
Louis dan Teresa saling pandang. Sungguh mengagumkan! Acara resepsi mereka menjadi tempat lamaran untuk dua pasangan, Wow!
"Selamat untuk suksesnya lamaran kedua, Kak!"ucap Ken dengan memeluk kakak keduanya itu.
"Bagaimana? Ini luar biasa, bukan?"sahut El. Agaknya El tengah meminta pujian. El dan Anjani berdiri berdampingan.
"Ini lebih komplet daripada sebelumnya," komentar Brian dengan datar.
El mendengus senyum. "Tentu saja ada Papa dan Bunda. Itu yang paling penting dan juga cincin. Ini baru lamaran yang serius dan sempurna," sahut El dengan senyum manisnya.
"Wah … wah, Anjani kau sungguh beruntung mendapatkan El. Dia romantis sekaligus humoris," puji Helena.
"Aku juga sangat bersyukur," jawab Anjani.
"Tapi, tidak perlu menumpang di acara orang juga!!" Dan sebuah kalimat yang cukup besar keluar dari mulut Brian.
"Apa yang punya acara keberatan?"tanya El dengan melempar pada pada Louis dan Teresa.
"Kami tidak keberatan. Justru kami senang acara kami menjadi sebuah tempat untuk mengungkapkan rasa dan tempat yang berbahagia," tegas Max. Yang disambut senyum kemenangan El. Brian tetap menunjukkan wajah datarnya.
"Jangan lupa undangannya, Surya," ucap Max pada Surya kemudian.
"Pasti!" Surya menjawab mantap.
"Acara sudah selesai. Lebih baik kita segera pulang untuk beristirahat," ujar Leo, yang diangguki oleh semuanya.
Mereka memang tidak menginap di hotel karena acara tidak sampai larut malam. Pikul 20.00, acara sudah selesai, menyisakan petugas kebersihan yang tengah melakukan tugasnya.
Ibu Teresa dan Timotius meninggalkan hotel lebih dulu dengan diantar oleh sopir keluarga Mahendra. Kembali ke kediaman mereka di kompleks perumahan dosen.
Disusun oleh pengantin baru. Louis dan Teresa menuju kediaman Kalendra lebih dulu.
"Kalau begitu kami pulang lebih dulu," ucap Max. Bella mengangguk. "Abel akan segera menyusul."
"Kakak titip Key, ya Bel," ucap Helena.
"Aman, Kak." Key sangat sulit untuk bangun tidurnya. Begitu juga dengan Arka. Keduanya masih pulas tidur di kamar hotel. Nanti akan pulang bersama dengan Bella.
"Kami duluan, Assalamualaikum," pamit Rahayu.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, semuanya."
Keluarga Kalendra kecuali Key, Surya, Rahayu, Brian, dan Silviameninggalkan ballroom, kembali ke kediaman Kalendra.
Sedangkan Bella masih menunggu Calia dan Evan selesai. Ken, El, Anjani dan Dylan turut menunggu menemani Bella.
Sementara di luar, keluarga Kalendra telah masuk ke dalam mobil.
Brian membukakan pintu untuk Silvia. Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Silvia limbung. Brian sigap menahannya. Raut wajahnya langsung berubah cemas. "Ada apa, Brian?"tanya Surya yang sudah duduk di dalam mobil.
"Via, kau kenapa?"tanya Brian dengan cemas. Ia mengabaikan pertanyaan Surya.
"Aku … merasa pusing, Mas," aduh Silvia sebelum akhirnya benar-benar pingsan.
"Vi! Via! Via!" Brian beberapa kali memeluk lembut pipi Silvia. Gurat kecemasan semakin terlihat jelas.
"Ada apa?" Rose yang sudah masuk ke dalam mobil menghampiri Brian yang masih mencoba untuk menyadarkan Silvia dengan memanggil dan menepuk pipinya.
Rahayu juga turun dari mobil, "Kita ke rumah sakit. Wajah Silvia sangat pucat," ucap Rahayu yang melihat rona wajah Silvia .
Brian yang seakan blank dan tidak tahu harus berbuat apa mengikuti apa yang Rahayu instruksikan. Ia menggendong Silvia masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang dengan memangku kepala Silvia. Surya yang menjadi sopir.
"Kami akan ke rumah sakit," pamit Rahayu, segera masuk ke dalam mobil, dan Surya langsung mengemudikan mobil menuju rumah sakit.
"Mom, Helen pingsan juga!!"seru Leo.
"Hah?"
Ada apa ini? Mengapa bisa berbarengan begitu pingsannya? Apa karena terlalu kelelahan? Perasaan Silvia itu setiap hari bekerja dan pasti lebih lelah dari ini, bukan?
Juga Helena, walaupun ia seorang penulis bukan berarti tidak merasa lelah atas pekerjaannya. Tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan setiap pekerjaan atau kegiatan sedikit banyaknya akan menimbulkan rasa lelah.
Rose segera kembali masuk ke dalam mobil max bertukar posisi dengan leo segera max mengemudikan mobil menuju rumah sakit.
*
*
*
Pukul 08.45, pertemuan antar dua keluarga telah usai. Calia dan Evan telah benar-benar disetujui oleh Tuan dan Nyonya Arshen. Bagaimana dengan Umi Hani dan Nizam? Apa Evan meminta persetujuan ibu kandungnya itu?
Of course! Umi Hani, apakah ia berhak untuk tidak menyetujui? Tentu saja bisa. Namun, apakah layak ia bersikap demikian?
Dilihatnya Calia punya kepribadian dan dari latar belakang keluarga yang baik, terutama itu adalah sahabat Bella, apakah ada alasan untuknya menolak Calia menjadi menantunya?
Tentu saja tidak ada! Seorang ibu akan ikut bahagia melihat anaknya bahagia.
Keputusan hasil pertemuan kedua belah pihak itu adalah besok pagi keluarga Arshen, Umi Hani, Nizam, dan Evan akan terbang ke Bremen untuk menemui dan mengunjungi ayah Evan dan Nizam.
Karena itu lebih kepada urusan keluarga, maka Umi Hani dan Nizam, juga Evan akan berangkat bersama dengan keluarga Arshen, menggunakan pesawat pribadi keluarga Arshen. Jadi, baik Bella ataupun keluarga Mahendra tidak akan ikut di dalamnya.
Karena ini sudah malam dan saatnya istirahat, maka Umi Hani dan Nizam akan pamitan besok, sebelum berangkat ke bandara akan menyambangi kediaman Kalendra untuk menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus pamit. Nantinya Umi Hani dan Nizam akan pulang tidak bersama dengan keluarga Mahendra.
Setelah mengobrol singkat, keluarga Arshen pamit pulang. Begitu juga Umi Hani dan Nizam yang pulang bersama dengan Evan ke asramanya.
"Aku jemput Aka dulu," ucap El, yang diangguki oleh Anjani. El pergi bersama dengan Ken.
Tak berselang lama kemudian, El dan Ken kembali dengan masing-masing menggendong Arka dan Key.
"Apa kau merasa keberatan, Ken?"tanya Bella.
"Dua anak, okay," ucap Bella dengan memeluk lengan Ken. Ken menggendong Arka dengan satu tangan.
"Seingatku kita sepakat untuk memiliki 12 anak," sahut Ken dengan wajah sok mengingat dengan bibir melengkungkan senyum lebar.
Bella mencembikkan bibirnya. "Kalau begitu kau yang akan mengurus ke dua belas anak itu kelak," sahut Bella.
"Lalu kau?"
"Aku bekerja," jawab Bella dengan entengnya.
"Bakal jadi dunia terbalik dong," celetuk Dylan.
"Hahaha … kau benar, Dylan," imbuh El disertai dengan tawa lepasnya.
"Apa mengurus anak begitu rumit?"tanya Ken dengan polosnya. Bella tersenyum tipis. El dan Dylan saling pandang dengan tatapan yang juga penasaran. Bagaimana rasanya akan menjadi seorang ayah? Bagaimana rasanya mengurus seorang anak?
Sedang Anjani yang sudah merasakannya, dari hamil, melahirkan, menyusui, dan mengasuh Arka sampai sekarang, ada suka dan duka di dalamnya. "Memiliki seorang ada suka dan dukanya. Jangan asal ucap ingin memiliki banyak anak. Bukannya aku mau mengatakan kalian jangan punya banyak anak, hanya saja, lihat segi segala aspek. Okay, kalian mampu secara finansial, bagaimana dengan waktu? Abel? Apa kau mau menjadi ibu rumah tangga seutuhnya? Atau kau akan mengambil kedua peran?" Anjani angkat bicara. Ken menjadi termenung, begitu juga dengan El.
Anak.
Anak.
Yang harus dipikirkan bukan sukanya saja. Tapi, menyeluruh. Bella wanita karier. Bella punya kemampuan yang mumpuni untuk memimpin sebuah perusahaan. Karier, bekerja, sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Jika karena anak, Bella meninggalkan dunia kariernya, rasanya tidak adil. Jika memang setelah lulus kuliah, bekerja, lalu menikah dan saat punya anak resign, untuk apa ia menempuh pendidikan hingga gelar di belakang namanya sangat panjang?
Dan sebagai seorang Tuan Muda, tidak mungkin juga Ken di rumah menjaga anak, bukan?
Memakai babysitter? Tapi, Bella ingin merawat anaknya dengan tangannya sendiri meskipun ia bekerja. Memakai babysitter memang lazim-lazim saja. Namun, akan tercipta kesenjangan di antara anak dan orang tua, bukan?
"Aku ingin jadi keduanya. Aku ingin jadi ibu yang baik tanpa meninggalkan pekerjaanku!"tegas Bella. Menekankan pada Ken, ada berapa banyak anak mereka kelak, Bella tidak akan meninggalkan pekerjaannya, karena ia menempuh pendidikan bukan semata-mata hanya untuk mengecap dunia karier. Akan tetapi untuk membangun kembali keluarganya.
"Pertumbuhan penduduk Indonesia cukup pesat. Sebagai warga negara yang baik, maka kita harus mematuhi anjuran pemerintah, dua anak cukup," ucap Dylan.
"Dan kebanyakan orang kaya seperti keluarga kalian tidak ada yang memiliki anak sampai sepuluh atau dua belas, kebanyakan di bawah lima," imbuh Anjani.
"Lima? Artinya kita sepakat memiliki empat anak, Jani?"sambar El.
"Er … itu tergantung Yang Kuasa," sahut Anjani dengan canggung.
"Hei-hei, belum nikah sudah membahas anak, ckck sepertinya sepulangnya dari sini kau akan langsung menyeret Kak Jani ke KUA, Kak El," sindir Dylan dengan menggelengkan kepalanya.
"Hei bocah, kau kira aku saja yang berniat begitu? Kau pasti juga akan menyeret Nesya ke KUA begitu keluar, kan? Jangan katakan tidak!" Skatmat!
Dylan nyengir mendengar balasan El. "Masalah anak kita bahas nanti saja, Ken. Yang terpenting dan yang paling utama, anak pertama kita lahir dan tumbuh dengan sehat," ujar Bella, dengan menepuk pelan dada Ken.
Ya itu yang utama sekarang! Masa depan memang sangat perlu dipikirkan. Namun, yang diutamakan adalah yang di depan mata.
Ken tersenyum, "asalkan kau bahagia, aku juga bahagia," tukas Ken pada akhirnya.
Perjalanan dari ballroom ke lobby, sampai di depan mobil rasanya cukup lama karena obrolan mereka. Dan yang luar biasanya, Key dan Arka masih nyenyak tertidur. Seakan tidak terganggu dengan obrolan orang di sekitar mereka yang bisa dikatakan cukup riuh.
Max dan keluarga Kalendra tadi menggunakan mobil yang Bella gunakan sejak tadi siang. Bella dan lainnya akan pulang menggunakan alphard. Ken yang mengemudi. Sedangkan Arka dipangku oleh Bella dalam keadaan yang masih pulas tidur.
*
*
*
Dalam waktu tiga puluh menit, Ken dan lainnya tiba di kediaman Kalendra. Saat memasuki ruang keluarga, Bella mengeryit karena hanya mendapati Louis dan Teresa.
"Kok kalian masih di sini? Yang lain sudah pada di kamar semua?"tanya Bella.
"Loh, Mom dan Dad nggak tidak bersama dengan kalian?"tanya balik Louis.
"Tidak. Mom, dan lainnya jalan pulang tak lama setelah kalian berdua meninggalkan hotel," jawab Bella. Mereka bertujuh kemudian saling melempar pandang satu sama lain.
Mengesampingkan kebingungan itu, Bella memanggil pelayan untuk membawa Arka dan Key ke kamar.
"Seharusnya mereka sudah sampai dari tadi," ucap Ken.
"Kami sedari tadi menunggu. Kami tidak bisa masuk kamar sebelum kalian kembali," terang Teresa yang masih mengenakan gaun resepsinya yang berwarna hijau toska.
Ya, ada sebuah kebiasaan di sini, di mana ibu mertua ataupun ipar perempuan akan mengantar pengantin wanita ke dalam kamar pengantin pria. Jika Rose dan Helena belum kembali, Teresa urus menunggu sampai mereka kembali baru dia dan Louis bisa masuk ke dalam kamar.
"Aku telpon Bunda," ucap El kemudian. Saat panggilan itu berada pada dering pertama, suara familiar yang serentak mengucapkan salam terdengar di telinga mereka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Itu keluarga Kalendra dan Mahendra, mereka baru kembali? Dari mana saja? Dan mengapa wajah mereka semua sungguh cerah?
Padahal mereka membuat pengantin baru menunggu dan membuat cemas Bella dan lainnya. Tapi, lihatlah senyum lebar nan lembut Brian, juga Leo.
"Selamat, anggota keluarga kita akan bertambah lagi," ucap Max.
"Bukankah sudah bertambah?"sahut Louis.
"Mama sangat senang dan bersyukur, Mama akan punya tiga cucu!"ungkap Rahayu.
Tiga cucu?
Pandangan Ken dan lainnya langsung tertuju pada Silvia dan Brian. Senyum Brian itu, ucapan Rahayu itu, apakah Silvia hamil?!
Dan Max mengatakan bahwa akan bertambah satu anggota lagi, Leo, Helena juga hamil?!