
Kabar akan Silvia yang berhijab menyebar dengan cepat sampai ke sudut terkecil Mahendra Group pusat. Hal itu mengejutkan sekaligus disambut baik.
Di ruangannya, Brian tak hentinya tersenyum sembari menatap Silvia yang fokus pada pekerjaannya. Pria itu bertopang dagu. Silvia semakin cantik saat tengah fokus. Sama seperti seorang Pria yang kadar ketampanannya bertambah saat sudah fokus dan serius.
Silvia yang merasakan dirinya ditatap lekat oleh Brian, menoleh dan Brian langsung menjadi salah tingkah. Ia bahkan berpura-pura melihat laptopnya dan mengetik.
Silvia tersenyum penuh arti. Terbesit di hatinya untuk menggoda Brian. Silvia meninggalkannya mejanya dan menghampiri Brian. Silvia mengambil posisi di samping Brian dan melihat layar laptop. Senyumnya semakin lebar dan Brian semakin grogi.
"Sepertinya banyak ketikan Mas yang typo. Mas nggak fokus ya?"tanya Silvia melihat setelah melihat ketikan Brian. Brian memalingkan wajahnya. Lagi-lagi pria itu tersipu dan semakin tersipu.
"Mas kenapa?"tanya Silvia lagi, ia berani untuk kembali memalingkan wajah suaminya padanya. Menangkup wajah sang suami dan kini keduanya saling tetap.
"Kau sangat cantik hingga mengalihkan fokusku," jawab Brian dengan jujur. Silvia membulatkan matanya mendengar jawab Brian. Namun, tak lama Silvia cemberut.
"Loh kenapa cemberut? Kau tidak senang dengan jawabanku, Via?"tanya Brian yang merasa bingung.
"Bukan begitu, Mas!"sergah Silvia. Ia melepas tangkupan pada wajah suaminya dan berniat kembali ke mejanya. Akan tetapi, Brian tidak mengizinkannya untuk kembali sebelum menerima jawaban. Brian menahan tangan istrinya dan menariknya. Silvia memekik pelan dan kini dalam pangkuan dengan kedua tangan Brian memeluk tubuhnya. Wajah keduanya begitu dekat. Astaga! Bahkan mereka sudah pernah lebih dekat daripada saat ini. Tapi, rona mewah menguasai pipi Silvia.
"A-apa yang mau …." Belum lagi Silvia menuntaskan apa yang ingin ia tanyakan, Brian membungkamnya dengan ciuman.
"Emmm?" Bola mata Silvia kembali membola. Brian menuntutnya untuk membalas. Bahkan satu tangan Brian menekan kepala bagian belakang Silvia. Pelan, Silvia mulai membalasnya. Brian membuka matanya sebentar, tatapan puas.
"Masss!" Silvia menyadari secara logis jika riasannya pasti berantakan. Brian tersenyum simpul namun tatapannya penuh arti.
Tangan Brian telulur, menyentuh sudut bibir Silvia, menyeka lipstik yang berantakan karena ciuman mereka tadi.
"Katakan padaku, mengapa kau kesal dengan jawabanku tadi." Rupanya Brian masih menuntut jawaban.
"Jika Mas fokusnya ke aku, bagaimana dengan pekerjaan Mas? Itu saja tadi Mas sudah banyak typo. Atau aku ganti penampilan lagi saja biar Mas nggak gagal fokus?"jawab Silvia dengan bersungut-sungut.
"Begitu rupanya," gumam Brian. Tangan yang terulur itu naik menyentuh pipi Silvia.
"Jangan berpikiran seperti itu, Sayang. Mas nggak akan lalai dari tanggung jawab Mas karena kamu kok. Kamu tuh penyemangat Mas. Jadi, jangan beranggapan kamu menganggu fokus Mas, Sayang. Dan penampilanmu ini, sudah perfect mengapa harus dirubah lagi? Ini yang perfect, ini yang sesuai, harusnya dipertahankan dan menjadi bagian dari diri," tutur Brian lembut.
Silvia tertegun sesaat dengan penuturan Brian. Saat benar-benar berdua seperti ini, hilang semua sikap dingin dan datar Brian. Ia cenderung hangat dan lembut. "Tapi, jangan Mas mengatakan kalau aku mengalihkan fokus Mas saat berkerja seperti ini. Aku merasa tidak enak, Mas!"keluh Silvia masih cemberut.
"Sayangku, itu hanya kiasan. Dasar kamu ini, lebih ke perasaaan ketimbang logika," gemas Brian dengan menyentil dahi Silvia.
"Ihh … Mas!"protes Silvia yang ke sekian kalinya.
Kali ini Brian tertawa lepas, "menggodamu itu sangat menyenangkan, Sayang."
Silvia semakin cemberut. Namun, melihat dan mendengar Brian tertawa lepas, membuat kekesalannya hilang. Silvia mengembangkan senyumnya.
"Asal bukan yang lain, aku sangat bahagia dengan perkataan Mas tadi!"ucap Silvia dengan menarik kedua pipi Brian dan tatapannya memberikan semua peringatan pada Brian agar suaminya itu tetap setia walaupun banyak godaan di luar sana.
"Stay with you, Silvia. Your are my lovely, you're my everything. I love you 3000," ucap Brian yang terdengar aneh karena pipinya ditarik oleh Silvia.
Silvia mendengarnya dengan jelas, "i love you too, Mas."
"Emm kalau begitu aku kembali ke mejaku ya?"ucap Silvia menunjuk ke arah mejanya.
"Hm," jawab Brian dengan mengangguk. Silvia berdiri dari pangkuan suaminya. Setiba di mejanya, Silvia menuju kamar mandi untuk memperbaiki riasannya.
Sedangkan Brian memperbaiki ketikannya yang banyak typo. Tak lama kemudian, ada sebuah email masuk. Brian membuka email tersebut, dari Surya. Ada lampiran di dalamnya. Brian membuka dan membaca dalam hati isi pesan Surya yang berubah teks. Matanya menyipit tak lama terdiam sesaat. Ada sorot mata keterkejutan di sana.
"Ada masalah, Mas?"tanya Brian yang melihat raut wajah suaminya setelah keluar dari kamar mandi.
"Bukan masalah tapi takjub, Sayang. Abel sudah mendapatkan kembali dukungan dari semua pihak. Sebuah sudah pro semuanya. Mawar ungu sebagai simbol menunjukkan rasa hormatpun telah ia dapatkan. Tindakannya kemarin sukses mengubah pola pikir beberapa karyawan kita yang kolot dan mau ambil risiko," jawab Brian. Jawabannya tidaklah salah dengan kenyataan, hanya saja yang sesungguhnya membuatnya terkejut tidak ia katakan. Takut Silvia menjadi panik dan cemas.
"Itu mengagumkan," sahut Silvia. Singkat namun rasa hormat dan kagumnya pada Bella semakin tinggi.
"Ah iya, Sayang," panggil Brian saat Silvia sudah duduk di mejanya.
"Nanti kita ada jadwal meeting di luar kan?"tanya Brian. Silvia mengangguk. "Ingatkan Mas untuk berhenti beli gado-gado sama rujak, ya," pesan Brian.
"Oo … okay, Mas," jawab Silvia.
*
*
*
Di sisi lain, Bella juga mendapatkan email yang sama dari Surya. Bella membukanya dari ponsel karena ada lampiran berupa rekaman suara itu dari email berbentuk teks itu sangat penting dan rahasia. Bella mengenakan earbud untuk mendengarkan rekaman suara itu. Bella mengeryit mendengarkan suara rekaman itu. Dari suasana hening tiba-tiba terdengar suara tembakan dan kepanikan. Suara panik dan ada yang menenangkan. Setelahnya terdengar suara ledakan, ada yang meledak, dan rekaman suara itu kacau.
Kecelakaannya tidak murni!
Ada banyak kemungkinan pelaku di dalamnya. Bella kemudian melihat lampiran lagi yang berisi latar belakang semua penumpang pesawat dan awak pesawat. Dari penumpang tidak ada yang aneh, sedangkan dari bagian awak, tepatnya co-pilot, ada percakapan lewat email dan pesan tanpa nama pengirim yang dalam bahasa inggris. Di mana pengirim pesan itu meminta co-pilot untuk melakukan apa yang ia perintahkan. Walaupun balasan co-pilot itu enggan, tidak mau dan bersedia, ada ancaman dari pengirim. Dan pesan terakhirnya adalah "You die or your family end?!"
Bella kemudian membaca bagian selanjutnya dari pesan teks. Surya mengatakan bahwa nomor dan email tersebut sudah tidak aktif dan tidak dapat dilacak lagi.
Co-pilot itu tewas sementara keluarganya setelah dicari tahu juga tewas. Itu artinya pelaku ini benar-benar kejam dan gila. Ia bahkan tidak menempati janji dari pilihan yang diberikan olehnya. Atau itu adalah bentuk penghapusan jejak. Jika keluarga co-pilot itu disandera untuk mengancam co-pilot, dan tetap hidup maka ada kemungkinan ia terungkap. Dan sebaliknya, pelaku yang percaya janji orang yang sudah kehilangan nyawa.
Tapi, menilik dari waktu percakapannya, itu dilakukan sebelum jam makan siang. Artinya pelaku sudah mengetahui bahwa co-pilot itu akan melakukan penerbangan di hari itu. Dan bisa bertepatan dengan adanya Cia dan Clara dalam penerbangannya. Itu artinya, pelaku diasumsikan menargetkan kedua orang itu namun yang terkena imbasnya adalah semua penumpang dan awak.
Bella ketahui, keluarga Utomo tidak ada musuh sejauh ini. Namun, mengingat sikap Bayu yang hari itu berubah, membuat Bella memikirkan satu hal, Bayu melakukannya karena ada ancaman! Bayu melakukannya untuk melindungi keluarganya. Untuk membuktikannya, Bella harus mencari tahu Bayu bercakapan dengan siapa saja lewat ponselnya belasan hari yang lalu.
Dan satu nama pelaku terbesit di benak Bella. Bella tersenyum miring, "sakit hatimu membawa banyak kehancuran. Jika benar kau pelakunya, aku akan membuatmu merasakan kematian yang luar biasa!"geram Brian dengan nada rendah.
Bella kemudian mengetikkan balasan untuk Surya.
Dan terpikir lagi di benak Bella, jika begitu Bayu pasti tahu siapa pelakunya atau, pelaku masih mengincar Bayu? Bella harus memastikannya sebelum terlambat!
*
*
*
Di sisi lain, Surya sudah menerima balasan email dari Brian dan Bella. Alasannya memberitahu mereka hal itu, sedangkan ini dirahasiakan dari keluarga korban, adalah untuk membuat mereka lebih waspada. Surya juga masih berusaha untuk menemukan pelakunya. Frans dan kepala rumah tangga menjadi dua kepercayaannya untuk mengurus masalah ini. Namun, Surya merahasiakan hal ini pada Rahayu, Ken, dan Silvia untuk mencegah kepanikan dan kecemasan berlebihan.
Brian dan Bella adalah yang paling dewasa di mansion , mereka bisa bertindak dan bersikap tenang menghadapi masalah sebesar dan sesulit apapun. Surya juga sudah menerima kabar akan Bella yang mendudukkan semua karyawan di aula dan mencoba mengclearkan masalah internal perusahaan. Dan itu berhasil.
Juga kabar Silvia yang sudah berhijab. Hal itu tentu saja membuat Surya dan Rahayu senang. Semakin kompak semakin bagus.
Enam hari lagi mereka juga akan bertolak ke Jerman untuk menghadiri acara pernikahan Louis dan Teresa.
*
*
*
Di sisi lain, jam makan siang sudah tiba. Pekerjaan Bella untuk jam sebelum makan siang sudah tuntas. Namun, sepertinya nanti malam akan lembur. "Aru kau mau kemana?"tanya Ken yang mendapati Bella memakai jaketnya.
"Ke Utomo Company," jawab Bella.
"Untuk apa?"tanya Ken tidak mengerti.
"Ada yang ingin aku tanyakan. Jika ada yang bertanya, katakan saja aku menjenguk Nesya," pesan Bella pada Ken.
"Aku berangkat, assalamualaikum," pamit Bella dengan mencium punggung tangan Ken. Sebelum Ken sempat bereaksi, Bella sudah meninggalkan ruangan. "Ada apa lagi?"gumam Ken.
Dalam waktu tiga puluh menit Bella tiba di Utomo Company. Sebelum masuk Bella lebih dulu mengecek ponselnya. Matanya terbelalak melihat breaking news, "Presdir Utomo Company tewas setelah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol xxxx kilometer xxxx."