
Sesuai makan siang, Gibran langsung pamit pada Vania dengan alasan meeting. Kebetulan memang ia ada jadwal meeting di luar perusahaan. Vania menatap rumit punggung Gibran yang menghilang di balik pintu.
Walau sikap dan perhatian Gibran tidak berubah setelah ia dijatuhkan vonis tidak bisa memiliki anak. Namun, Vania merasakan ada jarak yang tercipta di antara mereka.
*
*
*
Sama seperti Brian yang pertama kali salah kamar saat hendak menjenguk Nesya bersama dengan Silvia, Gibran juga mengalami hal yang sama yaitu salah kamar.
Ia tersenyum canggung dan buru-buru meminta maaf pada penghuni kamar VIP 3. Setelahnya Gibran keluar dan berjalan menghampiri meja perawat untuk menanyakan tentang Nesya.
Di kondisi Nesya yang begitu sangat kecil Nesya sudah keluar dari rumah sakit ini. Ada tiga alasan yang berada dalam pikiran Gibran. Satu Nesya pindah ruang rawat, kedua pindah rumah sakit, atau yang ketiga di mana Gibran langsung menggeleng menentang opininya sendiri yakni pindah alam.
"Maaf Anda siapanya pasien?"tanya Perawat tersebut menatap selidik Gibran.
"Saya temannya," jawab Gibran dengan mimik meyakinkan.
"Sebelumnya saya pernah menjenguk Nesya," tambah Gibran.
"Pasien pindah ke kamar VVIP 3."
Melihat tampang Gibran yang meyakinkan, Perawat tersebut memberitahu ruangan Nesya. Lagipula tidak ada pesan dari Bella atau yang lain untuk menyimpan rahasia di mana Nesya dirawat.
"Terima kasih," ucap Gibran, bergegas masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai empat.
Gibran tiba di depan lift. Namun, langkahnya saat hendak masuk dihentikan oleh Perawat Winda.
"Maaf dengan siapa?"tanya Perawat Winda.
Gibran mendengus dalam hati. Ia hanya ingin bertemu dengan Nesya dan meminta maaf secara langsung sekali lagi. Namun, mengapa banyak sekali hambatan? Kemarin waktu ia pertama kali mendengus Nesya, ia bertemu dengan Bella yang langsung menolak mentah-mentah niat baiknya.
Kini, walau tidak bertemu dengan Bella. Dua perawat sudah menghentikannya. "Saya temannya, Sus," jawab Gibran dengan tersenyum.
Walau Bella sudah melarangnya Gibran tetap harus menemui Nesya lagi. Ia sebenarnya cukup gugup. Tapi, hatinya kekeh untuk menemui Nesya.
"Teman? Bukan teman dekat ya?"selidik Perawat Winda.
"Apa itu penting? Saya hanya ingin menjenguknya!"jawab Gibran sedikit kesal.
"Kalau begitu saya tanya dulu pada Nona Nesya!"ucap Perawat Winda yang kemudian masuk ke ruang rawat Nesya. Pintu ditutup rapat.
Apa dia perawat khusus untuk Nesya?batin Gibran mengusap wajahnya.
"Tuan siapa nama Anda?"tanya Perawat Winda dengan hanya kepala menyembul keluar.
"Gibran!"jawab Gibran yang terkejut dengan itu.
"Okay!" Pintu kembali ditutup dengan rapat.
Tak berselang lama, Perawat Winda keluar dan membuka lebar pintu. "Silakan. Anda diizinkan untuk masuk."
Gibran tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam. Perawat Winda menunggu di depan pintu bagian dalam. Ia melihat tatapan menyelidik Dylan begitu lekat pada Gibran. Nesya menunjukkan wajah datarnya.
Gibran merasa sedikit canggung menerima tatapan Nesya dan Dylan.
Dalam hatinya bertanya-tanya siapa pria muda yang menggenggam jemari Nesya dengan erat. Tatapannya begitu tajam padanya. Gibran menangkap tatapan permusuhan di sana.
"Hallo," sapa kik-kuk Gibran.
"Hai, Tuan Gibran. Ada perlu apa Anda bertandang kemari?"sahut dan tanya Nesya dengan nada datar.
"Apa aku tidak boleh menjengukmu?"tanya balik Gibran.
Nesya mendengus pelan. Dalam benaknya bertanya dan menerka apa alasan Gibran menemuinya.
"Kalau begitu katakanlah apa yang ingin Anda katakan!"titah Nesya to the point.
"Baiklah. Tapi …." Gibran melirik Dylan.
"Mengapa aku harus keluar? Hal penting apa yang ingin kau bicarakan pada calon istriku?"tanya Dylan dingin. Ia menangkap jelas sinyal Gibran yang ingin berbicara empat mata dengan Nesya.
Sebagai seorang calon suami, tentu saja Dylan cemburu.
"Calon istri?" Gibran terhenyak kaget.
"Benar,Tuan Gibran. Dia Dylan, calon suamiku," timpal Nesya.
"Ah baiklah. Aku mengerti. Akan tetapi aku harap kau mengerti apa yang ingin aku bicarakan," tukas Gibran. Ia tidak akan pergi dengan tangan kosong.
Nesya sudah sadar artinya ia bisa cepat membahas masalah mereka dan mengakhiri rasa bersalah pada Nesya.
"Dylan keluarlah sebentar," pinta Nesya.
Ia juga merasa harus menyelesaikan urusannya dengan Gibran agar tidak ada lagi hubungan dengan Presdir Perbankan itu.
"Nesya?!" Dylan protes. Siapa pria di depannya ini? Ada masalah apa dengan Nesya? Dylan bertanya-tanya.
"Ku mohon. Sebentar saja. Setelah itu akan aku jelaskan," ujar Nesya mengusap lembut rambut Dylan. Dylan mengangguk pelan. Walau berat ia menuruti Nesya. "Awas jika kau membuat Nesya sedih!"bisik Dylan dingin pada Gibran sebelum keluar.
Gibran hanya melirik dan menarik senyum tipis. Setelah Dylan keluar, perhatian Gibran tertuju pada Nesya seorang yang menunjukkan ekspresi datar. "Apa lagi yang ingin Anda bahas, Tuan?"tanya Nesya.
"Boleh aku duduk?"tanya Gibran dengan ragu. Nesya menggeleng. Gibran tersenyum menerimanya.
"Maafkan aku, Nesya!"ucap Gibran sungguh-sungguh dengan menundukkan kepalanya.
"Aku akan bertanggung jawab padamu!"lanjutnya setelah mengangkat kepala. Nesya mendengus.
"Kita tidak dekat. Tolong jangan panggil namaku secara langsung. Lagi, aku tidak butuh tanggung jawab Anda, Tuan. Aku sudah memiliki calon suami yang menerima kondisiku yang seperti ini!"ucap lugas Nesya. Tatapannya tetap datar.
Gibran mengesah pelan. Ia kesal sekaligus takjub.
"Kita tidak dekat? Ya aku akui! Tapi, Nesya kita pernah lebih dekat dan sangat intim daripada sekadar status calon suami yang dimiliki olehnya!"
"Lupakan saja! Kau tahu jelas alasanku! Hapus semua rasa ingin tanggung jawabmu karena setelah malam itu dan setelah janinku gugur, kita tidak ada hubungan apapun! Jika Anda kemari hanya untuk mengingatkan hal ini maka silakan keluar!"tegas Nesya, menunjuk ke arah pintu.
Gibran kagum dengan kesamaan jawaban Bella dan Nesya.
"Jika Anda ingin minta maaf, maka saya juga minta maaf!"timpal Nesya lagi.
"Jadi kita saling memaafkan, begitu?"tanya Gibran.
Gibran merasa lega di satu sisi. Nesya mengangguk. Sesungguhnya ada tidaknya Dylan sekarang, keputusan Nesya tetap sama.
"Daripada meminta maaf pada saya, lebih baik Anda memperbanyak keberanian untuk meminta maaf pada istri Anda! Jika Anda butuh saya untuk menambah kejujuran Anda, tidak masalah! Saya bersedia!"tukas Nesya.
"Vania," gumam pelan Gibran.
Tubuhnya menjadi lemas. Rasa bersalah pada istrinya menyeruak ke permukaan. Apapun alasannya, ia sudah mengkhianati Vania. Bahkan sampai hadir benihnya di rahim wanita lain. Di satu sisi Gibran senang janin itu gugur karena tidak akan menyakiti hati Vania sangat dalam jika Vania tahu.
Namun, di sisi lain, sebagai seseorang yang menyemburkan benih pada rahim Nesya, dan benih itu tumbuh, sudah hadir rasa keterikatan.
Gibran sedih karena kehilangan calon anaknya. Lagi seandainya janin itu lahir dengan selamat, maka urusan pewaris yang dituntut oleh keluarganya akan selesai.
Vania yang akan mengurus anak itu sedangkan untuk Nesya akan diberi kompensasi yang layak. Anggap saja ia memakai rahim bayaran untuk memperoleh anak tanpa harus menikah yang pastinya akan sangat menyakiti hati Vania.
Gibran tahu, seandainya ia ingin menikah lagi, Vania pasti tidak akan melarang. Namun, Gibran tidak ingin melakukannya.
"Saya sungguh tidak butuh tanggung jawab Anda, Tuan!"tegas Nesya lagi yang membuyarkan lamunan Gibran.
"Jika Anda takut saya berubah pikiran. Maka kita bisa membuat surat perjanjian sebagaimana yang sering Anda lakukan dalam pekerjaan Anda!"ucap Nesya serius.
Gibran terhenyak, sebegitu kekehnya hati Nesya hingga mengantipasi apa yang terjadi seandainya ia berubah pikiran.
"Kau serius?"tanya Gibran. Nesya mengangguk mantap.
"Baiklah. Kalau begitu kau apa aku yang membuat surat perjanjiannya?"
"Anda saja."
Gibran mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu. Besok pagi aku akan kemari lagi untuk meminta tanda tanganku."
"Itu lebih meyakinkan!"sahut Nesya. Jika orang lain, dikhawatirkan ada kesalahan.
Setelah itu, Gibran pamit. Di luar Dylan berdiri dengan posisi membelakangi pintu. Dylan berbalik saat mendengar pintu dibuka.
"Saya permisi," pamit Gibran, tersenyum ramah pada Dylan lagi menepuk pelan pundak Dylan. Dylan melirik sinis.
Kemudian masuk ke dalam ruangan. Gibran tersenyum tipis, seberapa cool atau dewasa seseorang, pasti akan ada sisi kekanakan saat cemburu. Ia melangkah meninggalkan rumah sakit dengan hati yang lega sebagian. Kini rasa bersalah pada Vania yang menyelimuti hatinya.
"Kau marah padaku?"tanya Nesya sedikit takut saat melihat ekspresi dingin Nesya.
Dylan duduk di kursi samping ranjang dengan satu kaki berada di atas kaki satunya dan keduanya tangan bersedikap di depan dada. Ia memasang pose menagih penjelasan yang Nesya janjikan.
"Dia itu sebenarnya adalah ayah dari janinku yang telah gugur," ujar Nesya, lirih.
"Jadi tebakanku kemarin yang kau benarkan adalah salah?" Nadanya sedikit ketus.
Nesya menunduk mengatakan bahwa itu benar. "Kau marah?"tanya Nesya, lirih. Rasa bersalah dan takut menyelimuti hatinya.
"Jadi kau di penjara karena kasus obat-obatan terlarang?"
Dylan mengingat - ingat tentang lapas yang kunjungi saat menjenguk Nesya. Setengah ia ingat itu adalah lapas untuk rehabilitasi.
"Ya."
Dylan diam. Nesya memberanikan diri untuk melihat dan menatap Dylan. Sorot matanya masih terdapat rasa dingin.
"Dia kemari untuk menawarkan pertanggung jawaban namun, aku sudah menolaknya. Aku tidak pernah mengharapkan dan menerima pertanggungjawaban darinya. Dylan kau tidak akan mengingkari janjimu, kan?"
Dylan membuang nafas pelan. Ia merubah posisinya menjadi bertumpu pada ranjang Nesya. Sorot matanya mulai melembut.
"Sudahlah. Masa lalu jika tidak bisa dirubah lagi. Aku juga tidak akan mempersuram masa depan. Aku menerima apapun kondisinya, apa masa lalumu. Aku terima semuanya. Aku juga minta maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Padahal … dulu aku berjanji untuk menjaga dirimu dengan baik."
Tangan Dylan terulur mengusap pipi Nesya. Nesya terenyuh. Ternyata Dylan masih ingat janji masa lalu dulu, saat mereka masih remaja.
"Terima kasih." Tiada kata lagi yang bisa Nesya katakan. Hanya kata itu, yang mewakili semua kata-kata yang tidak bisa Nesya ucapkan. Keduanya berpelukan erat.
*
*
*
"What?!"seru kaget Ken saat melihat judul artikel yang hadir di beranda majalah bisnis di ponselnya.
"Ada apa?" Bella penasaran dengan apa yang Ken kagetkan. Ken menunjukkan layar ponselnya pada Bella.
"Keluarga Utomo mengumumkan berita pernikahan Anggara dan putri dari Presdir ASA Bank," ucap Ken.
Bella mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya meraih ponselnya. Membuka majalah bisnis dan membaca artikel yang Ken katakan.
Keduanya tenggelam dalam membaca artikel. Bella lebih dulu selesai. Ia meletakkan kembali ponselnya. "Cara umum yang dilakukan suatu keluarga saat perusahaan mereka terancam adalah menikahkan anak mereka dengan keluarga yang bisa membantu mereka mengatasi masalah perusahaan," ujar Bella.
"Sepertinya harga diri mereka sangat baik hingga enggan meminta bantuan keluarga Mahendra."
"Kau mau aku menikah dengan Cia?"sahut Ken, dengan nada ketus.
"Siapa yang mengatakan kau akan menikah dengan Cia untuk membantu keluarga Utomo?"balas Bella, kesal.
"Kau sendiri!"
"Ahh itu kan untuk keluarga lain. Memangnya pemberi itu memberikan atau menerima syarat? Lalu memangnya kau mau menikah dengan Cia hah?" Bella menatap garang Ken.
"Tentu saja tidak!" Tiada keraguan.
"Sungguh?"
"Aku tidak akan mendua, selamanya hanya denganmu!"
Bella tersenyum. Hatinya sungguh lega. Ken membalas senyumannya.
"Jika kita diundang apa kau mau datang?"
"Tidak ada alasan kita untuk tidak datang, bukan?"
"Ya," sahut Bella.