
Citt.
Motor Bella berhenti di depan sebuah rumah sakit, Rumah Sakit Jiwa Bahagia. Bella diam cukup lama di atas motornya, menatap rumit bangunan rumah sakit satu lantai itu. Tatapan matanya campur aduk.
Apakah dia masih mengenalku? batin Bella, kini mulai bimbang.
Tapi aku ingin melihatnya.
Dengan perlahan Bella turun dari motor, merapikan penampilan sejenak kemudian mulai melangkah masuk. Bella menuju meja resepsionis.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?"tanya resepsionis ramah.
"Saya ingin bertemu dengan direktur rumah sakit ini, Pak Andre," jawab Bella.
"Sudah ada janji?" Bella menggeleng. "Tapi katakan saja bahwa Bella Arunika Chandra ingin bertemu dengan beliau," lanjut Bella.
"Baiklah."
Resepsionis itu langsung menelepon orang yang ingin Bella temui. Setelah beberapa saat, resepsionis itu telah menerima jawaban dan mempersilahkan Bella menuju ruangan direktur. Tanpa kesulitan, Bella kini berada di depan ruangan direktur. Rumah sakit dalam keadaan lenggang karena waktunya makan siang dan minum obat. Bella menghela nafas pelan sebelum mengetuk pintu.
"Masuk!" Suara tegas menyahut, Bella memutar gagang pintu dan masuk dengan langkah tegas.
"Nona Nabilla, selamat datang di rumah sakit ini." Seorang pria berusia setengah abad menyambut Bella dengan senyum lebar. Kedua tangan bertumpu pada meja, matanya menatap Bella, terlihat ada kelegaan di sana.
"Terima kasih."
"Silakan duduk," ucapnya mempersilahkan Bella duduk. Bella mengangguk. Pria bernama Andre itu kemudian berdiri dan terlihat sedang menyeduh teh.
Bella tidak heran. Ia duduk seraya mengedarkan pandang. Pajangan foto direktur dari masa ke masa terpajang jelas di belakang di sebuah lemari. Barang antik seperti mesin pengetik dan piringan lagu tertata rapi di meja sebelah lemari foto. Di belakang kursi direktur, bendera merah putih, bingkai Pancasila, foto presiden dan wakilnya yang menjawab periode ini tertata apik sesuai dengan tingkatannya.
"Silakan diminum, Nona," ujar Pak Andre. Bella menatap teh tersebut, teh hijau herbal.
"Bagaimana kondisinya?"tanya Bella, sendu.
"Kondisinya stabil, hanya kumat pada saat-saat tertentu saja. Apakah Anda ingin menemuinya? Sejak Anda meninggalkan tanah air, belum pernah sekalipun Anda berkunjung lagi ataupun berbicara dengannya," tanya Pak Andre serius, menyesap teh miliknya.
"Ya mungkin …." Bella meletakan cangkir yang telah kosong.
"Mau tambah lagi?"tawar Pak Andre. Bella menggeleng.
"Apakah ada yang penting yang ia katakan?"
"Tidak ada. Semua tak jauh-jauh dari peristiwa yang membuatnya masuk ke rumah sakit ini. Kadang kala ia tertawa bebas, kadang juga menangis histeris dalam waktu yang lama. Kadang ia mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri." Bella tersenyum miris.
"Apa dia sudah punya teman di sini?" Pak Andre menggeleng pelan, menghela nafas berat.
"Kebanyakan takut berteman dengannya. Bahkan saat berpapasan saja banyak yang langsung gemetar. Sedangkan yang lain memilih untuk menghindarinya."
Bella terkekeh, "orang sakit jiwapun kenal rasa takut."
"Haha rasa takut itu adalah sesuatu yang pasti dimiliki oleh setiap makhluk, tak peduli apakah ia sehat atau sakit," sahut Pak Andre tertawa.
"Ya Anda benar."
"Ngomong-ngomong Nona, saya masih penasaran dengan alasan Anda yang menjadi walinya. Dari informasi yang saya terima, Anda bukanlah keluarga kandungnya. Mengapa Anda repot-repot membayar biaya perawatannya juga menanyakan kondisinya dari waktu ke waktu?"tanya Pak Anton serius juga penasaran. Bella memberikan tatapan tajamnya.
"Saya terlalu segan menanyakan hal tersebut lewat telepon," ujar Pak Anton dengan mimik takut.
"Hm, karena sebuah hutang. Aku dan keluargaku berhutang budi pada keluarganya."
Wajah Bella menjadi sendu, tatapan tajamnya berubah menjadi sebuah kesedihan. "Hutang budi?" Alis Pak Andre menyatu.
"Ya. Sebuah peristiwa yang mengubah kehidupan keluarga bahagia. Saya tidak ingin mengingat hal itu, karena mengingat sesuatu yang buruk tidak akan mengubah apapun."
Pak Andre mengangguk mengerti. "Karena Anda tidak ingin mengingat hal tersebut, saya juga tidak bisa meminta Anda menceritakan lebih lanjut."
"Aku ingin bertemu dengannya," ucap Bella, serius.
"Baik. Mari saya antar." Pak Andre berdiri diikuti oleh Bella keluar dari ruangan direktur.
"Ya beginilah keseharian di sini. Para perawat harus pandai membawa diri merawat pasien. Pasien sakit jiwa berbeda dengan sakit medis. Di sini lebih ditekankan pada perasaan dan interaksi. Karena kami mengobati batin dan jiwa mereka."
Bella tersenyum tipis mendengar hal itu. Matanya menangkap banyak interaksi yang terlihat menyenangkan di antara perawat dan pasien.
"Isteriku!"
"Ah ini?" Pak Andre menyentuh tengkuknya, canggung dengan Bella.
"Astaga! Pak Beni!"seru perawat yang menemani pria yang memeluk Bella ini.
"Isteriku jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik. Ya jangan pergi ya," tangis Pria itu di bahu Bella.
"Istri?"tanya Bella dengan bahasa bibir.
"Err begini Nona Nabilla. Saya yakin Anda tak asing dengan novel yang berbau pernikahan kontrak, pasangan pengganti, dan semacamnya."
"Lantas?"
"Pak Beni ini menderita gangguan jiwa setelah istrinya meninggal. Semua terjadi karena mereka menikah paksa dan menciptakan sebuah kekerasan dalam rumah tangga," lanjut Pak Beni.
"Oh, aku paham."
Sering membaca novel di platform online, membuat Bella paham dengan apa yang terjadi pada pria ini.
"Pak Beni, Anda salah orang. Nona ini bukan isteri Anda. Ayo kita kembali," ajak perawat, memegang lengan Pak Beni. Sayangnya tangan itu ditepis dan ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Tunggulah sebentar," ujar Bella yang melihat perawat itu hendak menarik paksa Pak Beni. Perawat meminta pendapat Pak Andre. Pak Andre mengangguk menyetujui.
"Risa jangan pergi, ku mohon. Tetaplah bersama denganku. Aku janji akan melakukan semua yang kau inginkan. Rumah tangga bahagia. Banyak anak dan menutup mata dikelilingi anak dan cucu. Ku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku menyesal. Aku sangat mencintaimu. Jangan pergi, Resa. Berikan aku kesempatan lagi." Tangis pria itu semakin menjadi. Bella merasakan bahunya basah dengan air mata.
"Aku tidak akan memukulmu. Tidak akan selingkuh lagi. Tidak akan menghinamu lagi. Aku akan jadi suami yang baik. Risa aku mohon."
Bella yang kini memejamkan mata, kemudian membuka matanya dan mendorong Pak Beni.
"Risa?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Pak Beni. Pak Andre dan perawat itu tertegun. Pak Beni menunduk dengan wajah linglung.
"Apa yang terjadi padamu adalah karma atas perbuatanmu sendiri. Silahkan nikmati hidup dalam penyesalan!"ucap Bella dingin, melangkah pergi dengan sorot mata dingin.
"Ah Nona Nabilla, tunggu! Kau bawa dia kembali!" Pak Andre mengejar langkah Bella.
"Pak Beni ayo kita kembali. Anda tidak perlu memikirkan hal macam-macam, cukup fokus pada kesehatan Anda," tutur Perawat seraya menarik Pak Beni pergi. Pak Beni melangkah dengan tatapan kosong.
*
*
*
"Nona mengapa Anda menamparnya tadi?"tanya Pak Andre penasaran.
"Untuk pria pengecut, tidak perlu alasan untuk menamparnya," jawab Bella datar.
"Ya itu benar. Kasihan sekali. Pengusaha muda yang digadang-gadang akan sukses besar kini berada di sini. Sungguh realita tak semanis novel romantis."
Bella tersenyum tipis.
"Apa ini kamarnya?"tanya Bella berhenti di depan senang pintu bernomor 25.
"Benar. Anda ingin masuk?" Bella diam sejenak.
"Aku belum ingin bertemu dengannya." Pak Andre mengeryit. Bella mengintip dari jendela kecil yang memang tersedia pada pintu. Terlihat seseorang tidur membelakangi pintu. Seorang pria, terlihat masih muda.
"Nona?"
"Sudah saatnya saya pergi. Anda jagalah ia dengan baik. Saat saya sudah siap nanti, saya pasti akan menemuinya. Ah ya pembayaran bulan ini sudah saya transfer. Selamat sore, Pak Andre."
Bella langsung melangkah pergi dengan sorot mata menyembunyikan kesedihan. Pak Andre tersenyum miring.
"Sampai kapan Anda akan siap, Nona?"
Pak Andre kemudian melihat penghuni kamar 25 itu.
"Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Kapan kau akan sembuh, Dylan?"gumamnya seraya menerawang jauh ke depan.