
Langkah kakinya pelan namun tegas. Pandangannya lurus, mantap ke depan. Senyum tersungging di wajah di balik penutup wajah berwarna putih Teresa. Didampingi oleh Timo, satu tangan dipegangi oleh Timo dan satu lagi memegang buket mawar yang diletakkan di bawah dada. Teresa berjalan menuju altar di mana Louis sudah menunggu dengan begitu tampan dan gagahnya di sana.
Senyumnya begitu lembut, tatapannya begitu teduh menunggu mempelainya berdiri di hadapannya. Setiap langkah Teresa, diabadikan oleh jepretan kamera.
Dan hati Louis bergemuruh saat ia bisa melihat betapa cantiknya wajah di balik tudung putih pengantin itu. Senyum penuh arti Teresa, dan binar kebahagian.
Itu lah masa depan Louis. Berjalan ke arahnya. Sedangkan masa lalu, duduk di belakang dengan menatap acara pernikahan ini dengan senyum yang begitu bahagia. Masa lalu itu begitu khidmat menyaksikan acara pernikahannya. Masa lalu itu telah menemukan kebahagian sejatinya. Dan ia juga harus menemukan kebahagiaannya dan itu sudah ada di depan matanya.
Louis mengulurkan tangannya menyambut Teresa. Teresa menerimanya. Timo meletakkan kedua tangannya di atas dan bawah genggaman tangan Louis dan sang kakak. "Kak Louis, aku mewakili Ayah dan Ibuku, mempercayakan, menyerahkan putri Ayah dan Ibuku, serta Kakakku padamu. Jagalah dia, sayangilah dia, sebagaimana kami menyayanginya. Janganlah Kakak menyakitinya. Karena aku menyerahkannya padamu untuk menemani dan membahagiakannya seumur hidup. Menjadi teman seumur hidup, berjanjilah padaku, pada ibuku, dan ayahku untuk itu," ucap Timo, dengan penuh pinta dan ketegasan.
"Aku akan membahagiakannya, seumur hidup," jawab Louis, mantap tanpa keraguan. Tatapannya begitu lembut dan sendu pada Teresa. Air mata Teresa bahkan sudah menetes sebelum janji suci diucapkan. Genggaman tangan keduanya semakin mengerat.
Timo mengangguk kemudian turun menuju tempat duduk keluarga mempelai, duduk di samping sang ibu.
Pendeta kemudian berdiri di antara keduanya. Bersiap untuk membacakan janji suci pernikahan untuk keduanya.
"Tuan Louis Kalendra, apakah Anda bersedia menjadikan Nona Teresa sebagai istri sah Anda? Selalu bersama baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, setia menemaninya, dan setia menemaninya hingga akhir hayat?"tanya Pendeta pada Louis. Louis tidak langsung menjawab. Ditatapnya dalam-dalam mata yang ditutupi oleh tudung putih itu. Teresa merasa gugup dan gelisah karena Louis tidak menjawabnya.
Begitu juga dengan keluarga Kalendra dan Bella, mereka gelisah. Dalam benak mereka bertanya-tanya, apa lagi yang Louis tunggu? Mengapa tidak menjawab bersedia? Apa Louis kembali ragu?
Tangan Teresa berkeringat dingin menunggu jawaban Louis. Apa Louis tidak bersedia?
"Tuan Louis … apa Anda bersedia?"ulang Pendeta lagi. Louis menatap Pendeta tersebut, "jika aku tidak bersedia untuk apa aku melaksanakan pernikahan? Aku sangat bersedia untuk menikah dengannya!"jawab Louis. Seketika helaan nafas lega terdengar memenuhi gereja.
"Membuatku panik saja," gumam Bella dengan mengusap dadanya.
"Biar nggak terlalu serius, Abel," sahut El dengan terkekeh pelan.
"Buat tegang ya semakin serius, Kakak!"ralat Ken. Buat jantung berdebar kok malah biar nggak terlalu serius. Surya dan Brian menggeleng pelan.
Pendeta kemudian beralih bertanya pada Teresa. "Nona Teresa, apakah Anda bersedia menjadikan Tuan Louis Kalendra sebagai suami Anda? Selalu bersama baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, setia menemaninya, dan setia menemaninya hingga akhir hayat?"tanya Pendeta pada Teresa.
Teresa mengangguk. "Ya. Aku bersedia!"jawab Teresa dengan menahan rasa harunya. Akhirnya, sah!
Keduanya telah sah menjadi suami dan istri! Sosok yang dahulu menjadi impiannya kini benar-benar menjadi kenyataan. Hari ini, di jam ini, di detik ini pula, mereka telah menjadi pasangan suami dan istri, janji telah diucapkan di hadapan Tuhan dan saksi, menyatukan keduanya dalam tali suci pernikahan, selamanya hingga akhir hayat sesuai dengan janji pernikahan.
Acara selanjutnya adalah bertukar cincin. Acara itu berlangsung dengan penuh khidmat. Cincin simbolis pengikat telah tersemat di jari manis keduanya.
"Sekarang mempelai pria dapat membuka tudung kepala mempelai wanita dan menciumnya," ujar Pendeta memberi instruksi.
Louis langsung menggerakkan tangannya menaikkan tudung kepala yang menutupi wajah Teresa. Terlihatlah jelas wajah cantik dari Nyonya Louis. Begitu cantik dan semakin cantik saat tersipu.
Ibu Teresa memeluk sang putra, sangat-sangat bahagia melihat putrinya menikah dengan pria yang dicintainya.
Max dan Rose tersenyum lebar. Akhirnya Louis menikah. Dan menantu kedua mereka adalah pilihan dari banyak wanita.
Sedangkan Anjani menutup mata Arka, itu juga yang dilakukan oleh Helena pada Key.
Anjani, walaupun tidak pernah menghadiri acara pernikahan di gereja secara langsung atau acara pernikahan agama ini, Anjani juga bukan katak dalam tempurung.
Banyak literasi berubah film, drama, kalau akan ada sesi ciuman dan itu belum cocok untuk anak-anak di bawah umur.
Perlahan Louis menunduk dan sedikit memiringkan kepalanya. Menyentuh dan memagut bibir Teresa sebagai bentuk cinta dan kasih. Teresa mengalungkan kedua tangannya pada leher Louis.
Tepuk tangan meriah langsung pecah. Semua bahagia dengan lancarnya prosesi pengucapan janji suci ini.
Mereka, Louis dan Terasa walaupun pernah melewati malam bersama. Namun, Teresa masih merasa canggung untuk membalas ciuman Louis.
Seakan tak ingat waktu dan lokasi, Louis tak kunjung melepaskan ciumannya. Ken menatap istrinya yang menyeka sudut matanya. "Aru, ini pertama kalinya kau menghadiri pernikahan seperti ini?"tanya Ken, ingin tahu.
Bella menggelengkan kepalanya, "ini sudah lebih satu tiga kali. Namun, yang ku hadiri pernikahannya sudah berada di luar negeri semua," jawab Bella. Ken mengangguk mengerti.
Hingga akhirnya Pendeta berdehem. Jika mau lebih, silahkan dilanjut privat saja untuk malam pertama dan seterusnya. Louis akhirnya melepaskan bibir sang istri. Teresa mengambil nafas. Dan Louis mendaratkan kecupan pada dahi Teresa.
"Jika kita menikah nanti, boleh tambahkan suami mencium istri seperti tadi," ujar El yang agaknya sudah membayangkan bagaimana pernikahannya dengan Anjani nanti.
"Hei Kak El, kau kira Indonesia seperti Jerman? Di sana, apa-apa yang hal kecil bisa jadi besar, dan yang besar seperti hal kecil. Jika kau mau mencium kak Anjani seperti itu saat menikah nanti, bersiaplah dengan kritikan netizen," sahut Dylan, mengingat betapa wah nya warga +62
"Lulusan…."
"Aku kan hanya bertanya, boleh tambahkan? Jika tidak ya tidak apa, toh setelahnya kami bebas mau berbuat apa saja, kan sudah halal," sela El, ia menatap kesal Dylan, Ken, dan Brian. Mengapa ia jadi kena ceramah? Seharusnya ia yang memberi ceramah bukan? Anjani tersenyum simpul mendengarnya. Wajahnya memanas dan sedikit memerah mendengar El berkata demikian.
Ya El memang ada saja cara untuk membuat suasana cair dan kadang menjadi semakin tegang.
"Ah ya Abel, kapan kau akan menemani Umi Hani dan Nizam bertemu dengan keluarganya?"tanya Rahayu ingin tahu. Karena itu adalah hal kedua yang membawanya terbang ke Jerman.
Bella melihat jam tangannya. Jika menunggu Max dan Rose, itu akan sulit karena keduanya adalah orang tua dari mempelai pria sedangkan untuk Leo, juga agak rumit karena juga kakak dari mempelai pria dan di sana nanti pasti juga ada banyak tamu undangan penting yang ingin menjalin kerja sama dengan Kalendra Group. Maka jalannya adalah ia yang membawa Uni Hani dan Nizam menemui Evan dan mantan suami Umi Hani.
Sekarang hampir pukul 11.00. Acara resepsi dimulai pukul 04.00 sampai dengan pukul 20.00. Maka setelah acara pernikahan ini bubar mereka bisa langsung gerak. "Setelah dzuhur, Ma," jawab Bella.
"Baiklah."
"Kita nanti shalat di masjid raya kota saja," ujar Bella.
"Okay."
Louis dan Teresa turun meninggalkan altar, berdampingan dan berpegangan tangan, menghampiri keluarga mempelai wanita lebih dulu. Meminta doa dan restu dari Ibu Teresa dan Timo. Teresa tak kuasa menahan tangisnya lagi. Tangis Teresa pecah dalam pelukan sang ibu.
Timo dan Louis berpelukan. "Jaga kakakku dengan baik. Tuhan menyertai kalian, berbahagialah selalu," ucap Timo. Louis mengangguk.
"Jadilah istri yang baik untuk suamimu, Resa. Bahagialah selalu. Tuhan bersama dengan kalian," ucap ibu Teresa, dengan mengusap punggung Teresa yang memeluknya. Teresa melepas pelukannya. Sang ibu menyeka sudut matanya.
Teresa tersenyum melihat ibunya yang tersenyum lembut padanya. Teresa beralih memeluk sang adik sedangkan Teresa meminta doa dan restu mertuanya.
"Jagalah Resa sebagaimana kau menjaga dan menyayangi dirimu sendiri. Ibu tidak berharap banyak, cukup jadi yang terbaik untuknya. Cukup jadi tempatnya pulang dan bersandar, cukup jadi tempatnya membagi cerita dan keluh kesahnya, itu sudah cukup."
Ya itu termasuk harapan yang cukup banyak bukan? Atau harapan ibunya sebenarnya masih banyak lagi? Namun, itu hal wajar. Seorang ibu menyerahkan putrinya kepala suami, wajar jika demikian dan itu tidaklah berlebihan karena harapannya jika disatukan adalah untuk kebahagiaan sang putri sendiri.
"Jika saya menyakitinya, ibu bisa menghukum saya. Saya tidak akan melawan untuk itu."
"Tidak anakku. Jika kau menyakiti Teresa, bukan aku yang akan menghukummu. Kau berjanji di hadapan Tuhan maka Tuhanlah yang akan menghukummu jika kau mengingkari janji pernikahan kalian," balas ibunya Teresa. Louis tersenyum seraya mengangguk.
Setelah selesai meminta doa dan restu keluarga Teresa, Louis menggandeng Teresa ke arah keluarganya. "Mom, Dad." Louis bergantian memeluk Max dan Rose.
"Selamat anakku. Lengkap sudah dirimu," ucap Rose dengan memeluk erat Louis. Louis tersenyum, "Mom benar. Aku sudah menemukan dan memiliki belahan jiwaku," ucap Louis.
"Paman."
"Paman? Apa kau masih calon menantu? Bahkan saat masih jadi calon aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku Daddy dan istriku Mommy. Apa kau terlalu gugup hingga melupakannya, Resa?"
"Ah maafkan aku, Dad." Teresa menunduk. Max tersenyum, "selamat datang di keluarga Kalendra, Nyonya Louis." Teresa benar-benar tersipu mendengarnya.
Teresa beralih memeluk Rose. "Mom."
Louis kini memeluk sang kakak. Tak lupa, Key juga ia peluk. Sedangkan Helena hanya menyampaikan ucapan selamat secara verbal.
Selesai dengan keluarga Kalendra, Louis kembali menarik lengan Teresa menghampiri Bella. Itu membuat Bella langsung berdiri, diikuti oleh Ken. Kebetulan posisi tempat duduk mereka di pinggir.
"Congratulations for your wedding, my brother, my bestie," ucap Bella dengan memeluk Teresa.
"Terima kasih, Abel. Semua tak lepas karenamu," balas Teresa.
"Sudah takdirnya aku hanya sebagai perantara."
"Jangan sakiti seseorang yang benar-benar mencintaimu. Masa lalumu sudah bahagia, jangan buat sebuah keretakan karena andainya kau belum bisa melepaskan isteriku!"bisik Ken saat berjabat tangan dan berpelukan dengan Louis.
"Aku mengerti. Kau tidak perlu takut, aku sudah mendapatkan jodohku," balas Louis dengan berbisik pula.
"Berbahagialah untuk kalian, forever," ucap Bella saat berhadapan dengan Louis.
"Kalian juga, berbahagialah selalu. Doakan kami agar segera menyusul kalian," jawab Louis.
"Pasti!"jawab Bella.