
Sebelum mencapai rumah sakit, Bella dan Ken berhenti sejenak di sebuah masjid terdekat. Mereka menemukan letak masjid lewat GPS. Setelah menunaikan shalat ashar, keduanya melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
Sekitar sepuluh menit kemudian, keduanya tiba di Ronald Reagan UCLA Medical Center.
Setelah memarkirkan mobil, keduanya masuk ke dalam rumah sakit. Ken menghubungi Brian saat di lobby untuk menanyakan lokasi kamar adik Silvia.
Setelah mengetahui di ruangan mana adik Silvia berada, Bella dan Ken langsung naik lift menuju lantai ruangan berada.
Sementara itu, perasaan bahagia menyelimuti Silvia. Setelah kebahagian atas kehamilan dirinya, kebahagiaannya bertambah dengan sadarnya sang adik, Fajar setelah lebih dari dua tahun terbaring koma. Itu adalah sebuah kabar bahagia.
Silvia sangat bersyukur atas kesadaran adiknya. Ia merasa senang dan bersyukur, juga lega. Adiknya sadar di saat hubungannya dengan Brian dalam kondisi yang harmonis dan erat. Jika sebelum itu, mungkin Silvia harus menebalkan wajah di depan Brian, menunjukkan bahwa ia bahagia dengan Brian. Untunglah, dan ia tidak perlu bersandiwara. Ia benar-benar bahagia! Terasa lengkap sudah.
Brian pun turut bahagia dengan kesadaran adik iparnya. Jujur saja, sebelum-sebelumnya, selama menikah dengan Silvia, Brian hanya menjenguk adik istrinya saat bulan pertama menikah dengan Silvia dan kedua adalah saat ini. Jika dihitung berdasarkan pernikahan mereka, maka ini adalah kunjungan rutin Silvia yang ke tujuh.
Saat ke Los Angeles, Brian sibuk dengan urusan kantor, bahkan Brian melewatkan acara ijab qabul Ken dan Bella, datang saat di pertengahan resepsi. Silvia selama kunjungan kedua sampai keenam selalu sendirian.
Tapi, itu dulu. Sekarang, lihatlah Brian enggan berpisah dengan Silvia. Urusan pekerjaan ia tangguhkan dulu. Besok baru ia urus.
"Assalamualaikum." Ken dan Bella memasuki ruang rawat adik Silvia sembari mengucap salam.
"Waalaikumsalam," jawab Brian dan Silvia. Bella dan Ken melihat keduanya, terutama Silvia tengah mengobrol dengan seorang pemuda yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya tampak berseri walau masih sedikit pucat. Alisnya tebal seperti alis Silvia. Wajahnya cukup rupawan. Tidak kalah dari Dylan tapi, malah di bawah Dylan.
Dia adalah Fajar, adik Silvia yang baru sadar setelah terbaring koma selama dua tahun. Fajar menatap lekat Ken dan Bella cukup lama. Dahinya mengeryit. Pemuda berusia 20 tahun itu tengah mengingat-ingat wajah keduanya, terutama Ken.
Dua tahun koma wajah jika mengalami gangguan ingatan. "Bang Ken?" Fajar memanggil Ken dengan nada memastikan. Ya, dia biasa memanggil kakak laki-laki dengan abang. Fajar merasa aneh jika memanggil Brian atau Ken dengan sebutan kakak. Menurutnya itu lebih ke perempuan.
"Kau ingat aku?" Ken terkesiap. Sebelum Fajar kecelakaan, mereka hanya bertemu sekali. Artinya ingatan Fajar masih sangat bagus. Hanya butuh waktu beberapa saat untuk memulihkannya.
Fajar mengangguk. "Tapi, aku tidak ingat kakak yang di sampingmu, Bang," tutur Fajar.
"Oh aku? Jelas kau tidak mengenalku," sahut Bella.
Fajar mengerjap. "Namaku Nabilla Arunika Chandra. Kau bisa memanggilku Kak Bella. Aku istri Ken dan juga bisa dikatakan aku juga kakak iparmu," ucap Bella memperkenalkan dirinya.
"Ah pantas saja. Ternyata Bang Ken sudah menikah. Selamat ya, Bang. Aku minta maaf karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan Abang." Raut wajah Fajar menunjukkan penyesalan. Bukan hanya itu yang Fajar sesalkan. Dia juga sedih dan menyesal tidak bisa menyaksikan acara lamaran dan pernikahan kakak tercintanya, Silvia.
Fajar juga membuat Silvia sedih terlalu lama karena ia koma dan juga dirawat jauh dari sisi kakaknya. Jika dekatkan tidak perlu jadwal atau waktu untuk menjenguk. Namun, itu semua juga demi memaksimalkan perawatan untuk Fajar.
"Mengapa kau merasa bersalah?"tanya Bella.
"Tidak ada yang perlu disesali, Fajar. Tadi kan Kakak mengatakannya padamu, semua sudah takdir. Dan sekarang kau sudah sadar, jangan bahas dan ingat lagi kejadian itu. Anggap saja, selama dua tahun ini kau berada di dunia lain, seperti dunia mimpi yang kau ceritakan tadi," tegas Silvia.
"Ya … tapi, tetap saja." Gurat kesedihan Fajar masih ada.
"Jika kau terus bertingkah seperti ini, kau akan membuat kakakmu sedih."
Brian berujar datar. Fajar menatap kakak iparnya itu. "Jangan kau sesali lagi yang sudah terjadi. Kau harus fokus pada pemulihan dan penyembuhan kakimu!"lanjut Brian.
Fajar beralih menatap ke arah kakinya yang tertutupi dengan selimut. "Cidera kakinya sangat parah atau bagaimana?" Bella langsung menangkap arti dari yang Brian katakan.
Dilihat dari ekspresi Fajar, matanya yang sendu sedih, dipastikan ada masalah dengan kakinya.
Ya! Kaki Fajar mengalami kelumpuhan. Itu adalah efek dari cidera kecelakaan yang dialaminya sekaligus karena lamanya koma membuatnya sulit untuk menggerakkan kakinya. Oleh karenanya, Fajar butuh terapi untuk bisa kembali berjalan secara normal. Otot-otot yang kaku harus dirangsang agar kembali lentur dan berfungsi sebagaimana mestinya.
"Ada banyak pengobatan sekarang. Jangan sedih dan murung begitu, kau pasti akan sembuh," ucap Ken memberi semangat.
"Hm bagaimana kondisinya selain masalah kaki?" Bella ingin tahu. Ia menatap Silvia dan Brian bergantian. Jika sudah sadar begini, ada dua kemungkinan yaitu, Silvia tinggal di Los Angeles sampai Fajar sembuh total atau Fajar melanjutkan perawatan di Jakarta, kembali bersama dengan mereka ke Jakarta lusa?
"Selain kaki, kata dokter yang lain aman. Aku, Mas Brian, dan Fajar juga sudah sepakat untuk pulang ke Indonesia sesuai dengan jadwal awal. Dokter juga sudah mengizinkan," terang Silvia. Bella mengangguk paham. Ya, itu yang paling efisien.
"Hm … tadi aku sudah mengenalkan diriku. Harusnya gantian kau yang mengenalkan dirimu bukan, Boy?" Walau Bella sudah tahu namanya, Bella ingin mendengarnya langsung. Silvia mengatakan adiknya adalah anak yang humble. Dan Bella merasakannya. Fajar tidak merasa canggung saat bertemu dengan Ken dan dirinya.
"Begitu ya? Okay. Namaku Eka Fajar Prasetya," jawab Fajar disertai dengan senyumnya. Bella tersenyum, "nama yang indah," puji Bella kemudian.
"Terima kasih, Kak." Fajar kemudian menatap Silvia.
"Mengapa tidak?" Fajar tersenyum sumringah. Brian dibantu dengan Ken, membantu memindahkan Fajar dari ranjang duduk di kursi roda.
"Eit." Silvia menahan langkah Brian yang hendak ikut. Brian mengeryit, "ada apa?"
"Mas di sini saja. Biar aku sendiri saja yang menemani Fajar keluar," ucap Silvia.
"Mengapa?" Wajah Brian menunjukkan protes.
"Adik dan Kakak juga butuh waktu berdua, Mas. Nggak lama kok, dan nggak jauh-jauh juga, cuma di taman kok," jelas Silvia.
"Harus begitu memangnya?" Brian masih enggan. Ken dan Bella menahan tawa melihat ekspresi Brian. Fajar mengamati interaksi keduanya. Bibirnya kemudian melengkungkan senyum.
Kakakku sangat bahagia dengan Bang Brian, gumamnya dalam hati.
"Sudahlah, Kak. Nggak bakal lama kok, sebentar iya kan Kak Via?" Ken merangkul Brian.
"Tenang saja, Bang. Kak Via nggak bakal kemana-mana kok. Paling juga ke taman," imbuh Fajar.
Brian menghela nafas pelan dan mengangguk. "Jangan terlalu lama," pesan Brian.
"Okay." Setelah itu, Silvia meninggalkan ruangan dengan mendorong kursi roda Fajar.
Ken dan Bella lalu duduk di sofa setelah Silvia dan Fajar menghilang di balik pintu. Brian masih menatap lurus ke arah pintu. "Tatapanmu itu seperti tengah melihat Kak Via pergi dengan pria lain, Kak. Apa kau cemburu dengan adik iparmu sendiri?" Pertanyaan Ken membuat Brian menoleh.
"Via tengah hamil." Jawaban singkat dari Brian.
"Duduklah, Bri. Mereka hanya mencari udara segar di jalan dan itu hal yang biasa," ujar Bella.
Brian menatap Bella sejenak. Dahinya mengeryit dengan mata sedikit menyipit. Ken kemudian melangkah untuk duduk di sofa. "Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Brian serius.
"Apa itu?"tanya Bella.
"Aku sudah melihat beritanya. Terjadi perubahan besar di Nero Group. Keluarga Nero kehilangan kekuasaan atas Nero Group. Tuan Marco dan Tuan Aldric ditangkap oleh polisi. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Apa kau yang melakukannya, Abel?"selidik Brian. Ya. Apa yang terjadi pada keluarga Nero telah dipublikasikan. Oleh karenanya Brian tahu.
"Menurutmu?"balas Bella santai.
"Dari berita, seorang yang berkuasa atas Nero Group adalah ahli waris Tuan Williams. Apa itu kau, Abel?"terka Brian lagi. Bella tertegun sesaat.
Sedangkan Ken tercengang, Brian bisa menebaknya dengan begitu cepat?
"Coba katakan dari segi mana pewaris itu aku," sahut Bella lagi, dengan melangkungkan senyum tipis.
"Kau penuh dengan kejutan dan misteri. Serta melihat sikapmu ini, semakin membuktikan bahwa kau adalah ahli waris itu! Terlebih inisial ahli warisnya adalah B, Bella. It's you, right?"
Ken menatap Brian. "Kau tahu tentang Tuan Williams, Kak?"
"Di kalangan keuangan, siapa yang tidak mengenalnya?" Sebagai direktur keuangan perusahaan besar, tentu saja Brian mengenal Tuan Williams. Ia adalah seorang yang sukses dalam bidang investasi.
Ah Ken melupakannya. Terlebih Brian pernah mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam ini. Bukan hal aneh. Justru aneh jika tidak kenal.
Ken beralih menatap Bella. Apa isterinya akan memberitahu Brian? Dilihat dari reaksinya, jawabannya iya. But, Bella kadang sudah ditebak antara ekspresi dan tindakannya.
"Hem. Kau benar, Brian. It's me." Brian langsung terbelalak.
"Sungguh dirimu?" Bella mengangguk.
"Tapi, biarpun begitu urusanku dengan keluarga Nero belum usai. Ah salah, dengan keluarga itu belum selesai."
"Benar-benar sulit dipercaya. Abel kau benar-benar penuh kejutan. Aku tidak tahu harus berkata apa selain you're amazing!"