
"Kakak…." Nesya tidak bisa menahan air matanya membaca pesan itu.
Ia memanggil parau. Begitu juga dengan Dylan yang tidak bisa menahan air matanya. "Aku percaya. Aku akan selalu percaya dengan kakak," jawab Dylan.
"Kakak, aku berjanji. Dan aku juga percaya. Kita akan segera bertemu." Nesya memeluk ponsel Dylan, seakan ia tengah memeluk Bella.
*
*
*
Dua Minggu kemudian, kondisi Nesya pulih dengan pesat. Selain karena dirinya, juga dipengaruhi oleh pesan Bella dan dukungan orang di sekitarnya.
Dan ini hari Minggu, keluarga datang untuk menjenguknya secara berbarengan. Selama dua Minggu itu, Dylan lah yang menemani Nesya di rumah sakit.
"Jadi, kapan kau bisa keluar dari rumah sakit, Nesya?"tanya Brian penasaran.
"Kata dokter dua hari aku sudah bisa keluar rumah sakit, Kak," jawab Nesya. Ia senang dengan itu. Selain itu, Nesya benar-benar akan pulang ke rumah. Bukan kembali ke penjara karena masa hukumannya sudah selesai.
"Baguslah," sahut Brian, tersenyum tipis.
"Syukurlah. Mama akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar untukmu," timpal Rahayu.
"Terima kasih, Ma."
"Kita keluarga. Sudah seharusnya Mama lakukan," balas Rahayu.
"Jika kau sudah keluar dari rumah sakit, selanjutnya adalah pernikahan kalian, bukan?" Ken mengingatkan janji keduanya. Dylan akan menikah dengan Nesya setelah Nesya menjalani operasi dan bebas dari penjara.
"Itu …." Nesya melirik Dylan.
"Tentu saja kami akan menikah!"jawab Dylan tegas.
"Apa kalian sudah merencanakan kapan?"tanya Silvia.
"Itu setelah Kak Abel kembali," jawab Dylan yang diangguki oleh Nesya. Ya, tentu saja mereka akan menikah setelah Bella kembali. Keduanya ingin meminta restu secara langsung lagi, meskipun restu Bella sudah keduanya kantongi.
"Baiklah. Kita bahas setelah Abel kembali saja," tukas Surya. "Tapi, meskipun begitu, kalian harus mulai mempersiapkannya. Jadi, tidak akan menunggu begitu lama setelah Abel kembali nanti," tambah Surya.
"Itu benar. Atau jika kalian mau, bisa dibarengkan dengan pernikahan El dan Anjani," timpal Brian.
El memang sudah membahas rencananya menikah dengan keluarganya. Itu sekitar di bulan Maret akhir. Dan keluarganya mendukungnya. Andai saja El tidak ada pekerjaan, niscaya ia sudah menikah dengan Anjani.
"Tidak!" Dylan menolaknya.
"Kenapa?"tanya Brian.
"Pernikahan itu sekali seumur hidup. Itu hari terpenting dalam hidup. Di mana, pengantin bisa menjadi raja dan ratu dalam satu hari. Jika dalam satu acara ada dua pasang pengantin, ibarat ada dua raja dan dua ratu dalam satu kerajaan. Aku tidak ingin berbagi. Aku ingin hanya aku dan Nesya yang menjadi raja dan ratunya," ujar Dylan, memberitahu alasannya.
Mengerjap. Mereka terkesiap dengan alasan Dylan. Tidak salah. Namun, ia benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk Nesya.
"Jika Kak El mendengar ini, dia pasti akan mencak-mencak kesal," kekeh Ken. Ya, dengan watak El, itu memungkinkan.
"Baiklah. Kalau begitu diadakan setelah pernikahan El, bagaimana? Menikah menurut urutan umur?"
"Aku setuju," timpal Ken. Ia setuju dengan ide Surya.
"Itu lebih baik," jawab Nesya yang diangguki oleh Dylan.
Sudah ditentukan. Mereka menikah setelah Bella kembali dan setelah El dan Anjani menikah.
Ken merogoh saku celakannya saat merasakan ponselnya bergetar.
Itu sebuah panggilan dari Azzura. Segera Ken menjawabnya.
*
*
*
Desya telah selesai berpakaian rapi nan formal seperti biasanya. "Tuan, orangnya sudah datang." Irene masuk dan menyampaikan hal itu.
Desya mengangguk kecil, "bawa dia ke aula. Aku akan menemuinya lebih dulu," ujar Desya kemudian yang diangguki oleh Irene.
Desya kemudian melangkah meninggalkan kamarnya. Ini hari yang penting baginya.
Tok.
Tok.
Ia mengetuk pintu sebuah kamar.
"Ya?" Sahutan dari dalam. Itu suara Bella dan ini adalah kamar Bella.
"Ini aku," ucap Desya.
"Masuklah!"sahut Bella kemudian. Desya membuka pintu kamar Bella.
Ia menemukan Bella tengah bekerja di depan laptop dengan Liev yang bermain di lantai yang berbalut permadani. Bella memberikan Liev puzzle sebagai mainan. Juga ada beberapa mainan bongkar pasang. Menurut Bella, itu mampu untuk merangsang dan melatih motorik Liev. Beruntung, Liev nyaman dan menyukai permainan itu.
"Tumben kau mengetuk pintu," cibir Bella setelah Desya duduk. Biasanya kan Desya langsung masuk.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu," ucap Desya, wajahnya begitu serius yang membuat Bella tidak bisa mengabaikannnya.
"Apa itu?"tanya Bella.
"Hari ini aku akan memeluk keyakinan," ucap Desya. Bella sedikit terpana. Ia cukup terkejut dengan itu. Tidak menduga bahwa Desya benar-benar serius.
"Ah begitu ya? Selamat dan semangat untukmu."
Desya mengangguk. "Kita akan satu keyakinan."
"Itu hakmu," jawab Bella.
"Apa kau tidak akan berubah pikiran? Tidak bisakah kau menerimaku?"tanya Desya, masih ada harapan.
Bella menatap Desya serius. Ia kemudian menggeleng pelan. "Jawabanku tetap sama. Maaf, Desya."
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa," sahut Desya.
"Seperti kataku kemarin aku tidak belajar agama karenamu lagi. Jadi, aku memeluk keyakinan Islam juga bukan serta merta karenamu," ujar Desya. Bella mengangguk pelan.
"Aku harap itu benar benar karena keinginanmu," timpal Bella.
"Aku harap kau konsisten dengan keputusanmu!"tegas Bella.
Bella mengangguk kecil. "Baiklah."
"Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa? Tanyakan saja sebelum kau menyesal." Desya akan segera memeluk agama. Memang sebaiknya semua di clear-kan lebih dulu untuk mencegah timbulnya masalah kedepannya.
"Bagaimana jika aku memaksa? Bagaimana jika aku menikahimu secara paksa? Itu bukan hal mustahil bagiku. Aku bisa menggunakan kekerasan!"
Bella terhenyak dengan pertanyaan Desya.
Ya, selama ini Desya memang tidak menggunakan kekerasan. Desya berusaha menahannya. Oleh karenanya Bella merasa nyaman.
"Maka aku akan sangat membencimu!"jawab Bella dengan penuh tekanan.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku cukup dengan kau tidak membenciku meskipun aku melakukan hal yang paling kau benci. Memisahkanmu dengan keluargamu."
"Maka dari itu, mari buat kesepakatan!"
"Kesepakatan?" Bella mengangguk. "Aku akan meninggalkan istana ini apabila keluargaku menemukan diriku."
Ini kesempatan. Mumpung Desya mudah diajak bicara. Desya, sejenak ia menatap Bella dalam. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Ingatannya kembali.
Bella, sejenakpun tidak menghilangkan keinginannya untuk pulang. Meskipun Desya memberinya posisi dan kenyamanan, Bella tidak bisa melupakan rumahnya. Juga suaminya. Dan keluarganya. Ia memang bekerja di sini. Jauh dari keluarga. Akan tetapi, hatinya selalu berada di sana.
Desya tertawa. Sia-sia ia berjuang karena yang diperjuangkan sudah memiliki tambatan hati.
Desya kau kalah!
Tapi, setidaknya Desya cukup senang mendengar kata teman. Itu lebih baik daripada musuh. "Bagaimana?"tanya Bella, ingin tahu jawaban Desya.
"Baiklah. Aku setuju! Jika mereka bisa menemukanmu, aku tidak akan menghalangi langkahmu!"jawab Desya.
"Deal!" Keduanya berjabat tangan.
Sedikit sedih. Namun, ia kalah dengan keteguhan hati Bella. Ia tidak goyah meskipun dihadapkan pada dirinya yang terkenal kejam ini.
"Apa kau tidak mau melihatku memeluk agama Islam?"tanya Desya, menawarkan pada Bella.
Ini hari yang penting. Bella tersenyum, "baiklah."
Bella kemudian menutup laptopnya. Ia berdiri untuk bersiap. "Ayo, Liev," ajak Desya sembari mengulurkan kedua tangannya.
Liev meninggalkan mainannya dan menghampiri sang ayah.
Setelah Bella selesai bersiap, mereka bertiga meninggalkan kamar Bella.
Di aula, sudah ada banyak anggota yang berkumpul. Mereka akan menyaksikan Tuan mereka memeluk agama.
Di sana juga ada anggota keluarga Volcov yakni Dimitri dan Aleandra dan juga Evalia.
Desya disambut pelukan oleh Dimitri dan Aleandra. "Kau benar-benar yakin?"tanya Dimitri.
"Aku yakin, Ayah!"jawab Desya tanpa ragu.
"Baiklah. Ayah. Berharap yang terbaik untukmu."
"Ibu juga."
"Tuan," panggil Evalia.
"Ya?"sahut Desya.
"Saya juga akan memeluk keyakinan Islam, Tuan."
Itu mengejutkan!
"Apa katamu?"tanya Desya, merasa pendengarannya salah.
"Saya juga akan memeluk keyakinan yang sama dengan Tuan!"tegas Evalia.
"Kau bersungguh-sungguh?"tanya Dimitri.
"Saya membaca bahwa suami dan istri harus satu keyakinan. Selain itu, saya juga mempelajari agama Islam. Saya yakin dan mantap dengan itu!"jawab Evalia dengan penuh keyakinan.
"Baiklah. Kalau begitu ayo," jawab Desya.
Dan kini Desya duduk di hadapan pemuka agama yang memang dijemput langsung oleh Irene atas perintah Desya. Cara penjemputan pun ya menggunakan cara mafia. Datang tanpa memberitahu ataupun undangan dan harus ikut, lebih tepatnya seperti diculik.
Namun, pemuka agama yang sepertinya sudah senior itu tanpa tenang. Raut wajahnya tidak menunjukkan rasa takut. Bahkan saat Irene memberitahu maksudnya, Pemuka agama itu malah bersujud senang.
Mafia masuk Islam, itu keajaiban!
"Tuan Desya Volcov apakah Anda serius ingin masuk Islam?"tanya Pemuka agama itu dengan serius.
Desya mengangguk. Ini adalah detik-detik Desya masuk Islam. "Kalau begitu silahkan ikuti ucapan saya," ucap pemuka agama itu. Desya mengangguk.
Pemuka agama itu kemudian membimbing Desya untuk mengucap kalimat dua kalimat syahadat. Desya terbata, mengulangnya hingga beberapa kali.
Hingga pada akhirnya, ia lancar mengucapkan kalimat itu. "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan!" Desya mengucapkannya dengan lancar.
"Alhamdulillah." Pemuka agama itu kemudian membacakan doa.
"Aaminn."
Selanjutnya adalah giliran Evalia. Sama seperti Desya tadi, Evalia pun terbata untuk awalnya hingga akhirnya ia lancar dan disambut dengan ucapan Alhamdulillah. Dilanjut dengan doa.
Bella bertepuk tangan saat pemuka agama itu mengumumkan bahwa Desya dan Evalia sudah memeluk agama Islam.
Desya dan Evalia, keduanya menitikkan air mata. Entahlah. Perasaan senang dan luar biasa menyeruak masuk ke dalam hati. Mereka melakukan itu tanpa paksaan siapapun.
Bahkan Dimitri dan Aleandra sendiri juga menitikkan air mata dan berpelukan. Mereka menyaksikan secara langsung Desya, anak tunggal mereka akhirnya memeluk agama.
Setelah itu, Pemuka agama itu menyampaikan beberapa pesan. Di antaranya adalah "Seorang muslim yang baik tidak hanya mengucapkan sekali syahadat karena setiap kita melakukan ibadah shalat, kita akan selalu mengucap kalimat syahadat itu. Tuan Desya dan Nyonya Evalia, saya berharap dengan dengan izin Allah SWT, Tuan dan Nyonya akan menjadi mualaf dan muslim yang baik. Rukun Islam ada lima, satu telah Anda berdua lalui hari ini dan sepanjang hidup kelak. Kemudian yang kedua adalah shalat yang merupakan ibadah wajib. Kemudian puasa ramadhan, itu ada hadir sebentar lagi. Lalu membayar zakat dan menunaikan haji."
Pemuka agama itu menjelaskan tentang rukun iman dan juga rukun Islam yang menjadi dasarnya.
Namun, di saat mereka tengah serius mendengar itu, tiba-tiba Irene masuk dengan membuka pintu kamar. "Tuan, Nona, Dia datang!"ucap Irene dengan nafas tersenggal.
"Dia? Siapa?"
"Tuan Muda Ketiga keluarga Mahendra!"
"Apa?" Suara Bella mengalahkan suara Desya.
Apakah itu Ken?