
Menikmati senja di sebuah cafe milenial, di sudut cafe Bella termenung menatap latte di mejanya. Bella termenung mengingat masa lalu, masa sebelum ia meninggalkan tanah air. Jika ia pikirkan lebih mendalam lagi, Bella merasa masih banyak tabir rahasia yang belum terungkap.
Jatuhnya perusahaan keluarganya sekarang juga terasa sangat janggal. Selama ini, Bella memang merasa begitu, akan tetapi ia lebih fokus belajar dan bekerja untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dan bangkit untuk memperbaiki nama besar keluarga Chandra.
Rasanya mustahil, sosok yang ia kenal jujur, bijak, welas asih, dan penyayang keluarga bisa melakukan tindakan tercela, menggelapkan pajak dan memalsukan surat perijinan. Ayahnya pengusaha yang bersih, tidak pernah terlibat skandal atau kasus apapun, mengapa pada tahun itu, kasus itu langsung bisa menjatuhkan keluarga Chandra yang telah berdiri lama.
Bukti yang diberikan begitu jelas, pengakuan saksi juga diterima oleh hakim. Ayahnya tidak punya cela untuk mengelak dan membela diri. Demi membayar biaya ganti rugi, seluruh aset keluarga dijual dan keluarga Chandra yang kokoh pun langsung tumbang. Yang awalnya menjadi salah satu keluarga terpandang menjadi bahan tertawaan.
Akan tetapi, Bella tidak pernah marah pada Ayahnya. Seluruh keluarga juga tidak, hanya Nesya lah yang sangat tidak terima.
Mengingat Nesya, Bella tersadar dan langsung memeriksa tanggal. Seminggu lagi adalah jadwal perdana kemoterapi Nesya. Bella menghembuskan nafas pelan.
Sesaat kemudian, Bella kembali melanjutkan lamunannya. Kini Ia merasa banyak rahasia di dalam keluarganya sendiri. Sayangnya, Bella tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Jikapun benar, siapa gerangan yang bisa membuka rahasia tersebut.
Kini banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya. Akan tetapi tidak satupun yang Bella tahu jawabannya atau kepada siapa ia akan bertanya. Keluarga yang dulu sahabat baik keluarga Chandra juga sudah tumbang tak lama setelah keluarganya. Kepada orang tua, kakek, dan nenek, sangat mustahil. Kepada Nesya? Bella sangat tidak yakin.
"Gio mengapa kau menghindariku akhir-akhir ini? Kita sudah tunangan, tanggal pernikahan kita juga sudah ditentukan. Aku mohon jangan bersikap seperti ini lagi!"ucap seseorang dengan nada tinggi. Mendengar nama Gio, Bella sontak mendongak dan mengedarkan pandang. Di salah satu meja, Bella melihat seorang pria dan wanita yang tampak sedang bersitegang. Pria itu Bella kenali sebagai Gio yang ia kenal.
"Kita baru bertunangan! Belum menikah! Kau jangan terlalu mengekangku!"ketus Gio.
"Apa maksudmu, Gio? Aku punya hak untuk itu! Aku punya hak!"geram wanita itu.
Tak tahu malu, Bella menatap kesal hal tersebut. Sedangkan para pengunjung lain ada yang sekadar menonton ada juga yang merekam momen tersebut.
"Apa hakmu hah? Kalau bukan karena perjodohan, aku tidak sudi menikah denganmu!"balas Gio dengan sengit.
"Cih! Tidak bersedia katamu?! Kau kira aku sudi menikah denganmu hah? Kalau bukan karena tanggung jawab, tidak akan aku setuju dengan perjodohan konyol ini!" Wanita itu menggertakkan giginya, menatap kesal Gio.
"Batalkan saja perjodohan kita!"jawab Gio, acuh.
"Mbak sama Mas nya tolong jangan bertengkar di sini! Atau saya akan memanggil security mengusir Anda berdua!"ucap pelayan cafe yang sangat terganggu.
"Tidak perlu!"jawab wanita itu.
"Dan kau Gio, batalkan saja kalau bisa! Huh! Ingat masa depanmu ada di tanganku. Kau bersikap baik denganku merupakan sebuah langkah bagus! Jangan buat aku marah lagi!" Dengan kesal, wanita itu menyiramkan minumannya pada Gio, kemudian meletakkan sejumlah uang di meja membayar pesanan lalu melangkah keluar cafe.
"Sialan!"umpat Gio, memukul keras meja kemudian melangkah pergi. Wajahnya jelas merah padam karena merasa sangat terhina.
Hampir saja aku terjebak perasaan dengannya! Sudah punya tunangan masih saja tebar pesona. Dasar buaya!!gerutu Bella.
Suasana cafe kembali tenang. Para pengunjung kembali fokus pada apa yang mereka kerjakan sebelum pertengkaran itu terjadi.
Kejadian itu tak membekas di hati Bella. Kembali mengedarkan pandang, tatapannya terkunci pada live musik di salah satu sudut cafe.
"Mbak, pengunjung boleh ngisi live musik?"tanya Bella pada salah seorang pelayan yang kebetulan melewati dirinya.
"Oh boleh, Mbak. Silahkan saja kalau ingin mengisi, kebetulan penyanyinya masih lama lagi baru datang," jawab Pelayan tersebut ramah.
Bella mengangguk, kemudian melangkah menuju panggung. Bella meraih gitar, menyetelnya sesaat sesuai dengan lagu yang ingin ia bawakan.
Tes.
Tes.
"Selamat sore semuanya," sapa Bella diiringi dengan senyum manisnya.
"Sore." Sahutan yang terdengar ramai dan menanti menjawab sapaan Bella.
"Di sini, saya akan membawakan lagu yang berjudul "Yang Terlupakan." Selamat mendengarkan," ucap Bella.
🎶Denting piano
Kala jemari menari
Nada merambat pelan
Di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan
Bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan
🎶Hati kecil berbisik
Untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda
Seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma
Kala memberimu dosa
🎶Na na na na ...
Oh, maafkanlah
Na na na na ...
Oh, maafkanlah
🎶Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini?
Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti
🎶Na na na na ...
Na na na na ...
Na na na na ...
Na na na na …
🎶Hati kecil berbisik
Untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda
Seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma
Kala memberimu dosa
🎶Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini?
Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti
🎶Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti
🎶Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti ….
"Terima kasih." Bella menunduk dan meletakkan gitar di tempat semula. Tepuk tangan tangan meriah menjadi penutup penampilan Bella.
Ya inilah salah satu bakat tersembunyi Bella. Bermain gitar dan menyanyi. Biarpun tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun, selera musik Bella tetaplah musik tanah air. Bella adalah salah satu dari sekian banyaknya fans Iwan Fals.
Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Chrisye, juga Noah Band adalah sederet penyanyi favorit Bella.
Perasaan Bella lebih lega ketika sudah menyuarakan isi hatinya lewat lagu tadi. Memang, banyak yang terlupakan oleh Bella. Bella memejamkan matanya setelah kembali ke mejanya.
Sudahlah. Cepat atau lambat, jika memang sudah dikehendaki pasti rahasia-rahasia yang tertutup serapat apapun pasti akan terbuka juga.
Setelah membayar pesanan, tak lupa pelayan cafe mengucapkan terima kasih pada Bella karena telah mengisi live musik menghibur pengunjung. Bella lalu melangkah keluar dari cafe. Saat hendak memakai helm, ponselnya berbunyi. Bella melihat ponselnya. Sebuah email masuk, senyum Bella sumringah saat tahu bahwa itu email panggilan interview.