This Is Our Love

This Is Our Love
Datar



Bella duduk di tepi ranjang. Melihat jam yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Belain kembali tidur. Berbaring dan memejamkan matanya, kepalanya malah terasa pusing dan sulit untuk tidur.


Sepertinya aku insomnia lagi, batin Bella. Bella memang sering mengalami insomnia. Namun, beberapa bulan belakangan ini insomnianya menghilang dan kini sepertinya kembali lagi. 


Kantuk menyerang namun ia tidak bisa tidur. Bella kembali duduk dan langkah menuju meja belajar. 


Menghidupkan lampu belajar dan mengambil sebuah buku besar.  Buku itu berasal dari Irene. Tadi Irene memberikan beberapa buku besar padanya. Satu diantaranya sudah Bella pelajari. 


Bella membuka buku besar tersebut. Ternyata bersejarah berdirinya Black Rose dan peralihan pemimpin dari yang satu ke pemimpin seterusnya. 


Bella membaca dan mempelajarinya dengan serius. 30 menit kemudian Bella menutup buku tersebut. Ia mendongak kemudian mengernyit. 


"Jadi, penerus tidak diturunkan pada anak sulung melainkan tes?"gumam Bella. Bella sedikit menangkap maksud Desya. Kesya ingin mengubah tatanan Black Rose. Dan untuk itu dibutuhkan orang luar yang tidak kolot dan mempunyai kemampuan di bidangnya. 


Desya ingin mengubah tatanan Black Rose. Dan untuk itu dibutuhkan orang luar yang tidak kolot dan mempunyai kemampuan di bidangnya. 


"All right. Pertumpahan darah juga tidak bagus."


Dari buku besar tersebut, Bella mendapatkan informasi tentang peralihan kekuasaan dalam Black Rose Mafia ini. 


Pewaris atau penerus bukan berdasarkan anak yang pertama lahir. Akan tetapi, berdasarkan kemampuan dan kepantasannya. Dan dari semua pewaris, tidak ada yang hanya satu orang istri kecuali ayah Desya. Di waktu pemerintah ayah Desya, Black Rose Mafia dapat dikatakan berada dalam masa jayanya. Lagipula sudah ada dukungan dari pihak kerajaan. 


Pemimpin terdahulu, minimal memiliki dua orang istri. Dan jika memiliki anak lebih satu, maka sejak kecil persaingan itu sudah ada dan tak menghilangkan kata pertumpahan dalam perebutan kekuasaannya. 


Pernikahan kebanyakan bukan atas dasar cinta akan tetapi perjodohan sejak dini. 


Dan alasan Desya hingga memiliki tiga anak sudah dijelaskan di atas. 


Saat Desya mengambil alih posisi, tidak ada kericuhan karena ia adalah anak tunggal. 


Namun, agaknya Desya mengkhawatirkan terjadi kembali perpecahan dan pertumpahan darah di antara anak-anaknya. 


Bella menghela nafas pelan. Cukup sulit. Sangat sulit bahkan. Bukan hal mudah mengubah suatu kebiasaan yang sudah terbentuk sejak lama. Selain itu, ia juga menjadi pendamping Desya. 


Aku lelah. 


Bella kembali ke tempat tidur. Rasa kantuknya sangat besar, mengalahkan rasa pusingnya. Alhasil, sebentar saja Bella sudah tertidur pulas.


*


*


*


Desya terbangun. Matanya mengerjap dan saat membuka mata mendapati Evalia memeluk dirinya. Tubuh polos, hanya berselimut. 


Desya kemudian dengan hati-hati menyingkirkan tangan Evalia kemudian bangkit. 


Mengambil pakaian yang ia tanggalkan dan menggenakannya kembali. 


Selesai berpakaian, Desya melirik Evalia yang masih tertidur pulas. Tampaknya sangat kelelahan. 


Padahal hanya sekali, gumam Desya dalam hatinya. 


Bagaimana jika lebih? Aku rasa dia tidak akan bisa turun dari ranjang. 


Senyum tercetak di bibir Desya. Ada sedikit tatapan mesum di sana. 


"Ah, tidak! Aku hanya menjalankan tugasku." Desya segera meninggalkan kamar. Di dalam hatinya takut ia kembali bergairah dan melakukannya lagi. Namun, Desya ada hal penting yang harus dilakukan olehnya. 


Di luar kamar, Irene sudah menunggu dan memakaikan mantel pada Desya. 


"Tuan, hari ini ada meeting dengan klien dari Meksiko," ujar Irene memberitahu. Desya mengangguk singkat. 


"Bagaimana dengannya? Sudah bangun?"tanya Desya. Nya? Irene langsung tertuju pada Bella. 


Melihat waktu yang sudah menunjukkan waktu subuh, pasti Bella sudah bangun dan Irene menganggukinya. 


"Aku akan sarapan dengannya," ucap Desya, mempercepat langkahnya menuju kamar. Mandi dan bersiap untuk menjalani hari. 


*


*


*


Di kamarnya, Bella baru saja selesai menunaikan shalat subuh. Ia hanya tidur satu jam lagi. Kantung matanya terlihat jelas. Wajahnya terlihat lelah. 


Bella membuka gorden. Matahari belum menampakkan sinarnya. Kegelapan masih meliputi bumi. 


Anak-anak itu ke mana? Bella teringat saat Liev dan Lesta memanggilnya dari bawah. Tepat saat ia berada di dekat jendela. 


Bella merindukan dua bocah itu. Hatinya tenang bersama dengan kedua. 


Bella menghela nafas pelan. Ia berpikir mungkin saja Ibu mereka melarang untuk menemuinya atau dekat-dekat dengannya. 


Bella duduk di dekat jendela. Menanti matahari terbit. Tangannya menyentuh kaca, dingin. Sangat dingin. Seperti hatinya yang kembali mendingin. 


Bella tidak tahu berapa lama sudah ia duduk di dekat jendela. Yang pasti saat tersadar, langit sudah terang dengan matahari yang dengan gagahnya memancarkan sinar menerangi bumi, mengusir kegelapan.


Bella menoleh ke arah pintu ketika mendengar ketukan di sana. "Ya." Menyahut datar. Bella meninggalkan tempat, membuka pintu. Itu Irene. 


"Nona, Tuan menunggu Anda untuk sarapan," ucap Irene memberitahu. 


"Sarapan dengannya?"tanya Bella memastikan. 


Irene mengangguk. Bella menghela nafasnya. Masuk kembali ke kamar untuk mengambil mantelnya. Juga memakai sedikit riasan agar wajahnya tidak terlalu kusam. 


Nona, nadanya datar? Biasanya Bella menggunakan intonasi dan ramah padanya. 


Apa aku melakukan kesalahan? Irene bertanya-tanya dalam hati. Menatap punggung Bella di depannya. Pandangannya Bella lurus ke depan. 


"Perut Nona sudah semakin terlihat besar," ucap Irene, mencari topik obrolan. Sayangnya, hanya ditanggapi gumaman dengan Bella. 


"Apa Nona butuh sesuatu?"tawar Irene. Bersama Bella tidak ada pembicaraan seperti ini, Irene merasa tidak nyaman. 


"Tidak." Lagi, jawaban datar. 


Apa yang membuat Nona berubah dalam semalam? Ah suasana hati Nona sulit ditebak, batin Irene. Ia seakan kehabisan bahan dan tidak ditanggapi oleh Bella. 


"Tuan dan Nyonya Besar akan pulang hari ini," ucap Irene yang berhasil membuat Bella menghentikan langkahnya. Irene tersenyum sekilas. 


Sepertinya berhasil, ucap Irene senang dalam hati. 


"Oh." Irene terkesiap. Hanya oh? Bella kembali melangkah. Dengan rasa bingung yang semakin melanda, Irene mengejar langkah Bella. 


Dan rupanya Desya mengajak Bella sarapan di taman kaca kemarin. Di sana, Desya sudah menunggu dengan beberapa menu hidangan telah tersaji. Teh dan susu juga turut ada di meja. 


Penampilan Desya hari ini sama seperti yang lalu, setelah formal. Setelan jas hitam yang dibalut dengan mantel berwarna senada. 


Bella duduk. "Pagi," sapaan singkat dan datar. 


Desya melirik Irene. Irene sedikit mengangkat bahunya. "Kau sudah membacanya?"


Bella menatap Desya, sebentar kemudian memalingkan wajahnya. Bella lantas mengambil sarapannya. 


"Diam. Artinya yes. Kalau begitu kau pasti sudah bisa menebak apa maksudku dengan menunjukkan buku-buku itu," ucap Desya, seraya meraih cangkir teh kemudian meminumnya. 


"Ya." Jawaban yang singkat. Bella mulai menyantap sarapannya. 


What happened? Apa yang terjadi padanya? Sikapnya berubah. Apa karena aku tidur dengan Evalia?


"Kau cemburu?"tanya Desya, dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi. Berhasil membuat Bslla tersedak dan menatap horor Desya. 


"Cemburu?" Mengulang kata itu dengan nada kesal. 


"Dengan siapa?"tanya Bella, kembali datar. 


"Karena aku tidur dengan Evalia," jawab Desya. 


Bella merasa telinga tidak bermasalah. Yang bermasalah adalah rasa percaya diri Desya. Bella terkekeh, "percaya diri sekali Anda!"sinis Bella pada Desya. 


"Evalia itu istrimu. Kau mau tidur dengannya setiap hari pun tidak masalah. Atau mau langsung tidur dengan ketiga istrimu pun tidak masalah. Tidak ada hubungannya denganku. Apa kau kira aku menyukaimu. Salah besar jika kau berpikir demikian," jelas Bella, dengan nada yang masih datar. Tatapannya acuh pada Desya. 


Nyut. 


Hati Desya berdenyut nyeri. Tidak tahu mengapa, hatinya sakit mendengar jawaban Bella. Meski sudah mendengarnya beberapa kala. Tapi, kali ini, rasanya sangat tidak nyaman. Apakah rasa tertarik itu benar-benar menjelma menjadi rasa suka? 


"Aku sudah selesai. Ada yang ingin kau katakan sebelum aku pergi?" Pertanyaan Bella membuat Desya tersadar. 


Sarapan Bella telah habis. "Ah, ada," jawab Desya dengan sedikit gugup. 


"Orang tuaku akan pulang hari ini. Mungkin mereka akan menemuimu. Aku harap kau mempersiapkan dirimu untuk menghadapi mereka." Rupanya Irene tidak sekadar asal bicara. Orang tua Desya akan benar-benar pulang. 


Wajah Bella tetap datar. "Kau tidak perlu mengkhawatirkannya," jawab Bella.


"Ada lagi?" Bella seakan meminta apa saja agendanya hari ini. 


"Kau bisa berkeliling melihat para prajurit berlatih. Irene akan menemanimu," ucap Desya. 


"Oh."


"Kemudian, kau belum menjawab pertanyaanku. Di mana kita bisa menemukan Tuhan. Aku menanti jawabanmu!" 


"Saat kau menemukan Tuhan, saat itulah arti kebahagian dapat kau rasakan!"jawab Bella, berdiri. 


"Renungkan saja apa yang sudah terjadi dalam hidupmu selama ini. Pernahkah kau merasa takut? Pernahkah kau merasa bahagia? Pasti kau pernah membuat harapan di sana. Tuhan, selalu ada di dalam hati. Hanya saja, kadang mereka mencoba menyangkalnya," ucap Bella yang membuat Desya semakin merenung. Bella kemudian meninggalkan tempat. Irene tidak ikut. 


Apa sesederhana itu? batin Desya. 


*


*


*


Bella memasuki perpustakaan yang sekaligus menjadi tempatnya berkerja. Duduk di sofa kayu itu dengan mata terpejam. 


Pagi-pagi sudah membuatku kesal!decak Bella dalam hati. 


Cemburu? CK! Percaya diri sekali dia!!


Kesal. Bella membuka matanya. Ia berdiri, menuju jajaran rak buku. Mengambil salah satu buku dalam bahasa Rusia. Mengenai management keuangan. Bella membuka lembar pertama yang tak lain adalah lembar pengesahan. 


Membaca, lembar demi lembar. Saat masuk ke lembar ke enam, ada yang membuka pintu ruangan. Bella mendongak. 


Wajahnya tenang melihat dua orang paruh bayah. Pria dan wanita. Pakaian sang pria formal dan untuk sang wanita begitu anggun. 


Kedua melangkah masuk. "Kau, Bella?!"


Bella menaikkan alisnya. "Ya, itu aku," jawab Bella tenang.