
"Abel! Kemana saja kau? Mengapa tak menghubungiku?"seru Louis yang membuat Bella berdecak sebal.
Ponsel ia letakkan di atas troli dengan bantuan alat agar mereka bisa video call tanpa membuang waktu. Dengan earphone di telinga, Bella mendorong troli menyusuri gang gang rak perbelanjaan.
"Sepertinya baru satu hari yang lalu aku menghubungimu, Kak. Mengapa kau seheboh ini?"
"Juga gunakan pakaian yang lengkap sebelum menghubungiku!"kesal Bella yang melihat Louis hanya menggunakan jubah mandi berwarna putih dengan otot perut yang terpampang jelas.
"Ayolah, bukankah kau sudah biasa melihatku telanjang dada?" Louis malah tersenyum tidak jelas.
"Aku sedang di mall!"jawab Bella, menghentikan langkahnya sejenak.
"Mall?"
"Ya berbelanja. Cepat gunakan pakaianmu atau aku akan menutup panggilan ini!"jawab Bella disertai dengan ancaman.
"Baiklah. Tunggu sebentar jangan dimatikan atau aku akan menyusulmu ke Indo hari ini juga!"sahut Louis yang juga disertai ancaman.
Bella memutar bola mata malas, "dasar berlebihan!"
"Tumben kau belanja di mall. Apa di sana tidak ada pasar tradisional?" Louis yang sudah berganti pakaian menunjukkan wajah herannya.
"Sudah tutup," jawab Bella seraya memilih sayuran.
"Wah berarti kantongmu akan berkurang banyak! Abelku menjadi boros di sana," ledek Louis tertawa.
"Sayuran di sini tak semahal di sana. Lagipula aku belanja hanya untuk sarapan besok," jelas Bella, sama sekali tidak menggubris ledekan Louis. Toh semenjak ia pulang, hanya uang keluar yang terus mengalir sedangkan uang masuk sepeserpun tidak ada masuk.
"Lantas, bagaimana perasaanmu sekarang?" Louis menunjukkan wajah cemas.
"Sudah lebih baik. Besok aku juga sudah interview kerja," jawab Bella, menatap Louis sekilas kemudian memilih telur.
"Di mana?"tanya Louis penasaran.
"Mahendra Group."
"Mahendra Group?" Louis mengernyit tipis.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama perusahaan ini," lanjut Louis.
"Hm … pengaruhnya sudah mencapai pasar Eropa. Hanya saja belum menyentuh Jerman. Menurut perkiraanku, dalam waktu dekat mereka pasti akan memasuki wilayah Jerman," papar Bella. Bella tetap fokus memilih barang.
"Ah aku ingat sekarang. Mereka pernah bekerja sama dengan Nero Group dari Inggris kan?" seru Louis. Bella mengangguk membenarkan.
"Akan aku kirimkan surat rekomendasi untukmu ke Mahendra Group," tambah Louis.
"Aku rasa itu tidak perlu," tolak Bella.
"Hei kau itu karyawan terbaik Kalendra Group, mana mungkin tidak diberi surat rekomendasi. Kau tenang saja, aku tidak akan meminta balas budi. Ini real penghargaan perusahaan kepadamu."
"Ya aku tahu. Tapi aku menolak," sahut Bella santai.
Louis menunjukan tampang bodohnya. Ia menatap lekat Bella dari layar ponselnya. Alisnya berkerut-kerut, "kenapa kau menatapku seperti itu?"tanya Bella galak.
"Biarpun aku tahu kau itu aneh, tetap saja aku merasa kau itu tetap aneh. Selalu ada saja yang berbeda darimu. Di saat orang lain dengan senang hati menerima surat rekomendasi kau malah menolak. Aku masih bingung kau itu memang sangat percaya diri atau bodoh?"ujar Louis.
"Bodoh katamu?!" Bella menatap marah Louis. Louis langsung mengubah ekspresinya memelas.
"Bercanda, peace!"
"Huh! Kau memang menyebalkan!"
"Tapi kau suka kan?" Senyum Louis menggoda Bella. Bella terdiam sesaat, telinganya terasa panas.
"Ah lupakan. Ada lagi yang ingin kau bicarakan? Aku sudah selesai belanja, sulit video call saat antri di kasir," tanya Bella, mengalihkan pembicaraan.
Pipi Bella bersemu merah, ia memalingkan wajah menatap rak barang dekat kasir yang sedang promo.
"Ah menggemaskan sekali. Ingin rasanya aku mengusap kepalamu," ucap Louis, kembali senyum-senyum tidak jelas.
"Hentikan khayalan kosongmu! Bye!" Antara malu dan kesal, Bella mengakhiri video call dengan Louis.
Sesaat kemudian, ada chat masuk yang intinya Louis kesal dengan Bella dan mengancam akan menyusul ke Indonesia. Bella hanya membalasnya dengan jempol, tahu bahwa Louis hanya mengancam kosong.
*
*
*
Bella yang biasa bangun sebelum subuh langsung menuju dapur. Ia sedang masa libur salat. Di dapur, Bella berperang dengan alat dan bahan masak.
Tepat pukul 06.30, Bella telah selesai dengan setelan formal untuk interview-nya. Sarapan pagi berupa nasi dan omelet pun ia santap dengan tenang. Jadwal interview di pukul 10.00, masih ada banyak waktu.
Segelas susu mengakhiri sarapan Bella. Pukul 07.30, Bella keluar dari apartemennya menuju basement. Dengan menggendong ransel di punggungnya, Bella melajukan motornya keluar basement.
Dengan mendengarkan lagu yang membangkitkan semangat juang, Bella menyusuri rute perjalanan dengan kecepatan sedang. Bella tidak langsung ke Mahendra Group, arah yang sejalan dengan tempat rehabilitasi Nesya, Bella memutuskan untuk menjenguk Neysa sebentar.
"Kakak!" Nesya langsung memeluk Bella kala keduanya bertemu.
"Assalamualaikum adikku Sayang," sapa Bella seraya mencium pucuk kepala Nesya.
"Ah hehehe, Waalaikumsalam Kakak," jawab Nesya, tertawa malu, mendongak menatap Bella yang menggeleng pelan.
"Lain kali jangan begitu!"ucap Bella, menyentil pelan dahi Nesya.
"Em."
Keduanya lantas duduk di bangku yang memang disediakan.
"Kau tampak lebih baik. Sepertinya kau mulai bisa beradaptasi di sini," ucap Bella sendu, lega melihat Nesya yang tampak lebih baik daripada sebelumnya.
"Tetaplah berperilaku baik. Jangan lupakan yang lima waktu, membaca al-Qur'an, juga perbanyak istighfarmu. Kakak percaya kau pasti bisa. Hilangkan semua hasrat duniawi yang selama ini kau kejar. Kesenangan yang kau cari sesungguhnya adalah malapetaka. Nesya, cukup tenangkan dirimu, maka kau akan mendapat kesenangan di sana," pesan Bella.
"Aku mengerti, Kakak." Nesya mengangguk paham..
"Kakak …." Nesya memanggil ragu.
"Ada apa?"
"Biarpun aku merasa batinku membaik, tapi aku merasa fisikku memburuk. Tadi pagi aku aku mimisan, darahnya banyak sekali. Aku takut, Kak. Aku baik-baik saja kan?"
Deg.
Bella terdiam sesaat. Bella lupa, biarpun ditutupi, pemilik penyakit sendiri tidak mungkin tidak menyadari sesuatu yang berubah dari dirinya, terlebih untuk Nesya yang pernah menempuh pendidikan kedokteran.
"Kemarin aku juga terluka. Darahnya sulit sekali membeku. Untung saja staff medisnya ahli," aduh Nesya seraya menunjukkan kakinya yang terbalut perban.
Bella menatap balutan perban yang ditunjuk oleh Nesya.
"Apa aku punya gangguannya pembekuan darah ya Kak? Kekurangan darah putih?" Nesya menatap Bella meminta jawaban.
Bella mendengus senyum, mengusap lembut rambut Nesya.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Tetaplah jaga perilaku dan kesehatanmu. Kakak akan pergi sekarang," ujar Bella.
Nesya mengerucutkan bibirnya, jawaban Bella tidak memuaskan dirinya.
"Jangan lupa minum vitamin dan obatmu. Kau dan janinmu harus tetap sehat," pesan Bella.
"Baiklah." Dengan masih mengerucutkan bibirnya, Nesya meraih tangan dan mencium punggung Bella.
"Kakak hati-hati di jalan. Bawa motornya jangan kayak kemarin."
Bella tidak menjawab hal itu. "Kakak pergi ya. Assalamualaikum," pamit Bella.
"Waalaikumsalam."
Nesya menatap kepergian Bella dengan hati yang masih penuh tanda tanya. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"gumannya sendu.
*
*
*
Kurang lima belas menit dari waktu yang ditentukan, Bella telah tiba di Mahendra Group. Dengan langkah tegas Bella memasuki lobby dan menuju meja resepsionis.
"Permisi, Mbak," ucap Bella dengan nada formalnya.
"Iya. Ada yang bisa dibantu?"sahut resepsionis ramah.
"Saya mau interview kerja."
"Oh interview ya. Atas nama siapa ya Mbak?"
"Nabilla Arunika Chandra, saya melamar posisi GM," jawab Bella.
"Sebentar ya Mbak, saya telepon HRD dulu," ujarnya kemudian menelepon HRD.
Bella menunggu seraya mengedarkan pandang. Aneka banner banyak diletakkan di beberapa sudut lobby. Desain lobby yang elegan dan lembut dengan dominasi warna coklat muda, sungguh menenangkan hati. Sofa dan meja yang diperuntukan untuk tempat menunggu juga tampak penuh. Karyawan perusahaan lalu lalang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Baik, Mbak. Silakan naik ke lantai 30 ke ruangan Presdir," ucap resepsionis itu seraya menunjuk lift. Bella mengeryit tipis.
"Ruangan Presdir?"tanya Bella memastikan. Resepsionis itu mengangguk.
"Baiklah." Dengan wajah yang masih heran, Bella melangkah menuju lift.
"Aneh," gumam Bella.
Tiba di lantai 30, Bella disambut oleh seorang pria yang berpakaian formal dan memakai kacamata. "Nona Nabilla?"tanyanya memastikan. Bella mengangguk.
"Mari Nona," ajaknya lalu memimpin jalan.
"Hm."
"Boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan Nona."
"Mengapa saya interview di ruangan Presdir? Seharusnya kan di HRD," tanya Bella penasaran.
"Mengenai itu, saya kurang tahu Nona. Saya hanya menjalankan perintah Presdir," jawabnya yang membuat Bella berdecak lidah.
Kalau gitu aku nggak usah nanya!
"Silakan masuk, Nona. Presdir sudah menunggu Anda di dalam," ujarnya lagi seraya membukakan pintu.
"Anda tidak ikut?"
"Saya ada tugas lain, Nona. Semoga berhasil, Nona." Pria dengan tag name Frans itu langsung melangkah pergi.
Ah ya sudahlah. Kita lihat bagaimana Presdir perusahaan ini.
Bella melangkah masuk dengan tenang.
"Selamat siang, Presdir," sapa Bella seraya menunduk hormat.
Kursi yang membelakangi Bella itu berbalik, "siang Nona Nabilla," sahutnya dengan senyum lebar. Mata Bella membulat, ia terkejut mengetahui siapa Presdir perusahaan ini. "Pak Surya?"