
Menjelang magrib, Bella dan Ken baru tiba di kediaman Tuan Williams. Perjalanan cukup lama dikarenakan keduanya sempat terjebak macet.
Ketika memasuki rumah, Bella dan Ken mendapati ada tiga orang yang wajahnya masam dan murah. Seorang pria dan dua orang wanita, mereka bertiga menggertakkan gigi saat melihat Bella dan Ken.
Di kursi di sebelah sofa tunggal, Tuan Adam duduk. Tuan Adam lalu berdiri dan menyapa Bella. "Nona." Bella mengangguk membalasnya.
Wanita yang lebih tua, langsung berdiri dan melangkah menghampiri Bella. Bella yang masih berdiri di tempatnya menaikkan satu alisnya. Apa yang akan dilakukan wanita paruh baya itu?
"Beraninya …." Seruan Tuan Adam terhenti saat tangan wanita paruh baya itu yang melayang hendak menampar Bella ditahan oleh Ken.
Ekspresi Ken menggelap. Tatapan marah dan tajam Ken berikan pada wanita paruh baya itu.
"Ibu!" Pria dan wanita yang diperkirakan sebaya dengan Bella itu berdiri dan melangkah menuju sisi wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu meringis, merasakan sakit pada tangannya yang ditahan oleh Ken. Ken mencengkeramnya dengan erat. "Ahh sakit! Lepaskan!"ucapnya meronta.
"Hei! Apa yang lakukan! Kau menyakiti ibuku, menyakiti orang tua! Tidak beradab!!"maki pria itu, dengan berusaha membantu wanita yang dipanggil ibu melepaskan tangannya dari Ken.
Ken tidak menggubris. Bella menatap Ken kemudian beralih pada cengkeraman tangan Ken, "wow!" Bella berdecak. "Tenaga dan kekuatanmu bertambah ya, Ken," ujar Bella.
"Hm? Sungguh?" Ken menatap Bella. Sedangkan pria dan wanita itu berusaha membantu sang ibu lepas dari cengkeraman tangan Ken. "Hm." Bella menganggukinya.
"Aku bahkan tidak menyadarinya." Ya, latihan rutin yang sudah menunjukkan hasil. Tubuh Ken lebih berisi. Tenaga dan kekuatannya juga bertambah.
"Lepaskan saja," ujar Bella.
Bella kembali menatap tiga orang yang ia tahu identitasnya dari Bella adalah Istri, anak, dan menantu Aldric. Mereka ke kediaman ini untuk mempertanyakan, mengeluarkan kekesalannya, dan mungkin juga akan memohon pada Bella agar menarik kembali apa yang katakan akan keluarga Nero.
"Hei, apa kau tidak punya malu menyakiti orang tua? Benar-benar rendahan!!!"hardik wanita yang lebih muda. Ken menarik senyum miring menanggapinya.
"Tidak peduli siapa yang hendak menyakiti istriku, aku tidak akan mentolerirnya. Ini peringatan pertama dan terakhir untuk Anda sekalian. Jangan dari masalah denganku dan keluargaku!"tegas Ken, melepaskan kasar cengkeramannya yang membuat Nyonya Aldric sedikit terhuyung ke belakang.
"Ayo, Ken." Bella menggenggam jemari Ken dan mengajaknya untuk duduk.
Nyonya Aldric meringis sembari meniup pergelangan tangannya yang memerah. Tiga anggota keluarga Nero itu masih menatap Bella dan Ken dengan tatapan marah dan kesal. "Katakan! Hal apa yang membuat Anda bertiga bertandang ke kediamannya sederhana ini?!" Bella bertanya dengan posisi anggunnya, duduk dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri. Wajahnya datar, tatapannya tajam, memberi rasa intimidasi pada tiga orang keluarga Nero itu.
"Lepaskan keluarga Nero! Kau sudah mengambil alih Nero Group, maka jangan menyengsarakan keluarga Nero lagi! Amarah Anda pada masa lalu harusnya sudah terbalas. Hanya Ayah mertua yang mengganggu keluarga Anda, bukan kami. Mengapa kami terkena dampaknya?! Anda akan membunuh keluarga Nero secara perlahan jika Anda tidak menarik keputusan Anda. Tidak masalah jika ayah mertua ditangkap. Tapi, bagaimana dengan suami saya? Apa salahnya? Mengapa dia ikut di penjara. Yang salah adalah ayah mertua, mengapa keturunannya ikut terkena imbas?!" Nyonya Aldric langsung menyampaikan tujuannya dan juga mencerca Bella.
Bella mendengus mendengarnya. "Anda berbicara dengan sopan namun sikap Anda sebaliknya," sinis Bella.
"Baiklah. Tidak masalah. Saya akan menjawab pertanyaan Anda!"ucap Bella dengan nada dingin.
"Yang pertama …." Ucapan Bella terjeda saat mendengar dering ponsel.
"Aku angkat telpon sebentar, dari Papa," ucap Ken. Bella mengangguk. Ken meninggalkan ruang tamu untuk menjawab panggilan dari Surya.
"Yang pertama , saya tidak akan menarik keputusan saya atas keluarga Nero." Artinya percuma saja. Bella tidak akan menarik keputusannya. Keluarga Nero harus tetap menerimanya. Tidak akan ada lagi keluarga Nero dan keluarga Nero dilarang masuk ke lingkar bisnis karena telah di blacklist oleh Bella.
"Tapi, apa alasannya?!" Putra tunggal Aldric bertanya. Jelas, tidak ada yang menerima hal itu.
"Alasan? Sebenarnya aku ingin memakai cara mata dibalas mata. Darah dibalas darah, dan nyawa dibalas dengan nyawa. Hanya saja, aku enggan mengotori tanganku dengan darah kalian."
"KAU!!" Bella menarik senyum smirk melihat ekspresi kaget dan takut tiga orang itu.
Tuan Adam diam-diam menelan ludah gugup melihat ekspresi Bella. Matanya menyipit dengan senyum smirk.
"Seharusnya kalian bersyukur aku tidak mengambil nyawa kalian seperti kakek tua itu mengambil nyawa keluargaku! Harusnya kalian bersyukur mengapa malah menuntut begini!!"
Nada Bella naik satu oktaf.
"Brakkk!!"
Bella menggebrak meja sebagai begitu bahwa ia kesal. Tuan Adam yang sebelumnya telah melihat bagaimana amarah Bella, memejamkan matanya. Dalam hatinya meruntuki tiga orang keluarga Nero itu.
Bodoh! Sudah diberi keringanan malah datang mencari perkara. "Oh aku tahu. Kalian takut hidup miskin di luar sana. Takut kesusahan, begitu? Jika benar begitu aku ada solusinya untuk kalian."
Nadanya memang bersemangat. Akan tetapi itu malah semakin membuat suasana tegang. "Bagaimana jika aku penjarakan kalian semua satu keluarga?"tawar Bella serius seraya tersenyum.
Tawaran gila! Itu yang langsung terlintas di pikiran ketiga orang itu.
"Tidak jangan lakukan itu!" Menantu Aldric langsung memohon. Bella terkekeh mendengarnya. Melihat wajah mereka sungguh membuatnya merasa geli.
"Apakah kalian belum tahu tempat dan posisi kalian sekarang?"tanya Bella dengan nada menyindir.
Keluarga Nero bukan lagi keluarga kaya raya yang penuh dengan kemewahan. Bukan lagi keluarga yang memiliki kekuasaan dan pengaruh tinggi. Mereka telah jatuh. Mereka telah kehilangan semua harta. Mereka mereka bukan lagi Nyonya dan Tuan. Bahkan marga Nero tidak bisa mereka pakai lagi.
"Mengenai mengapa suami Anda ikut mendekam di sel dingin atau barangkali kalian mau ikut menemani kakek tua itu?"
"Alasannya? Anda kalian tahu akan hal kejam yang dilakukan olehnya kepada keluargaku. Namun, kalian diam saja tanpa ada usaha untuk mencegahnya. Lalu sekarang kalian menanyakan mengapa kalian ikut terlibat, padahal bukan kalian yang melakukannya? Maka pertanyaan sama aku tanyakan pada kalian. Masalah ini berawal dari masa lalu kakek tua itu dengan nenekku. Mengapa kita generasi nya keturunannya ikut terlibat?"
Sebuah masalah hati yang sangat sulit untuk dilepaskan atau melepaskan. Bukan salah Bella untuk menagih hutang pada keluarga Nero. Sebagai seorang anak sulung memang itulah yang seharusnya ia lakukan.
"Saya sudah menjawab pertanyaan Anda. Jika tidak ada hal lain silahkan angkat kaki dari rumah. saya tidak bisa mengantar Anda sampai depan pintu." Bella mengarahkan tangannya ke arah pintu. Ketiga orang itu masih diam putus asa dan menyesal.
Namun, itu adalah hal yang sia-sia. Sudah terjadi dan mereka harus menjalaninya mau tidak mau. Melihat itu dan melihat waktu maghrib yang sudah hampir berlalu. Bella meninggalkan ruang tamu menuju kamar.
Sedangkan Tuan Adam kembali menyuruh tiga orang keluarga Nero itu untuk meninggalkan kediaman Tuan Williams.
Dengan langkah gontai ketiganya meninggalkan ruang tamu dan kediaman Tuan Williams.
Nyonya Aldric yang tidak bisa berjalan sendiri karena kakinya terlalu lemas dan jiwanya seakan ditarik dari tubuh, dipapah oleh anak dan menantunya.
'Setiap perbuatan pasti ada karmanya. Kalian mungkin merasa tidak ada yang bisa menghancurkan kalian. Namun, roda berputar. Di atas langit masih ada langit," gumam Tuan Adam seraya menatap mobil keluarga Nero yang telah menjauh.
*
*
*
"Apa yang Papa katakan, Ken?"tanya Bella saat Ken memasuki kamar.
"Hanya mengingatkan kita untuk besok pulang. Papa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Nero," jawab Ken.
"Kau memberitahu Papa, Ken?" Ken menggeleng.
"Kau sudah mengatakannya. Anggap saja yang terjadi hari ini tidak pernah terjadi. Aku jawab saja mereka sudah jatuh dan istriku pandai memanfaatkan keadaan untuk membuat mereka tak bisa bangkit lagi," jelas Ken.
"Itu jawaban yang bagus." Bella mengacungkan kedua jempolnya untuk Ken.
Ken dan Bella kemudian menunaikan sholat maghrib secara berjamaah.
Selepas itu, Bela memeriksa data yang ia minta dari Tuan Adam sebelumnya.
Map yang cukup tebal itu Bella periksa. Itu berisi data lengkap orang-orang yang berkemampuan dan berprestasi di Nero Group, yang akan lelah tunjuk sebagai Presdir Nero Group.
Namun, sebenarnya itu hanyalah Presdir depan publik. Karena Presdir sesungguhnya tetap di tangan Bella.
Hanya saja Bella mengendalikan dari balik layar. Untuk perusahaan sebesar itu jelas mustahil bagi Bella untuk lepas tangan.
Kan yang tidak mengerti tidak bisa membantu Bella . Ken menemani Bella sembari mengecek dan mempelajari kembali tugas-tugasnya sebagai kepala proyek nantinya. Ken juga membaca buku-buku seputar bisnis juga berita terbaru dunia lingkar bisnis baik nasional maupun internasional.
Saat membaca, Ken teringat pembicaraan dengan Brian saat di rumah sakit tadi.
Ambisi?
Itu terbayang di benaknya. Ambisi dengan menjadi Presdir Mahendra Group. Ia masih di bawah Bella.
Bagaimana caranya agar ia bisa benar-benar setara dengan Bella dalam hal kekuasaan dan kekayaan?
Namun, ucapan Bella yang mengatakan bahwa kuasa dan harta hanya titipan. Yang paling berharga adalah hati.
Ambisi yang akan membawa pada kesuksesan adalah ambisi yang disertai dengan tindakan dan tujuan yang baik.
Ambisi bisa membawa kepada tujuan atau menjauhkan kita dari tujuan. Makaz artinya ambisi itu perlu namun jangan terlalu ambisius karena itu bisa membuat kita lari dari jalur yang telah ditetapkan.
Ken juga teringat saat membaca kutipan yang mengatakan bahwa kecerdasan tanpa ambisi bagai burung tanpa sayap yang artinya sia- sia. Kecerdasan itu bisa dianggap cacat.
Ken melamun. Ken punya gelar sarjana di bidang perguruan dan ilmu pendidikan. Ia seorang sarjana pendidikan.
Ambisinya saat kuliah adalah ia ingin mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan indonesia agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Ken ingin terjun ke lapangan pelosok untuk mencerdaskan kehidupan. Ia ke sana dan saat ini yang di situ masih ada.
Namun, sedikit berbeda konteks. Jika kemarin dia ingin menjadi pendidik maka saay ink Ken ingin mendirikan lembaga pendidikan terutama untuk anak-anak di daerah pedalaman. Agar mereka dapat mengenyam pendidikan.
Ken yakin di pedalaman sana banyak anak-anak yang punya kemampuan dan bakat. Hanya saja itu tertahan karena akses dan fasilitas yang tidak memadai.
Untuk mencapai ambisinya itu maka akan membutuhkan banyak dana.
Untuk bisa mencapai ambisinya secara maksimal Ken harus berusaha untuk mengembangkan dirinya dan duduk di kursi Presdir. "Aru," panggil Ken.
"Ya?"jawab Bella.
"Jika aku ingin jadi Presdir, aku akan mendukungnya, bukan?"tanya Ken serius. Bella menghentikkan kegiatan membacanya. Mengalihkan pandang pada Ken. "Apapun keputusanmu, asalkan mengarah pada hal yang baik, aku akan mendukungmu," jawab Bella. Ken tersenyum lebar, "terima kasih, Aru."