This Is Our Love

This Is Our Love
Dylan Nesya Sah, Bella Akan Melahirkan?



El dan Anjani mengobrol banyak dengan Nizam dan Umi Hani. Tidak hanya keduanya, keluarga Mahendra juga turut. Ditambahkan lagi dengan kehadiran Azzura dan keluarga. Resepsi malam adalah puncaknya. 


Mendekati pukul 22.00, ballroom semakin lenggang karena acara akan segera berakhir. Meninggalkan mempelai dan keluarga, juga tamu yang menginap di hotel. 


"Sudah larut, kami pamit pulang ya, Kak," ucap Azzura pada Bella, setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tidak menginap saja?"tawar Bella, mengingat hari semakin larut, bukan?


"Lain kali saja, Kak. Besok juga Angga ada rapat penting di paginya. Takut nggak keburu nanti waktunya," tolak Azzura seraya memberikan alasannya. 


"Ah … begitu ya. Ya sudah. Kalian hati-hati di jalan," ujar Bella. Azzura mengangguk. Ia dan Anggara kemudian berpamitan kemudian meninggalkan ballroom Aksara Hotel. 


"Anak-anak ini kalau sudah mengantuk, suruh ke kamar saja," ujar Rahayu, melihat wajah lelah juga ngantuk Zidan, Haris, Fajar, Nisa, Laila, dan juga Naina. 


El mengangguk. Ia memanggil salah seorang karyawan hotel untuk mengantarkan keenamnya ke kamar. "Pergi tidur sana. Besok weekend kita jalan-jalan," ujar El yang diangguki oleh keenamnya. Ya, El pernah menjanjikan hal itu sebelum meninggalkan pesantren. 


"Jadi, kapan rencana kalian ke Jerman lagi, Hani?"tanya Rahayu pada Umi Hani. 


"Aku juga belum tahu, Yu. Mungkin pada saat atau menjelang Calia melahirkan," jawab Umi Hani. Ya, itu moment yang paling cocok. 


"Hm … jika begitu, berarti kemungkinan besar nanti waktu ke sana ada tambahan personel," ujat El, dengan tersenyum melirik Nizam. 


"Tambahan personel?" Umi Hani mengeryit tidak paham. 


"Iya benar. Tambahan personel karena kan anak Umi yang satu ini kemungkinan besar sudah menikah," jelas El yang membuat Nizam menyikutnya. El terkekeh dibuatnya. Wajah Nizam memerah, tanda ia secara tak langsung membenarkan apa yang dikatakan oleh El.


"Ah Naina ya. Doa kan saja ya, semoga mereka lancar sampai menikah," jawab Umi Hani. 


"Umi …." Nizam masih tipe pemalu rupanya. Dan rengekan itu disambut dengan tawa renyah. 


*


*


*


"Astaga! Bagaimana ini?"tanya El pada Anjani saat membuka kado dari Bella dan Ken. Untuk kado dari Brian dan Silvia sudah dibuka dan itu isinya jam yangan couple. 


"Kenapa, El?"tanya Anjani melihat wajah bingung suaminya. 


"Ini adalah tiket bulan madu ke Hawai dan berangkatnya, besok pagi!"jawab Bella dengan suara berseru. 


"Benarkah?" Anjani melihatnya. Ya, itu memang tiket bulan madu ke Hawai. 


"Padahal kan besok aku berjanji akan mengajak anak-anak untuk jalan. Kalau aku batalkan mereka kecewa. Kalau kita tidak berangkat, kau, Abel, dan Ken pasti akan kecewa padaku." Ken menjadi dilema. Wajahnya murung. 


"Ya sudah, kalau begitu kita lihat saja besok pagi. Kalau aku sih tidak masalah mau liburan atau tidak. Yang jadi masalahnya itu Abel, Ken, juga anak-anak itu," ucap Anjani. 


"Sungguh?" Anjani mengangguk. "Lebih baik kita istirahat. Aku lelah sekali," ajak Anjani. 


"Ya, kau ada benarnya, Jani."


*


*


*


Antara pergi bulan madu atau pergi jalan-jalan bersama dengan sahabat dari pesantren. Bella dan Ken saling pandang saat El dan Anjani mendatangi keduanya untuk membuat keputusan. "Ah … kami tidak tahu kalau akan ada hal itu. Jadi, ya terserah kalian saja," jawab Ken.


"Atau jalan-jalan dulu dengan mereka baru kalian pergi ke Hawai. Di tiket kan penerbangan itu pagi. Karena tidak sempat, bisa beli tiket pesawat lagi. Ya, tapi aku tidak akan menanggungnya biayanya lagi. Hm … hanya tiket nanti yang tidak berlaku, yang lain akan aman," tambah Bella, memberikan opsi pada El dan Anjani. 


El dan Anjani memikirkan saran itu. "Aku rasa itu saran yang bagus. Kita tidak akan kehilangan salah satunya," ucap Anjani. 


"Ya, aku juga merasa begitu!" Masalah terpecahkan. 


Selesai sarapan, El, Anjani, Nizam, dan keenam anak itu langsung pergi untuk jalan-jalan. Umi Hani tidak ikut. Ia memilih menghabiskan waktu bersama dengan Rahayu. 


*


*


*


Karena waktu yang terbatas sebab El dan Anjani menjadwalkan mereka akan berangkat selesai Dzuhur, maka tidak begitu banyak tempat yang didatangi. Hanya Monas dan Dufan. Kemudian makan siang di salah satu restoran langganan. Baru setelahnya, mereka pulang. El menyuruh Nizam untuk langsung kembali ke kediaman Mahendra. Sementara dirinya dan Anjani akan pulang ke kediaman Anjani, mengingat sejak menikah El tinggal di sana. 


Sekitar pukul 12.30, El dan Anjani telah tiba di kediaman Mahendra. Koper untuk berangkat bulan madu tetap di mobil. Keduanya kemari untuk berpamitan. Sekaligus sementara menitipkan Arka. Kan aneh jika mereka honeymoon membawa anak. Ya ada gagal honeymoon dan berubah menjadi liburan keluarga. 


"Hawai itu jauh, ya?"tanya Nisa pada teman-temannya. 


"Tidak tahu. Ku rasa lebih jauh dari Bandung-Jakarta," sahut Haris. 


"Ya jelaslah. Itu di luar negeri. Harus naik pesawat kalau mau ke sana. Harus punya banyak uang juga," ucap Laila. 


"Benarkah?" Nisa terpana. 


"Rasanya naik pesawat itu gimana, ya? Apa sama seperti naik kereta api?"tanya Fajar. 


"Sebenarnya tidak banyak bedanya. Bedanya itu hanya terbang," jawab Naina. Biar bagaimanapun, dia sudah pernah merasakan naik pesawat. 


"Dan kita simpulkan, Kak El itu kaya dan keluarganya lebih kaya lagi," ucap Zidan yang diangguki oleh teman-temannya. 


"Anak-anak, aku dan istriku berangkat, ya," pamit El pada mereka. 


"Ah iya, Kak El." Mereka bangkit dan menyalami El dan Anjani bergantian. 


"Hati-hati ya, Kak. Dan selamat liburan," ucap Nisa.


"Tentu saja," jawab El. 


"Terima kasih untuk hari ini ya, Kak. Maaf, kami merepotkan Kakak. Sampai-sampai kegiatan Kakak terhambat karena kami," ucap Nizam, menunduk merasa bersalah. 


"No problem. Janji wajib ditepati, bukan? Lagipula kalian tidak setiap hari kemari atau bertemu dengan kami," jawab Anjani. 


"Baiklah. Kami berangkat. Assalamualaikum," pamit El.


"Waalaikumsalam," jawab mereka berlima.


Setelahnya El dan Anjani kembali ke mobil dan meninggalkan kediaman menuju bandara. 


Sore harinya, Nizam, Umi Hani, dan rombongan kemarin kembali ke Bandung. Mereka menggunakan moda transportasi yang sama, yakni kereta api. Itu dinilai yang paling nyaman.


*


*


*


Beberapa hari setelahnya, dan tiga hari sebelum hari H pernikahannya dengan Nesya, Dylan mengikuti ujian UTBK. Begitu juga dengan Fajar. Mereka mengikuti ujian di lokasi yang telah dipilih yakni lokasi yang paling dekat. Mengingat umur keduanya, mereka hanya pergi berdua, tidak ditemani oleh keluarga, hanya diantar oleh supir. 


"Kak," panggil Nesya pada Bella yang tengah fokus pada laptopnya. Ya begitulah Bella. Meskipun ini sudah mendekati hari lahirannya, hanya tinggal menghitung hari, Bella tetap mengurus saham-sahamnya dan juga memantapkan kembali rencana membangun perusahaan yang direncanakan akan bergerak di bidang makanan. 


"Ya? Ada apa, Nesya?" Bella menoleh pada Nesya, hanya sebentar kemudian kembali fokus pada laptopnya. 


"Apa Dylan akan melewati ujian dengan baik?"


"Kau tidak yakin dengan kemampuannya?"tanya balik Bella.


"Yakin. Tapi, aku tidak yakin dengan diriku sendiri," jawab Nesya dengan menunduk. 


"Mengapa? Seingatku kau dulu pintar," sahut Bella. 


"Itu kan dulu, Kak. Sudah berapa lama aku lulus dari SMA? Dan masalahnya ini adalah ujian masuk universitas. Ah … rasanya tegang sekali."


Bella tersenyum mendengar keluhan Nesya. "Tidak perlu merasa seperti itu," ucap Bella seraya menepuk bahu Nesya. 


"Entahlah, Kak. Belajar seperti ini membuatku seakan kembali ke zaman SMA. Aku merasa usiaku masih 18 tahun," ucap Nesya, dengan sedikit kekehan. 


"Bukankah anak segitu yang akan jadi teman kuliahmu nanti?"timpal Bella, ikut terkekeh. 


"Hahaha." Nesya tertawa. "Bahkan nanti setelah lulus pun akan tetap menegangkan."


"Namanya juga mengulang kembali. Ah … daripada membahas hal yang menegangkan, lebih baik kita bahas pernikahanmu," ujar Bella. 


"Itu lebih menegangkan," celetuk Nesya langsung. Menikah, berarti akan menempuh hidup baru. 


"Tidak terlalu. Bawa santai saja. Yang terpenting itu adalah yakin, yakin semua akan berjalan dengan lancar, okay?"


"Ya, aku mengerti, Kak."


*


*


*


Hari yang dinanti telah tiba. Hari pernikahan Dylan dan Nesya. Pagi sekali, Dylan dan Nesya bersama dengan keluarga sudah berangkat menuju Aksara Hotel, tempat pernikahan akan dilangsungkan. Setibanya di Aksara Hotel, kedua calon mempelai langsung bersiap untuk pernikahan mereka. 


Bella, Silvia, dan Anjani menemani Nesya bersiap. Sementara Ken dan Fajar menemani Brian. Gaun pengantin model kebaya modern menjadi pilihan Nesya saat akad. Saat digunakan, gaun itu akan menyeret di lantai. Gaun berwarna putih, warna yang biasa digunakan saat pernikahan. 


"Astaga! Kau cantik sekali, Nesya," puji Silvia langsung. 


"Benarkah?" Nesya mematut dirinya di depan cermin. 


"Gaunnya sangat cocok denganmu. Ah … aku bisa pangling jika begini," ucap Silvia lagi. 


"Tentu saja. Dia akan adikku," jawab Bella. 


Silvia menyipitkan matanya. "Kilau kalian berdua menyilaukan mataku," ucap Silvia, mengeluh dan juga memuji. 


"Sebelum keluar, kita ambil foto dulu," ajak Silvia kemudian. Segera mengeluarkan ponselnya.  


"Aduh!" Baru beberapa jempretan, tiba-tiba Bella mengadu sakit sembari memegang perutnya. 


"Ada apa, Kak?" 


"Tiba-tiba mereka menendang cukup keras," jawab Bella. Nesya membantu Bella untuk duduk. 


"Mungkin mereka sudah tiba sabar untuk lahir, Kak," terka Nesya. 


"Mungkin saja. Tidak terasa, sebentar lagi mereka akan lahir," ucap Bella seraya mengusap perutnya. 


"Apa sering menendang, Abel?"tanya Silvia. 


"Lumayan. Apalagi kalau dirangsang," jawab Bella. "Mereka sangat aktif."


"Bagaimana denganmu, Via?"


"Brian kecil ini sepertinya akan menuruti sifat ayahnya," jawab Silvia. Bibirnya mencembik. "Dia begitu dingin bahwa saat dirangsang. 


"Oleh Brian?"


"Nah itu yang lebih mengesalkan! Dia hanya merespon saat berinteraksi dengan ayahnya. Padahal kan dia di dalam diriku. Aku cemburu pada Mas Brian." Silvia misrah-misruh kesal. 


"Calon anak Papa dong, Kak," cetus Nesya. 


"Hm. Biar saja. Nanti Mas Brian yang aku suruh menyusui sama mengganti popoknya," jawab Silvia, dengan bersungut. 


Bella tertawa. "Masa' Brian menyusui. Keluar tidak, sakit iya."


"Biarin!"


"Ah, aku tak sabar untuk menyusui. Bagaimana ya rasanya?"tanya Bella. 


"Mungkin seperti suami kita," jawab Silvia. Itu cukup frontal. 


"Suami menyusu?" Nesya mengeryit tidak mengerti. "Mereka kan sudah dewasa, kalau menyusu apa tidak sakit?" Fix. Nesya masih polos. Bella dan Silvia saling tatap. 


"Kita beritahu atau bagaimana?" Silvia berbisik pada Bella. 


"Nesya kan sebentar lagi jadi istri. Aku rasa tidak perlu. Toh nanti juga tahu sendiri," jawab Bella, berbisik pula. 


"Tapi, Dylan?" 


"Semua tidak harus dalam satu waktu. Mereka bisa mencarinya bersama," jawab Bella. 


"Bukannya dijawab malah bisik-bisik!"ketus Nesya. Bibirnya mencembik. 


"Nanti kau juga akan tahu, Nesya," jawab Bella.


"Sudah ku duga." Bella dan Silvia tersenyum. 


*


*


*


"Saya terima nikah dan kawinnya Nesya Aruna Chandra anak perempuan dari Bisma Chandra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"ucap Dylan lantang dalam satu kali tarikan nafas. 


"Bagaimana para saksi, sah?"


Tentu saja dibalas dengan gemuruh jawaban, SAH! 


Doa pun dipanjatkan. Kini, Nesya dan Dylan sudah sah menjadi suami dan istri. 


Dylan menepati janjinya. Senyum keduanya begitu lebar. Namun, tetap tak bisa menahan air mata saat Nesya mencium punggung tangan Dylan. 


Bukan hanya pasangan baru itu, Bella juga menitikkan air matanya. Melihat adiknya bahagia, Bella tak mampu untuk tidak menangis. "Meskipun aku tidak bisa menikahkan Nesya, melihatnya menikah dengan Dylan, aku merasa sangat bahagia."


"Tanggung jawabku pada Nesya telah usai. Aku harap Dylan, mampu bertanggung jawab dan selamanya saling mencintai, seperti kita," harap Ken dengan memeluk Bella. 


"Ah … aku lega, Ken." Bella memejamkan matanya. Wajahnya begitu lega. 


"Auh!" Bella tiba-tiba membuka matanya dan mengaduh sakit. 


"Ada apa, Aru?"


"Perutku sakit sekali," jawab Bella dengan menggigit bibirnya. Ia juga memegangi perutnya. 


"Kakiku terasa basah," ujar Bella. Ada nada panik di sana. Ken melihat ke bawah. 


"Aru, kau akan melahirkan?!" Ken berseru panik yang langsung mendapat semua perhatian. 


"Mungkin. Auh … ini sakit!" 


Ken tidak lagi menjawab. Ia segera menggendong Bella dan meninggalkan ballroom.


"Apa yang terjadi?"tanya Silvia, kejadian itu terlalu cepat. 


"Sepertinya Abel akan melahirkan," jawab Brian. 


"Hah?!" Yang mendengarnya langsung berteriak kaget. 


"Ayo ke rumah sakit!" Nesya berdiri. 


"Acara kalian?"tanya Anjani. 


"Kakakku lebih penting!" Ya sepertinya acara itu sedikit terbengkalai. Namun, intinya Nesya dan Dylan telah menikah. Masalah resepsi, itu urusan belakangan!