
Selepas acara pengangkatan Bella dan Ken, semua kembali pada pekerjaan masing-masing. Termasuk Bella dan Ken yang diantar ke ruangan kerja mereka oleh mantan wakil Presdir sebelumnya. Pria tua bernama Sakti itu dengan cekatan dan rinci mengenalkan area perusahaan secara lisan dan tentunya ruang kerja keduanya.
Bella dan Ken dalam sekali penjelasan sudah mengerti. Sekarang di sinilah mereka berada, di dalam ruang kerja Bella. Ruangan kerja cukup luas. Meja kerja, meja berbicara dengan tamu, dan pastinya dekat dengan jendela yang mempelihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi juga jalanan kota.
Bella mengedarkan pandangannya. Rak buku yang berisi berkas juga buku bacaan. Ada juga dapur minum dan mesin kopi.
"Ada kamarnya juga?"tanya Bella, sedikit berdecak kagum.
"Benar, Nona Bella. Ruangan wakil Presdir hampir sama dengan ruangan Presdir. Ini dibuat guna menambah kenyamanan dalam bekerja. Sebab wakil Presdir a …."
"Saya mengerti, Pak."
Pak Sakti mengangguk.
"Lantas mejaku di mana?"
"Di luar, meja yang Anda lihat di depan tadi adalah meja kerja Anda, sekretaris Ken," ucap Pak Sakti.
"Tunggu aku tidak satu ruang dengan Aru? Ah maksudmu Nona Bella?" Jelas Ken keberatan. Pak Sakti mengangguk pelan sedangkan Bella tersenyum tipis.
"Meja sekretaris memang di luar, sekretaris Ken. Anda masuk ke ruangan ini jika dipanggil atau menyampaikan berkas dan kabar penting, selebihnya Anda berada di meja Anda!"
"Ahh tidak-tidak. Buat aku satu ruang dengan Aru!"ucap Ken tegas. Pak Sakti menggeleng.
"Ini sudah ketentuan umum, sekretaris Ken. Jika Anda ingin protes silahkan kepada Presdir," jawab Pak Sakti. Ia sama sekali tidak takut pada anak kesayangan Surya itu. Toh ia tidak salah.
"Aku bertanggung jawab pada Aru bukan pada Papa! Aru perintahkan agar mejaku di dalam," ujar Ken, memelas pada Bella yang sudah duduk pada kursi kebesarannya.
"Nona Bella?"
"Hm, baiklah. Pak Sakti pindahkan mejanya ke dalam. Dia ini belum ada pengalaman kerja sama sekali lagi bekerja tidak pada jurusan yang ia ambil. Jadi sekretaris Ken buruh bimbingan lebih dari saya." Ken melebarkan senyumnya. Pak Sakti mengeryit, kemudian menatap Ken. Tak lama kemudian ia mengangguk.
"Kalau begitu saya undur diri, Nona. Selamat bekerja dan berjuang di Mahendra Group!"ucap Pak Sakti tegas.
"Terima kasih!" Setelah itu Pak Sakti keluar dan tak lama kemudian beberapa orang masuk, memindahkan meja Ken menjadi di dalam ruangan.
"Aru memang terbaik!" Ken duduk di kursinya.
"Hanya selama sebulan. Setelah itu mejamu kembali di luar."
"Aru?!"
"Jangan panggil aku Aru jika di dalam perusahaan. Panggil aku Nona Bella, sekretaris Ken. Juga apa kau sudah tahu tugas sekretaris?"
"Ah tidak bisa. Lidahku asing memanggilmu Nona," tolak Ken.
"Cobalah untuk terbiasa!"
Ken ingin kembali melayangkan protes namun tangan kanan Bella yang terangkat membuat Ken menahan protesan nya.
"Hanya di perusahaan dan jam kerja. Selebihnya kau bebas memanggilku Aru. Kemarilah. Aku sudah membuat apa saja tugasmu sebagai sekretaris," ucap Bella.
Ken mendekat dan menerima secarik kertas dari Bella.
"Baiklah. Aku akan memahaminya dulu." Ken kembali ke mejanya sedangkan Bella mulai membuka lembaran berkas yang berada di atas mejanya juga menghidupkan layar komputernya, juga laptopnya.
Tak lupa kacamata bertengger manis di pangkal hidung Bella. Ken terpesona kembali di tempat duduknya. Wajah serius itu membuat jantung Ken kembali berdebar lebih kencang. Ya jatuh dan jatuh cinta lagi, setiap saat setiap waktu.
*
*
*
Di lain sisi, Silvia tengah uring-uringan dan tidak fokus pada pekerjaannya. Ia juga satu ruang dengan Brian. Kegelisahan Silvia itu ditangkap oleh indera perasa Brian. Direktur keuangan itu mengangkat pandangannya dari layar komputernya dan melihat ke arah Silvia.
"Mengapa kau tampak sangat gelisah, sekretaris Via?"tanya Brian dengan nada datarnya. Silvia langsung melihat ke arah suaminya. Wajahnya cemas, matanya menunjukkan sebuah ketidaktenangan yang besar.
"Mas bagaimana bisa kau setenang ini? Apa kau lupa nanti ada jadwal check up kesuburan?!"ucap Silvia dengan nada sedikit kesal. Wajah Brian tetap datar. Matanya memancarkan sejuta ketenangan yang sangat membingungkan Silvia.
"Aku ingat. Tenanglah, semua akan baik-baik saja," sahut Brian, datar.
"Akan baik-baik saja? Dari mana asalnya kepercayaan diri itu, Mas?! Kau tahu kan dokter itu dokter kepercayaan Papa dan Bunda, mustahil ia memalsukan hasil pemeriksaan kepada mereka!" Silvia benar-benar tak habis pikir. Lihatlah Brian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Tenanglah. Jangan takut, cemas, atau gelisah berlebihan. Itu bukan masalah besar. Aku akan mengaturnya. Lagipula jika terkuak mereka juga tidak akan menyalahkanmu. Untuk apa kau takut? Semua kesalahan dan pertanyaan akan dilemparkan padaku, bukan?" Silvia berdecak pelan. Raut wajah Brian tidak ada perubahan.
"Sudah dua tahun kau hidup denganku, harusnya kau sudah paham karakterku!"tambah Brian, membuat lidah Silvia terasa keluh seketika.
"B-bukan begitu, Mas. Aku hanya takut jika itu terbongkar akibatnya akan fatal bagimu. Dan ini bukan masalah siapa yang akan disalahkan, tapi masalah nama baikmu, nama baik kita. Apa kata orang jika kita sudah dua tahun menikah …."
"Cukup!" Silvia langsung menunduk dalam. Tatapan tajam nan dingin Brian membuat Silvia bergidik.
"M-maaf, aku tidak bermaksud menyinggung hal itu," cicit Silvia yang masih terdengar jelas di telinga Brian. Brian mendengus, ia merenggangkan darinya kemudian membuka satu kancing kemejanya.
"Ah lupakan saja! Kau tak perlu khawatir tentang masalah check up. Semua sudah aku pikirkan matang-matang. Kau cukup menjalani pemeriksaan dengan tenang. Jangan tunjukkan gelagat aneh, tetaplah tersenyum sekalipun tatapan dokter nanti aneh!"ucap Brian, tegas.
"A-akan aku usahakan. Tapi kau jamin semua semua amankan?" Brian mengangguk.
"Sikapmu nanti menentukkan nasibku. Jadi baik-baiklah bersikap!"ucap Brian.
Silvia mengangguk paham. Hatinya sedikit lega. "Aku haus, buatlah kopi!"suruh Brian.
Silvia bergegas berdiri dari kursinya dan membuatkan kopi untuk Brian. Sesekali, sembari mengaduk kopi, Silvia mencuri pada pada suaminya.
Wanita berumur 25 tahun itu menghela nafas pelan. Aku paham karaktermu, Mas. Tapi aku tak paham dengan sikapmu pada pernikahan dan diriku. Dulu sebelum menikah kau begitu manis walau tak meninggalkan sikap dinginmu. Aku masih ingat jelas saat kau melamarku setelah aku wisuda. Manis, sangat manis namun berbeda dengan sekarang. Apa alasannya, Mas?
Hati Silvia terus diliputi tanda tanya walau sampai sekarang ia belum tahu apa jawabannya. Tahukah alasan ia tetap bertahan di sisi Brian? Kekayaan mertua? Hidup mapan serba berkecukupan? Gaya hidup mewah? Bukan. Silvia bertahan karena satu alasan, ia sangat mencintai Brian. Semakin dingin Brian, semakin bertambah pula rasa cinta untuk suaminya. Aneh, bodoh? Ya itulah gambaran cinta Silvia.
*
*
*
"Hm?"
"Memikirkan tentang check up?"terka Ken.
"Tidak."
"Lantas?"tanya Ken penasaran.
"Bukan apa-apa. Sudahlah lupakan saja. Ayo." Bella melangkah keluar dari lift, melangkah menuju motornya yang terparkir apik di basement.
"Hm, apa yang Aru sembunyikan, lagi?"gumam Ken. Ia menghela nafas kasar dan menyusul langkah Bella.
Huh aku melupakan tentang Dylan. Sepertinya aku harus mulai mengurusnya.
Bella memakai helmnya. Ken juga memakai helmnya. Segera naik dan menyalakan mesin motor.
Tin
Tin
Dua mobil berbeda warna, hitam mobil Surya dan Rahayu sedangkan biru mobil yang ditumpangi oleh Brian dan Silvia berhenti tak jauh dari Ken dan Bella.
Bella mengangguk, segera naik. Kedua mobil itu kembali melaju meninggalkan basement, diikuti oleh Ken dan Bella. Jalanan yang cukup lenggang. Berkendara dengan kecepatan sedang. Surya dan Rahayu memimpin jalan, Brian dan Silvia di tengah sedangkan Bella dan Ken di belakang.
"Sepertinya kau sudah cukup tenang." Brian yang menyetir melirik sekilas wajah cantik Silvia.
"Hm."
"Apa yang kau lihat?" Brian membuka tangkapan kamera belakang mobil.
"Mereka semakin romantis ya, Mas. Ken bahkan tak seromantis ini saat bersama dengan Cia," ujar Silvia, tersenyum sendu melihat video Ken dan Bella.
"Kenapa? Kau ingin seperti itu juga?" Bertanya dengan nada datar.
"Tidak. Tidak berani berharap. Begini saja aku sudah bahagia," jawab Silvia, tetap tersenyum sendu.
"Ya sudah." Wajah datar Brian sedikit luntur. Ia melirik Silvia yang tertunduk, ada rasa bersalah di sana.
Maaf, batin Brian.
*
*
*
Brian, Silvia, Ken, dan Bella melewati check up dengan lancar. Kini mereka berempat, berikut dengan Surya dan Rahayu menunggu hasil tes di ruang dokter.
"Bagaimana hasilnya, Dokter?"tanya Rahayu tak sabar. Dokter yang baru saja membuka satu demi satu hasil tes tersenyum, "sebentar ya, Nyonya. Saya lihat dulu."
"Jadi begini, Tuan, Nyonya, berdasarkan hasil check up …."
Silvia sedikit gugup, ia menggenggam erat jemari Brian. Brian tersentak pelan saat merasakan jemarinya seperti diremas. Ken juga sedikit gugup dan sangat penasaran, lain halnya dengan Bella yang tetap tenang. Ia sudah pernah melakukan check up baik kesehatan dan kesuburan, dan hasilnya sudah berada di dalam benaknya.
"Anak dan Menantu Nyonya dan Tuan sangat subur. Kondisi rahim sangat bagus bahkan jika ingin memiliki 10 anak juga bukan masalah."
Uhuk
Uhuk
Semua tatapan tertuju pada Bella yang tersedak, "sepuluh? Aku tidak berencana punya anak sebanyak itu. Dua saja sudah cukup!"
"Tapi aku setuju. Kalau perlu selusin!"sahut Ken penuh semangat. Ia dengan senyuman lebarnya merangkul Bella yang tampak tak berdaya mendengar ucapan Bella dan tahapan menggoda dari Surya, Rahayu, juga dokter. Sedangkan Brian setia dengan wajah datarnya dan Silvia, hatinya berbisik iri pada pasangan itu.
"Aku tak masalah punya anak berapa," ucap Brian tenang.
Bahas anak? Mas kamu lebih baik jadi aktor saja!
"Jika begitu dok, mengapa sampai sekarang Silvia belum juga hamil ya?"tanya Rahayu penasaran.
"Secara medis tak ada masalah maka jawabannya adalah belum rezeki atau bisa jadi juga karena keputusan Tuan dan Nona Muda Pertama."
"Brian? Via? Kalian menunda kehamilan?" Surya memberikan tatapan tajam pada anak dan menantunya itu.
"Benar. Aku merasa belum siap menjadi seorang ayah. Daripada nanti aku punya anak namun tak bisa memberi yang terbaik untuknya lebih baik ditunda dulu."
"Sampai kapan? Apa kamu lupa selain sudah menikah, syarat utama lainnya untuk menjadi Presdir adalah harus memiliki keturunan?!"selidik Surya. Brian menghela nafas pelan.
"Hanya ditunda, Pa. Bukan tak berniat punya anak. Pasti Brian dan Via akan memberikan cucu untuk kalian," ujar Brian, sedikit melemah agar Surya tak memperpanjang masalah ini.
"Baik dokter. Terima kasih atas kerja keras Anda!"ucap Rahayu, berjabat tangan dengan dokter.
"Sama-sama, Nyonya."
"Ayo kita pulang," ajak Rahayu yang langsung diangguki oleh keluarganya.
"Hei Ken aku tak mau punya anak selusin! Jika kau tetap bersikeras mau punya anak sebanyak itu maka kita harus berganti peran," ucap Bella.
"Berganti peran, maksudmu?"
"Ya aku bekerja dan kau mengurus anak di rumah. Bukankah itu bagus?"
Ken tidak menjawab. Ia menengguk ludah kasar, "akan aku pikiran lagi."
Bella tersenyum lebar. Huh takut sendiri kan kau!