
Benar!
Dylan yang genius, menamatkan startar satunya dalam waktu dua tahun. Sementara Nesya, ia yang sudah pernah menempuh pendidikan kedokteran bahkan sudah memasuki masa pengabdian. Namun, karena insiden yang membuatnya harus diterapkan di drop out dari kampus.
"Sejujurnya aku ingin punya anak sebelum lulus. Namun, apa daya? Nesya menempuh pendidikan dokter, setidaknya ia harus menikmati masa kuliah dan kerjanya sebelum memiliki anak. Ya … aku tahu, anak bukan halangan. Akan tetapi, itu akan sedikit merepotkan," ujar Dylan, berkaca pada apa yang ia lihat dari Bella dan Silvia. Okelah, pekerja kantoran ada jam kerja dan liburnya. Akan tetapi, dokter? Mereka harus siap sedia!
"Hm … ya menjadi dokter memang bukan perkara mudah. Namun, ada baiknya kalian memikirkannya kembali. Terlebih usia kalian yang sudah tidak muda lagi," tutur Surya.
"Sejujurnya aku ingin memiliki anak. Biar para julid di kampus itu tidak menggunjing kami! CK! Rasanya menyebalkan sekali. Sudah nikah lama kok belum punya anak?! Nggak subur ya? Atau jangan-jangan seatap tak seranjang?!" Nesya mendadak menjadi kesal. Bibirnya mencembik. Wajahnya jelas menunjukkan rasa kesal.
"Benarkah? Ah! Jika aku yang mengalaminya aku akan melumuri bibir mereka dengan merica!"sahut Bella dengan nada kesalnya.
"Mengapa tidak kau buat mereka tidak bisa bicara saja? Rasanya percuma diberi mulut namun mengatakan hal yang tidak bermutu!" Brian bahkan turut tersulut.
"Hm, aku rasa masalahnya ada di kepala. Mereka tidak berpikir sebelum bicara. Ckckck!"
Fajar menggelengkan kepalanya. Bagaimana dengan Fajar? Mengingat jurusannya di bidang sains, kini Fajar sudah berada di tahap menyusun proposal untuk skripsi.
"Ah … Dylan?" Bella memberikan tatapan pada Dylan.
"Tenang, Kak! Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!" Dylan tersenyum.
"Baguslah!"
"Tapi, biarpun begitu rasa kesalnya masih ada sampai sekarang!"celetuk Nesya.
"Kalau begitu, milikilah seorang anak. Pendidikan kalian tidak akan hilang, kesempatan kalian juga tidak akan tertutup jika kalian memiliki seorang anak," ujar Ken.
"Itu benar! Lagipula, menjadi seorang dokter bukan berarti harus langsung bekerja menjadi dokter, bukan?"ucap El, yang sedari tadi diam kini akhirnya ikut nimbrung.
Dylan dan Nesya saling pandang. "Kebetulan sekali. Anggap saja liburan ini adalah bulan madu kalian," ucap Bella, sembari mengerlingkan matanya. Senyumnya menggoda pasangan itu.
"Dan bagaimana denganmu, Fajar? Apa rencanamu setelah lulus?" Brian, sebagai kakak ipar mempertanyakan rencana masa depan yang telah Fajar rancang.
"Cita-citaku menjadi peneliti. Setelah lulus aku akan ikut penelitian dengan dosenku di Singapura," jawab Fajar. Brian mengangguk.
"Ah … kau mau seperti Evan, ya?!"seru Anjani tiba-tiba.
"Evan?" Agaknya Fajar lupa dengan kembaran Nizam itu.
"Dia adalah temanku, juga suami dari sahabatku. Dia adalah peneliti di institut penelitian Berlin," jelas Bella.
"Ah … begitu rupanya."
"Menyinggung tentang Evan, mengingatku pada Nizam, bagaimana kabar anak itu sahabatmu, El?"tanya Surya pada El.
"Dia maka segera menyusulku," jawab El. "Menjadi seorang ayah," lanjutnya.
"Hm? Naina akan segera melahirkan?"tanya Silvia memastikan. El mengangguk.
"Itu kabar yang baik," ucap Surya yang diangguki oleh yang lain.
"Dan Abel, apa kau sudah menyiapkan apa saja agenda liburan, Abel?"tanya Brian pada Bella.
"Sudah. Tapi, masih rahasia," jawab Bella, dengan tersenyum.
*
*
*
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih empat belas jam dengan sekali transit di Dubai. Dan itu memang dalam agenda liburan mereka, mengunjungi kota yang dikenal kaya dan penuh dengan teknologi itu. Mengunjungi kota dengan julukan kota emas itu.
Di sana, mereka turun dan mengunjungi beberapa tempat. Salah satunya adalah Dubai Mall untuk memberi buah tangan untuk diri sendiri dan juga buah tangan tambahan untuk Desya dan keluarga.
Setelah cukup puas berwisata di Dubai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Rusia.
Dan kini mereka tiba di Rusia. Di bandara, sudah ada beberapa mobil untuk menjemput mereka. Itu adalah mobil jemputan dari Desya.
Dari bandara menuju Green Palace memakan waktu kurang lebih 3 sampai dengan 4 jam, tergantung dengan kecepatan mobil.
"Musim dingin!"ucap Liev dengan berbinar. Sudah lama ia tidak menikmati musim dingin.
"Tuan Muda, apa kau senang? Sebentar lagi kau akan bertemu dengan ayahmu," tanya Ken, memanggil Liev dengan statusnya di Green Palace.
"Tentu saja, Dad! Apalagi Lesta juga akan kembali dan adikku dari Ibu Evalia sudah lahir!"jawab Liev, dengan penuh semangat.
Ken tertawa, mengusap lembut rambut Liev. "Papa mau, elus." Nazira cemburu. Ia meminta.
"Really? Ahh kemarilah putri Papa," ucap Ken, merentangkan tangannya. Nazira masuk dalam pelukan Ken. Dan Ken segera menuruti keinginan Nazira. Nayan tetap berada di tempatnya. Tidak begitu tertarik. Ia malah asyik melihat pemandangan hutan di kala musim dingin.
"Hm, melihat semangatmu ini, Aunty ragu kau tidak mau pulang dengan kami nanti," ucap Bella, dengan menyentil hidung Liev.
Liev terdiam. Ia tidak segera menjawab. Pertanyaan itu nadanya memang lakaran, namun maknanya sangat mendalam. "Entahlah, Mom. Liev juga bingung," jawab Liev. Ya tentu menjadi pilihan sulit harus memilih antara keluarga kandung dan keluarga angkat, terlebih keluarga angkat itu sangat menyayangi dirinya.
Liev, ia dilema dihadapkan pada pertanyaan itu. "Ayahmu tetaplah yang utama, Liev. Alasan kau dititipkan kepada kami adalah karena ayahmu ingin melindungimu dari perubahan yang akan terjadi di Green Palace," ujar Ken.
"Jadi, kembali atau tidaknya, sudah saatnya atau tidak, itu tergantung pada ayahmu," imbuh Ken. Liev menatap Ken. Benar, yang melatarbelakangi ia tinggal bersama dengan Bella adalah karena hal itu.
"Daddy benar. Cepat atau lambat, aku akan kembali ke Green Palace karena aku adalah pewaris Ayah," ucap Liev.
"Kalau begitu, meskipun kelak kau sudah kembali, kau tetaplah putra kami, Liev," ucap Ken.
Liev mengangguk. Bella dan Ken, sangat tulus menyayanginya. Begitu juga dengan yang lain. Ah, dulu rasanya berat meninggalkan keluarga kandung. Dan kelak tiba pada saatnya akan berat meninggalkan keluarga angkat.
Bella menghela nafasnya. "Mom berharap yang terbaik untukmu, Nak," ucap Bella.
*
*
*
Sekitar 3 jam perjalanan akhirnya Bella dan keluarga tiba di Green Palace. "Selamat datang kembali, Bella." Bukan Desya yang menyambut lebih dulu, melainkan Aleandra.
Desya mengerjap. "Terima kasih, Aunty," sahut Bella. Kedua wanita itu kemudian berpelukan.
"Kau menepati janjimu, Bella," ucap Desya, setelah gilirannya.
Bella tersenyum lebar, "tentu saja! Aku selalu menepati janjiku," jawab Bella, seraya berjabat tangan dengan Desya.
"Kakak, akhirnya kita bertemu lagi," ucap Evalia, seraya memeluk Bella.
"Senang melihatmu lagi, Lia," ujar Bella.
"Ah … Lucia, kau pulang." Yap. Lucia juga menyambut mereka.
Lucia mengangguk. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Bella," ucap Lucia seraya menunduk, sebelum berpelukan dengan Bella. Hal itu Lucia lakukan mengingat statusnya.
"Kau tidak melupakan anakmu, kan?" Meskipun Ken tidak menyimpan dendam atau rasa kesal pada Desya, cara bicaranya masih ketus pada Desya.
Liev, bocah itu selama di perjalanan tadi tampak bersemangat. Namun, begitu tiga, ia malah bersembunyi di belakang Ken. Seraya mengintip.
"Ibu!" Tiba-tiba seorang bocah perempuan berambut ikal dan pirang, berlari ke arah mereka dengan riang. Di tangannya membawa beberapa tangkai mawar.
"Lesta!" Bocah itu adalah Lesta. Sangat cantik, mirip dengan Lucia. Dengan bola mata seperti Desya.
"Lihat, aku sudah mendapatkan mawar untuk menyambut Kak Liev dan Aunty Bella!"ucap Lesta, menunjukkan beberapa tangkai mawar di tangannya.
Lucia tersenyum. "Kalau begitu, lekas berikan. Aunty Bella sudah tiba," ucap Lucia dengan mengarahkan pandangan pada Bella.
Lesta mengikuti arah pandang sang ibu. "Aunty!" Ia berseru senang. Segera berlari pada Bella. Bella menyambutnya.
Lesta, semenjak tidak tinggal di Green Palace, ia bebas mengekspresikan dirinya dan bisa mencoba berbagai hal baru. Ya, jika di Green Palace, untuk seorang anak dengan status nona muda, mungkin itu akan dinilai tidak memiliki etika, atau tidak mematuhi peraturan. Namun, Lesta telah lama tinggal di Italia, di mana ia bebas mengekspresikan dirinya tanpa batasan dari ragam peraturan seperti di Green Palace.
"Bagaimana kabarmu, Nona Muda?"
"I'm fine," jawab Lesta, seraya menyodorkan setangkai mawar pada Bella.
"Aku ingat Aunty sangat menyukai mawar. Jadi, aku memetiknya untuk Aunty," ujar Lesta.
Bella tersenyum. "Terima kasih. Ini cantik sekali."
"Berada di tangan Aunty, itu jadi semakin cantik."
"Ah?" Bella terkesiap. Anak itu melayangkan pujian padanya. Astaga! Tapi, itu seperti rayuan. Desya bahkan sampai membelalakkan matanya. Begitu juga dengan Ken.
Untung anaknya. Kalau bapaknya, aku pasti langsung menendangnya!gumam Ken dalam hati.
"Apa bunganya hanya untuk Mom saja?" Setelah Lesta datang, Liev mulai menunjukkan dirinya. Ia berkata dengan nada sedikit ketus, pertanda cemburu.
"Kakak!" Lesta langsung berlari dan memeluk Liev.
"Putrimu semakin aktif dan energik, Lucia," ucap Bella yang diangguki oleh Lucia, setelah melihat Liev mundur beberapa langkah karena pelukan Lesta. Liev tidak siap menerima pelukan tiba-tiba dan penuh semangat itu.
"Aku sangat merindukanmu, Kak!" Darah lebih kental daripada air. Meskipun tinggal berjauhan, bahkan beda benua, keduanya tidak merasa asing, bahkan sangat-sangat saling merindukan.
"Ini untukmu, Kak."
"Terima kasih." Liev mencium mawar itu. "Ini sangat cantik, seperti adikku," lanjut Liev.
"Terima kasih. Kakak juga semakin tampan," puji Lesta.
"Dalam dua tahun saja, kalian datang berkunjung dengan anggota baru. Tidakkah kalian harus memperkenalkan siapa saja anggota baru ini?" Dimitri angkat bicara.
"Kita sudah cukup lama di luar. Sebaiknya kita lanjut di dalam," ajak Desya. Ini musim dingin. Hal itu diangguki oleh mereka.
Di ruang tamu, kembali mereka melanjutkan apa yang tertunda. Saling menyapa dan bertukar kabar. Tak lupa juga memperkenalkan anggota muda keluarga Mahendra, yakni Nayan, Nazira, Atha, dan juga Maharani.
Dan tak ketinggalan pula, memperkenalkan anak Desya dan Evalia. Anak mereka adalah seorang putri, dan diberi nama Larisa Volcov.
"Ayah," panggil Liev.
"Ya?"jawab Desya.
"Aku ingin mengunjungi Ibu," ujar Liev. Ia tidak akan pernah melupakan sang ibu.
"Jika begitu, silahkan. Tidak ada yang melarangmu," ucap Desya.
"Ayah tidak ikut?"tanya Liev. Desya diam beberapa saat. Tak lama kemudian, ia mengangguk. "Ayo, ayah akan menemanimu."
"Ayah, aku ikut, boleh?"tanya Lesta, mengalihkan pandangnya dari Baby Larisa.
"Mengapa tidak? Dia ibumu juga," jawab Desya.
Kemudian, ayah dan kedua anak itu undur diri untuk mengunjungi makam Ariel. "Ah, hampir saja kelupaan. Kami membawa buah tangan untuk kalian," ucap Bella. Dan tanpa diminta, Dylan dan Fajar langsung membuka koper yang membawa oleh-oleh untuk keluarga Volcov.
*
*
*