This Is Our Love

This Is Our Love
Hari Bahagia



Ini adalah sahur pertama Liev, juga yang akan menjadi puasa pertamanya. Awalnya ia bingung, mengapa dibangunkan pagi buta, bahkan ayam pun belum berkokok hanya untuk makan? 


Dan Bella segera penjelasannya, "Ini namanya sahur, Liev. Habis sahur nanti Liev tidak boleh makan atau minum sampai nanti waktu magrib. Itu dinamakan dengan puasa," jelas Bella.


"Puasa?" Anak itu mengulang kata itu dengan bahasa Indonesia. Bella mengangguk. "Benar. Puasa."


"Apa Liev tidak akan kelaparan?" Tidak makan atau minum setelah ini sampai magrib. Jarinya menghitung. Itu sekitar 12 jam. Bella tertawa pelan, "jika Liev tidak tahan tidak apa. Ini hanyalah perkenalan atau anggap saja ikut-ikutan, coba-coba." 


Usia Liev barulah menginjak empat tahun. Belum diwajibkan untuk berpuasa. Namun, mengajarinya sejak dini bukanlah suatu kesalahan. 


"Liev akan mencoba bertahan!"


"Ah, kita lihat saja nanti," balas Bella, seraya mengacak rambut Liev. 


"Itu benar. Anak kecil coba-coba saja dulu. Nanti juga bakal terbiasa dan tahan," imbuh El.


"Asal jangan kau dulu yang buka duluan," sahut Brian, menimpali imbuhan El. 


"Aku sudah dewasa. Aku kuat untuk berpuasa!"tegas El, dengan dada membusung. Brian mengangguk dengan tersenyum tipis. 


"Sudah-sudah. Ayo lekas sahur sebelum imsak!"tukas Surya. Dan keluarga itu mulai makan sahur untuk mengalami puasa Ramadhan di hari pertama. 


Selesai sahur, Surya, Rahayu, Brian, El, Ken, dan Bella tidak kembali ke kamar, mereka berkumpul di ruang tengah. Sedangkan yang lain kembali ke kamar, termasuk Liev untuk menunggu azan subuh. 


"Bagaimana rencana pernikahanmu dengan Anjani, El?"tanya Rahayu, menanyakan rencana El sebelumnya. Bukankah rencananya setelah selesai syuting, El dan Anjani akan melangsungkan pernikahan?


"Menunggu hingga bulan Ramadhan selesai, rasanya aku tidak tahan," jawab El.


"Jadi, kau akan menikah di bulan ini, Kak?"tanya Ken, memastikan. 


"Rencananya. Tapi, aku belum membicarakan hal ini dengan Anjani," jawab El. 


"Resepsinya?" Brian bertanya. 


"Tentu saja selesai bulan Ramadhan! Aku ingin segera menghalalkan Anjani. Kami akan menikah namun resepsinya belakangan," ucap El, menjelaskan. 


"Lokasi menikah?" Surya bertanya. 


"Karena cuma menikah, di rumah Anjani adalah pilihan yang tepat." 


"Tamu undangan?"tanya Rahayu. 


"Keluarga dan teman dekat. Yang lain waktu resepsi saja," jawab El. Tampaknya sudah mantap dengan rencananya. 


"Lalu kapan acaranya?"tanya Bella. 


"Nah itu … aku bicarakan dulu dengan Anjani. Namun, masalah fitting gaun, undangan, bawaan untuk para tamu nanti bisa dibicarakan mulai sekarang. Jadi, mohon bantuannya, ya. Karena pangeran tampan ini akan segera menikah," ucap El. 


"CK!" Dibalas decakan Brian. "What? Mengapa kau berdecak?"


"Dapatkan dulu tanggalnya. Yang lain, itu aman!"ucap Brian. 


"Ya, Bunda setuju dengan Brian. Tanggal itu yang paling penting," timpal Rahayu. 


*


*


*


Siang harinya, saat jam istirahat di Diamond Corp, El datang dengan membawa bucket bunga untuk Anjani. 


Tok


Tok


Pria itu mengetuk pintu ruangan Anjani. "Masuk!" Suara tegas Anjani terdengar. 


"Assalamualaikum, my sweetheart," sapa El dengan memberikan bucket bunga yang ia bawa.


"Waalaikumsalam. El, kau datang?" Anjani terkejut dengan kedatangan El. 


"Aku merindukanmu juga bocah itu," ucap El, melempar pandang sejenak ke arah Arka yang tertidur di sofa. 


"Ah, mee to," balas Anjani, dengan tersipu. 


"Ayo duduk," ajak Anjani. 


"Selain karena aku merindukanmu, aku datang untuk menanyakan sesuatu," ujar El, mulai memasuki intinya. "Apa itu?"tanya Anjani, penasaran. 


"Tentang pernikahan kita." Mimik wajah Anjani langsung serius. 


"Aku ingin kita menikah bulan ini. Namun, resepsinya nanti setelah bulan ini, bagaimana? Selain itu, untuk tamu adalah keluarga dan teman dekat," terang El. Ia langsung menyampaikan niatnya, agar keputusan segera didapatkan. 


Anjani diam beberapa saat. "Bagaimana, Jani?"tanya El. Tak sabar dengan jawaban Anjani. 


"Kau serius?"tanya Anjani. El langsung mengangguk. 


"Jika begitu, aku setuju," jawab Anjani. 


"Sungguh?" 


"Yes." 


"Ah … thank you, my sweetheart." El sungguh senang ajakannya diterima. Ia memeluk Anjani. 


"Aku juga senang, El." Ya, El selalu memberinya kepastian. Ia suka dengan El yang terus terang. Dan tentunya El bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk Arka, putranya. 


"Kalau begitu, kita harus segera mempersiapkan dokumen untuk menikah. Lalu fitting baju, juga mengabari para tamu. Ah waktu, bagaimana jika dua minggu dari sekarang? Itu waktu yang pas untuk mempersiapkan hal yang dibutuhkan," ujar El panjang lebar. Dia sudah memikirkan hingga ke tahap itu. 


"Aku ikut pengaturanmu saja," jawab Anjani. El tidak akan mengecewakan dirinya. 


*


*


*


Dan setelah mendapat persetujuan itu, El dan Anjani mulai mempersiapkan pernikahan mereka. Walaupun hanya menikah tanpa resepsi, itu adalah inti atau awal dari sebuah rumah tangga. Resepsi bukan keharusan. Yang harus adalah pernikahan dan sahnya pernikahan tersebut. 


Tiga hari kemudian satu hari setelah itu, El dan Anjani langsung menyerahkan berkas-berkas untuk mereka menikah ke lembaga terkait. 


Kemudian mereka fitting untuk baju pengantin. Sekaligus untuk baju untuk resepsi, jadi tidak perlu fitting dua kali. Perhiasan sudah tentu dari Diamond Corp. 


Untuk hantaran, itu keluarga Mahendra yang mengurus. Begitu juga dengan maharnya. El hanya memberi list-nya. Jika ada tambahan, itu berarti keluarganya yang menambah. 


Meskipun puasa, mereka sangat bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. 


Tiga hari sebelum pernikahan, kediaman Anjani mulai dihias sedemikian rupa. Mulai dari gerbang hingga lantai dasar dimana acara akan dilakukan. Dan menjelang tiga hari sebelum hari-H, Anjani tidak berangkat ke perusahaan. Ia istirahat di rumah menunggu hari pernikahannya tiba. 


Dua hari sebelum pernikahan, Bella menginap ke rumah Anjani. Keduanya sahabat itu bercerita banyak hal kehidupan mereka. Mengenang masa lalu yang penuh dengan perjuangan. Ah tidak, perjuangan mereka tidak akan pernah berakhir. Sebab, setelah apa yang mereka perjuangkan tercapai, harus dipertahankan. 


Saat ini mereka tengah berada di kamar Anjani. Arka juga tidur di sini, hanya saja dia sudah tidur. Tangan dan kaki Anjani sudah dihias dengan henna. Bella juga ikut menghias tangannya dengan henna.


"Sekarang?" Bella ingin tahu perasaan Anjani setelah menjadi wanita karier. Bahkan, ia langsung menjadi presdir, tidak punya pengalaman sama sekali dalam dunia kerja. Namun, dengan pelatihan dari Bella, Anjani mampu mengemban tugas dan tanggung jawabnya sebagai Presdir Diamond Corp. 


"Entahlah. Aku merasa senang juga terkadang berat dan sangat melelahkan. Memang ya, terkadang apa yang kita lihat enak, belum tentu enak. Jangan menilai sesuatu dari tampilannya. Dulu aku melakukan hal itu. Apakah aku terkena batunya?" 


Anjani sedikit terkekeh. Berat. Siapa bilang gampang menjadi Presdir? Lebih-lebih ia ibu tunggal. 


"Hehehe. Posisimu tinggi. Pengorbanan dan tantangannya juga semakin tinggi. Seperti lereng, semakin curam, semakin tinggi bahayanya."


"Tidak terbayangkan jika jadi dirimu, Bel." Bella tertawa renyah mendengarnya. 


"Semua sudah ada bagiannya, Jani. Jalani saja. Lama-lama itu seperti sebuah kebutuhan."


"Hm, aku tidak bisa lepas lagi darinya. Dan kau benar, selalu ada resiko untuk setiap hal apapun yang kita lakukan. Dibandingkan pengorbanan itu, aku senang bisa di posisiku sekarang. Aku mandiri, hidupku terjamin, begitu juga dengan Arka. Aku tidak pernah menyesal karena ini pilihanku. Aku tidak akan pernah mundur!"


"Ya, satu lagi, awalnya ku kira cukup dengan aku mampu memenuhi kebutuhanku dan Arka. Namun, aku menyadarinya. Itu tidak cukup. Arka masih kecil, ia membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Dan El datang. Dan Arka, dia menerimanya. Tidak, aku menikah dengannya bukan hanya karena Arka, namun aku juga butuh sosok yang akan melindungiku. Dan aku akui, aku mencintainya." Anjani terus menceritakan isi hatinya. Segala unek, keluh, dan kesah sebelum hari pernikahannya, yakni besok. 


"Abel, besok aku akan menempuh hidup baru. Rasanya gugup. Kau tahu, ini lebih mendebarkan ketimbang pernikahanku yang pertama. Mungkin karena aku mencintainya. Di satu sisi, aku juga takut, kau tahu kan, aku ini seorang janda. Aku takut, tidak bisa memberinya kepuasan." Bella tertawa mendengar perkataan terakhir Anjani. 


"Tidak puas bagaimana? Kau kan sudah punya anak. Kalau dia mengharap lebih, dia yang keliru dong. Dan apa kau tidak tahu ungkapan di luar sana?" Anjani mengeryit. Tampaknya tidak tahu. 


"Ungkapan apa?" Dia bertanya. 


"Perawan memang menarik. Tapi, janda lebih menarik, sudah banyak pengalaman dalam hal memuaskan," bisik Bella yang langsung membuat wajah Anjani memerah.


"Apaan sih?"keluhnya. Namun, wajahnya semakin memerah. 


"Apaan sih tapi kau membayangkannya," ledek Bella.


"Ihh mana ada! Aku tidak membayangkan!"sergah Anjani dengan gagap. Bella langsung tertawa lepas. Menggoda Anjani sangat menyenangkan. 


"Katakan saja. Toh besok kalian sudah sekamar," tambah Bella. 


"Ihh Abel! Berhenti menggodaku!"ucap Anjani, dengan merenggut kesal. Sayangnya, bukan berhenti, Bella malah semakin tertawa. Wajah Anjani terlihat menggemaskan. Pipinya merah padam, bibirnya mancung, dan matanya melotot kesal. 


"Haha … kapan lagi aku bisa puas menggodamu, Jani? Besok kau akan menjadi kakak iparku," celetuk Bella. Benar. Anjani akan menikah dengan El. Dan El adalah kakak dari Ken. Otomatis, Anjani adalah ipar Bella. 


"Aduh, tidak terbayang harus memanggilmu kakak. Kakak ipar …."


"Ah, cukup! Itu terdengar menggelikan!" Anjani merengek. Habis ia digoda oleh Bella. 


Dan Bella menyeka sudut matanya. "Okay-okay. Aku berhenti."


"Lagian, kau tampak begitu tegang."


"Aku takut."


"Takut apa? Ada aku yang menemani dirimu," jawab Bella. 


"Takut, El nggak lancar ucap akad."


"Huh! Aku sudah pernah mengalaminya. Kau ingat, dia sudah salah dua kali mengucap akad. Untunglah yang ketiganya lancar. Kalau tidak, akan repot ngurus ini itu lagi," ujar Bella, mengenang kembali saat-saat akad dengan Ken. 


"Hihi, aku jelas ingat." Pikiran Anjani teralihkan. "Jika Ken gagal untuk yang ketiga kalinya, aku akan mencekik lehernya," tambah Anjani dengan gerakan tangan seperti mencekik. Bella tertawa renyah. 


"Eh iya, aku penasaran." Mimik wajah Anjani berubah serius. 


"Tentang apa?"balas Bella. 


"Tentangmu dan Ken."


"Hm?"


"Selama kau hamil, apa dia pernah menjenguk bayinya?"tanya Anjani dengan mimik wajah super serius. Bella mengerjap. Tidak menduga pertanyaan Anjani. 


"Err … itu, aku yakin kau tahu jawabannya."


"Jawaban pasti, Abel. Yes or no?"desak Anjani. Wajah Bella tersipu. 


"Err … ah jangan menggodaku, Jani. Kau tahu jawabannya."


"Yes or no?"


*


*


*


Anjani baru berhenti meneror Bella dengan pertanyaan itu setelah Bella menjawabnya. "Sudah ku duga," ucap Anjani saat itu dengan wajah menyebalkan. Bella mencembik kesal. Sudah tahu jawabannya, terus saja ditanyakan. 


Akad akan dilangsungkan sekitar pukul 10.00 nanti. Dan selepas subuh, semua langsung bergerak untuk mengecek semua persiapan di kediaman ini. Meja akad sudah aman, dekorasi juga perfect. Bingkisan untuk para tamu juga aman. Tinggal menunggu mempelainya saja. 


Anjani juga bersiap. Akad, ini adalah inti dan yang paling penting. Ia harus tampil sebaik mungkin. Bella menemani Anjani bersiap. Dan ia juga bersiap karena akan menjadi pengiring Anjani, begitu juga Arka.


Sekitar pukul 07.00, tiga jam menuju akad nikah, MUA yang ditunjuk sudah datang dan siap untuk mendandani Anjani. 


"Mama cantik banget," puji Arka setelah melihat penampilan Anjani. 


"Sungguh?" Anjani melihat pantulan dirinya di cermin besar itu. 


Gaun pengantin berwarna putih gading, menjuntai hingga mata kaki. Bagian bawah tidak terlalu mekar ataupun ketat. Simpel, elegan, dan tidak meninggalkan kesan anggunnya. Di gaun itu, terdapat sulaman pada bagian bawah gaun, yakni sulaman emas bertuliskan nama Anjani dan El. Akan tetapi, itu terletak di bagian dalam gaun.


 Ah, gaun itu adalah desain dari El, menampilkan pesona dan kecantikan Anjani tanpa menunjukan lekukan tubuh. Dipadukan dengan hibah berwarna senada serta make yang benar-benar cocok, Anjani benar-benar cantik. 


"Kau benar-benar cocok menggunakannya, Jani," ucap Bella. 


Anjani tersenyum. "Aunty juga sangat cantik."


"Thanks, my boy," balas Bella. Istri Ken dan bumil itu juga tak kalah mempesona. Menggunakan long dress untuk muslimah berwarna abu-abu muda dan dipadukan dengan pashmina berwarna senada. 


"Tapi, bintangnya, ratunya, is your mom," ujar Bella. 


"Really?"


"Yups."


"Artinya, Aka adalah price?"


"Yes. Off course. You're price," balas Bella. Dan bocah itu, mengembangkan senyumnya semakin lebar.  


"Aku semakin berdebar," bisik Anjani. 


"Sebentar lagi El dan rombongan akan datang," balas Bella, berbisik pula. 


"Hem." Dan benar saja, tak lama setelah itu, salah seorang pelayan mengetuk kamar Anjani dan memberitahu bahwa El serta rombongan sudah tiba. Anjani menggenggam jemari Bella. Belum dimulai saja, ia sudah berkeringat dingin.