
Walau sudah sadar, kondisi Nesya masih sangat lemah. Kondisinya kini dipantau ketat. Yang diizinkan masuk ke ruang rawat menjenguk pun hanyalah satu orang. Dokter mengatakan Nesya tidak boleh merasa stres, berpikiran berat, harus istirahat total.
"Aru mengapa kau tidak masuk? Dokter tadi mengatakan Nesya ingin bertemu denganmu," tanya Ken. Mereka kini duduk di depan ruang rawat. Ekspresi Bella sepertinya melenceng dari ekspektasinya. Tadinya saat mendengar Nesya sadar, Bella sungguh senang. Wajahnya berseri. Ia sangat bersemangat untuk bertemu Nesya. Namun, saat tangannya menyentuh handle pintu, ekspresi Bella berubah. Ia seperti tengah bingung. Bella melepas handle pintu dan beralih duduk di bangku tunggu. Membiarkan dokter masuk tanpa bertanya sepatah katapun. Bella malah melamun, tatapannya kosong. Tubuhnya terlihat lemas.
"Aru … ada apa denganmu?" Ken tidak mengerti lagi dengan sikap yang Bella tunjukkan. Bella menggeleng lemah menjawab pertanyaan mengartikan ia baik-baik saja.
Apa mungkin ada kaitannya dengan apa yang disampaikan Pria itu?
Ken memeluk Bella tanpa bertanya atau berkata apapun sebelum dokter keluar dari ruang rawat Nesya.
*
*
*
"Aku akan melihatnya," ucap Bella. Nadanya lemah, berdiri dengan kepala yang tertunduk. Ken melihat langkah Bella tidak setegas dan setegar biasanya. Langkahnya pelan, menyimpan kegundahan yang begitu besar. Ken menghela nafas kasar. Pagi yang harusnya penuh kelegaan karena Nesya sudah sadar menjadi sebuah ganjalan di hati Ken maupun Bella.
"Kakak …." Nesya begitu senang melihat Bella.
"Bagaimana perasaaanmu?"tanya Bella lembut, wajahnya penuh kasih sayang. Semua kegundahan ia sembunyikan di balik senyumnya. Tangannya menggenggam lembut jemari Nesya kemudian mencium dahi adiknya itu.
"Aku merasa sedih …," jawab Nesya.
"Sedih? Bukankah kemarin lalu kau ingin dia pergi?"tanya Bella, melayangkan cibiran yang dibalas senyum kecut Nesya.
"Allah lebih menyayanginya. Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk bayiku," ujar Nesya. Nadanya masih lemah. Wajahnya menunjukkan keikhlasan dengan apa yang terjadi padanya. Janinnya hadir karena kesalahan, dan pergi karena takdir sangat menyayangi dirinya.
"Kau senang?"
"Ada rasa lega di hatiku. Segala ketakutan akan nanti bagaimana kehidupannya, semua telah sirna. Anugerah itu, walaupun sebentar bersama denganku, Kakak rasanya sangat luar biasa dan itu akan jadi kenangan indah dalam hidupku."
Bella juga merasakan hal yang sama. Merasa bagus juga kalau janin yang hadir di luar ikatan tali suci pernikahan telah berpulang sebelum ia mengecap pahit kehidupan. Dan baik atau Nesya menepati ucapan mereka, jika janin itu gugur maka ia gugur karena takdirnya bukan perbuatan Nesya ataupun Bella.
"Sekarang fokuslah pada pemulihanmu. Jika kondisimu sudah stabil, bisa segera melakukan transplantasi sum-sum tulang," ujar Bella, kembali mengecup dahi Nesya. Nesya memejamkan matanya sesaat dan mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah. Kakak harus berangkat kerja. Nanti malam Kakak akan menemanimu lagi," lanjut Bella.
"Hm."
"Kakak pergi, Assalamualaikum," pamit Bella.
"Waalaikumsalam," jawab Nesya.
"Kakak …." Bella berbalik mendengar panggilan lemah itu.
"Ada apa?"
"Kau berhutang penjelasan padaku. Tentang pernikahanmu dan pria angkuh tadi," ucap Nesya. Bella tertegun sesaat. Tak lama ia tersenyum, "baiklah. Akan aku jelaskan nanti malam."
"Hem."
"Ingatanmu masih sangat kuat, ya," puji Bella yang disambut tawa pelan Nesya.
*
*
*
"Ada masalah apa lagi?"tanya Ken lembut pada Bella yang hanya memainkan sendoknya dengan wajah murung. Jam makan siang mereka begitu singkat, hanya sekitar 15 menit kemudian dilanjut dengan meeting lagi. Makanan Ken sudah habis separuh sedang Bella belum menyentuh sedikitpun. Dalam perjalanan dari rumah sakit tadi, Bella diam tanpa mengucap sepatah katapun. Setiba di perusahaan, sikapnya langsung berubah seperti biasa. Pekerjaannya tidak terganggu bahkan Bella lebih menunjukkan sikap menenggelamkan diri dalam kesibukan. Dan waktu singkat makan siang, Bella malah melamun bukannya mengisi energinya. Ken merasa masalah yang Bella hadapi sekarang sangat besar lebih dari sebelumya sampai tak selera makan. Sepertinya makanan tak selalu berhasil mengembalikan mood Bella.
Ken mengambil alih piring Bella. Bella yang tersentak menatap bingung Ken yang sibuk menyatukan nasi dan lauk di dalam sendok lalu menyodorkan padanya.
"Ayo makan."
"Aku tidak lapar," jawab Bella, ia kembali memainkan sendok yang masih berada di tangannya.
"Sejak sarapan kau belum makan apa-apa lagi selain minum. Aru dengarkan aku, kau boleh gundah, gelisah, atau apapun itu tapi jangan bahaya dirimu sendiri. Jangan sakiti dirimu sendiri. Kau tidak sendiri, ada aku. Ada Nesya, Mama, Papa, keluarga Kalendra, Anjani, Dylan, Arka, bagaimana jika mereka tahu kau seperti ini? Dan ingat obrolan kita kemarin sore. Saling terbuka, kita akan menemukan jalannya bersama-sama. Masalahnya adalah masalahku juga," ucap Ken membujuk Bella.
Ahh
Bella mendesah kasar. Benar juga, sekarang ia sudah kembali dan punya keluarga.
"Tapi, jika aku sudah tidak sanggup makan, jangan dipaksa lagi, ya?"pinta Bella sebelum melahap suapan Ken.
"Asal jumlahnya memenuhi, tidak masalah." Bella mendengus pelan.
Sungguh aku merasa bingung bagaimana cara menghadapi Nesya jika yang dikatakan Gibran itu benar. Aku akan merasa sangat-sangat gagal dan mencoreng nama baik keluarga Chandra jika itu adalah alasan Nesya melakukan hal yang melanggar hukum dan moral.
Nesya … apa kau akan jujur padaku jika aku bertanya tentang alasannya?
Sungguh apakah karena untuk kepuasan pribadi atau alasan lain?
Rasanya memang masih sulit dipercaya ucapan tetangga namun, bagaimana dengan Bik Susi? Apa dia berbohong atau salah paham?
"Hei jangan melamun lagi. Ayo cepat, sebentar lagi waktu meeting," tegur Ken yang melihat Bella kembali melamun.
*
*
*
Demi kenyamanan pasien dan kenyamanan orang yang menjenguk, Nesya dipindahkan ke ruang VVIP yang lebih luas dengan pelayanan dan fasilitas yang lebih dari ruangan di bawahnya. Kamar yang Nesya tempati kini adalah ruang rawat Ken dulu. Kondisi Nesya setelah sadar menunjukkan kenaikan. Alat-alat ditubuhnya pun tidak sebanyak waktu masih koma.
Sayup, Nesya mendengar suara azan magrib. Dokter Rey masih membacakan novel menemani Nesya sebelum Bella datang. Nesya merasa senang ditemani oleh Rey. Walau sebenarnya merasa tidak enak. Tapi, setidaknya ia tidak kesepian. Sejujurnya ingin rasanya ia meminta dokter Rey menghubungi Bella, memintanya untuk membawa Dylan ke rumah sakit.
Namun, mengingat Bella sedang dalam jam kerja, Nesya mengurungkan niatnya. Ia berusaha menetralisir perasaannya untuk dokter Rey. Tak bisa dipungkiri bahwa ia masih menyimpan rasa untuk dokter tampan namun berbeda keyakinan itu. Hatinya sudah berkomitmen untuk Dylan, ia sudah berjanji untuk menikah dengan Dylan setelah bebas nanti. Nesya sangat menantikan waktu itu terjadi.
"Dokter Rey," panggil Nesya.
"Ada apa? Apa kau merasa tidak nyaman? Katakan padaku," sahut cemas Dokter Rey. Nesya menggeleng.
"Aku mau shalat," jawab Nesya.
"Shalat?" Dokter Rey melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ah baiklah. Aku akan keluar dulu." Dokter Rey meletakkan novel di atas nakas kemudian berdiri.
"Inilah perbedaan terbesar kita," gumam Nesya yang melihat punggung Dokter Rey menjauh dan hilang di balik pintu.
Sedang di luar, Dokter Rey berdiri bersandar pada pintu. Ia memegang dadanya. Matanya terpejam tak lama ia menghela nafas pelan.
Sorot matanya mengandung kesedihan. "Mengapa perbedaan kita terlalu jauh?"
"Padahal kakakmu sudah memperingatiku untuk tidak memiliki dan menghapus rasa untukmu. Tapi, sungguh aku tidak bisa menghentikannya."
Jelas-jelas sudah tahu perbedaan begitu besar. Agaknya kisah cinta Nesya nanti akan lebih rumit dari kakaknya.
*
*
*
Sekitar pukul 20.30, Bella dan Ken tiba di rumah sakit. Pakaian mereka belum berganti, masih pakaian tadi pagi. Wajah keduanya terlihat letih.
"Assalamualaikum," ucap Ken dan Bella bersamaan saat masuk ke ruang rawat Nesya. Terlihat Nesya tengah makan disuapi oleh Dokter Rey.
"Waalaikumsalam, Kakak!"
"Malam Nona Bella, Tuan Muda Ken," sapa Dokter Rey. Ia beranjak dan membereskan mangkuk makan Nesya yang sudah habis. ***** makan Nesya sangat baik.
"Malam, Dokter Rey," sahut Bella, meletakkan ranselnya di atas sofa. Sedang Ken mengangguk pelan. Ia beradu pandang dengan Nesya yang menatapnya penuh selidik. Sama seperti tatapan tadi pagi. Ken tersenyum canggung.
"Dokter Rey terima kasih telah menemani Nesya," ujar Bella. Ia tulus mengatakan. Ia meminta Dokter Rey untuk menemani Nesya karena hanya Dokter Rey yang ia percaya untuk itu.
"Saya sangat senang bisa menemani Nesya, Nona Bella," jawab Dokter Rey sungguh-sungguh.
"Maaf sudah merepotkan Anda. Besok sudah ada perawat yang akan menemani dan menjaga Nesya." Dokter Rey menangkap arti bahwa besok ia tidak perlu lagi menemani Nesya. Dokter Rey mengangguk paham walau hatinya kecewa.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Rey. Ia melangkah keluar setelah tersenyum pada Nesya.
Aku tak ingin kalian merasakan sakit cinta tidak direstui, batin Bella.
"Sudah merasa lebih baik?"tanya Bella, duduk di kursi samping ranjang dan mengusap lembut pipi Ken.
"Ya."
"Mau kakak jelaskan sekarang?"tanya Bella karena tatapan Nesya tetap tertuju pada Ken yang kini salah tingkah. Tatapan Nesya seperti tengah menguliti dirinya.
"Kakak bukankah dia ini punya kekasih yang sedang sakit juga? Apa kekasihnya itu sudah tiada? Sudah berapa lama kalian menikah?"tanya Nesya beruntun.
"Baik-baik. Maafkan Kakak karena menyembunyikannya dariku." Bella memulainya dengan meminta maaf.
"Tergantung penjelasan Kakak!"jawab Nesya.
"Biar aku saja yang menjelaskannya," sela Ken sebelum Bella mulai menjelaskan semuanya.
"Terserah!"jawab Nesya. Ia hanya ingin mendengar penjelasan yang masuk akal, tak peduli Bella atau Ken yang menjelaskannya.
"Sebelumnya aku akan mengenalkan diriku dulu," ucap Ken.
"Namamu Ken. Aku ingat itu!"
"Ah? Ingatanmu sungguh kuat." Ia duduk di ujung ranjang, menghela nafas sebelum lanjut.
"Kekasih yang kau ingat dulu, sekarang sudah jadi mantan. Dia masih ada namun aku tidak tahu di mana dia sekarang."
"Kau tidak mencintainya?" Nesya menyipitkan matanya. Ia ingat betul karena senggolan kecil pada Cia, Ken sudah memarahi dirinya dan Bella walau sudah meminta maaf. Ia semakin ingin mendengar penjelasannya.