This Is Our Love

This Is Our Love
Harus Sabar dan Mengerti



Dylan mencuri pandang pada Ken saat makan malam bersama dengan keluarga Mahendra. Sikap posesif Ken seketika muncul saat melihat Dylan yang begitu lengket pada Bella. Walau sudah diberitahu oleh Bella dan tahu bahwa jiwa Dylan adalah anak berusia 13 tahun tetap saja tak mampu menahan rasa cemburunya. 


Brian sendiri acuh dengan Dylan. Wajahnya tetap datar dan saat pertama bertemu hanya menjawab sapaan Dylan, hai. Sementara Silvia, ia hampir sama dengan Dylan hanya sedikit lebih ramah saja. 


Posisi duduk pun berubah, yang biasanya Ken duduk berhadapan dengan Brian kini berhadapan dengan Silvia. Sedangkan Bella berhadapan dengan Brian, dan Dylan menempati posisi di samping Ken. Ken sungguh menjagakan jarak antara Bella dan Dylan. 


Bella sendiri antara kesal dan senang. Hah semoga Ken tetap begini, hanya untuk dirinya, tanpa ada cinta yang lain, one dan only.


Selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang keluarga. Rahayu meminta Dylan duduk di sampingnya. Kasih sayang wanita itu terlihat begitu jelas, bahkan Dylan yang notabenenya sulit untuk dekat dengan orang asing merasa nyaman di samping Rahayu. Untuk Surya, Ken, Brian, dan Silvia hanya sekadar. Biar bagaimanapun usia 13 tahun sudah cukup dewasa untuk bersikap. 


Sesungguhnya Dylan ingin berteriak kesal pada Ken. Seenaknya saja membatasi interaksinya dengan Bella. Mereka kenal sudah sangat lama, dari dalam buaian. Dan Ken, yang baru kenal beberapa bulan saja, apakah bisa seenaknya melarang?


Cemburu sih okay, but tidak begitu juga kali. Dylan kan manja sebagai seorang adik bukan kekasih. Dan okay jika mereka seusia, ya tentu saja dalam konteks ingatan. 


Huh! Dylan mendengus sebal ke arah Ken. Ken terkesiap, ia menatap balik Dylan. Dylan yang takut dengan tatapan galak Ken langsung bersembunyi di balik lengan Rahayu.


Sabar Ken, dia itu bocah! Bocah! Ken berucap sabar untuk dirinya sendiri.


Lain halnya dengan Surya, Rahayu, dan Silvia yang tersenyum geli. Sementara Bella, ia masih tenggelam dalam pertimbangan. Brian, fokus pada ponselnya. Tak lama kemudian, Surya menatap wajah yang ada di ruang keluarga satu persatu. 


"Brian." Brian langsung mengangkat pandangannya dari ponsel begitu suara barito Surya memanggil namanya, "ya, Pa," sahutnya singkat.


"Ken dan Abel sudah merencanakan bulan madu ke Bali. Papa sudah putuskan kalian berdua juga ikut bulan madu di sana," tutur Rahayu, nadanya tegas mengandung kelembutan, menatap anak dan menantu pertamanya.


"Bulan madu?" Brian dan Silvia menyahut kompak. 


"Benar. Jadi Brian kamu bisa atur jadwal kamu dari sekarang. Minggu depan kalian berangkat, tiga hari dua malam," jelas Surya lagi. 


Ken menggenggam jemari Bella. Senyumnya sungguh penuh arti. Bella melirik Ken, ia langsung merasa bergidik. 


"Jika itu keputusan Papa, baiklah kami akan pergi bulan madu tapi tidak ke Bali," putus Brian.


"Kami sudah pernah ke Bali, Pa. Berulang kali malah. Aku rasa cari tempat lain untuk suasana baru, bagaimana jika Kami berdua ke Raja Ampat?"lanjut Brian, menjawab tatapan bertanya Surya, Brian, dan Ken.


"Kami juga tidak ingin menganggu kebersamaan Ken dan Abel," tambah Brian, ia menatap Ken dan Bella bergantian.


"Benarkan, adik ipar?" Merasa namanya terpanggil, Bella tersadar dan menatap polos Brian.


"Apa yang benar?"


"Abel dari tadi kau melamun?"selidik Brian.


Bella meringis pelan, ia tersenyum canggung, "ya … maaf. Bisa katakan apa yang benar?"


"Begini loh Aru, Kak Brian dan Kak Via juga akan bulan madu tapi tidak ke Bali melainkan ke Raja Ampat. Mereka takut mengganggu kebersamaan kita jika bulan madunya di tempat yang sama. Bagaimana menurutmu?"jelas Ken. Bella kembali menatap Brian dan Silvia. Silvia tampak fine fine saja, ia tampak menurut apapun keputusan Brian.


"Al right. No problem, Kak Brian dan Kak Via bebas memilih tempat. Tidak ada aturan yang mengatakan kita harus satu tempat, bukan?"ucap Bella tersenyum.


"Ya itu benar," sahut Brian.


Senyumnya? Cukup aneh. Bella menetralkan wajahnya setelah tertegun sesaat melihat senyum tipis nan misteri Brian.


"Baiklah. Jika itu keputusan kalian, Papa juga tidak bisa melarang karena kalian sudah punya hidup masing-masing," ucap Surya. 


"Mama harap kalian segera dapat momongan. Brian, Via, jangan tunda lagi ya. Jika kalian tidak yakin bisa merawatnya dengan baik setelah lahir, kan ada Bunda," tutur Rahayu penuh harap.


"Baik, Bun." Brian menggenggam jemari Silvia, tersenyum teduh pada sang istri. Silvia membalasnya, ia bersandar pada bahu Brian.


"Via akan melakukan hal terbaik, Bun," ujar Silvia.


Kak Abel masih lebih cocok dengan Kak Deo. Andai saja Kak Deo belum menikah dan waktuku tidak terbuang percuma, pasti aku akan mewujudkan lakaran Papa dan Mama. Kak Deo menikah dengan Kak Abel, jadi kakak iparku. Dan Nesya … ya Nesya, bagaimana rupanya sekarang? Apa dia masih manja seperti dulu? Gadis cantik itu, apa besarnya juga cantik? Aku sangat penasaran.


"Kak Abel." Dylan yang hampir terlelap karena usapan lembut Rahayu pada rambutnya, kembali membuka mata dan menatap Bella lekat.


"Ya? Ada apa Dylan? Kau sudah mengantuk?" Bella berkata sembari melihat jam tangannya. Sudah pukul 21.00, dan biasanya Dylan tidur di bawah pukul 22.00. Dylan mengangguk dan mengucek matanya, terlihat begitu cute. Brian sedikit meliriknya, senyum setipis garis ia torehkan.


Dylan? Getaran apa ini? Silvia bertanya-tanya dalam hati. 


"Kalau begitu ayo Kakak antar ke kamarmu," ujar Bella.


"Emm … sebentar lagi. Ada yang ingin Dylan tanyakan, Nesya bagaimana kabarnya, Kak?"


"Nesya? Dia baik. Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?" Dylan mengangguk.


"Dylan ingin merayakan ulang tahun sama Nesya, sama seperti sebelumnya." Bella terdiam sesaat. Ulang tahun? Seketika Bella menepuk dahinya lupa.


"Baiklah, besok kita bertemu dengan Nesya."


Nesya? Aku penasaran dengan adik Abel itu. Abel ini memang menyembunyikan sesuatu tentang adiknya. Aku akan mencari tahunya. Ah Brian, bukanlah itu cukup terlambat? Ya tapi belum akhir, tidak masalah. Lakukan saja apa yang kau mau.


*


*


*


"Tidurlah yang nyenyak, jangan lupa baca doa," ucap Bella seraya menarik selimut menyelimuti Dylan.


"Aku ingat."


"Ya sudah. Jika ada apa-apa bisa panggil Pelayan atau langsung ke kamar kakak saja. Kamar kakak letaknya di sebelah kamar Dylan, ada tag name kok di pintunya," tutur Bella, mengusap rambut Dylan.


"Aku sudah melihatnya tadi."


"Baiklah. Kalau begitu kakak keluar. Good night, Dylan."


"Night too, Kak Abel. Mimpi indah ya," jawab Dylan. Ia mulai memejamkan matanya. 


"Sudah, ayo." Bella berdiri dan menggandeng lengan Ken. 


"Ayo? Kenapa nggak jalan?" 


Ken tidak menjawab. Wajahnya begitu datar lebih ke mode ngambek. Bella mengeryit tipis, matanya menyipit bingung apa yang Ken mau.


Ah …. Bella mendengus senyum.


Cup. Satu ciuman mendapat pada pipi Ken. Belum ada perubahan.


Cup. Satu ciuman lagi pada pipi satu lain. Hanya ada senyum tipis, itu pun singkat.


"Are you seriously? Ini kamar Dylan, loh." Ken malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Nih anak ngatain Dylan bocah tapi dia sendiri? 


Hah…. 


Okay. Cup. Bella mencium bibir Ken sekilas dan langsung melangkah keluar dengan cepat. 


Barulah senyum Ken terbit. Ia segera menyusul Bella setelah mematikan lampu kamar, harus hemat listrik.


*


*


*


Dylan terbangun saat waktu menunjukkan pukul 00.00. 


"Happy birthday for you, Dylan." Perasaan gelisah, takut, dan sedih berkecamuk dalam batin Dylan. Pemuda berwajah tirus itu tersenyum kecut. 


"Mama, Papa, Kak Deo sebenarnya kalian di mana? Bukankah kalian ingin memberiku surprise?"gumam Dylan dalam kegelapan kamar. Ia duduk meringkuk, menyembunyikan wajah di antara dua pahanya.


"Aku sangat merindukan kalian. Menunggu fajar tiba, rasanya begitu lama. Mengapa waktu kadang begitu cepat dan lama?" Dylan kembali mengangkat wajahnya. 


Hiks 


Hiks


Hiks


Tangis Dylan pun pecah. Ia terisak dalam kesendirian. Tak ada yang menemani lagi untuk tempat bersandar. Kak Abel. 


 


Hati dan pikiran Dylan langsung tertuju pada Bella. Ia lantas segera turun dari ranjang dan keluar kamar. 


Awalnya Dylan ragu untuk mengetuk pintu. Ia memilih untuk mengecek pintu di kunci atas tidak. 


Ceklek.


Tidak dikunci. Dylan memantapkan hati, melangkah dan mengunci pintu tanpa suara. Didekatinya ranjang Bella dan Ken. Dylan diam sesaat melihat sepasang insan yang tidur saling berpelukan. 


Tak berapa lama kemudian ia mulai merangkak naik ke atas ranjang dan tidur dengan merapatkan tubuhnya pada Bella, tanpa memeluk. Perasaan Dylan mulai tenang. Matanya juga kembali mengantuk.


*


*


*


KYYAAAIII!!!


"DYLAN! BAGAIMANA BISA KAU TIDUR DI SINI?" Teriakan Ken menggelar, menggema di dalam kamar. Ken memang bangun lebih awal karena ada panggilan alam. Namun saat membuka mata ia menemukan sosok lain di tempat tidurnya dan Bella, malah memeluk Bella lagi. Siapa yang tidak kaget dan marah?


"Ehem? Apa katamu tadi?" Ken yang terganggu membuka matanya malas.


"Lihat apa yang dilakukan adik angkatmu itu! Beraninya dia menyusup dan tidur seranjang dengan kita! Apa dia sudah bosan hidup?!"sungut Ken begitu kesal nan marah.


"Dylan?" Bella meraba perutnya, ada tangan lain yang melingkar di sana.


"Astagfirullah!" Cepat-cepat Bella melepaskan diri dari Dylan. Bella sendiri juga terkejut. Wajah sudah masam. Dan Bella mengingat kembali kebiasaan Dylan.


"Jangan marah dulu. Dengarkan penjelasanku," ucap Bella. Ia turun dari ranjang dan menyalakan lampu kamar. Waktu menunjukkan pukul 04.00.


"Hmhp!" Ken ikut turun, membiarkan Dylan yang masih begitu nyenyak tidur.


"Apa itu kebiasaannya?" Mereka pindah ke sofa. Ken tidur dengan paha Bella sebagai bantal.


"Iya. Ku rasa tadi ia memaksakan diri untuk berani. Biasanya Dylan tidur sekamar dengan kakaknya, hanya beda ranjang. Dan Ken ku mohon jangan marah, hari ini adalah hari ulang tahun Dylan, juga Nesya."


"Hah? Benarkah? Mereka lahir di waktu  yang


sama?"


"Hem. Hanya lebih dulu Nesya yang lahir."


"Wow. Itu luar biasa!"


"Makanya ulang tahun mereka selalu dirayakan bersamaan. Dan nanti saat jam makan siang aku berencana membawa Dylan ke makam keluarganya lalu ke lapas mengunjungi Nesya. Aku belum bisa mengajakmu. Maaf harus membuatmu mengurus jadwalku lagi setelah jam makan siang."


"Ya aku mengerti." Walau ada rasa kecewa di hari karena tidak bisa ikut, Ken tetap tersenyum. Ia sebenarnya juga prihatin dengan Dylan.


"Lagipula sudah tugasku sebagai sekretarimu, Aru."