Resa sebagai General Manager menggantikan Bella juga perbedaan waktu yang cukup jauh, membuat keduanya sulit menemukan waktu untuk berbincang via telepon ataupun video call.


Sedangkan Ken sendiri, setelah mengurus persiapan pernikahannya, menghabiskan waktu dengan Cia yang sempat koma selama dua hari. Kini Cia sudah berada di rumah, tersenyum ceria walaupun hati terasa perih dengan Ken. Awalnya Clara melarang tegas Ken bertemu dan berhubungan dengan Cia. Akan tetapi hal itu malah membuat kondisi Cia kembali drop usai sadar dari koma. 


Kedua adik Cia pun terpaksa menyetujui dan kini menjaga lebih ketat dari Cia, terutama saat bersama dengan Ken. Keduanya bak nyamuk besar di tengah kemesraan Ken dan Cia. Terlebih saat malam, Ken yang tidur memeluk Cia sedangkan Anggara dan Angkasa tidur di lantai juga berpelukan. Ken tidak masalah, ia maklum dengan hal tersebut. 


***


Saat ini, Ken tengah menemani Cia di duduk di balkon, menikmati keindahan anggrek sedang mekar. Warna anggrek yang cantik mampu membuat hati Cia senang, menjadi penyejuk mata. Sejak sakit, Cia memang sering menghabiskan waktunya dengan berkebun, kadang bersama Ken atau keluarganya atau keduanya.


Cia bersandar pada bahu Ken, tangannya melayang di udara, bergerak membentuk gambar abstrak yang tak terwujud. Ken melihatnya dengan senyum lebar, tangannya bergerak, mengusap lembut rambut Cia. Rambut itu sebenarnya adalah rambut palsu karena rambut Cia rontok dan hampir botak.


"Ken," panggil Cia lembut.


"Hm?"sahut Ken dengan tetap mengusap rambut Cia.


"Kamu nggak pulang? Ini sudah sore loh. Bukankah besok kamu nikah?"tanya Cia sendu. Senyum Ken memudar, ia tersenyum kecut. Cia menatap Ken dengan mata sayu nya. Terlihat jelas ada ketidakrelaan di sana, akan tetapi ia harus rela.


"Lantas? Aku masih mau bersama kamu. Lagipula acaranya pukul 10.00," jawab Ken, berganti mengusap pipi dan mencubit gemas hidung Cia. 


"Ken?!" Cia berseru dengan manja, wajahnya memberengut kesal yang ditanggapi oleh tawa lepas Ken.


"Sayang jangan usir aku pulang. Aku masih ingin bersama denganmu," ucap Ken manja, melingkarkan tangannya pada pinggang Cia.


"Tapi nanti Paman dan Tante marah loh. Besok kamu juga nggak boleh terlambat hadir," ujar Cia. Bibirnya bisa mengatakan dengan biasa saja tapi hatinya tetap berteriak tidak rela.


"Kamu mengapa begitu cemas dengan pernikahanku besok, Sayang? Kamu ini cemburu atau ikhlas?"tanya Ken sendu. Hatinya sakit mendengar Cia terus menyuruhnya pulang.


"Bukan gitu, Ken …." Cia menjawab lirik, menunduk. Wajahnya berubah murung. Ken tidak tega, dengan lembut ia mengangkat dagu Cia. Keduanya beradu pandang, tatapan Ken begitu lembut beradu dengan tatapan sendu Cia.


"Baiklah. Jangan sedih. Aku tahu apa yang kamu takutkan. Aku akan pulang," ujar Ken lembut.


"Ken …."


"Hm?"


Mata Cia berkaca-kaca. Ken mulai panik, "Cia jangan nangis, Sayang. Aku nurut sama kamu. Aku akan pulang. Jangan nangis ya …." Cia menggeleng pelan. Dengan segera memeluk Ken, menangis dalam pelukan Ken. Ken tertegun sesaat, kemudian membalas pelukan itu, matanya terpejam, bulir kristal mulai membasahi pipi Ken. 


Besok adalah hari pernikahan. Hari di mana ia akan mendapatkan status seorang suami. Besok juga hari yang paling menyakitkan untuk Ken dan Cia. Besok Ken akan menikah dengan seorang yang sama sekali tidak ia kenal dan ia cintai. Besok dalam ijab qabul, bukan nama Cia yang ia sebut melainkan Bella. Begitu juga dengan Cia. 


Cia sangat sedih, seharusnya namanya yang disebut oleh Ken besok, bukan Bella. Tapi semua hanya tinggal angan. 


"Ken aku mohon jangan tinggalkan aku. Jangan abaikan aku jika kau sudah menikah. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak mau!"pinta Cia menangis.


"Tentu! Tidak ada yang berubah, Sayang. Cinta dan ragamu tetaplah utuh milikmu. Aku hanyalah suami di atas kertas untuknya begitu juga dengannya. Kamu tetaplah pemilik hatiku, Cintya Utomo!"tegas Ken. Cia tersenyum, tersenyum lebar. 


*


*


*


Sedangkan di sisi lain, Bella dan Anjani tengah menonton televisi yang menayangkan sinetron anak remaja. Bella fokus menonton sedangkan Anjani tidak. Anjani lebih fokus menatap Bella. Hati Anjani bertanya-tanya, bagaimana bisa Bella setenang dan sesantai ini padahal besok hari yang penting untuknya? 


"Berhenti menatapku, Jani!"tegur Bella, menoleh cepat pada Anjani. Anjani yang tertangkap basah, langsung memalingkan wajah malu.


"Jani? Apa yang ingin kau ketahui?"tanya Bella to the point. 


"Ah tidak ada," jawab Anjani berkilah. Bella tersenyum tipis, "aku tahu kau, Jani!"ucap Bella.


"Tanyakan saja selagi kau masih bebas bertanya padaku," ucap Bella. 


"Ah … errr … baiklah." Anjani menarik nafas sebelum bertanya.


"Mengapa kau tidak memberitahu Nesya tentang pernikahanmu? Nesya kan punya hak, dia keluargamu satu-satunya," tanya Anjani penasaran. 


Bella tersenyum, "karena kondisinya."


"Ah tekanan batin kah?"terka Anjani yang langsung diangguki Bella.


"Lalu mengapa kau bisa santai dan tenang?"


"Lalu?"


"Harusnya kau gugup terus browsing tentang malam pertama. Ini kok malah fokus nonton sinetron anak SMP," heran Anjani. Dan kali ini tawa Bella pecah. Bella tertawa terbahak, malam pertama katanya?


Hahahahaha 


Anjani mendengus kesal mendengar tawa Bella.


"Anjani-Anjani. Setiap pernikahan itu tidak selalu sama. Malam pertama? Hahaha lucu sekali. Itu sangat mustahil! Anak itu begitu mencintai kekasihnya, mana mungkin mau menyentuh perempuan lain. Kecuali jika aku menaruh obat padanya dan itu tindakan tercela. Mustahil juga aku lakukan," jelas Bella, masih tertawa. Anjani ikut tertawa, malu.


"Aku juga bukan dirimu, Jani," sambung Bella.


"Ahhh Abelll! Jangan bahas tentang diriku dong. Aku juga sudah melepaskannya!"rengek Anjani manja.


"Ya karena urusan ceraimu sudah berkembang kan?"


"Hehehe itu juga atas bantuan dirimu. Kamu pandai membuat kesempatan!"ujar Anjani. Memang benar, mengetahui bahwa keluarga Arman menahan pengajuan cerai dari Anjani, Bella dengan kemampuannya mendapatkan bantuan dari keluarga Mahendra. Arman dan keluarganya ditekan dan esoknya kasus langsung ada kemajuan. Jika tidak ada halangan, maka dalam waktu dekat pasti sudah ada panggilan sidang.


"Eh kau mau kemana?"tanya Anjani saat Bella tiba-tiba berdiri.


"Ke kamar. Aku rasa aku perlu melakukan saranmu tadi," jawab Bella melangkah menuju kamarnya.


"Hah?"


*


*


*


Keesokan paginya, selesai subuh, Bella, Anjani, dan Arka yang masih tidur, meninggalkan basement menuju Graha Buana Hotel, tempat pernikahan akan dilangsungkan. Dengan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, Bella menyusuri rute perjalanan yang mulai ramai dengan kendaraan.


 Anjani yang dibonceng menggerutu kesal dalam hati. Hari pernikahan pun tak ada bedanya, calon mempelai wanitanya memang unik. Nggak mau dijemput menggunakan mobil bermerek malam naik motor menuju lokasi. Anjani yang menggendong tas Bella, menujukkan wajah konyolnya mengejek Bella dari belakang.


Bukan tanpa alasan, Bella memang tidak bisa naik mobil atau kendaran darat lainnya selain motor. Bella punya trauma dengan kendaraan yang rodanya lebih dari dua termasuk kereta api.


Kini Bella, Anjani, dan Arka tiba di Graha Buana Hotel. Bella kembali menggendong tasnya, sedangkan Anjani menggendong Arka yang masih tidur. Masuk ke dalam hotel disambut oleh resepsionis dan pegawai lain yang berjajar rapi di dekat meja resepsionis. Bella mengeryit tipis, siapa tamu penting yang akan datang ke hotel ini? Dan penyakit lupa Bella kambuh, padahal itu adalah persiapan menyambut keluarga Mahendra dan juga dirinya. 


Bella yang tak mau ambil pusing, menunjukkan kartu yang diberikan oleh surya tempo hari dan seraya serentak para pegawai dan resepsionis itu membungkuk hormat pada Bella. Anjani terperangah kagum melihatnya, sedangkan Bella tampak biasa saja.


"Mari, Nona," ajak seorang pegawai mempersilakan Bella dan Anjani mengikuti dirinya.


"Ayo," ajak Bella. Anjani mengikut dengan tetap berdecak kagum.


"Enak sekali menjadi tamu VIP," ujar Anjani.


"Bukan VIP, Jani. Tapi VVIP. Dan sepertinya kau melupakan sesuatu. Hotel ini berada di bawah kepemilikan Mahendra Group," ralat Bella.


"Ah ya aku lupa. Aku kebanyakan belajar hingga melupakan hal yang tidak penting," kekeh Anjani. 


"Hal tidak penting memang tidak perlu diingat, Jani!"gemas Bella.


"Hehehe."


*


*


*


Tamu mulai berdatangan, ballroom mulai penuh dengan tamu undangan terbatas yang keluarga Mahendra undang. Para tamu tak lain hanyalah keluarga, jajaran direksi, relasi bisnis, dan tertutup dari publik. 


Kini semua mata tertuju pada dua calon mempelai yang akan segera mengesahkan hubungan mereka. Bella tampil menawan dengan gaun putih yang senada dengan jilbabnya. Taburan mutiara membuat Bella tampak bersinar. Sedangkan make up yang tidak terlalu tebal lebih ke natural, membuat para tamu berdecak kagum akan kecantikan Bella. 


Sementara Ken sendiri tampil rupawan dengan jas putih dan setangkai mawar menghiasi kantungnya.


Surya juga tampil gagah, usia yang sudah menginjak kepala 5 tidaklah mengurangi ketampanannya. Sedangkan Rahayu tampil anggun dan elegan dengan dress berwarna cream dengan rambut disanggul. 


Sementara itu, keluarga Mahendra yang lain belum menampakkan wajahnya. Untuk Brian sendiri, para tamu tahu bahwa ia dan Silvia masih dalam perjalanan kembali dari luar negeri. Untuk El sendiri, entahlah, tadi malam dia juga tidak pulang ke rumah. 


Wali nikah Bella diserahkan pada wali hakim, dan kini acara puncak pun dimulai. Dengan sedikit gemetar dan dilema, Ken menjawab tangan wali hakim Bella.


"Bismillahirrahmanirrahim …. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan Nabilla Arunika Candra, anak perempuan dari Bisma Chandra yang walinya diserahkan kepala saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 100 gram dibayar tunai!"ucap wali nikah Bella tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Cintya Utomo …."


Ken terdiam sendiri dengan ucapannya. Sedangkan Surya menunjukkan raut wajah kesal. Rahayu sendiri menghela nafas. Anjani yang berada di belakang  Bella, membelalakan mata dan mengumpat Ken dalam hati. Bella sendiri hanya melirik, kemudian membisikkan sesuatu pada Ken.


"Kau?" Bisikan penuh dengan tekanan. Bella tersenyum lebar, "kau pasti bisa!"


"Ken jangan buat malu Papa!"bisik Surya penuh tekanan. Ken merasa tertekan. Ia rasanya tak sanggup untuk mengucapkan nama perempuan lain. 


"Ayo Nak Ken, jangan patah semangat. Masih ada kesempatan. Tarik nafas dulu, tenangkan hati Nak Ken," ujar penghulu. Ken menghela nafas kasar. Sungguh berat tapi tetap harus ia lalui. 


Setelah beberapa saat, ijab qabul kembali dilangsungkan akan tetapi kejadian yang sama juga terulang. Ken gagal menyebutkan nama Bella. Lagi-lagi nama Cia. Bella menghela nafas kasar, ia mulai kesal dan gerah. 


Rahayu yang melihat hal itu, langsung ambil tindakan dan membisikkan sesuatu pada Ken. 


"Tidak!"gumam Ken takut. 


"Maka lakukan dengan benar!"ucap Rahayu lembut tapi penuh tekanan.


Kembali ucapan ijab diucapkan oleh wali nikah Bella.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nabilla Arunika Chandra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Walaupun masih agak terbata tapi itu dianggap sempurna.


"Bagaimana para saksi? Sah?"tanya penghulu.


"Sah!!"


Final sudah, akhirnya Bella dan Ken resmi menjadi suami istri. Tepukan tangan meriah, senyum lebar dari keluarga mewarnai sahnya pernikahan itu. Ken yang tersenyum paksa sedangkan Bella yang tersenyum simpul. 


Tapi tanpa mereka ketahui, di antara para tamu ada yang menatap hal tersebut dengan penuh kesedihan dan cemburu. Matanya memerah melihat Bella yang mencium tangan Ken sedangkan Kan mencium kening Bella walau masih kik-kuk.


"Ken …," panggilnya lirik yang tak lain adalah Cia.