
Keesokan paginya, sekitar pukul 07.00 Ken dan Bella berangkat ke bandara untuk ke Bandung dengan sebelumnya mampir lebih dulu ke rumah Anjani guna mengambil titipan.
Sementara Ken dan Bella dalam penerbangan menuju Bandung. Di pesantren Baitussalam, El tengah mengantri sarapan pagi bersama dengan beberapa santriwan yang datang cukup lambat. Belakangan ini sudah tidak diawasi oleh Nizam lagi.
Selama kurang lebih dua bulan berada di pesantren ini, El mengalami perbaikan karakter yang cukup pesat. Walau narsis dan jahilnya masih ada karena dua hal itu adalah ciri khas El.
"Kak El, gawat!!"seru Zidan yang berlari kecil menghampiri El. El yang masih mengambil sayur yang dijajarkan seperti makan prasmanan, menoleh pada teman sekamarnya itu.
Zidan lebih dulu selesai sarapan karena ia tiba lebih awal, ketimbang El yang habis subuh tadi kembali tidur dan begitu bangun sudah hampir pukul delapan.
"I-itu, Naina … Naina …." Zidan panik. El meletakkan piringnya, memegang kedua pundak Zidan.
"Ada apa dengan Naina?"tanya Zidan dengan dahi mengeryit. Gadis itu baik-baik saja bukan tadi sewaktu subuh?
"N-Naina jatuh dari motor, tangannya terluka!" Mata El langsung membola.
"Di mana dia sekarang?"
"Diantar oleh Ustad Nizam ke rumah sakit," jawab Zidan, meringis merasakan cengkeraman El pada bahunya.
"Ah, aku tidak sengaja. Dari mana kau bagaimana tangan Naina bisa terluka?" El menarik kedua tangannya. Zidan mengangguk paham.
"Ku dengar dari Umi, katanya Naina nabrak angkot saat mau ambil uang di atm," jawab Zidan. Ah, El tahu kalau Naina itu bisa naik motor dan anaknya cukup tomboy. Naina adalah anak seorang pengusaha yang cukup sukses di kota Bandung. Namun, orang tuanya begitu sibuk, tidak ada waktu untuknya.
Oleh karenanya sejak SMP, Naina memilih pesantren sebagai tempatnya belajar dan tinggal. Naina jarang pulang ke rumah, karena Ibunya sering tidak berada di rumah. Hanya kiriman sejumlah uang saja yang masuk setiap bulannya ke rekening Naina. Perlu dicatat kalau Ibu Naina itu sekarang single parent. Ayah Naina telah berpulang saat usianya sekitar 10 tahun.
"Kak El bagaimana dengan videonya? Tangan Naina terluka, siapa yang akan menggantikan dirinya bermain piano? Lebih-lebih, batas terakhir pengumpulan video itu lusa dan hari ini kita akan buat videonya," cemas Zidan. Gurat kecemasan begitu terpancar jelas darinya.
"Kau ini!"gerutu El pada Zidan, menyentil dahi Zidan.
"Auh!" Refleks Zidan mengadu sakit. Ia menatap bingung El. Salahkan apa yang aku katakan?
"Kesampingkan dulu soal pembuatan video. Masih ada banyak kesempatan untuk itu. Kondisi Naina lebih penting!"ucap El. Ia kembali mengambil piringnya yang sudah terisi oleh nasi, lauk, dan pauknya lalu mengambil tempat duduk. Zidan mengikutinya dan duduk di depan El.
"Aku paham, Kak. Tapi, bagaimana dengan yang lain? Kasihan kan? Kita sudah berusaha dan berada pada titik ini, jika hanya gara-gara Naina kita batal membuat video, bukankah semua apa yang lakukan sampai hari ini sia-sia? Kak kita tinggal buat videonya loh!"cerca Zidan. El menatap Zidan datar dengan mulut mengunyah.
"Aku paham. Jangan terlalu cemas. Kita lihat kondisi Naina nanti baru buat keputusan," jawab Zidan, tenang. Kembali menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya.
Wajah Zidan meragu. Agaknya ia masih menuntut El untuk memberikan keputusan sesaat. "Solidaritas itu sangat penting. Kau nanti juga jangan menyalahkan Naina. Dia juga tidak mau kena musibah. Tenanglah, akan ada jalan saat kita berpikir dengan tenang. Selain itu, apa kau tak percaya padaku?"sambung El setelah menelan kunyahannya.
"Baiklah." Zidan mengangguk menurut. Ia lalu undur diri dari ruang makan. El masih menghabiskan sarapannya. Menatap lurus ke depan "siapa yang bisa menggantikan Naina? Anak-anak itu pasti akan kecewa jika sampai video tidak dibuat. Dan aku tidak bisa membiarkannya."
Sorot mata El mencari seseorang yang bisa bermain piano dan memahami not dengan cepat. El bisa bermain piano namun dalam pembuatan video nanti ia bertindak sebagai sutradara. Seseorang itu haruslah santriwan atau santriwati.
Selesai sarapan, El bertopang dagu mengingat-ingat kembali saat ia mengikuti kelas seni pesantren ini. Dari begitu banyak anak didik di pesantren ini, hanya Naina yang begitu bagus permainan pianonya. Ada pun yang bisa, namun tidak begitu bagus dan El khawatir waktunya tidak cukup jika harus mengulang memperlajari, menghafal, dan menyatu dengan alat musik lainnya dan vokal. Waktu tinggal lusa! El memijat dahinya, kemudian menghela nafas kasar.
Video yang dimaksudkan adalah video berupa music video sederhana yang lagunya adalah cipta sendiri, bukan mengcover lagu.
Cipta lagu religi dan video musiknya sekaligus adalah salah satu dari lomba yang diadakan oleh pemerintah yang diselenggarakan secara nasional, dalam rangka hari Santri. El tergabung dalam dua lomba yang perannya adalah sama yakni sebagai sutradara dan videografernya.
Satu lomba lagi adalah berupa film pendek yang menyertakan video dokumenter profil pesantren. Itu sudah selesai dua hari yang lalu.
"Assalamualaikum, Kak El."
Beberapa anak yang tak lain adalah anak-anak yang ikut lomba cipta lagu dan music video, menghadap Ken. Ada dua vokalis, lagu yang dibawakan adalah tipe lagu duet, ada gitaris yakni Zidan, dan peniup seruling.
"Waalaikumsalam, duduk."
"Kak, bagaimana ini? Tadi kata Umi tangan Naina cedera. Nggak bisa main piano. Apa kita nggak usah pakai pianis saja?"tanya santriwati yang bernama Nisa.
"Kita cari penggantipun sepertinya tidak keburu. Kalau nggak pakai pianis, kita harus ubah lagi nada lagunya, latihan ulang lagi, sama saja nggak keburu," ujar Santriwan bernama Haris.
"Tapi, kalau kita nggak bisa menemukan pengganti Naina, ataupun mengubah not lagu, sama saja tidak batal ikut lombanya," ujar pemain seruling yang bernama Fajar.
Wajah mereka murung semuanya. Satu bulan full mereka bekerja keras dari mulai menulis lagunya sampai latihan kemarin yang dianggap sudah sempurna, tinggal pengambilan music videonya saja. Kecewa sekali rasanya.
"Hei-hei! Kalian mengapa berkecil hati?!" El memukul meja menyadarkan keempat anak itu. Wajah keempatnya masih lesu, belum menemukan jalannya, bagaimana mereka bisa untuk tidak berkecil hati?
"Di antara teman kalian, siapa yang pandai fotografi atau membuat video, sebelum aku di sini." Nggak mungkinkan anak didik sebanyak ini nggak ada yang pandai membuat video atau dunia editing?
"Laila, Kak!"jawab Nisa tak lama kemudian.
"Asal ada lomba yang buat video atau fotografi, dia yang selalu menvideo atau jadi fotografernya," imbuh Nisa, wajahnya sedikit berseri. El melengkungkan senyum lebar.
"Jalannya sudah dapat, panggil Laila ke ruang latihan!"ucap El.
"Hah?" Keempat remaja itu tidak paham apa yang mau El lakukan.
"Ayo cepat, waktu kita terbatas!"suruh El dengan wajah galak. Mau tak mau keempat anak itu melakukan apa yang suruh.
Kenapa bisa kelupaan?batin El terkekeh sendiri.
*
*
*
"Assalamualaikum," ucap El saat masuk ke ruang untuk latihan.
"Katanya kau pernah ikut lomba fotografi dan videografi?"tanya El pada Laila dan Laila mengangguk.
"Kalau begitu, kau ikut dalam lomba ini sebagai videografernya!" tunjuk El tegas.
"Hah??" Laila sudah ambil lomba bagian ceramah singkat dan itu memang sudah selesai.
"Kau mau kan?"
"Tapi, aku nggak tahu konsepnya bagaimana? Lagian apa keburu? Terus yang jadi pianisnya, siapa?"tanya Laila beruntun.
"Tenang saja. Aku sudah mencatat konsepnya. Kau tinggal dilatih sebentar pasti bisa. Dan aku akan menjadi pianisnya," jelas El.
"Hah? Kakak bisa main piano?"
"Jika tidak untuk apa aku mengajukan diri?"sahut El santai.
"Ah … lalu notnya?"tanya ragu Zidan.
"Lihat saja nanti!"jawab El. "Sudah kalian mantapkan lagi. Besok kita buat mv nya, diusahakan satu hari selesai lalu paginya tinggal diedit, siang atau sorenya tinggal dikirim," ujar El memberi intruksi. Walau masih meragu, mereka tetap melakukan apa yang El suruh.
El itu memang bisa bermain piano. Basicnya memangnya dunia seni. El punya bakat yang bagus di dalamnya. Hanya saja, karena pengaruh buruk pergaulannya, juga ketidakpedulian keluarga kecuali Bundanya, membuat El malah membuat karya yang adegannya banyak melanggar norma, yakni pergaulan bebas.
*
*
*
"Kita langsung ke pesantrennya El?"tanya Bella selesai mereka makan siang di salah satu rumah makan pinggir jalan. Setengah jam yang lalu mereka baru saja selesai meninjau proyek. Rencananya nanti sore mereka baru kembali ke Jakarta.
"Iya. Rupanya jaraknya cukup jauh lagi," jawab Ken, mengusap bibirnya dengan tisu.
"Kalau begitu ayo jalan sekarang," ucap Bella.
"Ayo."
Segera setelah membayar makan siang mereka, Bella dan Ken langsung on the way menuju pesantren Baitussalam dengan panduan maps karena mereka berdua tidak tahu di mana lokasi pasti pesantren.
Sekitar satu jam kemudian, keduanya tiba di depan gerbang pesantren Baitussalam. Bangunan pesantren didominasi warna hijau. Bella turun untuk berbicara dengan penjaga gerbang, menyampaikan maksud dan tujuan mereka.
"Oh keluarganya Den El, ya?"
"Benar, Pak."
"Baik-baik. Saya buka dulu gerbangnya." Bersamaan dengan penjaga gerbang yang membuka gerbang, sebuah mobil berhenti di depan gerbang, tepat di belakang motor Bella. Penjaga gerbang membuka lebar gerbang. Bella menduga itu mobil milik pesantren.
"Dia, kalau tidak salah Nizam, bukan?"tanya Ken melihat Nizam yang turun dari mobil disusul dengan dua orang wanita berbeda usia. Satu sepertinya seorang pengajar dan satu lagi yang lebih mudah seperti seorang santriwati, sepertinya baru saja mengalami kecelakaan. Soalnya tangannya kirinya digendong dengan kain.
"Assalamualaikum," sapa Ken, sebagai tamu tentu saja harus mengucap salam lebih dulu.
"Waalaikumsalam," jawab Nizam. Ia menatap Bella dan Ken dengan tatapan seperti tidak kenal. Nizam lantas meminta ustadzah yang turun bersama dengannya tadi masuk lebih dulu dengan santriwati yang mengalami cedera cukup serius itu.
"Dengan siapa ya?"tanya Nizam.
"Kau sudah melupakan kami, Nizam? Kita bertemu di rumah calon istri El beberapa waktu lalu," ucap Bella. Nizam mengingat-ingatan. Tak lama ia menganggukan kepalanya.
"Maafkan saya. Saya sungguh lupa," sesal Nizam.
"Tidak masalah," jawab Ken.
"Apa Anda berdua mau melihat Tuan Muda El?"tanya Nizam.
"Tuan Muda? Anda memanggilnya begitu?"tanya Ken. Bella dan Ken tercengang.
Nizam mengangguk membenarkan. "Sudah kebiasaan dari kecil. Lagipula benar dia seorang Tuan Muda. Jika memanggil nama saja, walaupun saya salah satu pengajarnya, tetap saja usia saja lebih muda dari Tuan Muda El," terang Nizam.
"Ah begitu ya? Okay. Itu hakmu," sahut Bella.
"Kalau begitu ayo masuk," ajak Nizam.
"Mari."
"Oh ya, yang tadi itu kenapa?"tanya Ken penasaran. Mereka kini melangkah menuju ruangan Umi Hani.
"Santriwati tadi kecelakaan. Tangan kanannya mengalami patah."
"Ekspresinya tadi begitu murung, apa Anda tahu alasannya?" Bella menangkap ekspresi murung Naina tadi.
"Anda benar."
Nizam lantas memberitahu event lomba yang diadakan dalam rangka memperingati hari Santri. Dan peranan Naina di dalam salah satu lomba. "Kasihan sekali."
"Rupanya pesantren hampir tak ada bedanya dengan sekolah umum, ya?"celetuk Ken.
"Tentu saja, Tuan Muda Ken. Bedanya hanya di kurikulum pendidikannya. Kalau umumkan lebih kepada pengetahuan umum. Kalau pesantren lebih kepada pendidikan agama namun tidak menghilangkan pengetahuan umum di dalamnya. Makanya ada yang namanya sains islami," terang Nizam.
Bella dan Ken mengangguk mengerti.