
Brian dan Silvia cukup lama menjenguk Nesya. Mereka pulang hampir mendekati pukul 22.00. Ken ikut dengan keduanya pulang. Tapi, tetap dengan mengendarai motor. Ken merasa canggung jika satu mobil dengan Brian dan Silvia.
Ken akan kembali besok pagi. Tadinya Ken ingin pulang untuk membersihkan diri dan kembali ke rumah sakit menemani Bella sekaligus membawa pakaian ganti untuk Bella.
Namun, niat itu dilarang oleh Bella. Bella tidak ingin Ken kelelahan, terlebih jarak rumah sakit dan mansion terbilang cukup jauh. Situasi juga sudah malam. Lelah akibat pekerjaan juga menumpuk di pundak. Biarlah Ken istirahat di rumah dan kembali esok bagi sekalian menjemput Bella berangkat kerja.
"Suami Kakak itu sepertinya sangat enggan berpisah dengan Kakak," celetuk Nesya tak lama setelah Brian, Silvia, dan Ken pulang.
"Bagaimana tidak? Kami hampir dua puluh empat jam bersama," jawab Bella.
"Dua puluh empat jam?! Wow apa dia mengikuti Kakak satu hari satu malam? Dia tidak bekerja? Kakak yang memenuhi kebutuhannya?"cerca Nesya. Ia bahkan sudah berdecak. Bella tergelak mendengarnya.
"Jangan salah paham. Dia itu bekerja, jadi sekertaris Kakak. Mengenai kebutuhan Kakakmu tidak masalah memenuhi kebutuhannya," ujar Bella. Nesya terperangah mendengar itu.
"Ah benar juga. Biar bagaimanapun dia itu berondong. Jadi, biarpun biaya hidupnya ditanggung Kakak tidak terlalu mengejutkan," ucap Nesya kemudian.
"Sebenarnya kami tidak banyak pengeluaran sih karena untuk urusan tempat tinggal dan makan masih ditanggung oleh mertua kakak."
"Lalu biaya rumah sakitku?"tanya Nesya.
"Jika ku katakan tidak, apa kau akan percaya?" Nesya terdiam.
"Apapun itu aku percaya kakak mengambil keputusan yang terbaik," jawab Nesya kemudian. Ia tidak ingin membuat Bella merasa tertekan lagi karena melihatnya merasa bersalah.
"Ah Nesya ada yang harus Kakak sampaikan," ucap Bella.
"Apa itu?" Nesya memasang wajah serius mengikuti ekspresi kakaknya.
"Jika kondisimu sudah sangat memungkinkan, kau mau kan menjalani operasi sum-sum tulang? Pendonornya sudah ada, tinggal menunggu kesiapanmu saja," tutur Bella. Nesya kembali terdiam. Matanya beradu pandang dengan tatapan harap Bella.
Kakaknya sudah berusaha, harusnya ia tidak menerimanya? Betapa egois nya dirinya jika menolak.
"Aku ikut pengaturan Kakak saja," jawab Nesya, ia tersenyum meyakinkan Bella yang meminta kembali kepastian dirinya.
Walau Nesya sedikit takut dengan hasil operasinya nanti. Nesya akan menjalaninya.
"Baiklah. Kakak akan konfirmasi besok ke doktermu. Kau tidurlah," ucap Bella. Nesya menggeleng. Nesya mengangkat tangannya, meminta Bella menyambut dan menggenggam jemarinya. Bella mengerti, membawa jemari Nesya menyentuh pipinya.
"Aku tidak bisa tidur. Kakak apa arti ucapan Kakak tadi pagi yang meminta kejujuranku. Kakak … apa kau tahu sesuatu tentangku?"tanya Nesya. Sejujurnya ini sudah mengusik dirinya sedari pagi. Namun, ia menyimpannya. Menunggu hanya tinggal ia dan Bella berdua, barulah Nesya membahasnya.
Bella mengangguk kecil. "Aku sudah tahu siapa ayah dari janinmu yang telah gugur."
Suasana hening sejenak. Mata Nesya mulai berkaca-kaca. Bella mengeratkan genggamannya. Mengisyaratkan menangislah, keluarkan semua beban di hati. Tahu kan bahwa ganjalan di hati lebih parah dari luka fisik? Air mata Nesya luruh, tiada isak darinya.
Mata Bella mulai memanas. Nesya seperti sedang menyalurkan beban yang ia tanggung pada Bella. Bahu Nesya mulai bergetar.
"K-kakak maafkan aku. Aku sungguh tidak ada jalan lain," ucap Nesya, terbata dan tergugu.
"Mengapa kau tidak memberitahu Kakak, Nesya? Mengapa kau memilih jalan kotor itu?"
"Nenek melarangku, Kak. Nenek tidak ingin membuat beban Kakak bertambah."
Ahhh
Bella mengesah kasar. Sudah ia duga itu jawabannya. Beban?! Keluarganya bukan beban! Itu tanggung jawabnya sebagai anak sulung! Uang?
Bella punya cara yang lebih baik daripada jalan kotor yang diambil Nesya. Sewaktu di Jerman dulu, jika butuh bantuan keluarga Kalendra sangat siap sedia untuk membantu. Perusahaan juga tidak tutup mata jika seandainya ia mengajukan pinjaman dalam jumlah besar. Bella sangat menyesalkan keputusan Nesya.
"K-kapan kalian bertemu?"
"Menangislah. Jangan pendam suaramu!"titah Bella yang melihat Nesya hanya mengeluarkan air mata.
Bella bangkit dan memeluk Nesya. Nesya langsung memeluk erat Bella. Ia menumpahkan air mata dan tangisnya dalam pelukan Bella.
Bayangan apa yang jalani beberapa bulan lalu hadir dalam ingatan Nesya. Sesungguhnya segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Tindakan apa yang seseorang ambil, baik atau buruk, bersih atau kotor pasti ada alasannya. Namun, tidak ada yang membenarkan perbuatan dan alasan buruk.
"Maafkan Kakak." Bella menyalahkan, menyesalkan apa yang Nesya lakukan juga tiada guna karena sudah terjadi.
Tangis Nesya sudah mereda. Bella melepas pelukannya kemudian menyeka sudut mata Nesya. Ia tersenyum mengatakan pada Nesya bahwa badai telah pergi, pelangi akan segera muncul.
"Kapan Kakak bertemu dengannya?"tanya Nesya, mengulang pertanyaan yang sama.
"Hari minggu, bertepatan dengan jadwal reuni kelas SMA Kakak. Ternyata dia itu suami dari teman sekelas Kakak. Vania namanya," jelas Bella.
"Tunggu apa kau mengenal siapa pria itu?"tanya Bella selidik.
Di luar dugaan, Nesya menggeleng.
"Eh tunggu Vania? Apa dia orang yang lebih tidak acuh daripada Kakak? Yang asalkan tidak ada urusan dengannya, mau di depannya terjadi tawuran bahkan saling bunuh dia akan tetap bergeming?"
Bella tergelak pelan mendengarnya. Adiknya ini lebih mengingat kesan buruk seseorang.
"Apa Kakak memberitahunya tentang kehamilanku?"tanya Nesya.
"Tentu saja. Walau hubungan kalian itu adalah sebuah transaksi. Dia akan tenggelam dalam penyesalan. Apa kau tahu alasannya menggauli wanita yang bukan muhrimnya, padahal ia sudah menikah?"
"Tentu saja tidak. Saat itu … aku masuk ke dalam kamar hotelnya ia sudah dalam keadaan mabuk," jawab Nesya. Ia mulai merasa ringan untuk terbuka pada Bella. Setiap manusia punya lembar bukunya masing-masing. Tiada yang putih menyeluruh kecuali kekasih Allah. Apalagi terhadap Kakaknya sendiri, Bella lah tempat ternyamannya kini.
"Dia ada masalah dengan rumah tangganya. Istrinya divonis sulit hamil sedang keluarganya menuntut dirinya agar segera memberi pewaris."
"Wow apa dia sangat kaya?"
"Masuk jajarannya," jawab Bella.
"Ya hal biasa. Ck itu sebuah pelarian. Apa dia sangat mencintai istrinya hingga begitu tertekan? Biasanya kan kalau masalahnya begitu tinggal pisah dan nikah lagi? Atau kebanyakan di madu? Atau bisa juga memakai rahim bayaran."
"Kau ini kebanyakan baca novel ya?!"celetuk Bella.
"Hidup kita bahkan seperti sebuah novel. Tidak jauh, Kakak saja sedang menjalaninya."
"Hahaha." Bella tertawa canggung. Apa yang dikatakan Nesya ada benarnya.
"Dia ingin bertanggung jawab padamu. Tapi, Kakak sudah menolaknya."
"Siapa juga yang mau menikah dengannya? Sudah beristri aku pasti akan terjebak di dalam hubungan madu yang menyesakkan. Lagipula aku sudah berjanji untuk menikah dengan Dylan."
"Janji harus dipegang erat!"imbuh Nesya lagi.
"Masa lalu biarlah berlalu. Lembaran baru menanti kita," ucap Bella tersenyum penuh arti.
"Ya …." Nesya menjawab dengan senyum penuh arti pula. Beban di hatinya sudah sirna sepenuhnya. Adik dan Kakak itu sudah saling terbuka. Menceritakan masalah yang mereka alami, saling menguatkan dan mendukung.
Nesya, alasan ia terjun ke dunia gelap, menjadi seorang pemakai, pengedar, bahkan menjadi bandara adalah untuk memenuhi biaya pengobatan neneknya yang begitu besar setiap bulannya. Uang yang dikirim Bella kurang dari cukup. Sebelum terjun ke dunia gelap itu, Nesya sering menyarankan agar neneknya mengizinkan dirinya memberitahu Bella tentang kondisi yang sebenarnya.
Namun, neneknya melarang. Bersikukuh melarang Nesya. Neneknya tidak ingin membebani Bella lebih banyak karena Bella mempunyai tugas sebagai kepala keluarga yang mengemban pesan orang tua yakni membersihkan nama baik dan membangkitkan keluarga Chandra. Di sana Bella mencari modal, separuh uang hasil kerja keras yang pulang itu sudah sangat banyak karena yang diperlukan Bella sangatlah banyak.
Nesya dan Neneknya sering cekcok karena perbuatan Nesya. Namun, Nesya tidak bisa keluar, Neneknya masih butuh biaya pengobatan yang besar. Puncaknya adalah saat nenek membutuhkan biaya yang besar untuk operasi. Nesya tidak punya uang. Oleh karenanya, jalan yang ia tempuh untuk dapat uang dalam waktu singkat adalah menjual diri.
Reynal sebagai kekasihnya menunjukkan pada Nesya pria kaya yang akan membayarlah besar saat esok pagi saat kedua selesai menghabiskan malam bersama.
Nesya memejamkan matanya. Operasi Neneknya berlangsung dengan lancar. Namun, saat sadar ia dan neneknya kembali cekcok.
Di situlah amarah Nesya meledak. Ia begitu marah pada neneknya. Ia sudah mengorbankan harga diri dan kehormatannya. Namun, malah balasan buruk yang terima. Neneknya bahkan mengusir dirinya dari rumah. Itulah alasan Nesya pergi mendaki gunung dengan teman-teman dan kekasihnya. Melepas rasa frustasinya. Setelah hilang rasa marah, frustasinya, Nesya kembali ke rumah terlebih saat Bella mengirim pesan sudah berada di rumah.
Nesya tidak butuh pembenaran atas apa yang ia lakukan karena ia tahu itu salah. Yang Nesya butuhkan adalah tempat untuk bersandar. Saat tempat bersandarnya itu menolaknya tentu saja Nesya murka.
"Kakak …."
"Hm." Bella belum beranjak ke sofa katana ia tahu Nesya belum tidur. Ia mengingat masa lalu.
"Apa kau malu memiliki adik seperti diriku?"tanya Nesya, ia membuka matanya.
"Tidak. Aku tidak malu karena rasa maluku sendiri lebih besar. Ahh lupakan saja. Kau tetaplah adik yang paling aku sayang dan kasihi."
"Terima kasih."
"Tidurlah. Sudah larut." Nesya mengangguk. Matanya kembali terpejam.
"Kakak …." Ia kembali memanggil.
"Katakanlah."
"Aku ingin bertemu dengan Dylan."
"Baiklah. Kakak akan meminta Ken mengajak Dylan besok kemari," jawab Bella.
Wajah pucat Nesya terlihat begitu damai. Ia tidur dengan mengembangkan senyum. Tak butuh waktu lama, Bella mendengar dengkuran halus. Bella merapikan selimut Nesya sebelum akhirnya beranjak ke ke sofa. Sebelum tidur, Bella membalas email Surya.
Bella berbaring. Tak lupa memakai selimutnya. Matanya mulai terpejam. Namun, karena merasa ada yang kurang, Bella kembali membuka matanya.
Ya kami sudah saling ketergantungan, batin Bella.